Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
13


__ADS_3

Ansel mengikuti Sena yang mengajaknya ke meja makan. Di sana sudah tersedia dua mangkuk berisi sup krim jagung yang mengepulkan uap panas. Dari aroma yang tercium saat pria itu mendudukkan tubuhnya di kursi, Ansel dapat menduga bahwa makanan itu cukup enak.


"Sebagai ucapan terimakasih gue, karena lo udah bantuin gue ngadepin Bari, gue masakin ini spesial buat lo." Sena mengutarakan kalimatnya dengan bangga.


Ansel menatap gadis di hadapannya takjub, namun kemudian terlihat curiga. "Nona yang memasaknya?"


"Kenapa? Lo takut keracunan. Nggak bakalan orang gue udah nyicipin duluan." Sena yang merasa semangatnya mulai berceceran lalu memilih untuk duduk di sebelah pemuda itu. "Nggak percaya?"


Ansel mengalihkan pandangannya yang sempat terpaku pada wajah cantik Sena yang sedikit berbeda, mungkin karena tingkah manis yang dilakukannya. "Terimakasih," ucapnya.


"Abisin ya, jarang-jarang loh gue mau masak." Sena mulai menyendok sup di mangkuknya, menyibakkan rambut panjangnya yang sedikit mengganggu saat dia menundukkan kepala.


Ansel ikut memasukkan satu sendok makanan itu ke mulutnya, sembari mengunyah dia menoleh pada Sena yang tampak memerhatikan wajahnya.


"Enak, kan?" tanya Sena.


Ansel berdehem, belum pernah dia sedekat ini dengan seorang wanita sebelumnya. Masa-masa remajanya dihabiskan dengan belajar saja, karena dia ingin memberikan yang terbaik untuk sang papa. Meskipun dia tahu pria itu tidak pernah menganggap keberadaannya.


"Iya, enak."


Sena bertepuk tangan, lalu kembali mengambil sendok di mangkuknya. "Ayo makan lagi, abisin," titahnya.


"Ini minumnya, Non Sena, Kang Aska." Lilis dengan semangat mengantarkan dua gelas es jeruk peras dan meletakannya di atas meja. Perempuan itu lalu berdiri di sebelah pria yang terang-terangan disukainya. "Gimana, Kang? Enak nggak makanannya? Lilis loh yang bikin."


Ansel tertegun, setelah menoleh pada Lilis yang tersenyum meyakinkan, pemuda itu mengalihkan tatapannya pada Sena yang menutup wajahnya dengan sebelah tangan.


"Mbak Lilis, kita udah sepakat ya. Ini tuh masakan gue." Sena yang tidak terima mengacungkan sendok di tangannya pada Lilis, raut wajahnya terlihat jengkel.


"Oh Non Sena teh mau kasih Kang Aska, kirain Lilis suruh ngaku di depan Tuan, ih mana Lilis tau orang yang Non Sena maksud teh Kang Aska." Lilis memaparkan sebuah alasan, karena dia pikir nonanya ingin memberikan masakan spesial untuk papanya. "Meni spesial atuh ngomongnya, Lilis teh jadi cemburu."


"Balikin duit gue duaratus rebu." Sena beranjak berdiri, membuat perempuan bernama Lilis berjengit mundur.


"Nggak bisa atuh, Non Sena. Inimah udah jadi hak Lilis."


"Siyalan!" Sena terus mengomel saat asisten rumahtangganya itu berlari kabur, gadis itu lalu kembali duduk.


Ansel menyembunyikan senyumnya dengan sedikit terbatuk, lalu menoleh pada Sena yang tengah menggaruk belakang telinganya.


"Em, itu. Ini emang bukan masakan gue. Tapi tadi gue bantuin ngupas bawangnya kok, beneran." Sena menerangkan.

__ADS_1


Ansel tersenyum kecil, kemudian mengangguk. "Terimakasih buat ngupas bawangnya. Enak kok, bawangnya berasa," ucapnya. Bermaksud memuji, tapi sepertinya malah semakin membuat Sena ingin melarikan diri.


"Awas aja Si Lilis entar gue suruh papi potong gajinya." Dengan pelan Sena terus menggerutu sendiri, tangannya masih ia letakan di kening untuk menutupi sebagian wajahnya yang tengah malu.


"Kenapa?" Ansel yang tidak jelas mendengar gadis itu berbicara, kemudian bertanya.


