
"Hay, Bila. Nggak masuk kelas?" Sena yang duduk di sebelah gadis itu kemudian bertanya. Demi hutangnya pada Kairan, dia bersikap sok akrab yang tidak pernah ia lakukan pada siapapun juga.
Gadis berhijab itu menoleh, kemudian tampak mengingat. "Kamu–,"
"Sena, gue yang waktu itu pernah telat masuk barisan terus dihukum keliling lapangan." Guna menguak ingatan gadis itu, Sena rela mengenang aibnya saat dulu mereka mengikuti ospek bersama.
"Oooh, terus kamu milih nyanyi di depan semua peserta ospek itu kan?"
Sena memamerkan deretan giginya. "Iya," balasnya. Dulu mereka pernah disatukan dalam kelompok, beberapa hari Sena cukup dekat dengan gadis itu.
"Iya-iya aku inget kok," balas Bila. Kedua matanya berbinar bak baru bertemu kawan lama.
Sena yakin Kairan yang duduk di sebelahnya itu pasti tengah terpesona. "Kamu apa kabar?" tanyanya, bingung harus membahas apa.
"Baik kok, Sen. Ya ampun, kita satu kampus tapi jarang banget ketemu yah," balas Bila ramah.
"Iya ya. Kita beda aliran soalnya." Sena mendapat sikutan dari Kairan saat mengutarakan kalimat itu. "Eh, beda jurusan maksudnya."
Syabila sedikit tertawa. Pandangannya jatuh pada seorang pemuda yang terlihat canggung di sebelah Sena.
"Eh iya. Ini sepupu gue, dia mau kenalan katanya." Sena menoleh pada saudaranya, "namanya Kairan. Dia fans berat lo," imbuhnya yang mendapat sikutan dari pemuda itu.
Gadis bernama Syabila sedikit tertawa. "Fans apa, bercanda deh. Kita kayaknya pernah ketemu ya?" tanyanya mengira-ngira.
Dengan canggung Kairan mengangguk. Meminta gadis itu untuk tidak terlalu mendengarkan ocehan Sena, lalu menceritakan pertemuan mereka yang sebenarnya tidak sengaja.
"Dia katanya mau minta nomor hape lo." Lagi-lagi, Sena mendapat sikutan dari Kairan, yang sepertinya telah salah meminta bantuan pada perempuan itu. "Ngapa sih, kan tujuan lo emang itu," bisik Sena.
"Yatapi nggak se-blak-blakan itu." Dengan suara yang pelan, Kairan membalasnya.
"Biar cepet ah."
"Udah lo mendingan nggak usah ngomong."
Sena melengos, dia lalu membiarkan saja saat saudaranya mengajak Bila berbicara.
"Kamu kok sendirian aja?" Kairan yang terlihat bingung harus memulai kalimat apa, memberanikan diri untuk bertanya.
Sena nyaris tertawa, gadis itu berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Sebenernya nggak sendirian sih." Syabila melipat buku di pangkuannya. Fokus pada Sena dan sepupunya yang mengajaknya berbicara. "Ada dua malaikat di kanan kiri aku, mereka nggak pernah absen ngikutin kita ke mana-mana," ucapnya.
Kairan terlongo, entah itu bercandaan ala Syabila, atau gadis itu tengah menunjukan hal-hal yang nyaris dia lupakan setiap harinya. Sena pura-pura terbatuk untuk menyamarkan tawanya, gadis itu seolah berkata, 'tuh kan gue bilang juga apa, kita tuh beda aliran, putih sama hitam, udah lo mundur aja!'
Mendapat jawaban seperti itu Kairan hanya menanggapinya dengan sedikit senyum, bingung harus membalas apa.
__ADS_1
"Malaikat pencatat amal baik dan perbuatan buruk manusia gitu ya maksudnya?" Sena yang merasa kasihan dengan keheningan yang menjeda interaksi mereka, lalu angkat suara.
Syabila mengangguk. "Di sebelah kanan kita ada Malaikat Raqib yang mencatat amal baik. Dan sebelah Kiri, malaikat Atid mencatat perbuatan buruk," tuturnya dengan sedikit tertawa, "jadi aku nggak sendiri.
"Berarti selama ini gue juga nggak pernah sendirian ya?" Kairan yang sempat diam saja lalu ikut menanggapi. Dan saat Sena menatap wajahnya, entah kenapa dia jadi waspada.
"Iya, cuma bedanya lo nggak ada amal baik yang perlu dicatet. Malaikat Raqib aja ampe males itu ngikutin lo, kebanyakan nganggur dia." Kali ini Sena mendapat jenggutan di ujung rambutnya. Dan hal itu membuat gadis bernama Syabila jadi tertawa.
"Lo juga sama, kerjaan lo bikin dosa mulu Malaikat Atid lembur mulu ngikutin lo." Dengan sengit, Kairan membalas ucapan sepupunya.
"Kalian berdua lucu banget sih." Masih dengan senyumnya yang menyejukan mata, Syabila mengomentari tingkah dua bersaudara di hadapannya.
"Berasa sekolah agama ya ngobrol sama lo, berfaedah banget," ucap Sena takjub.
"Enggak kok, aku masih belajar juga. Itu jawaban aku aja kalo ada yang nanya kenapa sendirian." Syabila menjawab dengan senyum ramah, tutur bahasanya terdengar halus pada siapapun juga, itulah alasan kanapa Kairan menyukainya.
