Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
21


__ADS_3

Ansel menyentuh kepalanya yang mendapat sedikit jahitan di bagian belakang karena lemparan gelas. Pria itu kini berada di kursi penumpang sebuah mobil dengan Sena yang mengemudikannya.


"Masih sakit?" Sena bertanya saat menoleh sekilas pada pemuda di sebelahnya.


"Tidak," jawab Ansel. Meski masih terasa nyeri, dia tentu tidak ingin membuat sang nona khawatir kepadanya. Terlebih merasa bersalah.


Ansel kembali teringat ketika gadis itu nyaris menangis saat memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Selain Paman Lim, baru kali ini ada seseorang yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.


"Tadi kenapa lo tiba-tiba muncul?" Sena kembali bertanya, saat keheningan membuatnya semakin larut dengan kemudi. Entah berapa lama dia tidak pernah membawa mobil sendiri.


"Ada keributan, saya melihat Nona berada di antara mereka. Lalu–,"


"Kenapa lo tolongin gue?" Ralat Sena dengan menyela ucapan Ansel yang terdiam seketika.


"Saya pengawal anda, Nona." Ansel mengingatkan, bagaimanapun juga tugas dia adalah menjaga gadis itu tetap baik-baik saja.


"Lo bukan pengawal gue."


Ansel tertegun beberapa saat, berpikir maksud ucapan gadis itu tentang dirinya. Mungkinkah Sena tahu bahwa dia hanya berpura-pura.


"Sejak lo mengundurkan diri jadi pengawal gue, mulai saat itu lo bukan lagi pengawal gue." Sena berucap lagi. Membelokkan kemudi dan berhenti di halaman rumah orangtuanya.


Ansel masih diam saat Sena sudah membuka sabuk pengaman di tubuhnya sendiri, gadis itu bersiap keluar dari kendaraan.


"Ansel."


Panggilan itu membuat si empunya nama menoleh. Ada perasaan bersalah dari kedua bola mata Sena yang tidak bisa disembunyikan oleh gadis itu, atau mungkin dia memang sengaja ingin menunjukannya. Tapi entah kenapa, Ansel tidak suka.


"Sekali lagi makasih lo udah nolongin gue," ucap Sena tulus. Padahal pria itu hanya berpura-pura menjadi pengawalnya. Tapi bersungguh sungguh saat menjaga dirinya. "Lain kali lo nggak perlu sampe ngorbanin diri lo buat gue."


"Saya tidak merasa sedang berkorban. Hanya menjalankan tugas saya saja." Ansel membalasnya. Sejak keputusannya mengundurkan diri pagi tadi, sikap gadis itu terasa sedikit berbeda pada dirinya. Dan hal itu sedikit membuatnya tidak nyaman.


Sena mengangguk kecil. "Lo bisa jalan? Apa perlu gue tuntun?" tanyanya saat membuka pintu mobil.


Dengan cepat Ansel menggeleng, lupa dengan luka di belakang kepalanya yang masih basah. Saat dia mengernyit sakit, Sena reflek kembali mendekatinya.


"Lo nggak apa-apa, kan?" dengan raut khawatir di wajahnya yang begitu kentara, Sena bertanya. Tangannya terangkat nyaris menyentuh perban yang membebat kepala pria di hadapannya.


Ansel tertegun beberapa saat, hingga gadis itu menarik kembali tangannya dan bertanya sekali lagi tentang keadaan kepalanya.


"Saya tidak apa-apa."


.


Hari ini Ansel diminta untuk beristirahat dan jangan melakukan apa-apa, sebelum berpisah di halaman rumah, Sena berjanji tidak akan membuat ulah.


Paman Handi menjadi orang yang paling khawatir dengan keadaannya setelah sang nona. Entah kenapa Ansel merasa terharu akan hal itu. Apa harus dia tegaskan lagi bahwa ini kali pertama ada yang peduli kepadanya. Selain sang ibu dan Paman Lim tentu saja.


Selepas sholat magrib, Ansel yang masih berada di kamarnya dikejutkan dengan kedatangan Lilis yang tampak histeris melihat keadaan pria itu.


"Kenapa atuh, Kang. Kepalanya sampe bocor gitu. Maaf Lilis baru tau." Dengan menangis tanpa airmata, wanita bernama Lilis itu menarik lengan Ansel yang sedikit terkejut dengan kemunculannya.


"Saya tidak apa-apa, Mbak Lilis," ucap Ansel tanpa berusaha melepaskan diri dari rangkulan wanita itu di lengannya. Beberapa lama tinggal di rumah ini sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan tingkah perempuan itu.


