
Ansel masih berlutut di hadapan sang ibu. Menggenggam jemarinya yang terasa semakin kurus dan dingin.
Tatapan wanita itu mengarah keluar jendela, tidak untuk menikmati pemandangan di sana. Ansel dapat melihat tatapan hampa dari kedua matanya.
"Mama, sabar yah. Setelah misi aku berhasil, aku pasti bawa mama keluar dari sini. Kita sama-sama lagi." Setelah mencium jemari wanita itu, Ansel kembali menatap raut wajah ibunya yang tampak melamun.
Suara ketukan pada pintu membuat Ansel mengalihkan pandangannya dari sang ibu. Pria itu beranjak bediri, saat suster yang keluarganya percaya untuk merawat wanita itu, membawa nampan berisi air dan satu mangkuk kecil dengan beberapa butir obat di dalamnya.
"Maaf, Tuan. Sudah saatnya Nyonya minum obat," ucap Suster Monik, yang setiap harinya selalu membantu keperluan sang ibu.
"Biar saya berikan." Ansel mengambil mangkuk kecil berisi obat dan juga segelas air minum di tangannya. Pria itu sedikit membungkuk untuk membujuk ibunya. "Mama minum obat, yah. Biar cepet sembuh."
Beberapa tahun lalu, sang ibu yang kerap mengurung diri di kamarnya itu dinyatakan depresi. Saat papanya berniat memasukkan wanita itu ke rumah sakit jiwa, Ansel mati-matian menolaknya.
Ibunya tidak berbahaya, hanya sesekali terlihat menangis tanpa menyakiti dirinya atau orang lain. Untuk itu Ansel meminta pada sang papa agar ibunya dirawat di rumah saja.
Papanya memang setuju, tapi dengan begitu Ansel harus mengikuti apapun yang pria itu mau. Termasuk diasingkan ke luar Negri dengan dalih menuntut ilmu. Dia juga tidak ikut diperkenalkan sebagai anggota keluarga, saat mengadakan acara-acara besar yang melibatkan perusahaan sang papa.
Dan semua orang hanya tahu keturunan Bagaskara hanya tiga bersaudara, tidak termasuk dirinya.
Ansel masih membujuk sang ibu untuk membuka mulut. Bukan menurut, wanita itu justru mendorong tangannya hingga gelas yang ia pegang pecah. Mereka tampak terkejut karenanya.
"Biar saya bersihkan, Tuan." Suster Monik mencegah Ansel yang ingin memungut pecahan gelas di bawah kaki ibunya, dengan segera wanita itu bergegas mengambil sapu juga kain lap yang tidak jauh dari sana.
"Mama." Ansel menarik kursi roda yang diduduki ibunya. Kembali berlutut di hadapan wanita itu yang masih diam saja. Ansel tidak tahu harus berkata apa.
"Stok obat Nyonya sudah habis, Tuan. Dokter Nata belum mengirimkan lagi." Sang suster berkata saat Ansel meminta obat baru untuk ibunya. Dokter Nata adalah dokter keluarga sang papa, Ansel tidak terlalu dekat dengannya.
"Berikan aku resep obatnya." Ansel berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang ibu yang terlihat ingin mengatakan sesuatu. Sesekali bibirnya pun sedikit terbuka, namun sorot mata itu masih saja sulit ia baca.
"Maaf, Tuan muda. Tuan besar melarangnya." Dengan takut, perempuan itu kembali berkata.
Ansel mengerutkan dahinya curiga. Wanita di hadapannya itu pun kembali mengangkat suara.
"Kata Tuan besar, biar itu menjadi urusan Dokter Nata saja."
Ansel memang baru beberapa bulan kembali ke rumah, melihat ibunya tidak ada kemajuan tentu saja dia merasa curiga. Tapi untuk saat ini dia belum bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Suster," panggil Ansel yang membuat wanita di hadapannya mendongak. "Tolong jaga mama saya," imbuhnya.
Wanita di hadapannya sesaat tertegun, namun kemudian mengangguk. "Baik, Tuan muda," ucapnya yang terdengar sedikit bergetar. Namun Ansel tidak merisaukannya, dia lalu melangkah pergi dari sana.
Saat menuruni anak tangga, Ansel bertemu dengan Paman Lim yang sepertinya baru tahu bahwa dia kembali ke rumah, setelah beberapa hari menghilang entah ke mana.
Paman Lim adalah asisten khusus yang dipekerjakan untuk mengurus keperluan Ansel, pria itu bahkan ikut tinggal di luar negri saat Ansel diperintahkan untuk berkuliah di sana. Semua putra Bagaskara memiliki asisten serupa yang akan membantu pekerjaannya.
