
Pada kursi tinggi yang tersedia di bar itu, Sena mendudukkan dirinya di sana. Menopang dagu dengan memutar-mutar bibir gelas menggunakan telunjuk dan memandangi cairan pekat di dalamnya.
Malam ini gadis itu tidak mengajak teman-temannya untuk bergabung, dia sedang ingin sendiri meskipun tengah berada di tempat yang ramai.
Beberapa hari tidak mendapat pengawasan dari sang papi, Sena bisa dengan mudah pergi ke tempat ini. Gadis itu tentu belum mendapat pengawal baru, mungkin saja dia yang memang tidak mau.
Memikirkan pengawal baru membuat Sena teringat lagi pada pemuda yang mengaku bernama Askara, saat mereka pertama kali berjumpa. Sena tersenyum sendiri ketika mengingat sikap manis pria itu yang tidak terduga, menyadari perasaan nyaman yang tumbuh di hatinya tentu membuat Sena menjaga jarak dan menutupnya.
Sang papi tentu tidak akan suka jika pria yang dia kagumi ternyata karyawannya sendiri. Namun, mendapati kenyataan bahwa pria itu bukanlah orang biasa, ternyata lebih sulit untuk mereka terima.
Pemuda yang akhirnya mengaku bernama Ansel itu terlalu misterius dan tidak jelas asal-usulnya. Sang papi melarang Sena untuk ikut campur dengan kekacauan keluarga mereka.
Kesendirian gadis itu terusik dengan kedatangan seorang pria yang duduk di sebelahnya dan memesan satu gelas minuman. Yang membuat dia tidak nyaman, pria itu terlalu tidak sopan dengan terus memandangi wajahnya.
"Apa aku mengenalmu?"
Pertanyaan itu membuat Sena menoleh sempurna. Ditatapnya wajah tampan yang memang terlihat familiar itu dengan seksama, sedikit mirip dengan mantan pengawalnya. Gila, belum habis satu gelas saja sepertinya malam ini dia sudah terlalu mabuk untuk mengenali wajah lawan bicaranya.
"Aku Sandi, pernah dengar?" Pria yang mengaku bernama Sandi itu mengulurkan tangan.
Sena tidak ingat dia siapa, yang terlintas di otaknya hanya Sandi Borobudur dan Sandi prambanan. Namun ia terima saja uluran tangan pria itu tanpa harus menyebutkan nama, Dia sedang tidak berminat untuk berkenalan dengan siapapun juga.
"Kau Lasena Maura, kan?" tebak Sandi.
Sena yang sedikit terkejut lalu mengangkat alis. "Lo kenal sama gue?"
"Kita memang pernah berkenalan." Sandi sedikit tertawa, dia lalu menyebutkan nama tempat di mana mereka pernah berjumpa.
"Kamu, Sandi Bagaskara?" ucap Sena dengan mengikuti gaya berbicara pria itu tentu saja. "Sedang apa di sini?" imbuhnya.
"Kau sendiri sedang apa? Anak gadis tidak baik malam-malam berada sendirian di tempat seperti ini." Sandi terdengar bercanda. "Atau, kamu tidak sendiri?"
Sena sedikit mengulas senyum. Pria itu sepertinya piawai sekali mencairkan suasana. Berbeda dengan Ansel yang pendiam dan sulit diterka. Kenapa dia jadi membandingkannya?
"Sebelumnya sendiri, tapi sekarang ada kamu." Baru kali ini, Sena merasa mual dengan kalimat yang terlontar dari mulutnya sendiri. Jika bukan karena ada embel-embel nama Bagaskara, dia pasti sudah mengusirnya.
Jawaban itu membuat Sandi terlihat senang, mungkin dia pikir pendekatannya berbuah hasil. Karena setelahnya mereka lalu bertukar cerita sederhana, tentang apa yang tidak sepenuhnya Sena percaya. Termasuk niatan pria itu datang ke tempat ini, yang katanya hanya untuk observasi saja.
Setelah bertukar nomor ponsel, Sandi mengantar gadis itu pulang, lalu memberi kabar setelah dia sendiri sudah sampai di rumahnya. Sena merasa pemuda itu benar-benar tengah mendekatinya.
.
Sena menceritakan pertemuannya dengan Sandi pada Kairan keesokan harinya. Pemuda itu masih ingat siapa itu Sandi Bagaskara, dia juga tahu tentang Ansel dari dirinya.
"Jadii, lo sekarang lagi deket sama abangnya?" Kairan yang tengah duduk di kursi belajarnya itu, sesekali menoleh pada Sena yang bersila di atas ranjang.
__ADS_1
Sena menggeleng. "Ya nggak deket juga."
"Tapi dari semua cerita lo, kalian sedang melakukan pendekatan." Tanpa mengalihkan pandangannya dari game di laptop, Kairan melontarkan sebuah pernyataan. "Lagian kalo lo nggak suka, ngapain juga ditanggepin."
"Emang gue nanggepin ya?"
"Dengan lo bales pesan-pesan dia, itu tandanya lo ngasih respon."
Sesaat Sena terdiam, dia memang membalas pesan-pesan Sandi yang bahkan hanya berbasa-basi menanyakan sedang apa, tapi bukan karena dia tertarik juga.
"Kalo seandainya dia suka sama lo gimana?" Kairan bertanya, dengan masih fokus pada benda di hadapannya.
