Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
3


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Lasena Maura yang sudah terbangun dari tidurnya itu langsung memikirkan cara untuk bisa keluar rumah malam ini.


Kedapatan pulang pagi dua hari yang lalu membuat Sena mendapat hukuman dari sang papi, untuk tetap di rumah dan tidak boleh pergi. Tentu saja hal itu adalah perintah yang amat berat untuk ia jalani.


Ketukan di pintu dan panggilan dari sang ibu, membuat Sena yang tengah mondar-mandir di depan jendela jadi menoleh. Gadis itu segera melompat ke atas kasur dan memasang selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.


"Aduh mamii, sakit banget perut aku." Sena mengeluh saat seorang wanita paruh baya yang dipanggil mami, masuk ke dalam kamarnya.


"Karena dateng bulan?" Nena, sang mami yang membawa segelas susu hangat untuk putrinya itu lalu bertanya. "Biasanya juga nggak sakit," imbuh perempuan itu saat anak gadisnya terlihat mengangguk.


"Kali ini sakit, Mami." Sena yang beranjak duduk lalu merengek, menekan bagian perutnya dengan kedua tangan agar sang mami percaya bahwa dia tidak main-main dengan kesakitannya. "Mana aku kehabisan pembalut, aku ke minimarket boleh yah," imbuhnya.


Sang mami menatapnya curiga. Dia tentu saja tahu bahwa putrinya sering kali berdusta. "Bukan akal-akalan kamu biar bisa keluar rumah aja, kan?" tuduhnya.


Sena memberenggut. "Bukan ih, Mami. Nggak percayaan banget sama anaknya," sangkal gadis itu.


"Diminum susunya mumpung masih anget, kalo perut kamu sakit kan bagusnya emang istirahat di rumah, masa mau pergi," sindirnya.


Sena yang tahu bahwa bujukannya tidak akan berhasil, memilih untuk diam saja. Setelah menaruh segelas susu yang ia bawa ke atas meja, wanita itu mengusap kepala putrinya.


"Makanya, nurut sama papi. Jadi nggak dihukum."


Sena mendongakkan kepala, tatapannya tampak memohon. Namun sang mami hanya tersenyum kecil dan pergi meninggalkannya.


"Mami bikin jamu dulu, biar kamu nggak sakit perut."


Mendengar penuturan dari sang mami yang sudah kembali menutup pintu kamarnya, sena berdecak sebal. Setiap kali datang bulan wanita itu memang rajin menyuruhnya meminum jamu yang rasanya tidak enak itu.


Sena kembali memikirkan bagaimana caranya dia bisa keluar rumah nanti malam. Alasan mengerjakan tugas di rumah seorang teman, jelas dia tidak bisa menggunakannya. Sang papi pasti akan menyuruh mereka berkumpul di kamarnya saja.


Ketukan pada pintu kaca di balkon kamarnya membuat Sena menoleh. Benda itu pun terbuka, saudara sepupu yang tinggal di sebelah rumahnya itu masuk tanpa permisi dan merebahkan diri di ranjangnya.


"Gue numpang tidur ya, di rumah guenya disuruh-suruh mulu," ucapnya.


"Kebiasaan, ih." Sena mengomel saat pemuda itu menarik selimut dari tubuhnya. "Lo bisa nggak si kalo mau kabur tuh jangan ke kamar gue," imbuhnya.


"Cuma kamar lo yang paling deket." Pemuda itu bernama Kairan. Rumah mereka yang bersebelahan membuat pagar balkon kamar mereka saling berdekatan. Dia hanya perlu melebarkan kaki untuk sampai ke kamar sepupunya.


Kairan seharusnya memanggil Sena kakak, selain karena usianya yang memang lebih tua, juga karena ayah dari pemuda itu adalah adik papinya. Tapi tentu saja Sena tidak mau merisaukannya.


"Kairan, lo mau bantuin gue nggak?" Sena yang menemukan cara agar bisa keluar nanti malam, dengan keras mengguncang lengan pemuda itu. "Kairaan, lo harus bantuin gue."


Kairan berdecak sebal. "Gue kabur ke sini kan buat menghindari perintah, tolong kerjasamanya lah," keluhnya.


"Bukan sekarang, Kay. Plis bantuin gue buat keluar dari rumah nanti malem."


"Nggak, nggak, nggak!" Kairan menolak mentah-mentah dengan menggelengkan kepalanya.


Sena memberenggut. "Bantuin kek, gue usir nih," ancamnya.


