Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
34


__ADS_3

Sena beranjak berdiri setelah meletakan piring di tangannya ke atas meja, gadis itu menghadap Ansel dan meminta maaf telah lancang memasuki rumahnya.


Ansel mendekat, masih bingung memilih kalimat apa yang harus lebih dulu ia lontarkan pada gadis itu. "Aku minta maaf," ucapnya.


"Nggak usah, lo nggak salah kok." Sena menjawab dengan sedikit tertawa, yang menambah kecanggungan di antara mereka.


"Senaโ€“,"


"Gue ke sini." Nyaris bersamaan, keduanya tampak hendak melontarkan kalimat masing-masing. "Lo dulu aja," ucap Sena.


Ansel tersenyum ragu. "Nggak apa-apa, kamu dulu saja," pintanya.


Sena mengangguk, dia lalu berdehem dan mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Namun kemudian menoleh lagi saat Ansel masih saja menatap wajahnya. Dia bingung kenapa Ansel bisa setenang itu.


"Gue ke sini buat Tante Anna, dari dokter yang periksa obat itu gue tau semuanya." Sena mencoba untuk mengesampingkan perasaannya demi membantu wanita malang itu. "Rencana lo buat sekarang apa?" tanyanya.


"Saya." Ansel masih tidak tahu apa yang harus dia lakukan, untuk kesekian kalinya dia benar-benar merasa tidak berguna.


"Nanti temen gue yang dokter dateng ke sini, kira-kira bisa masuk nggak ya. Gue mau dia periksa keadaan Tante Anna, ini nggak bisa terus dibiarin, Sel." Sena menyela pemuda itu yang tidak kunjung bersuara.


"Biar Paman Lim yang mengurusnya."


Sena mengangguk, dia lalu mengambil ponsel dan menghubungi temannya untuk datang ke alamat yang dia berikan. Sena memberi pesan agar dia memakai baju biasa, lalu mengaku sebagai teman Ansel pada penjaga. Pengawal Ansel akan membawa dia menemui Tante Anna.


Setelah menyelesaikan obrolannya di telepon, Sena merasa canggung saat di antara mereka kembali hening. Dia berusaha untuk bersikap biasa sajaย  seperti Sena yang sebelum-sebelumnya.


"Bisa nggak kita lupain yang kemaren, terus bersikap seolah nggak terjadi apa-apa. Anggaplah kemaren gue cuma iseng dan lo yang berniat nyelametin gue dari Sandi, bersedia buat jadi pacar gue. Gue minta maaf udah terlalu serius menanggapi candaan gue sendiri, gue lupa lo nggak bisa bercanda."


Ansel mengerjap dua kali, mencerna kalimat panjang yang dilontarkan Sena atas status hubungan mereka.


Sena memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "Gue mau bantu lo sama nyokap lo, kita bisa temenan kan?"


"Tidak bisakah kita memulai semuanya dari awal?" Ansel mengumpulkan keberaniannya untuk menyatakan perasaan sayang terhadap gadis itu. "Biar aku yang lebih dulu meminta kamu buat jadi pacar aku. Lalu kamu bilang setuju?"


Sena sedikit tertawa. "Nggak perlu, Sel. Gue nggak apa-apa, dari awal tawaran gue buat jadi pacar itu emang cuma bercanda, lo nggak perlu memaksakan diri meskipun merasa bersalah."


"Saya tidak bermaksud seperti itu."


Sena menggeleng, membuat kalimat pria di hadapannya seketika terhenti. "Dari awal gue emang tau lo beda, harusnya gue sadar. Jadi ini emang gue yang salah."


Merasa tidak mengerti dengan yang dikatakan gadis itu, Ansel mengangkat alis. "Berbeda?" tanyanya.


"Lo nggak suka perempuan kan?"


"Hah?"


Sena tertawa sumbang, merasa tidak enak membahas sesuatu yang mungkin akan menyinggung perasaan pria itu. Tapi dia juga tidak mau Ansel memaksakan diri untuk menjadi pasangannya. Mungkin dia tidak akan bahagia.

__ADS_1


"Tapiโ€“," belum sempat menanggapi lagi. Paman Lim menghampiri mereka dengan diikuti seorang pria di belakangnya.


"Kenalin, ini Dokter Arya, dia yang kemaren meriksa obat-obatan Tante Anna." Sena memperkenalkan dokter Arya yang adalah putra dari teman papinya. Mereka memang cukup akrab karena sering dipertemukan di suatu acara.


Dokter Arya menjabat tangan Ansel dan menyebutkan namanya. Dia mengaku sering mendengar nama Bagaskara, tidak menyangka sekarang bisa bertemu dengan anaknya.


Ansel sedikit sungkan, dia merasa hal itu bukan sebuah pujian, nyatanya dia bukanlah bagian dari bagaskara. Tapi sebenarnya bukan hal itu juga yang membuatnya tidak nyaman, melainkan saat melihat Sena begitu akrab dengan pria yang dipanggilnya .... Kakak.


"Kemaren aku udah cerita kan sama Kakak. Jadi Tante Anna tuh pernah kecelakaan sebelumnya." Sena menjelaskan kondisi wanita yang duduk di kursi roda.


Arya mengangguk. "Bisa bantu saya untuk membaringkannya?" tanyanya dengan menoleh pada Ansel dan pengawalnya.


"Ah? Iyah." Ansel mengajak Dokter Arya memasuki sebuah kamar dengan mendorong kursi roda sang mama. Pada awalnya wanita itu keberatan saat Arya ingin memeriksa keadaannya, tapi Ansel terus membujuknya. Sebagai dokter, Arya juga bisa menenangkan calon pasiennya.