Kalimat itu membuat Sena yang sempat melamun kemudian menoleh. "Coba kasih alasan kenapa gue harus nolak?" dia balik bertanya.
Sandi adalah anak orang kaya, tampan pintar dan begitu cerah masa depannya. Dan pria itu yang sadar dengan semua kelebihannya, seringkali terlalu percaya diri saat berbicara, begitu berbeda dengan Ansel yang tidak pernah menunjukkan jati dirinya. "Iiih," Ansel lagi- Ansel lagi. Sena menepuk keningnya sendiri.
Kairan menghentikan permainan gamenya, lalu menoleh pada sang sepupu kemudian berkata. "Alasan kenapa lo harus nolak?" Ulangnya. "Sekarang gini aja deh, Kasih gue alasan kenapa lo harus terima?"
Sena tentu diam saja, dia tidak mungkin mengatakan pada Kairan bahwa dia ingin tahu tentang Ansel saat menanggapi pendekatan dari Sandi yang adalah kakaknya.
"Arka ada di kamarnya nggak?"
"Ngapain?"
***
Beberapa hari dekat dengan Sandi, pemuda itu mulai berani mengajaknya pergi. Tapi Sena selalu menolaknya, alasan tengah mengerjakan tugas kuliah selalu ia berikan saat pemuda itu sedikit memaksa.
Tapi entah kenapa kali ini Sena setuju, saat pemuda itu berkata ingin mengajaknya ke rumah dan dikenalkan pada orangtuanya. Dia tentu berharap bisa menemui Ansel di sana.
"Sena?" Sarah mendekat, wanita itu tampak mengenali tamunya. Sandi memang sudah bercerita bahwa dia ingin membawa temannya. "Kamu Sena, Kan?"
"Iya, Tante. Apa kabar? Tante makin cantik aja."
Pujian itu membuat Sarah tersenyum senang. "Kamu bisa aja," ucap wanita itu dengan sedikit merapikan tatanan rambutnya.
"Oh iya, Ini dari Mami, Tan. Kata Mami Tante pasti suka." Sena menyodorkan paperbag yang ia bawa pada wanita itu.
"Oh ya ampun, ngrepotin aja deh." Sarah mengusap lengan gadis cantik di hadapannya. "Bilangin makasih yah," ucapnya.
Sena mengangguk, dia lalu dikenalkan pada Dwitama yang kemudian menanyakan kabar papinya. Sena menjawab mereka baik-baik saja, dia pun menyampaikan salam untuk pria itu dari keluarganya, yang sebenarnya hanya karangan saja.
Tidak lupa juga, Sandi mengenalkan Sena pada Saci juga Dizar sang kakak, mereka menyambutnya dengan ramah.
Sena beralih pada Ansel, tatapan mereka yang sempat bertemu segera diputus oleh pria itu dengan beranjak berdiri. "Maaf, aku tidak bisa ikut makan malam hari ini," sesalnya kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
Kepergian Ansel meninggalkan sedikit hening di ruangan itu. Namun tidak berlangsung lama, Karena Sarah segera memecah dengan suaranya.
"Nak Sena, ayo ikut makan malam dengan kami." Sarah mengalihkan kecanggungan itu dengan segera.
.
Ansel mungkin bisa terima jika suatu saat nanti Sena mendapat pengawal baru, atau bahkan kekasih dan kemudian dia tahu. Tapi kenapa harus Sandi, kenapa harus abangnya yang bahkan mengenalkan dirinya sebagai sang adik saja dia begitu ragu.
Pria itu menghentikan langkahnya di sebuah taman buatan dekat gedung utara. Suasana hatinya begitu buruk malam ini, dia belum bisa menemui sang ibu. Karena wanita itu mungkin akan merasa terganggu.
Ansel mencengkram sandaran bangku panjang di hadapannya dengan kedua tangan. Dia tidak mengerti kenapa bisa sekesal ini, karena bahkan tidak diakui di depan kerabat jauh sang papa saja dia benar-benar sudah terbiasa.
Hatinya tentu sudah beradaptasi dengan rasa sakit itu, tapi ini benar-benar berbeda. Dia tidak tahu bagaimana cara mengendalikan perasaannya.
"Ansel?"
Panggilan itu membuat Ansel menoleh, kehadiran Sena dengan senyum manis yang dirindukannya itu membuat isi dadanya menghangat. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun bingung harus memulai dari mana.
"Hay!" Sapa Sena saat pria yang berdiri di hadapannya itu malah diam saja.
"Mau apa Nona ke sini?"
Sesaat Sena tertegun mendengar pertanyaan itu, sedikit kecewa dengan respon Ansel meski dia sudah menduga sebelumnya.
"Gue kangen sama lo, emangnya nggak boleh."
Kalimat itu membuat Ansel mengerjap gugup. Dia tahu anak mantan majikannya memang sedikit berbeda, tapi tidak menduga akan seberani itu juga.
"Nona."
***
Netizen: Gimana thor banyak yang ikut ke sebelah nggak
Author: Kagaa 🥲🥲🥲
Netizen: Tumben gangeselin updatenya.
Author: Yameski kemaren naiknya ga ampe seratus yg bantu sub tapi aku udah makasih banget ya.
Enggak, nggak ada minta maap hari ini tenang aja.
__ADS_1