Kairan yang merasa terganggu lalu mengangkat kepala. "Lo mau ngàyap ke mana si?" tanyanya.


"Temen gue bikin acara entar malem, masa gue nggak dateng."


"Bukannya lo lagi nggak boleh keluar rumah."


"Makanya itu, lo bantuin gue." Sena memohon dengan menggenggam tangannya. Pada seseorang dia tidak pernah gagal membujuk saat menunjukkan tatapan memelas sebagai andalan. Tapi sepertinya dengan Kairan, semua itu tidaklah mempan.


Kairan menarik lengannya dan membuat genggaman gadis itu terlepas. "Nggak bisa, nggak bisa. Bapak lo kan galak banget, diomelin sama dia gue bisa sawan," tolaknya.

__ADS_1


"Kai...." Sena tidak menyerah, kembali meraih lengan pemuda itu lalu mengguncangnya. "Bantuin guee!"


"Astaga nagaa!! Gue ke sini buat istirahat Senaaa." Kairan pura-pura menangis menghadapi sepupunya.


"Pokoknya bantuin gue, lo mau minta apa aja boleh deh." Sena memberi penawaran, yang sepertinya cukup dipertimbangkan oleh Kairan.


"Beneran?" Kairan mengacungkan telunjuknya mengancam.


"Beneer."


Kairan mulai berpikir, mengingat apa yang dia inginkan dan belum kesampaian. "Apa ya?"


"Terserah pokoknya apa aja."


Kairan yang sempat merenung lalu tersenyum saat menoleh pada sepupunya. "Deketin gue sama Bila, gimana?"


Mendengar nama itu Sena pun tertegun, hanya ada satu gadis bernama Bila yang sepertinya tidak mungkin yang dimaksud oleh sepupunya. "Bila siapa?"


"Temen seangkatan lo. Yang anaknya baik banget."


"Bila? Syabila, calon penghuni surga?"


"Hah, masa?"


"Yang pakeannya lebar-lebar kaya sepre?"


Kairan menoyor sepupunya. "Bukan pakean dia yang kaya sepre, pakean lo aja yang kurang bahan," belanya.


Sena balik menoyor kepala pemuda di hadapannya. "Innalilahi. Ngaca!"


"Emang kenapa sih?"


"Nggak mau bantu yaudah, nggak gue bantuin juga." Kairan mengancam dengan merapikan selimut untuk menutupi tubuhnya, bersiap kembali tidur saja.


"Eh, iya iya. Gue deketin tenang aja." Sena kemudian mengalah.


.


Di ruangan berbeda, Ansel yang sudah kembali masuk ke kamarnya jadi bingung harus berbuat apa. Saat berhadapan dengan Justin si pemilik rumah itu, entah dari arah mana Paman Han datang dan menjelaskan bahwa dirinya adalah sang keponakan, yang datang untuk melamar kerja. Lalu setelah selesai sarapan, Justin meminta Ansel untuk menemuinya.


Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka membuat Ansel sedikit terlonjak dan menoleh ke sumber suara.


Pria yang untuk saat ini menjadi pamannya itu sedikit tertawa. "Maaf, kebiasaan nggak pernah ketuk pintu kalo masuk kamar sendiri," ungkapnya.


Ansel hanya tersenyum kecil menanggapinya. Pria paruh baya itu membawa nampan berisi semangkuk sup krim ayam, dengan sepotong roti panggang di tangannya.


"Kamu belum mendapat jatah sarapan pagi ini, jadi makan punya paman saja." Pria itu memberikan nampan di tangannya pada Ansel yang reflek menerima, lalu beranjak membuka lemari dan sibuk mencari entah apa.


Ansel tertegun, belum pernah selama ini ada orang yang rela tidak makan demi dirinya. Dia tentu merasa tidak tega untuk memakannya.


"Paman saja yang makan, aku tidak lapar." Ansel beranjak berdiri, menghampiri pria itu dan menyodorkan benda di tangannya.


Handi menoleh, sedikit mendorong nampan kemudian berkata, "Makan saja, sebentar lagi kamu harus menghadap Tuan Justin, mungkin juga akan langsung bekerja. Kamu harus punya cukup tenaga."


Mendengar itu Ansel tertegun, ditatapnya sup krim dalam mangkuk yang menguarkan aroma khas dan membuatnya menjadi lapar.


"Cepat makan, setelah itu mandi dan ganti baju kamu dengan ini." Handi meletakan pakaian bersih di atas ranjang. Lalu mengajak Ansel duduk di lantai dan menyuruhnya untuk makan.