Sena memilih untuk menunggu di luar saja, gadis itu menghampiri meja yang tersimpan barang-barang Ansel, meraih beberapa surat kabar keluaran terbaru dan memperhatikan lingkaran biru di sana. Sepertinya Ansel tengah mencari lowongan pekerjaan, dia dapat melihat sebuah nama perusahaan yang tampak dilingkari.


Saat Arya dan Ansel keluar dari ruangan, Sena kembali menaruh benda di tangannya ke atas meja, menoleh pada keduanya yang tampak mengobrol serius tentang sang mama.


Yang dapat Sena tangkap dari percakapan mereka, Arya memberi saran untuk Ansel membawa mamanya menemui seorang ahli kejiwaan yang dia kenal, kondisi Tante Anna sepertinya sudah memprihatinkan.


Apapun keputusan yang disarankan oleh sang dokter nantinya, itu pasti yang terbaik untuk kondisi Tante Anna. Begitu yang Arya terangkan pada pria di sebelahnya.


"Tante Anna mana?" Sena bertanya saat kedua pria di hadapannya itu selesai berbicara.


Ansel menjawab sang mama sedang beristirahat, wanita itu tidak mau duduk kembali di kursinya.


Sena mengangguk."Ooh," tanggapnya singkat. Dia lalu beralih pada temannya, kemudian bertanya kenapa cepat sekali sampai, setelah dia menghubunginya.


"Ini mau langsung pulang?" Sena kembali bertanya, "tadi pas masuk diintrogasi nggak?" imbuhnya.


"Iya tadi ditanya-tanya mau nemuin siapa," ucap Arya, lalu menoleh pada Ansel. "Tapi beruntung ada Pak Halim," imbuhnya.


Arya memang tahu dari Sena tentang pengawasan ketat di mansion Bagaskara. Tapi dia hanya sedikit diberitahu tentang hubungan Ansel yang kurang baik dengan papanya.


"Yaudah bareng aja, Kak. Aku juga mau pulang."


"Oh, kamu naik apa?"


"Naik taxi."


"Yaudah aku antar pulang saja."


"Nggak perlu, Kak Arya." Dengan sungkan Sena mengangkat kedua tangannya. "Kak Arya pasti mau ke rumah sakit kan?"


"Nggak apa-apa, Sena."


Ansel yang masih diam di tempatnya berdiri, memilih untuk memperhatikan interaksi keduanya. Belum pernah sebelumnya dia melihat Sena sesopan itu pada siapapun.

__ADS_1


Dia cemburu.


Mungkin memang begitu.


Arya lalu pamit pulang. Ansel berterimakasih karena pria yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu, mau memeriksa keadaan sang ibu. Dengan diantarkan kembali oleh Paman Lim, pria itu pun kemudian melangkah pergi.


Sena ikut Pamit, nyaris berbalik dan melangkah saat Ansel meraih pergelangan tangannya. Sesaat keduanya saling diam.


"Aku antar kamu pulang." Ansel memberi penawaran.


Perlahan Sena melepas genggaman pria itu dari lengannya. "Nggak perlu, Sel. Tante Anna lebih membutuhkan kamu di sini," ucapnya.


"Ada Paman Lim. Saya bisa menitipkannya."


"Yang dibutuhkan Tante itu kamu. Bukan orang lain." Sena menegaskan kepenolakannya, gadis itu lalu menoleh ke arah meja. "Lo nyari kerja?" tanyanya.


Ansel ikut menoleh ke atah surat kabar yang sudah ia beri tanda, dia kemudian mengangguk. "Aku butuh biaya untuk pengobatan Mama, tidak mungkin meminta pada papa."


"Jadi lo nggak bakal ngomong?"


Ansel menggeleng. "Untuk apa, yang ada dia akan kembali mempersulit pengobatan mama. Sepertinya memang itu yang mereka inginkan."


Sena mengerti. "Kalo lo nggak nemu pekerjaan, balik aja jadi pengawal gue," tawarnya.


Ansel sedikit tertawa, tentu saja gaji menjadi pengawal Sena tidak akan cukup untuk berobat sang mama. Lagi juga, dia memiliki kemampuan lain yang tidak hanya mengawal gadis itu setiap harinya. Meskipun ingin, Ansel memilih menolaknya.


"Nanti gue bilangin papi deh, semoga ada lowongan buat lo di kantornya." Sena mengangkat sebelah tangan, kembali pamit pulang dan berbalik melangkahkan kakinya.


"Sena."


"Iyah?" Sena menoleh lagi.


"Terimakasih."


Sena mengangguk dan tersenyum. "Sama-sama," ucapnya. Dia lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkannya.


Sama-sama, Mas pacar. Kalimat itu kembali terkenang dalam benak Ansel yang menatap punggung gadis itu menjauh.


Baru kemarin dia merasa bahagia saat gadis itu menggodanya. Haruskah hari ini hubungan mereka berakhir begitu saja.


***


Netizen: Masih ngantri minyak lu ya, ampe nggak update kemaren.๐Ÿ˜‘


Author: Apah gua kaga kebagian. ๐Ÿ˜’


Netizen: Hari ini harus up lagi ya.

__ADS_1


Author: Semoga bisa wkwkwk jangan ditungguin.


Nggak kirim poto mereka ya, kuotaku abis. Wifi tetangga ganti kata sandi gess ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


__ADS_2