Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
22


__ADS_3

Malam ini, Ansel berada di sebuah kamar yang jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Tapi tidak mungkin jika pemuda itu tidk merasa gelisah, Sang Tuan mungkin sudah tahu siapa dia sebenarnya.


Ansel memang terlalu bodoh karena begitu terburu-buru mengambil keputusan untuk pergi dari rumah ini. Sejak Paman Handi bercerita bahwa Justin kembali menanyakan asal usul dirinya, yang diketahui sebagai keponakan pria itu. Ansel berpikir tuannya yang bukan orang biasa tentu sudah curiga.


Paman Handi berkata, Justin meminta ditunjukan selembar foto milik Askara, satu-satunya benda yang ia gunakan untuk mengenali keponakannya. Justin tentu tahu itu bukanlah potret dirinya.


Di tengah kegundahannya untuk tetap tinggal atau memilih melompati jendela dan kabur dari sana, dering ponselnya yang bergetar tidak seberapa, membuatnya terkejut luarbiasa.


Telepon dari Bastian, dia lalu mengangkatnya. Pertanyaan pria itu selalu saja sama. "Iya, ini aku masih hidup," jawab Ansel yang kekesalannya semakin memuncak entah kenapa.


"Aku tidak bisa mengakses cctv di kediaman Adley, apa kau menggantinya?"


Pertanyaan itu membuat Ansel mengusap wajahnya gusar dengan sebelah tangan, pria itu masih duduk di tepi ranjang dengan tidak tenang. "Aku tidak melakukan apa-apa," ucapnya lemah.


Di seberang sana Bastian terdengar mengumpat, dia langsung menerka apa yang tengah dilami oleh sahabatnya.


"Tunggu apa lagi? Kau harus cepat pergi dari rumah itu!"


"Tidak!"


"Apa kau sudah gila!"


"Aku memang sudah gila."


Bastian terdengar frustrasi di seberang sambungan telepon, yang ia tempelkan di telinganya. Sejenak Ansel memejamkan mata, memikirkan keputusannya yang tidak akan kabur dari sana.


Ansel lalu menceritakan tentang  dugaan bahwa kedoknya sudah terbuka, sebuah kecurigaan yang sangat beralasan dan ia yakini kebenarannya.


"Aku akan menjemputmu. SEKARANG!"


"Bastian." Pelan Ansel memanggil nama sahabatnya, dia sepertinya lupa ada satu orang lagi yang ternyata begitu peduli dengan dirinya. "Kau tidak perlu melakukan itu," imbuhnya.


"Kau bisa mati!" Bastian kembali membujuk pria itu untuk berpikir sekali lagi.


"Biarkan saja, Bas. Biarkan aku mati di sini, setidaknya itu lebih terhormat daripada harus melarikan diri."


Bastian masih terdengar mengomel. Ansel menghela napas, berkata bahwa dia akan baik-baik saja, pemuda itu tidak perlu merisaukannya.


***


"Selamat, Pak Dwitama." Justin mengulurkan tangan, memberi selamat untuk kemenangan pria itu.


Mereka masih berada di dalam ruangan rapat, para petinggi yang lebih dulu memberi selamat pada pemimpin Bagaskara grup, nyaris mengosongkan tempat itu dan menyisakan Justin juga anak kembarnya yang memilih keluar lebih dulu.


Dwitama terlihat senang akan kemenangannya. Entah terlalu piawai menyembunyikan rasa kecewa, Justin justru tampak biasa saja. Dan hal itu tentu membuat Dwitama sedikit curiga akan ketenangannya.


"Ide yang anda berikan pada klien sungguh luar biasa, Pak. Saya ikut terkesan." Justin melontarkan pujian.


Sesaat Dwitama terdiam, mencerna apakah kalimat itu sebuah sindiran atau memang tulus pria itu berikan. "Anda merasa familiar dengan ide saya?" pancingnya.


Justin mengerutkan dahi, berpura-pura tidak mengerti. "Tentu saja saya juga sempat memikirkan hal itu, mengingat klien kita adalah seorang yang ahli Agama. Tapi mengusung konsep hotel syariah, saya tidak berani mengajukannya. Sekali lagi selamat untuk anda, Pak Bagaskara. Siapapun orang hebat di balik ide anda, sampaikan rasa bangga saya."


