Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
14


__ADS_3

"Ansel?" Sena mengulang penyebutan nama yang pria itu akui sebagai panggilannya.


Setelah mengangguk dan tersenyum, Ansel kemudian menjawab. "Panggil saya Ansel," ucapnya.


Sena sudah berbaik hati memberikannya hadiah, entah kenapa Ansel ingin membalasnya dengan satu hal yang mungkin perlu diketahui gadis itu.


"Terus, Askara nama siapa?" Sena kembali bertanya sebelum memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya.


"Nama keluarga."


"Oh, nama keluarga lo Askara. Di kampung ternyata ada nama keluarga juga ya. Keren namanya."


Kalimat itu membuat Ansel tertegun, baru ingat bahwa kehadirannya di rumah ini, untuk menggantikan keponakan Paman Handi dari kampung. Nyaris saja dia melupakannya.


"Kalo gitu gelangnya nggak jadi deh, biar gue ganti dulu jadi Ansel." Sena mengangsurkan telapak tangannya meminta.


Ansel menoleh, lalu mengusap gelang di tangannya. "Tidak perlu, saya suka nama ini," ucapnya.


Sena mengangguk, raut wajahnya tampak berpikir. Gadis itu lalu menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal. "Terus, gue manggil lo apa dong?"


"Terserah."


"Jangan terserah, entar kalo gue panggil Sayang ada yang marah." Sena berucap enteng, kembali sibuk dengan mangkuk yang entah kenapa isinya tidak kunjung habis. Melihat tanggapan Ansel yang hanya sedikit tertawa dia kembali menoleh. "Gue bercanda."


Ansel mengangguk. "Saya tau," balasnya.


Sesaat setelah kalimat terakhir itu, keduanya saling diam. Hanya denting sendok yang beradu dengan mangkuk yang terdengar memecah keheningan.


"Gue minta nomor hape lo, dong." Sena lebih dulu bersuara, saat teringat siang tadi begitu sulit menghubungi pengawalnya.


Ansel merogoh saku celana panjangnya, memberikan benda persegi yang ia ambil dari sana dan membuat seorang Lasena tercengang tidak percaya.


"I, ini hape lo?" Sena sedikit terbata saat mengutarakan kalimatnya.


Merasa tidak ada yang aneh dari hal itu, Ansel lalu mengangguk saja.Β 


"Sumpah ini bukan kw super kan?" Masih tidak yakin dengan ponsel merk ternama keluaran terbaru yang terbilang amat mahal di negaranya itu, Sena membolak balikan benda di tangannya tidak percaya. "Lo punya hape semahal ini? Gaji lo sebelumnya berapa?"


Ansel mengerjap gugup, apakah seorang pengawal nona muda tidak sanggup membeli ponsel yang serupa. Dia tidak tahu persis berapa harganya, Paman Lim selalu mengganti gawainya sewaktu-waktu jika ada keluaran terbaru.


"Apa itu mahal?"


"Gue minta hape yang kaya gini, disuruh jadi cleaning service dulu di kantor papi."


"Serius?"


"Bercanda."


"Bercandamu terdengar serius."


Sena berdecih menanggapi komentar pria itu. Lalu kembali memerhatikan ponsel di tangannya yang akhir-akhir ini dia inginkan sekali, bukannya sang papi tidak mampu beli, tapi belum lama ini dia memang baru mengganti ponselnya.


"Jadi, dari mana lo dapet hape semahal ini? Nggak jual ginjal kan?" Sena masih penasaran bagaimana Ansel bisa mendapatkan benda itu.


Ansel tertawa. "Apa ponsel itu seharga satu ginjal saya?" tanyanya yang kemudian berubah serius. Dia memang tidak tahu. "Berapa harga ginjal sekarang?"


"Ngapain lo nanya, mau jual ginjal beneran."


"Saya mau beli."


Pernyataan itu membuat Lasena Maura membulatkan mata.


"Bercanda." Ansel kemudian berkata.


