Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
20


__ADS_3

Ansel masih berada di dalam kamarnya, merapikan barang-barang dan ia masukan ke dalam tas punggung yang ia pinjam dari Bastian. Baju-baju yang ia pakai selama ini ditinggalkan di dalam lemari, karena itu bukan miliknya.


Pagi-pagi sekali Ansel menemui Paman Handi dan berkata ingin berhenti bekerja di rumah ini. Pria paruh baya itu menanyakan alasan kenapa dia ingin pergi. Dan Ansel hanya berkata ingin pulang kampung dan tidak akan kembali.


Suara ketukan di pintu membuat Ansel yang tengah menutup resleting tasnya itu lalu menoleh. Dia beranjak membuka benda itu, sedikit terkejut saat melihat Sena berdiri memunggunginya.


"Non Sena?"


Sena berbalik, sesaat terdiam dengan menatap lekat wajah tampan di hadapannya. "Lo mau kemana?"


Kini Ansel yang diam. Dia menebak mungkin Paman Handi sudah mengabarkan pada mereka, bahwa dia mengundurkan diri jadi pengawal gadis itu. "Saya –,"


"Gue punya salah sama lo?" Sena bertanya. Dan tidak mendapatkan jawaban dari pria di hadapannya. Sena mendorong pemuda itu hingga mundur satu langkah. "Bilang! Gue salah apa sama lo?" desaknya.


"Tidak, Nona. Bukan seperti itu."


"Lo masih punya utang sama gue ya, Askara. Masih inget kan?"


Ansel berpikir. "Hutang?"


"Hutang syarat buat dapetin maaf dari gue karena lo udah bohong kemaren." Sena menjelaskan.


Ansel terdiam, dia tentu saja masih ingat. Bingung harus berkata apa dia pun nemilih diam saja.


"Syaratnya lo nggak boleh kemana-mana."


.


Ansel tidak jadi pergi, di hadapannya Paman Handi terus berbicara menasihati. Membujuk pemuda itu untuk bertahan di sini.


"Bukankah mereka memperlakukanmu dengan baik?" Paman Handi bertanya seraya menghabiskan jatah sarapannya. Di ruangan yang sama, Ansel juga tengah berusaha menghabiskan makanan serupa.


Ansel diam saja, tugasnya sudah selesai sekarang. Dia tentu tidak punya alasan untuk tetap bertahan di rumah ini, kecuali janji pada Sena yang harus dia tepati.


"Kata Tuan, setidaknya bertahan sampai habis bulan. Jadi dia bisa memberimu gaji." Paman Handi berucap lagi. Hal itu membuat Ansel mendongak.


"Aku tidak perlu gaji," ucapnya santai, yang membuat pria di hadapannya itu menggelengkan kepala.


"Jika kamu memang tidak butuh uang, setidaknya itu bisa kamu berikan pada ibu dan adikmu."


Ibu. Ansel menghentikan pergerakan tangannya, justru dia khawatir dengan keadaan sang ibu, untuk itu dia ingin segera mengakhiri sandiwara ini. Apakah wanita itu tidur dengan nyenyak. Apakah makanannya sudah cukup layak.


Bertahun-tahun mereka berpisah. Dan saat dia sudah berada di sini, dia justru sulit menemuinya.


"Pikirkan baik-baik, Aska." Paman Handi menepuk pundak Ansel sebelum beranjak berdiri dan pergi meninggalkannya.


Meski dia harus bertahan, bukan karena gaji yang harus ia dapatkan. Melainkan janji pada Sena yang mau tidak mau ia selesaikan.


.


Perjalanan menuju kampus Sena habiskan dengan lebih banyak diam. Sesekali dia yang duduk di kursi belakang, melirik pada Ansel yang tengah serius menatap jalanan.


"Jadi, apa alasan lo mau berenti?" Sena kemudian bertanya, memecah keheningan yang terasa begitu lama.


Sebenarnya Ansel sudah menyusun kalimat di kepalanya tentang alasan dia ingin pergi. Tapi melihat wajah Sena yang sulit terbaca dari spion di atasnya itu, dia jadi gugup sendiri.


