Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
35


__ADS_3

Sena akhirnya ikut pulang dengan Dokter Arya, temannya itu berkata akan mengantarkannya sampai rumah.


Sesaat hening ketika mobil mulai melaju ke jalan raya, sesekali Arya menoeleh dengan menahan senyumnya.


"Ketawa, ketawa aja. Nggak usah ditahan-tahan."


Sindiran itu membuat Arya benar-benar menyemburkan tawa, pria itu lalu mengacak puncak kepala Sena dan mengejek panggilan kakak untuknya.


"Mau lagi dong dipanggil kakak."


Sena berdecak sinis, namun memilih tidak menanggapi ledekan pria itu, malah membuang pandangannya ke luar jendela.


"Kamu yakin dia nggak suka perempuan?" Arya yang sedikit prihatin dengan temannya lalu bertanya.


"Hmm." Sena menjawab dengan gumaman singkat. Mereka memang cukup akrab karena kedekatan orangtua keduanya.


"Kayaknya kamu salah. Dari cara dia liat aku aja ketauan, dia itu cemburu, Sen." Arya melontarkan penilaiannya.


Sena menoleh. "Jangan-jangan dia suka sama lo."


Lagi-lagi Arya tertawa. "Siyal," umpatnya. "Nggak, aku yakin dia itu ada rasa sama kamu. Lagian dari mana juga kamu bisa menyimpulkan dia penyuka sesama jenis."


"Kata papi gue gitu."


"Mungkin hanya alasan dia aja biar diterima jadi pengawal kamu. Om Justin kan memang cari yang seperti itu."


Sesaat Sena berpikir mungkinkah benar begitu. Arya memang sempat ia beritahu tentang Ansel yang menyamar jadi bodyguardnya, sejak itulah mereka akhirnya dekat.


"Menurut lo gitu?" Sena yang belum yakin dengan dugaan pria itu bertanya ragu.


Sembari membelokkan kendaraan selepas melewati lampu merah, Arya pun mengangguk. "Dia suka sih sama kamu, aku laki-laki dan aku bisa menilai itu."


Sena tidak mau lagi banyak berharap, dia lalu bertanya mengenai kondisi Tante Anna. Dan Arya mejelaskan bahwa wanita itu harus mendapat penanganan yang serius dengan kejiwaannya.


"Tapi bisa sembuh kan?"


"Bisa. Tapi sabar."

__ADS_1


Sena mengerti, dia lalu memilih untuk diam lagi. Memikirkan Ansel yang tengah sibuk mencari pekerjaan, belum lagi harus mengurus ibunya. Pria itu berada di masa yang sulit sekarang, tidak seharusnya dia membebani dengan perasaannya juga.


***


Menjelang malam, Sena mengetuk pintu kamar orangtuanya untuk membicarakan sesuatu.


Justin tengah duduk menyandarkan tubuhnya pada ranjang, sibuk menggulir layar ponsel di tangannya saat Sena mendapat izin untuk masuk ke dalam ruangan. Maminya masih berada di depan kaca, melakukan perawatan sebelum tidur untuk wajahnya yang awet muda.


"Pi, papi ada lowongan nggak di kantor?" Sena langsung bertanya setelah mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


Justin mengalihkan pandangannya dari ponsel, melepas kacamata sebelum bertanya, "kamu mau kerja?"


"Bukan buat aku," sanggah Sena cepat. Dia lalu menjelaskan tentang kesulitan Ansel yang ingin mencari biaya untuk ibunya. Sena juga menceritakan tentang masalah pria itu dengan sang papa, termasuk kecurangan pengobatan yang dilakukan Om Bagaskara. "Kasian tau, Pi."


"Sudah papi bilang, jangan ikut campur urusan keluarga mereka, Sena. Papi tidak mau kamu kena masalah."


"Tapi, Pi. Aku kasian sama Tante Anna, dia kaya nggak diurusin gitu loh penyakitnya." Sena menjelaskan kondisi mama Ansel yang masih duduk di kursi roda, kejiwaannya pun terganggu hingga wanita itu diam saja. "Mii," rengek Sena dengan mengalihkan tatapannya pada sang mami yang mendekat.