Justin tersenyum tulus. Saat Dwitama mengajukan diri untuk presentasi lebih dulu, dia pikir akan mendapat kecurangan atau setidaknya kesamaan ide yang akan merugikan dirinya. Tapi ternyata pria itu malah mengajukan konsep yang berbeda, bahkan dari semua kandidat yang ada.


Dwitama hanya tersenyum kecil menanggapi itu, raut wajahnya tampak berpikir. Dan tentu saja Justin tahu apa yang tengah dipikirkannya.


"Ah iya, satu lagi Pak Dwitama." Justin yang semula hendak melangkah pergi kemudian berucap lagi. "Seekor Singa sirkus terjebak di kandang saya, apakah anda yang menjinakkannya?"


Dwitama tertegun, terkejut tentu saja. Dia tampak kebingungan harus berkata apa.


"Pinjami saya sebentar untuk sedikit bermain-main. Saya akan segera mengembalikannya." Setelah mengucapkan kalimat itu, Justin lalu berbalik. Belum sempat melangkah pergi, Dwitama akhirnya bersuara.


"Perlu anda ketahui, Pak Justin. Sejinak-jinaknya Singa sirkus, naluri membunuhnya masih ada. Sebaiknya anda berhati-hati." Dwitama dapat membaca apa yang dilakukan putra ke tiganya.

__ADS_1


Justin yang kembali menoleh kemudian tersenyum. "Anda tentu lebih tahu, siapa mangsanya."


***


Selesai mengikuti kelas hari ini, Sena berpamitan pada teman-temannya yang masih berkumpul di kantin untuk pulang lebih dulu. Dia menyuruh Ansel menunggu di parkiran saja, geng calon mantu selalu heboh jika pria itu menemui mereka.


Kali ini Sena tidak perlu khawatir lagi dengan Bari dan teman-temannya. Menghindari tuntutan pelemparan gelas yang mengakibatkan pengawalnya mendapat beberapa jahitan, pemuda itu meminta jalan damai dengan menghapuskan perjanjiannya dengan Sena.


Tentu saja Sena menjadi pihak yang diuntungkan atas kejadian itu, Sena pun  semakin merasa bersalah karenanya.


"Gue males balik." Sena berucap saat Ansel membukakan pintu mobil untuk gadis itu.


Sejenak Ansel berpikir. "Ingin ke suatu tempat, Nona?" tawarnya.


Sena mengangguk. "Punya rekomendasi?"


"Saya tidak tau tempat apa yang ingin anda kunjungi."


"Lama banget rasanya gue nggak ke bar."


"Tempat itu tidak boleh masuk ke daftar  tujuan anda." Ansel mengingatkan.


"Gue bercanda."


"Tidak lucu."


"Nggak semua bercandaan harus lucu,  Sel. Buat mencairkan suasana aja. Gue rasa lo pas lahir dibedongnya pake kanebo ya, kaku banget." Panjang lebar Sena mengomel, kemudian masuk ke mobil dengan mood yang berantakan.


"Jadi ke suatu tempat?" Sembari memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya, Ansel kemudian bertanya.


"Males lah, nggak tau mau kemana. Pulang aja."


"Non Sena?"


"Bisa duduk di depan saja, saya bukan supir anda."


Sena yang memang menduduki kursi belakang lalu mencondongkan tubuhnya. "Lo masih pengawal gue bukan si?" Kurang ajar banget, lanjutnya dalam hati.


"Terakhir anda bilang bukan." Ansel menjawabnya."


Sena ingat akan pernyataan itu, dia lalu berdecak sebal, berpindah ke kursi depan tanpa keluar dari mobil.


Ansel memundurkan tubuhnya, sedikit menahan senyum saat gadis itu sudah duduk di tempatnya. "Saya bercanda."


Sena memutar bolamatanya jengah. "Hallah!" dengusnya.


Pria itu tertawa, lalu menawarkan lagi apakah sang nona ingin pergi bersama dirinya. Namun gadis itu malah menuduh dia akan menculiknya.


"Menculik nona muda putri bungsu keluarga kaya? Ide yang bagus."


Sena melengos. "Ada juga lo yang gue culik," tukasnya. "Belum pernah dibantuin nginjek gas pas lagi nyetir lo ya," ancam gadis itu.