"Ish, bercanda lo serem. Gausah bercanda lo mendingan."


Omelan gadis itu entah kenapa selalu membuat Ansel tertawa. Apa pun yang keluar dari mulut sang nona selalu terdengar lucu di telinganya. "Buka saja, tidak ada sandi," ucapnya saat Sena masih memerhatikan benda di tangannya.


"Gue cuma mau save nomor gue doang si." Setelah mendapat izin, Sena mengotak atik ponsel milik pengawal barunya. Tidak banyak nomor di sana, sekilas hanya ada nama Paman Lim Bastian, Saci cantik. Siapa nama itu? "Numpang foto boleh nggak?"


Ansel yang sibuk menghabiskan air jeruk di gelasnya sontak menoleh dan menganggukkan kepala. Kemudian tersenyum saat melihat Sena memonyongkan bibirnya di depan kamera.


Tidak salah memang jika Ansel merasa tingkah Sena begitu mirip dengan adiknya. Saci pernah meminjam benda itu dan menuliskan nomornya di sana yang sampai sekarang belum pernah dihubunginya. Setelah itu dia banyak mengambil gambar yang mungkin masih tersimpan di galerinya.


"Ini foto cewek lo?" Sena menyodorkan benda di tangannya, menanyakan gambar gadis cantik yang tidak sengaja ia lihat saat memeriksa hasil jepretannya.


"Adik saya."


"Lo punya adek?"


Ansel mengangguk. "Namanya...." pria itu sedikit ragu untuk menyebutkannya.


"Saci?" tebak Sena.


"Kenapa Nona tau?"


"Tadi gue nggak sengaja baca kontak hape lo, ada nama Saci cantik."


"Ooh, iya."

__ADS_1


"Itu adek lo?"


Ansel mengangguk, dia merasa sudah terlalu jauh membuka dirinya.


"Adek lo cantik banget." Sena menopang dagu saat mengutarakan kalimat itu, tatapannya mengarah pada Ansel yang tersenyum kecil menanggapinya.


"Mungkin efek kamera."


Sena mengangguk. "Iya bisa jadi sih. Tapi gue juga pake efek kamera aslinya tetep cantik, kok."


Ansel yang semuala mengalihkan pandangannya dari gadis itu lalu menoleh, memerhatikan wajah Sena yang memang cantik seperti biasa. Dia lalu tertawa. "Iya," ungkapnya.


Sena berdecak, entah jujur atau memang hanya ingin menyenangkan dirinya. Jawaban singkat pria itu membuat Sena salah tingkah. "Bercanda?" tanyanya.


Ansel menggeleng. "Nggak."


"Bercanda dong."


Ansel mengerutkan dahi, jadi bingung sendiri dengan sikap gadis itu yang berganti-ganti. Dia serius saat membenarkan bahwa perempuan itu amat cantik, tapi malah disuruh bercanda.


"Kenapa si kontak hape lo cuma dikit, nggak ada nomor orangtua lo? Temen-temen gitu?"


Pertanyaan itu sesaat membuat Ansel terdiam, dia tidak mau terjebak dengan menyebutkan dua nama kakak laki-laki yang pasti tidak asing bagi keluarga Sena. Ansel lalu menggeleng saja.


"Saya pernah menaruh banyak nomor di ponsel saya. Tapi mereka tidak bisa dihubungi."


"Kenapa?"


"Bisa bahas hal lain? Tentang anda misalnya."


Sena sedikit terhenyak, apa dia sudah terlalu jauh mengorek tentang pria itu. Semua keunikan dan keanehan di diri Ansel membuatnya penasaran saja.


"Yaudah, boleh foto bareng nggak? Sekali aja."


Ansel mengangkat alis, namun kemudian mendekatkan tubuhnya, mengulas sedikit senyum di depan kamera bersama sang nona yang nyaris menempelkan pipinya.


"Gilaa, bagus banget hasilnya. Gue beneran jadi pengen banget ganti hape." Sena terdengar merengek, mengagumi benda di tangannya yang canggih sekali. "Eh, jadi ni hape lo beli sendiri?"