Nena, maminya itu tentu tidak bisa berbuat apa-apa. Meski ikut kasihan, apa yang dikatakan suaminya itu ada benarnya. Masalah keluarga Bagaskara, bukan hal yang mudah untuk mereka ikut campur di dalamnya.


"Pi." Sena mengguncang lengan ayahnya, memohon agar pria itu membantu pujaan hatinya. "Dia sekarang cari kerja di perusahaan lain, apa salahnya kalo masuk ke perusahaan papi aja."


"Sekarang dia kan butuh."


"Mempekerjakan Ansel di perusahaan papi, sama saja menyulut perselisihan dengan Bagaskara."


"Dari awal kan emang gitu."


"Tapi tidak secara terang-terangan." Justin memberikan tatapan teduh pada gadis di hadapannya, dia tahu Sena mungkin menyukai putra ke tiga yang tidak diakui Bagaskara. Dan dia masih takut untuk merestui perasaan putrinya.


Tapi yang dia tahu, Ansel Bagaskara adalah pemuda yang baik, Sena bahkan bisa berubah menjadi gadis yang penurut. Dan kesetiaannya terhadap keluarga, itu yang membuat dia begitu salut.


"Membantu Askara sama saja kamu masuk ke dalam masalah dia juga, memangnya hubungan kalian sudah sejauh apa?" Nena bertanya.


Seketika Sena terdiam. Haruskah dia memberi tahu orangtuanya bahwa baru saja mereka menjadi mantan, setelah satu hari jadian. "Kita temenan." Sepertinya mereka tidak percaya, hal itu jelas terlihat dari raut wajahnya. "Papi sama mami emang lupa dia udah nolongin aku sampe kepalanya bocor?"


Sena meyakinkan lagi orangtuanya untuk membantu Ansel menghadapi masalah, dia mènceritakan tentang Tante Anna yang amat memprihatinkan kondisinya.

__ADS_1


"Bayangin kalo itu ada di posisi mami, aku juga pasti bingung mau gimana."


Sena beranjak berdiri saat tidak lagi mendapat tanggapan dari orangtuanya, sepertinya dia memang sudah tidak bisa membantu apa-apa.


"Sena?"


Panggilan dari sang papi membuat langkah gadis itu terhenti, kemudian menoleh lagi.


"Besok, suruh Askara ke kantor papi."


.


Saat bersiap akan tidur, Sena bingung harus bagaimana menghubungi Ansel untuk memberitahu pesan dari sang papi, haruskah dia melakukan panggilan telepon, atau bahkan video. Tapi sepertinya mengirim pesan singkat sudah cukup. Dia tidak ingin terlalu menggebu pada pemuda itu.


Sena berkata bahwa sang papi menyuruhnya untuk menemui pria itu di kantor. Sedikit memberi ancaman agar jangan kembali menolak, karena dia sudah begitu sulit membujuk orangtuanya.


Tidak disangka sebuah panggilan video pun masuk. Dari Mas pacar yang ia belum ganti nama kontaknya.


Sena segera berlari ke depan cermin, memoleskan sedikit lipstik di bibirnya agar tidak terlalu pucat. Menaburkan bedak di pipi tentu akan memakan waktu yang cukup lama, Ansel pasti tidak akan sabar menunggunya.


Tapi yang terpenting daripada itu, dia harus mengenakan kaus untuk menutupi tanktop tanpa bh di dalamnya.


Dirasa sudah cukup rapi, Sena menghampiri ponselnya yang masih berdering di atas kasur. Belum sempat mengangkatnya, benda itu sudah mati dan tidak kembali bersuara. Ansel hanya malakukan sekali panggilan saja.


^^^Me^^^


^^^Kenapa? Tadi gue di kamar mandi.^^^


Mas Pacar


Tidak sengaja.


Salah tekan.


"Siyalaaan!" Sena nyaris melempar ponsel di tangannya jika tidak ingat benda itu masih baru ia beli beberapa minggu yang lalu. "Ngeselin banget!" 


****

__ADS_1


Nggak iklan, dua bab soalnya, semoga langsung muncul.


__ADS_2