Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
9


__ADS_3

Pagi ini Sena mula berkuliah dengan diantar oleh pengawal barunya. Gadis itu tidak banyak berbicara, kecuali jika ditanya ke mana arah menuju kampusnya.


Sena masih kesal pada pria bernama Askara, sebab tawaran kerja sama semalam, ditolak mentah-mentah oleh dirinya. Dan mulai saat itu, dia menegaskan bahwa Askara benar-benar tidak berguna.


"Sudah sampai, Nona." Ansel berkata pelan, menoleh spion dalam hingga pandangannya bertemu dengan mata Sena yang meliriknya tidak suka. Tanpa mengucapkan terimakasih, gadis itu keluar begitu saja.


Ansel tidak peduli akan hal itu, tapi sebagai pengawal Sena, dia tentu harus menjaganya sampai masuk ke dalam kelas. Namu ketika pintu baru sedikit terbuka, dari arah luar Sena mendorongnya.


"Gue nggak suka diikutin sama pengawal, itu bakalan jadi tontonan dan gue nggak nyaman." Sena mengutarakan kalimatnya saat Ansel menunrunkan kaca.


"Baik, Nona." Dengan tak acuh Ansel membalasnya, dia juga tentu saja malas jika harus mengikuti gadis itu. Dan menjadi perhatian sepanjang perjalanan.


Sena menegakkan tubuhnya, tatapannya masih sinis pada pemuda itu. "Pokoknya gue nggak suka ngeliat muka lo!"


Sesaat hening. Ansel hanya diam dengan tatapan yang entah. Sebenarnya dia juga ingin berkata hal yang sama, berhubung tidak ingin diusir dari rumahnya dan tidak mendapat apa-apa, dia memilih untuk bersabar saja.


"Baik. Saya akan berada di tempat yang tidak bisa Nona lihat." Ansel mengalah, bersamaan dengan dirinya yang memalingkan pandangan dari gadis itu. Sena pun pergi dari sana.


.


Sena tampak mencari keberadaan seseorang saat sedang menaiki anak tangga. Bukan untuk menemuinya, dia justru ingin menghindar jika seandainya mereka tidak sengaja berjumpa.


Bari dan teman-temannya adalah orang yang tidak ingin Sena temui pagi ini, sebisa mungkin dia harus menghindarinya. Seperti saat dia nyaris bertemu mereka di ujung tangga, gadis itu kembali kabur dan lewat jalan lain menuju kelasnya.


"Senaa!"


Panggilan itu membuat Sena sedikit terlonjak, lalu bernapas lega saat mendapati Kairan lah yang tengah mendekatinya.

__ADS_1


"Paan si." Sena melengos dan berniat untuk pergi, namun pemuda itu menghadangnya. 


"Gimana semalem, sukses nggak? Gue mau nagih janji nih." Kairan melangkah mundur di hadapan gadis itu, melihat Sena tampak lesu dia lalu berjalan di sebelahnya. "Gimana? Sukses nggak?" ulangnya.


Sena berdecak sebal. "Lo nggak liat muka gue kusut begini?"


"Kapan si muka lo nggak pernah kusut."


"Siyal!"


Kairan menghindar saat sang sepupu yang bar-bar itu nyaris melayangkan pukulan di kepala. "Jadinya gagal? Lo nggak bisa bantuin gue, dong," keluhnya.


Sena melengos. "Ya enggak lah. Misi gue aja nggak berhasil," sewot gadis itu.


"Tapi lo tetep harus bantuin gue lah, kan gimanapun juga, kemaren lo berhasil keluar dari rumah gue." Kairan menuntut keadilan.


"Ya itu sih derita lo. Udah di luar kesepakatan dong namanya. Kan tugas gue ngluarin lo dari rumah gue, terlepas berhasil atau nggak lo pergi ke pesta, itu udah di luar tanggung jawab gue."


"Ribet banget emang urusan sama lo ya." Sena tampak menyesal sudah meminta bantuan pada saudaranya yang tidak berguna.


"Bodo amat yang penting lo bantuin gue." Kairan menarik lengan Sena, membawanya menemui seorang gadis yang ia suka.


Mereka bersembunyi di balik tembok. Mengintai gadis bernama Syabila yang menduduki bangku di lorong kampus. Gadis itu terlihat sendirian membaca buku, mungkin menunggu jadwal kuliah pertama.


"Lo yakin mau deketin dia?" Sena menoleh pada Kairan yang tampak terpesona dengan kecantikan gadis berhijab itu. "Jangan diliatin begitu, zina mata," tegurnya.


"Astaghfirullahaladzim." Kairan memalingkan pandangan saat telapak tangan Sena mengusap wajahnya. "Jika mengagumi kecantikannya adalah sebuah kesalahan besar, maka biarkanlah aku berdosa."

__ADS_1


"Helleh." Sena nyaris muntah mendengar kalimat puitis yang pernah ia tonton di sebuah drama. "Dosa lo udah banyak," cibirnya.


Kairan berdecak sebal, sepupunya ini memang paling tidak bisa melihat saudaranya bahagia. "Gue suka sama dia."


"Kenapa?"


"Ya suka aja." Kairan kembali menatap wajah teduh gadis bernama Syabila, kemudian tersenyum. "Berasa pengen memperbaiki diri aja gitu kalo deket sama dia."


"Susah diperbaiki lo mah, harus ganti mesin."


Kairan berdecak lagi. "Ayo temenin gue samperin dia," desaknya.


"Cewek lo kan banyak, kenapa harus dia si?"


"Gue nggak punya pacar." Kairan menegaskan.


"Iya nggak punya pacar, tapi banyak selingkuhan. Mana mau dia sama cowok modelan kaya lo." Sena mengingatkan. Dia tahu Kairan sering kali bergonta-ganti teman kencan, semua wanita yang mendekatinya ia terima sebagai selingkuhan. Padahal tidak jelas pacarnya yang mana.


"Emangnya dia tau."


"Entar gue kasih tau."


"Siyal!"


Kairan terus mendesak sepupunya untuk menghampiri Syabila. Entah kenapa pada gadis itu dia tidak berani langsung mendekatinya.


....

__ADS_1


Ini kepanjangan, jadi aku bagi dua ya, langsung scroll ke bawah aja, semoga munculnya bareng.


__ADS_2