Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
28


__ADS_3

"Gue kangen sama lo, emangnya nggak boleh?"


"Nona."


"Kenapa?" Sena mengangkat wajahnya menantang, mungkin pemuda itu pikir dia tidak akan berani sampai ke tempat ini. "Kenapa lo nggak pernah hubungin gue?"


"Untuk apa?"


"Untuk apa?" Sena mengulang pertanyaan pemuda di hadapannya. Bisa-bisanya dia baik-baik saja setelah beberapa hari tidak bertukar kabar dengan dirinya. Apa hanya ia sendiri yang menyimpan rindu terhadap pemuda itu. "Lo nggak kangen sama gue?" tanyanya tidak percaya.


Raut wajah Sena yang tampak kecewa, justru membuat Ansel ingin tertawa. Gadis itu terlihat semakin cantik saat tengah kesal pada dirinya. Ansel menyadari perasaan bahagia saat bertemu dengan Sena, hanya sebatas itu saja.


"Malah ketawa." Sena melengos kesal, bisa-bisanya dia jadi semurahan ini di depan seorang pria. Bahkan sampai mendekati kakaknya demi untuk bertemu dengan Ansel yang bahkan tidak merindukannya.


"Saya merindukan nona juga," ucap Ansel tanpa ekspresi yang berlebihan di wajahnya, dia memang rindu pada gadis itu. Dan dia mengakuinya. "Nona apa kabar?"


"Buruk," balas Sena cepat.


Dan jawaban itu membuat Ansel amat khawatir pada dirinya. "Apa yang terjadi?" tanyanya terlihat panik.


Sena memutar bolamatanya jengkel, dia sepertinya lupa pemuda itu sulit diajak bercanda. Belum sempat menanggapinya, dering ponsel di dalam tas mengalihkan perhatian mereka.


"Iya Sandi. Aku masih di sekitar rumah kamu kok." Sena mengangkat telepon dari Sandi yang bertanya dia berada di mana.


Mereka datang ke rumah memang bukan untuk makan malam, hanya sekadar mampir, dan izin keluar rumah kemudian. Namun pemuda itu ternyata dipanggil papanya, mungkin ada sesuatu yang harus dibicarakan.


Sena yakin Sandi pasti tengah membahas dirinya, bagaimanapun juga, hubungan keluarga mereka tidak sedang baik-baik saja, terlebih saat Ansel kedapatan menyusup dan Dwitama mengetahuinya. Tapi dari respon Sandi yang sepertinya tidak tahu bahwa Sena dan Ansel saling mengenal, Dwitama sepertinya tidak bercerita apa-apa pada putranya.


Sena mematikan sambungan telepon setelah memberitahu keberadaan dirinya pada si pemilik rumah, gadis itu berdecak sebal saat menyadari Ansel sudah tidak ada di sana. Kenapa pria itu tidak menunggunya selesai berbicara.


"Ngeselin banget si, main tinggal gitu aja." Sena menghentakan kakinya kesal, lalu melangkah lebih jauh untuk mencari Ansel yang dia harap masih berada di sekitar taman.


Gadis itu menoleh ke arah jendela yang tirainya terbuka, seorang wanita duduk di kursi roda mengarahkan tatapan kosong pada dirinya. Sena tidak tahu itu siapa, hingga sosok Ansel lalu muncul di belakang wanita itu dan ikut mengarahkan tatapan padanya juga.


"Sena?"


Panggilan itu membuat Sena terlonjak kaget, lalu menoleh pada Sandi yang setengah berlari menghampirinya. Saat dia kembali mengarahkan pandangan pada jendela, Ansel dan seorang wanita di kursi roda itu ternyata sudah tidak ada. Pria itu juga menutup hordengnya.


"Aku pikir kamu sudah pulang." Sandi menghentikan langkah tepat di sebelah gadis itu, ikut mengarahkan pandangannya pada arah tatap Sena dan kembali berkata. "Sedang apa di sini?"

__ADS_1


"Em, tadi aku liat ada orang duduk di kursi roda." Sena bertanya dengan raut kebingungan di wajahnya.


Dan hal itu mungkin terlihat lucu di mata Sandi, sampai pemuda itu kemudian tertawa. "Tenang aja, bukan hantu kok, emang beneran ada," ucapnya. Lalu merangkulkan tangannya pada Sena dan membawanya pergi dari sana.


Tanpa disadari oleh mereka, Ansel masih berdiri di balik tirai itu dan memperhatikan interaksi keduanya. Sang Nona bahkan memakai tutur bahasa yang lembut saat berbicara pada kakaknya, dia juga tidak bisa mengabaikan rangkulan tangan Sandi, saat mengajak Sena menghilang dari pandangannya.


Ansel yang melamun sedikit terkejut saat sang ibu menyentuh tangannya, wanita itu tidak memberikan ekspresi apa-apa, yang Ansel dapat tangkap dari maksud ibunya, dia ingin masuk ke dalam kamar dan beristirahat di sana.