"Lo mau nyari kerjaan di tempat lain?" Sena bertanya lagi saat tidak mendapatkan jawaban apa-apa.


"Untuk saat ini mungkin tidak," jawab Ansel sembari membelokkan kemudi saat sudah sampai di depan gerbang kampus nonanya. Kemudian berhenti di parkiran yang tersedia. "Anda bisa dengan cepat mendapat pengawal yang baru, Nona Lasena," bujuknya.


"Gue nggak butuh pengawal baru." Sena membuka pintu, keluar dan menutup benda itu. "Lo nggak usah ikut turun. Mau pergi kan?"

__ADS_1


Ansel mengangkat alis. "Boleh?" tanyanya.


Sena mengangguk. "Jemput gue tepat waktu," pesannya pada pria itu. Lalu melangkah pergi meninggalkan Ansel yang masih membatu.


Ansel memang meminta izin ke suatu tempat pada Sena. Hari ini dia ingin pulang untuk melihat keadaan ibunya.


.


"Jadi, dia sebenernya anak orang kaya?" Kairan menyela cerita Sena tentang pengawal barunya yang sudah membohongi mereka.


Dengan yakin Sena mengangguk. Mereka tengah berada di kantin kampus selesai mengikuti kelas pertama hari ini.


"Kenapa tidak lapor polisi saja, jelas-jelas dia itu penyusup. Apalagi Bagaskara itu memang rival papi kamu." Julian yang ikut bergabung, mengutarakan pendapatnya.


"Kata papi gue nggak boleh gegabah," balas Sena, mengambil potongan kentang goreng lalu ia masukan ke dalam mulutnya. "Om Alvin lagi cari tau dulu motif dia nyamar jadi pengawal gue tuh apa," imbuhnya.


"Makanya lo nahan dia buat nggak pergi dari rumah? Yakin nggak bakal kabur?"


"Nggak kayaknya. Dia nggak mungkin curiga, polos banget keliatannya."


"Kamu harus tetap hati-hati, Sena." Julian mengingatkan sahabatnya.


Sena berdecak malas. "Dia yang harusnya hati-hati sama gue," tantangnya.


"Tapi lo yakin dia keluarga Bagaskara? Kemaren pas gue dikenalin anak cowoknya cuma dua, kok." Kairan masih tidak percaya.


"Lo tau kan anak ceweknya yang namanya Saci itu, dia pernah bilang kalo itu adeknya."


"Ngaku-ngaku kali."


Sena mengangkat bahu, menarik gelas jus di hadapannya dan ia minum menggunakan sedotan. "Berhubung gue udah curiga, ya gue ceritain aja sama papi gue."


"Terus rencana kamu sekarang apa?"


"Lo nggak takut tiba-tiba dia berbuat yang nggak baik sama lo gitu?" Kairan mengingatkan.


Sesaat Sena tertegun, dia kembali mengingat kebersamaannya dengan pemuda itu. Dan sepertinya Askara memang bukan pria yang berbahaya. Dan Sena lalu mengatakan itu pada mereka.


"Terkadang, yang paling berbahaya dari manusia itu. Dia bisa membenci dengan senyum di bibirnya," ucap Julian. "Bagaimanapun juga, dia anak dari orang yang tidak suka dengan keluargamu," imbuhnya.


"Tapi gue masih bingung kenapa Pak Bagaskara nggak ngakuin bahwa Askara itu anak dia."


"Ansel. Namanya Ansel." Sena teringat pada pengakuan pengawalnya itu. "Askara nama keluarga dia."


"Ansel Bagaskara?" Ralat Julian.


"Nah, bener kan. Dia emang keluarga Bagaskara." Sena terlihat kesal saat mengutarakan dugaannya. Dia benar-benar tertipu dengan keluguan pemuda itu.


Belum sempat mendapat tanggapan, seorang pemuda yang datang menghampiri mereka seketika membuat Sena terlonjak.


Dengan kurang ajarnya, Bari mencolek dagu Sena sembari berkata, "Apakabar, Sayang."


Sena menepis tangan Bari. "Nggak usah pegang-pegang gue!" bentaknya.


