Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
2


__ADS_3

Ansel mengerutkan dahi saat menatap foto seorang laki-laki berjaket hitam, dengan topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


Gambar itu tergeletak di atas meja sebelum Ansel mengambilnya, mengamati hal-hal yang terjadi pada dirinya membuat dia berpikir, mungkin karena foto ini bapak scurity itu mengira bahwa dia adalah kerabatnya.


"Saya nggak lihat kamu bawa baju, kamu dirampok?"


Pertanyaan itu membuat Ansel yang terduduk di tepi ranjang lalu mendongak, si bapak yang semula memeriksa isi lemari kini menghampirinya dengan kaus dan celana panjang yang ia sodorkan pada dirinya.


Ansel bingung harus menjawab apa, pria paruh baya itu jelas mengira bawa dia adalah saudaranya dari kampung, yang datang ke kota ini untuk melamar kerja.


"Sudah. Tidak usah dipikirkan, ibu dan adikmu akan baik-baik saja, di sini gaji kamu juga pasti besar. Majikan saya orangnya royal, kamu tidak perlu bekerja ke luar negri," ucap pria itu dengan menyentuh bahu Ansel, membuat dia mencerna apa yang terjadi di antara mereka.


Ansel semakin kebingungan saat pria itu bertanya kenapa nomornya sulit dihubungi beberapa hari ini, lalu dia kembali menjawabnya sendiri dengan dugaan bahwa barang berharga pemuda itu telah dicuri.


Dia tidak menyangkalnya, pun tidak membenarkan juga, memilih untuk diam saja takut salah berbicara.


"Siapa nama kamu? Saya lupa?" Pria itu kembali bertanya.


Sesaat Ansel berpikir. Ketika pria di hadapannya mengulang pertanyaan yang sama, dengan ragu dia menjawabnya. "Askara."


"Askara?" Sesaat pria itu termenung, mungkin tengah mengingat informasi yang sepertinya sedikit berbeda. Namun kemudian dia tidak lagi memikirkannya. Dan menyuruh Ansel untuk beristirahat dengan segera.


Ansel tidak sepenuhnya mengarang tentang namanya. Askara adalah bagian dari nama keluarga yang sebenarnya tidak boleh ia bawa-bawa. Dan kini dia malah menggunakannya.


"Bapak siapa?" Sepertinya pertanyaan Ansel kali ini sedikit mengundang curiga, karena pria yang nyaris keluar dari ruangan itu menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya. Tatapan itu terlihat entah.


"Kamu lupa?"


Ansel mencoba terlihat tenang, mengurangi kecurigaan pria itu tentang keanehan pada dirinya. "Seperti bapak yang melupakan namaku, sepertinya aku juga begitu."


Pria paruh baya itu lalu mengangguk. "Kamu biasa memanggil saya Paman Handi, anggaplah seperti bapakmu sendiri," ucapnya kemudian beranjak pergi.


Ansel tertegun, kalimat itu membuatnya merasa terenyuh. Dia lalu teringat pada sang papa yang tidak mau mengakui dia sebagai anaknya, bahkan orang lain saja meminta dianggap keluarga. Dengan miris pria itu sedikit tertawa.


Ponsel yang ia senyapkan di saku celana, dia ambil kemudian memeriksanya. Banyak panggilan masuk dari Bastian, juga pesan-pesan yang menanyakan keadaannya. Dia lalu membalas bahwa dirinya baik-baik saja.


Ansel menceritakan tentang pertemuannya dengan bapak berseragan security yang mengira dia adalah saudaranya. Bastian menyuruh agar sahabatnya segera keluar dari sana.


Ansel tentu tidak bisa pergi begitu saja, Pak Handi pasti mencarinya. Dan hal itu akan membuatnya merasa curiga, pada Bastian dia meminta waktu sampai pagi dan akan memikirkan cara untuk keluar rumah, lalu tidak akan kembali ke sana.

__ADS_1


Bastian setuju, dia berkata akan menunggu sahabatnya di tempat itu.


Ansel merebahkan tubuhnya pada kasur busa yang tentu saja tidak senyaman kamarnya. Di rumah besar sang papa, dia dan ibunya memang mendapatkan kemewahan yang ada di sana. Hanya saja, keduanya tidak boleh pergi ke mana-mana, apalagi sampai menunjukan diri di luar rumah.


Ansel punya beberapa saudara, yang tentu saja juga tidak mengakui keberadaannya. Karena dia lahir dari wanita yang berbeda.


Denting ponsel yang terletak di atas meja membuat Ansel menoleh ke sumber suara. Dia yakin benda itu milik Pak Handi yang entah sengaja atau tidak, tertinggal di sana.


Ansel mengambilnya, tidak ada kata sandi yang menghalanginya membuka aplikasi pesan, yang kemudian ia baca. 'Keponakan di kampung,' pria itu memberi nama.