"Saya dibelikan seseorang."


"Oyah?"


Ansel mengangguk. "Saya tidak tahu berapa harganya."


"Cewek apa cowok?"


"Ooh, iya paham." Sena mengembalikan ponsel keluaran terbaru itu pada pemiliknya. "Boleh nanya nggak?"


"Apa?"


"Pacar cowok lo itu pasti kaya banget ya?"


"Hah?"


****


Pip pip pip pip Calon Mantu


Zifi Hanami


Egile sii, pengawal Sena keren banget. Kenalin gue doong.


Inggit Tiara


Sumpah ini lebih ganteng dari pengawal-pengawal dia yang sebelumnya. Jauuh.


Zaqia Amel


Eh, pengawal Sena biasanya lekong woy.


Inggit Tiara


Waiyya sii, lupa gue.


Zifi Hanami


Semoga yang ini enggaaak!


Plis Sen. Bilang yang ini normal.


^^^Lasena Maura^^^


^^^Sory ya kalian harus kecewa, dia udah punya pacar gesss. Kaya banget orangnya, hape yang gue pengen aja dia udah punya, dibeliin pacarnya ^^^


Zifi Hanami


Kasitau gue, kalo pacarnya perempuan.


Inggit Tiara

__ADS_1


Pacarnya cewek apa cowok?


Serius nanya.


^^^Lasena Maura^^^


^^^Lakiiii 🀣🀣^^^


Zifi Hanami


Rip jodoh gue


Inggit Tiara


Rip calon pacar gue


Zaqia Amel


Heran gue kenapa bokap lo nyari pengawal yang begitu.


^^^Lasena Maura^^^


^^^Biar nggak nafsu sama gue.^^^


Zifi Hanami


Lo punya pengalaman buruk si ya.


Inggit Tiara


Tapi gue masih nggak percaya dia nggak suka perempuan.


^^^Lasena Maura^^^


^^^Bokap gue yang bilang.^^^


^^^Terus nomor kontak di hapenya juga cowok semua, Njir.^^^


Zifi Hanami


Lo punya nomornya ya, bagi gue dooong.


^^^Lasena Maura^^^


^^^Monmaap nggak buka jasa sedot wc ya. Nggak sebar nomor.^^^


Inggit Tiara


Pelit banget lo.


Sena menutup percakapan grup calon mantu yang masih heboh membahas pengawalnya. Padahal sudah dia jelaskan jangan berharap pada karyawan papinya. Tapi mereka malah tidak percaya.


Memikirkan tentang Askara yang mengaku bernama Ansel membuat Sena penasaran dengan pria itu.


Sena menuruni ranjang. Menemui Ansel yang masih berjaga di balkon kamarnya. "Nggak usah khawatir, gue nggak bakal kabur lagi kok," ucapnya.


Ansel menoleh, menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon. Melihat gadis itu dia kembali teringat dengan tuduhannya beberapa saat yang lalu. Dan dia terlalu malas untuk menyangkal, biar kan saja sang nona menganggapnya berbeda.


"Tuan menyuruh saya untuk tetap berjaga di sini." Ansel mengutarakan kalimatnya.


"Gue mau ke rumah tante gue, nggak bakal kabur kok."


"Saya ikut."


****


Netizen: Kira kira hape bang Ansel yang mahal banget itu mereknya apa thor.


Author: Apa ya, Melon kali.πŸ€”


Netizen: Apel dooong masa melon.πŸ˜‘


Author: Gedean melon lah.πŸ˜’


Netizen: dah lahπŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’


Author: lu gamau tanya berapa harganya?


Netizen: Berapa emang.


Author: Pokoknya kalo lu jual satu ginjal lu bat beli hapenya, ginjal satunya bat beli casannya.


Neetzen: Matii guaa πŸ˜’πŸ˜’


Author: Kan mahal 😌😌



__ADS_1


__ADS_2