Setelah merebahkan sang ibu di atas Ranjang, Ansel meraih jemari wanita itu kemudian ia genggam. "Cepet sembuh, Mama. Jika mama sembuh, kita bisa pergi bersama-sama," gumamnya.


Sang mama masih tidak bisa memberikan respon apa-apa, kecuali jika merasa takut pada seseorang dan menolak sesuatu. Mungkin hanya itu yang saat ini dia mampu.


Saat Ansel hendak melepas jemari sang ibu, wanita itu lalu menahannya. Dengan erat balik menggenggam tangan Ansel tanpa berkata apa-apa, hanya tatapannya saja yang tidak pernah lepas dari wajah putranya.


Ansel menduga bahwa wanita itu tidak ingin ditinggalkan untuk saat ini, dia lalu memutuskan sedikit bercerita.


"Mama lihat perempuan yang tadi? Cantik yah?" Pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban tentu saja, tapi Ansel tetap tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dia, Sena." Ansel memberi jeda, mengusap punggung tangan ibunya. "Iya, Sena yang sering aku ceritain sama mama."


Dan sepertinya gadis itu sekarang punya hubungan khusus dengan Sandi, atau bahkan mungkin saling mencintai. Tentu saja hal itu tidak ia ungkapkan pada sang ibu, Ansel akan menyimpan kegundahan hatinya sendiri.


***


"Kenapa?" Sandi mengangkat tangannya untuk menyentuh puncak kepala Sena yang duduk di sebelahnya, gadis itu yang tampak melamun reflek menghindar.


Mereka kini berada di mobil Sandi, yang berhenti sejenak di lampu merah saat mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya.


"Masih memikirkan wanita di kursi roda tadi?" Sandi bertanya lagi. Ketika mereka berada di pesta ulangtahun teman Sandi beberapa saat yang lalu, Sena memang sempat membahas tentang hal itu. Namun Sandi mengabaikannya, Sena pun tidak lagi bertanya.


"Nggak kok, bukan apa-apa."


Sandi sedikit tertawa, kembali melajukan kendaraannya saat lampu hijau sudah menyala. "Dia mamanya Ansel," ucapnya.


Ungkapan itu membuat Sena menoleh, namun memilih diam saja sampai pemuda itu meneruskan bercerita.


"Kamu belum aku kenalin ya, Ansel itu yang pergi saat akan makan malam tadi." Sandi menjelaskan lagi.


Sena menunjukan ekspresi pura-pura baru mengerti. "Dia bukan anaknya Tante Sarah?"


"Bukan. Dia anak dari istri ke dua papaku."

__ADS_1


"Tapi semua orang tau, kalian putra putri Bagaskara, hanya tiga bersaudara." Sena sedikit menyerongkan duduknya saat bertanya tentang hal itu, berusaha untuk tidak terlalu antusias ingin tahu.


Sesaat Sandi terlihat ragu untuk bercerita, pria itu menoleh sekilas. "Emang gitu beritanya ya?" tanyanya sedikit tertawa.


"Nggak mungkin kamu nggak tau kan, Sandi?"


"Iya, aku tau kok berita yang beredar emang gitu." Sandi menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang rumah Sena. "Tapi papa pasti punya alasan kenapa nggak mau terbuka. Oh iya."


Sena yang sempat melamun untuk mencerna cerita dari Sandi, lalu kembali memfokuskan tatapannya pada pria itu. "Apa?" tanyanya.


"Kamu jangan bilang tentang itu ke siapa-siapa ya, itu sebenarnya rahasia keluarga."


Demi menghargai pemuda yang selalu bersikap manis kepadanya itu, Sena membiarkan saja saat tangan Sandi membelai rambutnya, menyelipkan di balik telinga yang ingin sekali dia tepis dengan segera.


"Kamu percaya sama aku?" Sena bertanya.


Sekiĺas Sandi mengangguk. "Kita dekat kan?"


"Menurutmu?"


"Cukup dekat."


Sena sedikit mengulas senyum, Sandi memang sepercaya diri itu. Tapi Sena merasa hal itu sedikit menguntungkan untuk dirinya.


Sandi membuka sabuk pengaman di tubuh Sena. Entah kenapa gadis itu sepertinya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan saat Sandi mulai mencondongkan kepala, dia mendadak bingung harus melakukan apa.


***


Author: Kira-kira bakal ditampol nggak Sandinya.


Netizen: Kalo sampe dicium entar elu yang gua tampol pokoknya.


Author: 😒😒


Eh iya kemaren ada sedikit drama, jadi entah kenapa episode yg kukirim itu dobel ya, trus besoknya aku hapus satu kan eh ternyata ilang semua. Tapi sekarang udah muncul lagi aku udah lapor sama ngadimin nt. Alhamdulullah diurus wkwkwk


Netizen: lu nggak minta maap tumben


Author: Lagi nggak mau minta minta dulu.

__ADS_1




__ADS_2