"Jadi intinya Bila masih jomblo gitu ya, apa nggak boleh pacaran?" Sena yang blak-blakan mengutarakan dugaannya. Belum sempat mendapat tanggapan, rombongan Bari dan teman-temannya yang berjalan di ujung lorong membuatnya kelabakan.
"Kenapa?" Kairan yang curiga dengan tingkah saudaranya itu kemudian bertanya.
"Gue harus pergi." Sena beranjak berdiri, berpamitan pada Syabila dan berkata menitipkan sepupunya. Sena segera menjauh dari sana. Hal itu membuat Kairan kebingungan, semakin bingung saat kembali menatap wajah gadis bernama Bila dan bingung harus membahas apa.
.
Sena bersembunyi di bawah tangga, mengatur napas sebelum naik ke lantai atas menuju kelasnya. Dia sempat mendengar Bari memanggil namanya, entahlah pria itu mengejarnya atau tidak.
"Lo mau kabur kemana lagi, Cantik?"
Sena menepis tangan Bari saat hendak mencolek dagunya. "Siapa juga yang kabur, orang gue lagi buru-buru mau masuk kelas."
"Masa?" Bari semakin mengolok gadis di hadapannya, saat Sena terlihat kalah. "Sesuai perjanjian, kalo lo nggak bisa menghadiri pesta, lo harus jadi budak gue selama satu bulan."
Sena ingat dengan taruhan itu, dia tidak mungkin melupakannya. Bari yang menyebalkan membuat dia kelepasan berbicara. Dan sekarang, entah bagaimana caranya dia harus bisa membatalkan perjanjian mereka.
"Gue nggak mau." Sena berusaha tidak terlihat lemah di hadapan pemuda itu.
Bari mengangkat alis, menoleh pada kedua teman-temannya yang kemudian tertawa bersama. "Nggak bisa gitu dong, Sena sayang," oloknya dengan mengangkat tangan.
Sena menghindar. "Jangan sentuh gue!" bentaknya.
Namun hal itu membuat Bari semakin gencar menggodanya, pria itu merangsek maju menghampiri Sena yang memundurkan kakinya.
Bari terkesiap saat seorang pria berpakaian rapi berdiri di antara mereka, dari Sena yang tidak tampak terkejut dengan kehadirannya dia tahu laki-laki itu siapa.
"Bodyguard baru lagi?" Bari bertanya remeh pada Sena yang masih bersembunyi di belakang punggu pria itu.
__ADS_1
"Ada urusan apa anda dengan atasan saya?" Ansel bertanya tenang.
Bari tertawa mendengus. "Urusan gue cuma sama majikan lo, nggak perlu ikut campur. Minggir," usirnya.
Ansel membentangkan sebelah tangannya untuk menahan Bari yang ingin mendekati Sena. Bari pun menàtap wajahnya tidak suka. "Mulai saat ini, urusan beliau juga menjadi urusan saya," ucapnya.
Bari berdecak sebal. "Majikan lo itu kalah taruhan dari gue," sengitnya, Bari menceritakan tentang taruhan mereka yang berakhir dengan Sena yang harus menjadi budak selama satu bulan. "Sekarang lo udah tau kan, jadi jangan ikut campur."
"Bisakah anda menunjukan surat perjanjian tentang itu?"
"Lo gila ya?"
"Saya perlu melihat surat perjanjian kalian, lengkap dengan tanda tangan Nona Lasena di atas materai. Jika ada, maka anda boleh menuntutnya."
Bari terlihat sangat kesal, pria itu menoleh pada kedua temannya dan berdiskusi entah apa.
"Jadi, bagaimana? Apakah anda tidak bisa menunjukan surat perjanjiannya?" desak Ansel yang membuat Bari merasa tersudut. "Kami bisa balik menuntut anda atas tuduhan palsu yang telah anda berikan," imbuhnya kemudian.
"Banyak bacot lo!" Bari hendak mendorong bahu Ansel yang dengan sigap menghindar dan membuatnya menjadi limbung. Tentu saja hal itu membuatnya merasa malu.
Di balik punggung lebar pengawalnya, Sena masih enggan bersuara. Dia sedikit mengerjap saat Bari mengarahkan tatapan tajam pada dirinya.
"Urusan gue sama lo belum selesai ya, Sena." Bari dan teman-temannya beranjak pergi setelah mengutarakan kalimat itu.
Ansel berbalik, menatap Sena yang mengarahkan pandangannya pada apapun selain wajahnya. Gadis itu diam saja.
"Lo mau ke mana?" Sena bertanya saat Ansel melangkah pergi begitu saja. Bahkan tidak berkata apa-apa pada dirinya.
"Saya akan kembali ke tempat di mana Nona tidak bisa melihat keberadaan saya."
****
Netizen: Kok lama banget sii updatenyaaa. Katanya Ng udah kelar.
Author: yang bilang udah kelar siapa, kan gua bilangnya bentar lagi kelar.
Netizen: jadi belom kelar.
Author: Ya belom lah
Netizen: anjir gua ketipuuu.
Author: Bukan ketipu elunya aja yg salah tangkep 😂😂
Masih banyak yg perlu diperbaiki, cetak Ng aku berasa nulis karya baru. Soalnya gamungkin aku cetak semua, tebelnya bisa ngalahin kitab suci Biksu tong sam chong duoong. Terus mahal bet kaya beras sekarung. Jadi sabar yaaa.
__ADS_1
Kalo ada typo bilangin yaaa.