"Kenapa anda tidak pernah kembali, Ya Tuhan. Saya benar-benar mengkhawatirkan anda." Paman Lim yang memang sudah seperti keluarga bagi pria itu mengguncang kedua bahu Ansel dan memastikan anak majikannya baik-baik saja. "Katakan, apa tugasmu sudah selesai?"
Ansel menggeleng, demi menyampaikan pada pria empat puluh tahunan itu bahwa dia baik-baik saja, Ansel pun memberikan seulas senyum di bibirnya.
"Sebentar lagi, aku pasti akan cepat kembali." Ansel menceritakan tentang kesalah pahaman yang menguntungkan di rumah itu, meski tidak menutup kemungkinan bahwa dia dalam bahaya.
"Jangan lakukan jika itu akan memberatkanmu," ucap Paman Lim.
Ansel menggeleng. "Aku harus melakukannya."
Paman Lim menoleh sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang akan mendengarkan percakapan mereka. Dia lalu menceritakan banyak informasi yang didapatkannya selama beberapa hari pemuda itu tidak ada di rumah. Tentang kedua kakaknya yang mendapat omelan dari papa mereka.
Ansel beruntung memiliki asisten pribadi seperti Paman Lim, pria itu tidak memihak pada papanya. Bahkan sering berbohong demi melindungi dirinya juga. Di mata seorang Ansel, Paman Lim bukanlah asisten biasa.
.
Menjelang siang dan jalanan ibu kota bukanlah kombinasi yang bagus untuk berkendara. Ansel kembali memukul kemudi saat terjebak macet dan harus berhenti.
Sesekali pemuda itu melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah terlambat sepuluh menit dari yang dia janjikan untuk kembali pada gadis itu. Entah kenapa dia begitu takut terjadi apa-apa pada Sena. Apa memang seperti ini perasaan seorang pengawal yang ditugaskan untuk menjaga seseorang tetap baik-baik saja. Sungguh beban bagi dirinya.
Kelas sudah kosong saat Ansel sampai di depan pintu, pria itu lalu segera mencari Sena yang pasti tidak jauh dari sana.
Tidak sulit mencari seorang Lasena Maura dengan warna rambut yang berbeda dari kebanyakan mahasiswi di sana. Karena memang hanya gadis itu saja yang dia kenali di tempat itu.
Tapi tidak juga, dia juga kenal dengan wajah pemuda bernama Bari yang kini menarik Sena dan membawanya pergi ke bawah tangga. Ansel segera menghampirinya.
"Gue bilang kan, urusan lo sama gue belum selesai, Sena sayang." Bari merapatkan tubuh Sena ke dinding, mencondongkan kepala untuk menakuti Sena yang membuang muka dan berusaha mendorong dadanya.
Ansel merenggut belakang kerah kemeja yang dikenakan Bari, membuat pria itu menoleh. Tanpa aba-aba, dia lalu memukul wajah Bari hingga tersungkur di lantai.
__ADS_1
Sena memekik terkejut, lalu menoleh pada Ansel yang masih tidak bisa ia percaya kemunculannya. Selalu tepat waktu dan tiba-tiba.
"Sesuai permintaan anda. Saya sudah memukulnya, Nona." Ansel mengadukan perbuatannya.
Sena menepuk keningnya dengan telapak tangan, menoleh pada Bari yang belum beranjak berdiri, lalu kembali pada pengawalnya. "Lo ngapain?"
Gadis itu menarik lengan Ansel dan membawanya pergi dari sana. Jika keributan ini sampai diketahui pihak kampus, mereka pasti dalam masalah.
"Maaf saya terlambat." Ansel berucap menyesal, saat mereka sudah sampai di mobil dan dia membuka pintu untuk nonanya.
Sena menatapnya malas. "Yaudah lah gue nggak apa-apa. Lagian salah gue juga," ucapnya, kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursinya.
Ansel menutup pintu, entah kenapa dia lebih suka mendengar gadis itu marah-marah. Karena dengan diam seperti ini, dia justru malah semakin merasa bersalah.
.
Menjelang malam, Ansel tidak lagi melihat Sena keluar kamar sejak mereka berpisah di halaman rumah saat pulang kuliah.
Pemuda itu kini berdiri di balkon kamar Sena, berjaga-jaga kalau saja gadis itu kabur lagi lewat sana.
"Askara!"
Panggilan itu membuat Ansel mengalihkan tatapannya dari taman buatan di bawah sana, menoleh pada Sena yang berdiri di sebelahnya. "Kenapa?"
"Gue ada sesuatu buat lo."
...
Author: Agak cepet kan sekarang semoga kedepannya bisa konsisten yaaa
Netizen: tiga hari loh iniii.
Author: Eh dua hari dooong.
...Netizen: emang Bang Ar udah kelar repisinya thor Author: em, ya belom si. ...
...Netizen: lamaaa 😒...
__ADS_1
Jan lupa polow ig aku ya adeannisa66 ❤❤❤