Ansel membagi dua roti panggang di hadapannya dan memberikan pada pria itu. "Ayo kita makan sama-sama, Paman," ajaknya.

__ADS_1


Handi tersenyum dan merasa terharu, pria itu mengambil sendok baru yang ia simpan di atas meja untuk makan bersama keponakannya. "Yasudah, ayo kita makan."


Ansel mengunyah pelan roti di tangannya, ditatapnya pria asing yang mengira bahwa dia adalah kerabatnya. Mengingat hal itu tentu Ansel merasa berdosa.


"Berapa tahun kita tidak bertemu, dulu kamu masih sangat kecil." Handi mengutarakan kalimatnya saat Ansel mulai menyendok sup di dalam mangkuk, pemuda itu pun mendongak. "Paman tidak pernah menyangka kamu akan tumbuh setampan ini." Handi kembali berkata saat pandangan mereka saling bertemu. "Kamu terlihat jauh berbeda dengan yang dulu."


Penuturan itu membuat Ansel terdiam, pantas saja pria itu tidak mengenali kerabatnya, karena bertemupun tampaknya sudah lama. Dan foto yang diberikan oleh sang keponakan, ternyata menjurus pada penampilannya saat mereka pertama berjumpa.


"Paman." Ansel mengalihkan pembahasan dengan mencoba bertanya, "apa yang harus aku lakukan saat berhadapan dengan Tuan pemilik rumah?"


"Habiskan dulu makananmu, nanti kita bicarakan."


Ansel mengangguk, pertanyaan itu memang benar dari hatinya. Karena dia sungguh tidak tahu harus berkata apa jika nanti berhadapan dengan si pemilik rumah.


"Kamu bisa bahasa asing kan?" Handi bertanya saat mereka sudah selesai menghabiskan jatah sarapan. Belum sempat Ansel menjawab, pria itu kembali berbicara, "paman mengatakan bahwa kamu pernah bekerja di luar Negri, menjadi pengawal anak orang kaya, jangan bilang kamu hanya menjadi tukang kebun di sana."


Sesaat Ansel tertegun, berusaha mencerna informasi yang diberikan oleh pamannya. "Tapi aku belum pernah menjadi pengawal," ucapnya.


"Itu mudah, kamu hanya perlu mengikuti kemanapun Non Sena pergi. Paman juga bilang bahwa kamu jago berkelahi."


"Non Sena?"


"Iya. Non Sena adalah putri bungsu Tuan Justin yang harus kamu jaga."


"Bagaimana jika mereka tau bahwa paman berbohong?"


"Kamu pernah bilang jago beladiri sama paman, memangnya lupa?"


Ansel tertegun. Tentu saja dia tidak tahu pernah berkata seperti itu pada pria di hadapannya. "Mungkin maksudnya, jago melarikan diri, Paman."


Handi menggeleng. "Tugas kamu itu melindungi putri bungsu Tuan Justin, mana boleh kamu melarikan diri jika terjadi apa-apa pada gadis itu. Bahkan jika taruhannya adalah nyawa, kamu harus rela melakukannya."


Ansel sedikit terhenyak di tempatnya. Pengabdian seperti apa yang diberikan sang paman untuk keluarga ini, sungguh mereka beruntung sekali.


"Dan satu lagi." Handi sedikit terlihat ragu saat ingin mengutarakan kalimatnya.


Hal itu lalu disadari oleh Ansel yang kemudian bertanya, "Apa?"


"Mereka pernah punya pengalaman buruk dengan pengawal sebelumnya."


"Lalu?"


"Kamu hanya perlu mengakui, bahwa kamu tidak tertarik dengan wanita."


"Apah?"


***


Iklan dulu ini udah kepanjangan, entar gumoh.


Netizen: Kan kemaren nggak update thor, dobel doong. 😒


Author: iya itu kemaren aku gasempet nulis, maapin ya.☺


Netizen: Pasti kamu sibuk jadi ngadimin lambe lumrah buat posting berita yang lagi piral ya.😏😏


Author: enak aja 😒😒


Selain di sini, aku juga update di w a t t p a d. Di sana nggak ada sistim riview, jadi setelah aku selesai nulis pasti langsung update. Tapi kalo sabar nunggu di sini juga gk papa. Jangan lupa klik gambar jempolnya ya. Sumbangin poinnya kalo ada.

__ADS_1


__ADS_2