"Mana yang sakit, Kang. Mana? Biar Lilis obatin." Lilis nyaris menyentuh perban di kepala Ansel dan membuat pria itu menghindar.


"Nggak usah, Mbak Lilis." Ansel sedikit tertawa saat wanita itu menunjukan kesedihan di raut wajahnya. "Saya tidak apa-apa," ucapnya.


Belum sempat Lilis menanggapi, kehadiran Sena membuat keduanya sontak menoleh. "Ngapain lo di sini?" tanyanya.

__ADS_1


Pertanyaan sinis itu membuat Lilis mengerutkan dahi. "Non Sena yang ngapain di sini," tanyanya balik. "Kamar Lilis tuh di sebelah sana, deketan sama Kang Aska."


Sena berdecih. "Apa hubungannya."


"Eh, Non Sena nggak tau aja tiap malem kita berbagi obat nyamuk."


"Romantisnya di mana, Lilis." Sena jadi sewot sendiri.


Lilis mendekat, kemudian berbisik. "Non Sena nggak percaya kan, Kang Aska sering nyelinap ke kamar Lilis?"


"Nggak!"


"Ih, percaya atuh, Non."


Sena tidak lagi menanggapi asisten rumah tangganya yang memang kurang ajar sekali. Dia lalu beralih pada Ansel yang masih berdiri di tempatnya. "Kata papi, lo suruh nemuin dia pas makan malem nanti," pesannya.


Meski bingung, Ansel hanya mengangguk saja. Tanpa bertanya lebih lanjut pada gadis itu apa yang harus dia lakukan saat nanti bertemu ayahnya.


"Mau dikasih penghargaan ya, Non. Karena udah nolongin Non Sena?" Lilis menebak.


"Sok tau," balas Sena yang mengalihkan tatapannya pada Lilis.


"Kenapa sih, Non Sena. Kang Aska bisa sampe bocor gitu kepalanya?"


"Dilempar pake gelas. Mbak Lilis mau coba?" tawar Sena yang membuat wanita di hadapannya itu mundur satu langkah.


"Enggak, Non." Lilis terlihat ngeri, lalu menoleh pada Ansel dan menangis kembali. "Pasti sakit banget ya, Kang?"


Ansel hanya meringis menanggapinya.


"Dia yang sakit, kenapa lo yang nangis."


Sena jadi tertawa, lalu menarik lengan baju asistennya dan membawanya pergi dari sana. "Bikinin jus jeruk ya."


"Nangis beneran ini Lilis, Non."


.


Menjelang makan malam, Ansel menemui Justin seperti yang Sena perintahkan. Selain Jino juga sang istri dan anak-anaknya, hari ini sepertinya mereka kedatangan Nino yang merupakan anak pertama di keluarga itu.


Ansel mendekat saat Justin menyuruhnya untuk ikut bergabung. Pria paruh baya itu meminta asisten rumah tangganya untuk menyiapkan satu kursi lagi di antara mereka.


"Bagaimana lukamu?" Justin bertanya, sebelumnya Sena sudah menceritakan tentang kejadian tidak terduga di kampusnya.


Ansel sedikit mengangguk. "Sudah lebih baik, Tuan," ucapnya yang merasa canggung berada di antara mereka. Sesekali pemuda itu melirik pada Sena yang duduk di seberang meja bersebelahan dengan kakak iparnya.


Ansel pernah berada di situasi seperti ini, saat dia ikut makan malam dengan keluarga sang papa dan membawa ibunya ikut serta. Tentu saja acara itu tidak berjalan dengan semestinya.


"Ayo makan Nak Aska, ini yang masak mantu mami loh. Dia koki terkenal." Nena meletakan hidangan di atas meja, dengan dibantu wanita bernama Yara istri Nino yang katanya koki ternama.


"Mami berlebihan banget ih." Yara tersenyum, lalu ikut duduk di sebelah sang suami setelah menyendokkan nasi di piring pria itu.


"Sena duduk di sini, Sayang." Nena menyuruh putrinya untuk pindah, gadis itu tentu tidak membantah. "Sendokin nasi buat Askara," imbuhnya saat Sena sudah duduk di kursi yang tersedia.


"Kok aku?" Protes Sena yang sebenarnya tidak keberatan juga, hanya aneh saja.


"Ya masa mami suruh Nara, diomelin Bang Jino dong," balas sang mami dengan santainya.


Ansel tidak mengerti kenapa dia diajak makan malam bersama seperti ini. Mungkin karena dia telah menolong putrinya dari insiden pelemparan gelas kaca. Tapi apakah tidak berlebihan untuk dirinya.

