Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
30


__ADS_3

"Kalo lo penasaran, sini biar gue praktekin aja."


Ansel berdecak sebal menanggapi kalimat gadis itu. Tentu saja Sena juga tidak benar-benar melakukannya, setelah tertawa dia kembali fokus pada rambut sang mama yang sudah terlihat rapi dan tinggal diikat saja.


"Beres. Tante cantik banget deh," ucap Sena dengan menyentuh kedua bahu wanita di hadapannya. Mencondongkan tubuhnya untuk melihat respon wanita itu yang justru diam saja. Tapi tentu Sena tidak merasa kecewa.


"Terimakasih." Ansel yang mengucapkannya.


Sena menoleh, kemudian tersenyum. "Sama-sama. Eh nyokap lo namanya siapa?"


"Annanta. Panggil saja Anna."


Sena mengangguk, lalu memiringkan kembali kepalanya pada wanita bernama Anna yang duduk di kursi roda. "Hay Tante Anna, aku Sena," ucap gadis itu mengenalkan dirinya.


Ansel sediki tertawa, melihat kedekatan itu dia merasa bahagia. Kini dia menambahkan satu lagi dafta nama perempuan yang ia masukkan ke dalam hatinya, selain Saci juga sang mama.


"Kalo boleh tau, nyokap lo kenapa?"


Ansel mengenang kembali kebersamaanya dengan wanita itu. "Mama itu tipe perempuan yang sering menyimpan masalahnya sendiri," ucapnya sembari menatap wajah wanita cantik yang ia panggil mama.


Pria itu bercerita bahwa beberapa tahun yang lalu mamanya dinyatakan depresi, sampai saat ini pun dia sering mengurung diri.


"Nggak mungkin nggak diobatin kan?"


"Papa yang memegang kendali penuh atas hal itu. Saya bisa apa? Bahkan saat mama saya sedang membutuhkan seseorang di sampingnya, saya malah tidak ada."


"Kemana?"


Ansel mengalihkan pandangannya dari sang mama, ke arah Sena yang tampak penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Pria itu lalu berkata bahwa dia diperintahkan oleh sang papa berkuliah di luar negri.


"Dan ujung-ujungnya cuma jadi kepala gudang?" Sena tertawa sinis mengucapkan kalimat itu.


Ansel tentu terkejut. "Bagaimana Nona bisa tau?"


"Abang lo yang cerita."


"Pembahasan kalian sejauh itu?"


"Gue nanya aja sama dia kerjaan dia di kantor apa, terus sekalian juga nanya kakaknya sama lo juga."


"Ooh." Ansel mengalihkan pandangannya lagi, dia tentu merasa malu. Sena jadi tahu keluarganya ternyata sekejam itu.


"Mendingan juga lo ikut kerja sama bokap gue aja," ucap Sena.


Ansel terkejut lagi. "Nona tau tentang tawaran itu?"


"Ah?" Sena tampak kelabakan, dia lalu menggeleng. "Nggak sih, eh iya tau. Papi yang bilang," ralatnya.


"Saya sudah menolaknya, apa mungkin masih bisa diterima."


"Kalo mau nanti gue bilangin."


Ansel mengerutkan dahi, mencerna gerak gerik gadis di hadapannya saat ini. "Jadi tawaran itu atas permintaan Nona juga," tebaknya.


Kali ini Sena yang tampak terkejut. "Lo tuh sebenernya pinter ya, cuman pura-pura bego aja kayaknya. Ih, kesel gue," keluhnya.


Hal itu tentu membuat Ansel tertawa. "Hanya menebak," kilahnya. "Tuan Justin sepertinya bukan tipe orang yang mudah terpengaruh, dia pasti begitu mencintai Nona," ucapnya haru.


"Lo belom tau papi gue si, dia tuh kalo di luar kaya Singa yang disegani sama penghuni hutan lainnya, tapi kalo di rumah mah jadi kucing persia dia. Lemah sama anak-anaknya. Abang gue aja pernah kabur pas mau nikah." Setelah mengutarakan kalimat panjang yang tidak penting itu Sena kemudian berpikir, kenapa dia jadi membuka aib keluarga.

__ADS_1


Tapi tidak apa, setidaknya Ansel bisa berpikir keluarganya tidak sesempurna yang dia kira. Sedikit menghibur pemuda itu yang benar-benar dikucilkan oleh para saudaranya, bahkan sang papa.


Ansel masih terlihat mengulas senyum saat Sena memutuskan kembali mengubah topik pada Tante Anna. "Kalo boleh tau lagi, kenapa Tante nggak bisa jalan?" tanyanya.


Senyum di bibir pria itu perlahan menghilang. Sena jadi merasa bersalah atas pertanyaannya. Dan lengkung itu digantikan dengan senyum pahit yang berusaha menyamarkan kesedihan hatinya.


"Mama pernah kabur, dia lari ke jalan raya. Nona mungkin bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya."


Sena mengangguk, mungkin sebuah kecelakaan membuat kakinya lumpuh. "Tapi bisa diobatin, kan?"


"Berobat jalan, tapi saya bahkan tidak akrab dengan dokternya."


Sena tidak menanggapi lagi, dia merasa terlalu ikut campur jika kembali memberikan solusi. Dia hanya mengangguk kecil tanda mengerti.