Ansel kembali tertawa, lanjut mengemudi membawa sang nona ke tempat yang pernah didatanginya.


"Taman?" Sena turun dari mobil, mengerutkan dahi memperhatikan halaman luas yang dipenuhi macam-macam pohon dan bunga. Permainan anak-anak tampak penuh oleh warga yang berkunjung di sana.


"Nona menyuruh saya untuk ke tempat yang saya suka. Ini tempat yang saya suka." Ansel menjelaskan setelah mengunci mobil dan ikut memperhatikan sekitar mereka.


Sena melangkahkan kakinya menuju bangku panjang tanpa sandaran, cukup sepi karena jauh dari permainan anak-anak yang terletak di tengah taman. "Kenapa lo suka taman?"


"Karena di sini saya banyak melihat gambaran keluarga bahagia."


Jawaban itu membuat Sena sedikit tertawa. "Keluarga gue nggak pernah ke taman, tapi tetep bahagia," ucapnya.

__ADS_1


"Kalian tidak pernah ke sebuah taman? Sayang sekali." Ansel tampak menyesal saat mengutarakan kalimat itu, seolah hal demikian begitu rugi untuk dilewatkan. "Sejak dulu saya ingin sekali ke taman dengan mama saya, juga papa. Mengejar satu bola dengan saudara-saudara saya di lapangan sana.


Sena terdiam, menatap wajah tampan Ansel yang fokus memandang lapangan yang ia sebutkan. Sesederhana itukah cita-cita seorang Ansel Bagaskara?


Tiba-tiba Ansel menoleh, menemukan kedua bolamata Sena yang mengerjap cepat, saat dia memergoki gadis itu menatapnya.


"Jika saya menobatkan sebuah taman menjadi tempat faforit saya, lalu tempat apa yang anda suka?" Ansel bertanya.


Sena yang sudah membuang muka sejak pria itu menoleh lalu berpikir. "Mungkin Bar," jawabnya asal.


Ansel tersenyum, kembali mengarahkan  pandangannya pada anak-anak yang bermain kejar-kejaran di ujung sana.


"Kalo ini yang lo suka, terus yang lo benci apa?" Iseng Sena bertanya. Siapa tahu dia bisa menemukan kesamaan di antara mereka. Entah untuk apa, ingin saja.


"Keramaian," jawab Ansel yang membuat Sena kembali menatapnya.


"Kenapa keramaian?"


"Karena di tempat seperti itu, saya harus berpura-pura merasa nyaman."


Sena membentuk hurup o dengan mulutnya tanpa bersuara, masuk akal juga sih jawabannya.


"Nona sendiri, apa yang anda tidak suka?"


Pertanyaan itu membuat Sena berpikir. "Apa ya, banyak sih. Tapi buat sekarang sih gue nggak suka sama lo," ucapnya.


Ansel tentu saja terkejut. "Kenapa saya?"


"Karena lo adalah satu-satunya manusia yang berhasil ngajarin gue, bahwa nggak semua keindahan di bumi ini bisa gue miliki."


"Maksudnya?"


***


Netizen: Iya itu apa si maksudnya thor.


Author: Gue jugs nggak ngerti, emang bapak sama anak kalo ngomong sulit dipahami.


Netizen: Bahasa lu ketinggian padahal otak lu ganyampe ya.


Author: Lah iya jan salahin gue, salahin Papi Entin. Jan muncul-muncul lagi dah dia, pusing gue mikirin dialognya.


Netizen: adaaa ya tukang nulis kaya begini 😒😒


Author: 😂😂😂


Jan lupa bantu lopein Bang Jino di i n n o v e l yaaa. Bantu lope doaang 😂😂


Ketemu lagi tanggal satu ya gesss  sekalian promo cerita baru di sebelah nanti. Bantuin aku lagi yaaa.


Selamat tahun baruuu jan lupa ucapin met ultah buat aku yang lahir pas orang-orang sibuk nyalain petasan. Sehat seehat panjang umur buat kalian semuaaa


Sena yang cantik doang dan gapunya keahlian apa apa.



Ansel yang lahir sempurna tapi nggak diakuin sama bapaknya



Ini Papi Entin yang menolak tua


__ADS_1


__ADS_2