"Enggak kok, enggak apa-apa. Ayo makan lagi." Sena kembali menundukkan kepalanya, membuat rambut panjangnya ikut turun saat gadis itu menyendokan makanan ke mulutnya.


Ansel mengulurkan tangan, menyibak rambut Sena dan menyingkirkan dari mangkuk, sesaat keduanya saling tatap saat Sena menolehkan kepala.


"Takut kena makanan," ucap Ansel.


Belum sempat Sena menanggapi, sebuah tangan tampak meraup rambut panjangnya. "Lilis bantu iketin rambut Non Sena, biar enak makannya. Nggak terganggu." Lilis yang tiba-tiba muncul berinisiatif mengikat rambut anak majikannya dengan karet bekas sayur yang ia kumpulkan di atas kulkas.


"Lilis!" Sena mengomel lagi, namun perempuan itu pun segera kembali pergi. "Ngeselin banget ih."


Melihat interaksi mereka, Ansel sedikit tertawa. "Kalian memang seakrab itu?" tanyanya. Setahu dia, pelayannya di rumah sang papa, tidak ada yang seberani Lilis pada majikannya.


"Akrab apa, ribut iya." Sena kembali menyendok makanannya.


"Kalian akrab."


"Eh, lupa. Tadi gue bilang ada sesuatu buat lo ya." Sena yang teringat dengan sesuatu lalu merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan sebuah gelang dari sana. "Buat lo."


Ansel melirik gelang unik yang diangsurkan gadis itu, lalu beralih menatap wajah Sena dengan mengangkat alisnya. "Saya pikir, sesuatu yang Nona katakan untuk saya itu, semangkuk makanan ini."


"Ah, itu bukan sesuatu. Lagian bukan gue yang masak. Tapi kalo ini asli gue bikin sendiri. Sini tangan lo." Sena memasangkan gelang di tangan pengawalnya, tersenyum saat benda itu terlihat cocok berada di sana.


"Ini bukan buatan Lilis lagi, kan?"


"Bukaan. Dia mana bisa bikin ginian."


Ansel tersenyum, memandangi gelang bertali hitam dengan asesoris empat balok kecil, yang masing-masing tercetak satu huruf dan jika disatukan menjadi nama dirinya. "Terimakasih," ucapnya.


"Jangan diliat harganya ya, gue belom kepikiran beli yang mahal buat lo." Sena berucap santai, seolah benda itu memang bukan apa-apa bagi dirinya, hanya ucapan terimakasih saja. Dia tidak pernah tahu, bahwa sekali ini saja selama hidupnya, Ansel mendapat sebuah hadiah dari seseorang yang baru dikenalnya.


"Terimakasih." Ansel mengulang kata itu lagi.


"Pake ya, jangan dibuang. Itu khusus gue kasih buat lo. Jadi kalo kita di tempat rame gue gampang ngenalin lo."

__ADS_1


Ansel mengangguk patuh. "Semacam kalung untuk hewan peliharaan?"


Kalimat itu sontak membuat Sena menoleh. Keterkejutannya ternyata membuat senyum Ansel mendadak hilang, raut wajahnya berubah bingung.


"Kok hewan peliharaan sih?"


"Banyak orang yang menggunakan kalung untuk menandai kepemilikan hewan tersebut."


"Lo bukan hewan Askaraa!"


Ansel tertegun. Lalu tersenyum canggung. "Saya bercanda," ucapnya lirih.


"Ish, candaan lo aneh."


Ansel tidak menanggapi. Kembali berusaha menghabiskan makanan di mangkuknya dan mulai memikirkan rencana lanjutan untuk malam ini. Tapi sepertinya dia tidak bisa berkonsentrasi.


"Di balok kecil itu ada inisal huruf yang kalo disatuin jadi nama lo, tapi cuma Aska aja, kalo Askara kepanjangan." Sena kembali membahas gelang pemberiannya.


Ansel mengamati benda itu lagi. "Nama saya bukan Askara," ucapnya.


Sena mengerutkan dahi, sendok di mulutnya masih ia gigit saat mengangkat alis meminta penjelasan.


"Jadi, nama lo siapa?"


***


Author: Nama saya Bambang.


Netizen: Bodo amat 😒


Author: makasih loh kamu ini aku updatenya agak cepet dikit.


Netizen: cepet mah sehari tiga kali.


Author: Lu kata minum obat 😒



__ADS_1


__ADS_2