Paman Han, maaf baru memberi kabar. Aku tidak jadi ikut bekerja dengan paman. Sekarang aku sudah di Bandara, atasanku di luar negri meminta aku untuk segera kembali. Titip ibu dan adikku ya, Paman. Tolong jangan beritahu mereka bahwa aku kembali ke sana.


Pesan panjang itu membuat Ansel mengerti, mungkin inilah pemuda dari kampung yang tengah Pak Handi nanti. Dia lalu membaca semua percakapan mereka dari awal, yang menerangkan bahwa pria yang dipanggil paman itu, menawarkan sebuah pekerjaan menjadi bodyguard untuk putri bungsu tuannya.


.


Keesokan paginya Ansel keluar dari kamar khusus karyawan laki-laki, tidak hanya Pak Handi, beberapa pekerja rumah tangga yang mengurus kebun dan hewan peliharaan tuannya, juga menghuni tempat yang sama. Hanya saja berada di ruangan yang berbeda.


Ansel mulai mengamati, setiap pekerja di rumah ini mempunyai kamar sendiri. Dan yang Pak Handi katakan semalam, jika ia mau bekerja di sini, dia juga akan diberi ruangan pribadi.


Sepertinya, tinggal beberapa hari di tempat ini bukan pilihan yang buruk untuk ia jalani.


.


Ansel berdecak kesal. Dengan menempelkan ponsel di tangannya pada telinga, pria itu menjauh ke taman belakang untuk mengobrol dengan sahabatnya. "Aku belum mendapatkan apa-apa, Bas. Dengan aku tinggal sementara di rumah ini, aku bisa menyelinap lagi ke ruangan kerja itu," ungkapnya.


Bastian terdengar mengomel, pria itu kembali mengingatkan bahwa pemilik rumah yang mereka sambangi itu bukan lah orang biasa. Dia bisa mati jika tertangkap olehnya.


Sesaat Ansel berpikir. "Hanya untuk beberapa hari ke depan, setelah itu aku akan pergi dengan dalih tidak kerasan bekerja di sini."


"Tapi kau akan menunjukkan wajahmu."


"Itu tidak penting."


"Ya Tuhan. Kau adalah anak dari saingan bisnisnya, ingat itu."


"Tidak ada yang tau bahwa aku adalah salah satu dari empat bersaudara keluarga Bagaskara, papaku tidak akan mengumumkannya."


Hening. Bastian tidak lagi terdengar bersuara, begitupun Ansel yang memilih diam untuk beberapa lama.

__ADS_1


"Lalu, untuk apa kamu melakukan semua ini?"


"Ibuku." Tekad Ansel sudah bulat saat menyebutkan wanita itu. "Setelah rencana ini berhasil, aku akan meminta hak kami dan membawa ibuku pergi."


Bastian tampak pasrah, pria itu lalu berpesan untuk segera menghubunginya jika terjadi apa-apa. Ansel pun mengiyakannya.


Ansel mematikan ponselnya, memasukan benda itu ke dalam saku celana. Saat berbalik untuk kembali ke kamarnya, dia tertegun dengan kehadiran seseorang yang melangkah pelan mendekatinya.


Justin Achazia Adley, pemilik perusahaan raksasa Adley grup. Ansel terlalu sering membaca informasi tentangnya yang tersebar di kabar berita. Tapi, apakah benar pria paruh baya di hadapannya itu adalah orang yang sama?


Dari foto di laman berita yang memuat nama dirinya, pria di hadapannya itu terlihat jauh lebih muda. Dan perangainya yang tampak begitu berwibawa, membuat ia tidak berani mentapa wajahnya.


Dengan segera, Ansel pun menundukkan kepala, berhadapan langsung dengan pria itu membuat keberaniannya lari entah kemana.


"Siapa kamu?" Pria itu bertanya. Dan Ansel Bagaskara yang membeku di tempatnya, mengangkat kepala dengan sedikit nyali yang masih tersisa.


***


Iklan


Netizen: Itu Babang Engsel ketemu papi Entin kok ciut banget si thor, gimana mau jadi mantunya. 😒


Author: Etolong itu akoh nyari nama Ansel udah melewati tujuh purnama, jangan dinistakan sodara-sodara.😌


Netizen: Kan kita nggak sodara.🙄


Author: iya juga.🥲


Tapi wajar Bang Ansel bersikap begitu, siapa yang nggak sawan ketemu papi Entin, Samuel aja giginya ilang dua.


Netizen: Siapa dah lupa.🤔


Author: Baca lagi dah sana di Mang Atun.


Netizen: Kok promosi.


Author: Iya biar akoh bisa gajian haha.


Monmaap itu tolong digaris bawahi kalimat yang menyatakan Papi Entin terlihat jauh lebih muda, soalnya dia menolak tuwa titik.

__ADS_1


__ADS_2