Julian hendak beranjak berdiri, namun dengan sigap Kairan menariknya. Bagaimanapun juga, itu urusan Sena dengan Bari yang tidak bisa diikutcampuri oleh mereka. Kecuali Bari berbuat kasar pada sepupunya.


"Wess, santai dong." Bari pura-pura terkejut dengan sikap Julian yang waspada. "Gue cuma ada urusan sepele sama temen lo," ucapnya dengan menoleh pada Sena. "Iya, Nggak?"


Sena menghela napas jengkel, belum selesai urusannya dengan Ansel. Dia lupa punya masalah juga dengan pria gila di hadapannya. Kenapa akhir-akhir ini, dia jadi banyak masalah. "Ok, gue tau gue salah. Gue nggak ingkar janji kok, tapi ya nggak jadi babu lo juga," semprotnya.


"Ya nggak bisa gitu dong, Sayang. Perjanjiannya lo itu jadi babu gue selama...." Bari menoleh pada teman-temannya. Meminta jawaban berapa lama gadis itu menjadi budaknya.

__ADS_1


"Setahun." Salah satu teman Bari menjawab.


"Gila!" Sena mengomel, "seminggu, woy!" semprotnya.


Bari tertawa. "Sebulan dong, Sayangkuu."


Sena berdecih sinis. "Oke gue bakal bayar hutang janji gue, tapi nggak jadi babu lo juga," ucapnya.


"Terus, lo mau bayar pake apa?" tantang Bari. "Tubuh lo."


"Bangsatt!" Kairan melempar tempat sendok ke arah Bari dan menimbulkan keributan di kantin kampus yang cukup ramai. "Maju lo sini kalo berani!" sentaknya.


"Kay!" Sena melerai, menarik kaus sepupunya yang sudah ingin menghajar Bari yang mundur beberapa langkah.


Bari terlihat marah, benda yang dilemparkan Kairan tepat mengenai wajahnya. Beruntung tidak terluka.


"Urusan gue bukan sama lo, Anj–!" Bari yang tidak terima mengambil apa saja yang ia dapat dari meja di sebelahnya. Lalu melemparkannya pada Kairan yang dengan sigap menghindarinya.


Jeritan para pengunjung kantin membuat suasana kian kacau. Kairan tidak pernah tahu bahwa Sena tepat berada di belakangnya. Dan gadis itu hanya sempat mengangkat kedua lengannya untuk menutupi kepala.


Suara pecahan kaca membuat Sena tersadar dengan apa yang dilamparkan Bari ke arahnya, namun gadis itu terlihat baik-baik saja.


"Anda tidak apa-apa, Nona?"


Sena membuka mata, menatap Askara yang entah dari arah mana sudah berdiri menghalangi tubuhnya. Pemuda itu terlihat panik luar biasa.


"Anda baik-baik saja?" Ansel kembali bertanya. Digenggamnya lengan sang Nona guna memastikan gadis itu tidak terluka.


Sena masih diam, lalu membelalakan mata saat darah segar membasahi kerah kemeja pria di hadapannya. Semakin terkejut saat Ansel yang berubah lemas, menjatuhkan diri ke arahnya.


"Askara!"


***


Author: emm anu mon–


Netizen: Minta maap lagi gua tampol nih.


Author:😒😒😒


Netizen: ada yang nanyaa katanya entar tanggal satu mau bikin cerita baru di mana.


Author:Di k b m a p p doong, doain biar aku bisa gajhian yaaaa.


Netizen: emang di sini nggak gajian.


Author: Kaga atuh kan aku nggak kontrak, tapi tenang aja pasti kutamatin di sini kalem kalem.


Monmaap buat yang punya i n n o v e l, boleh minta lopenya buat Bang Jino ya, aku taro di sana biar kalo yg gabisa buka k b m kan bisa baca di sana gitu looh. Di sana koinnya bisa mulung gess sapa tau kaĺean sabar ye kan. Nama oenaku masih sama, btw jan lupa dipolow juga ya.


Oke cukup terimakasih.


ini Sena



ini Askara



ini kenalin anaknya Bang Ar.

__ADS_1


kairaaan



__ADS_2