__ADS_1


"Mau makan apa?" Sena sedikit berbisik, menawarkan pada pria di sebelahnya yang justru diam saja.


Ansel memilih satu menu berkuah di hadapannya. Lalu menggeleng saat gadis itu ingin mengambilkan yang lain juga. "Ini sudah cukup," ucapnya.


Bagi Ansel, ini adalah acara makan malam terhangat yang pernah ia hadiri seumur hidupnya. Tidak banyak obrolan yang berarti selain berkomentar tentang masakan yang memang enak sekali. Ansel masih bingung kenapa dia bisa bergabung dengan mereka di tempat ini.


Nino, putra pertama di keluarga itu tiba-tiba membahas tentang proyek Luxury hotel.


Sena dapat melihat Ansel menghentikan gerakan tangannya. Dengan santai sang papi membahas rapat untuk proyek besar besok, kedua kakak kembarnya tentu tidak ada yang tahu, mengenai status pria bernama Askara yang saat ini ikut makan malam bersama mereka. Jadi tidak mungkin pembahasan itu dilakukan dengan sengaja.


"Tapi rapat kali ini sepertinya Pak Bagaskara akan turun sendiri," ucap Nino yang memang cukup tahu  perkembangan tentang hal itu.


Jino berkata, mereka pasti akan memenangkan proyek itu.


"Apapun hasilnya nanti, kalian sudah melakukan yang terbaik." Justin menoleh pada Ansel yang diam saja, pria itu terlihat begitu resah. "Askara?" panggilnya.


Ansel sedikit terlonjak, lalu menoleh pada Justin yang memberikan tatapan tak terbaca pada dirinya. "Iya, Tuan."


"Ada masalah dengan hidangannya?" Dengan lembut Justin bertanya.


Entah mengapa Ansel merasa semua pasang mata kini tertuju kepadanya. "Tidak, Tuan. Ini sangat enak," balasnya.


Justin mengulas senyum, berkata agar Ansel makan dengan baik untuk mempercepat kesembuhannya. Sekali lagi pria itu mengucapkan terimakasih karena Ansel telah menjaga putrinya.


Selepas makan malam hangat yang justru membuat hatinya terasa beku, Ansel kini mengikuti langkah Sena yang ingin menunjukan sesuatu pada dirinya. Mereka lalu berhenti di depan pintu sebuah kamar yang tertutup, Sena lalu membukanya.


"Ayo masuk. Mulai sekarang lo tidur di sini." Sena menunjuk kasur besar kamar tamu yang sudah dibersihkan para pekerja di rumahnya.


Ansel mengerutkan dahi. "Saya tidur di sini?" tanyanya.


Sena mengangguk. "Kata papi, lo perlu tempat yang nyaman," ucapnya.


Bagaimanapun juga, Ansel yang merupakan putra dari keluarga kaya Bagaskara tentu telah melewati hari-hari yang berat selama tinggal di rumahnya.


Itu adalah kalimat yang Sena dengar dari sang papa. Alih-alih mengusir pemuda itu, dia justru malah memperlakukannya seperti tamu mereka.


Saat Sena bertanya apakah Om Alvin sudah tahu tentang siapa Askara sebenarnya, sang papi hanya berkata bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa.


Ansel sepertinya mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. Yang membuatnya tidak habis pikir, kenapa mereka masih berbaik hati.


"Gimana? Lebih nyaman dari kamar sebelumnya, kan?" Sena bertanya setelah mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Lalu tertegun saat mengarahkan tatapannya pada Ansel yang sedikit berbeda. "Lo kenapa?" tanyanya yang tidak bisa membaca bahwa pemuda itu sudah tahu semuanya.


"Kenapa kalian begitu baik?"


Sena mengangkat alis. "Kenapa kami harus jahat?" tanyanya balik. Saat tidak mendapat tanggapan lagi dari pria itu dia lalu tersenyum. "Kata papi gue, kalo kita nggak bisa menemukan orang-orang baik di sekitar kita. Maka, jadilah salahsatunya."


***


Author: Ini panjang kok 1600 kata suer dah.


Netizen: Kenapa upnya lama bgt thooor


Author: Maapin akuuu 🥲🥲


Makasih buat yang udah lopein Bang Jino di I n n o v e l yaaa. Makasih juga buat yang mampir di k b m a p p di sana udah banyak cerita tamat tinggal pilih aja. Bang Jino Bang Nino Bang Raksa, ada Bang Arka anaknya kanjeng ribet juga pokoknya. Mas Bian nempel di persimpangan rasa ya cuma dikit kisahnya.


Makasih buat kalian yang sabaaaaar.


__ADS_1



__ADS_2