Mama Ansel lalu menggerakkan kursi roda menjauh dari mereka, menuju bunga-bunga yang tertata rapi di dalam pot dan kemudian memandanginya.


Sena tentu merasa bingung saat Ansel membiarkannya. "Beneran nggak apa-apa dibiarin gitu?" tanyanya.


Ansel menggeleng. "Mama memang seperti itu, suka menghampiri tempat yang dia mau. Tapi tidak pernah terlalu jauh.


"Oooh." Sena masih mengarahkan pandangannya pada wanita bernama Anna, lalu beralih pada Ansel yang ternyata tengah memandanginya. "Kenapa?"


"Kenapa Nona bisa ada di sini?"


"Tadi gue lewat gerbang itu, terus bilang sama penjaganya mau ketemu Sandi. Terus gue dibolehin masuk."


"Jadi memang benar Nona ke sini ingin bertemu Kak Sandi?"


"Ya kan semalem mereka taunya gue sama Sandi. Masa gue bilang mau ketemu sama lo. Kenapa sih, lo nggak suka?" Sena terlihat sebal saat kehadirannya terkesan mengganggu pemuda itu. "Lo nggak suka gue ke sini apa nggak suka tujuan gue bukan lo?"


Sesaat Ansel terdiam, dia lalu mengakui bahwa dia tidak menyukai jika tujuan gadis itu ke tempat ini adalah Sandi.


Sena tertawa. "Lo cemburu?"


"Iya itu namanya cemburu." Sena melirik Sinis, namun dengan polos pria itu lalu mengangguk.


"Iya mungkin seperti itu."


"Jujur banget lo ya."


"Apa tidak boleh?"


"Bukan nggak boleh, nggak umum aja. Biasanya orang yang cemburu nggak pernah bilang kalo dia cemburu."


"Ooh."


"Dih, Oh doang." Sena menggeleng tidak percaya, Ansel mungkin pintar di bidang lain, tapi tidak dengan asmara. "Makanya kalo nggak mau cemburu, lo jadi pacar gue aja."


"Apa dengan begitu Nona tidak akan dekat dengan Kak Sandi."


"Bisa diatur."


"Kalo begitu saya mau."


Sena tertawa mendengar tanggapan pria di hadapannya. "Kaya nawar cabe di pasar, gue," gumamnya tidak percaya.


Ansel yang merasa bingung dengan apa yang ditertawakan gadis itu kemudian bertanya. "Kenapa?"


"Nggak gitu konsepnya orang nembak."

__ADS_1


"Ada konsepnya juga?"


"Udah lupain aja, gue bercanda."


"Tapi saya serius." Ansel menegaskan. "Saya tidak suka melihat Nona dekat dengan Kak Sandi. "


"Bukan bagian itu."


"Yang menjadi pacar Nona. Saya juga serius."


Bersamaan dengan Sena yang tertegun mendengar pernyataan pemuda itu, Ansel beranjak berdiri menghampiri sang mama dengan membawa segelas air minum dan butiran obat di tangannya.


Sena ikut berdiri, masih tidak percaya dengan yang telah terjadi. Apa mereka baru saja jadian? Kenapa terasa aneh sekali.


"Mama minum obat yah, Paman Lim sudah periksa obat ini bagus kok. Jadi mama bisa minum lagi."


Anna menolehkan pandangannya pada obat- obatan di mangkuk kecil yang putranya bawa, kemudian menggeleng.


"Tante minum obat biar cepet sembuh." Sena ikut membujuk, dengan menyentuh pundak wanita itu. Tidak disangka, Anna meraih pergelangan tangan Sena kemudian merematnya. "A, aduh, Tante," pekiknya.


"Mama." Ansel terkejut saat sang mama meminta perlindungan pada gadis di belakangnya. "Mama bisa menyakiti tangan Sena," ucapnya.


"Nggak, gue nggak apa-apa, kok."


Ansel menjauhkan obat itu dari sang mama, menenangkan wanita itu dengan berkata tidak akan lagi memaksanya.


"Emang kenapa sih?" Sena yang merasa iba lalu bertanya.


Ansel mengangkat bahu, dia berkata sepertinya sang mama memiliki firasat buruk dengan obat itu, dia juga bercerita bahwa orang kepercayaannya sudah menanyakan pada dokter yang ditemuinya.


Sena mengambil obat itu dari tangan Ansel. "Temen papi ada yang dokter, nanti gue coba buat nanya sama dia," ucapnya, membungkus butiran obat itu menggunakan tisu lalu dimasukkan ke dalam tas.


"Tidak perlu repot-repot."


"Nggak apa-apa, kalo perlu kita harus tanya ke banyak orang yang ahli obat-obatan biar yakin."


Ansel membenarkan pernyataan itu. "Terimakasih, Nona," ucapnya dengan tersenyum.


Sena mengangguk. "Tadi lo manggil gue Sena, jangan panggil Nona. Gue kan bukan majikan lo lagi."


"Terimakasih, Sena." Ansel meralatnya.


"Sama-sama, Mas pacar."


***


Netizen: Eeaaa


Author: Ini udah update yaa.


Netizen: Besok update lagi nggak.


Author: Nggak janji dah nggak tenang hidup gue. 😒


Netizen: 🤣🤣



Yang nggak mau bercanda, maunya diseriusin ajaa

__ADS_1



Ini yang iseng nembak, eh malah diterima. eeaaa


__ADS_2