
Sepulang kuliah, Sena masuk ke kamar dan mengganti bajunya dengan kaus yang biasa ia kenakan di rumah. Dia menoleh saat seseorang mengetuk pintu dan kemudian membukanya. Sang mami melongokkan kepala, guna memastikan sang putri ada di dalam kamarnya.
"Kamu nggak kemana-mana sore ini?" Nena, wanita paruh baya yang tampak awet muda itu bertanya dengan menenteng gaun di tangannya. Dia melangkah masuk.
Sena menaikkan kedua kakinya, bersila di atas ranjang. "Males ah, panas banget. Kalo malem aku boleh pergi nggak?" tanyanya mencoba peruntungan, barangkali sang mami tengah berbaik hati dan membolehkannya keluar malam.
"Mau pergi ke mana?"
"Temen aku ngadain pesta, Mi. Nggak papa ya aku ikut, kan ada Askara." Sena menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pada wanita yang masih berdiri di hadapannya.
Nena berdecak tidak suka. "Perasaan ngadain pesta terus temen kamu," sindirnya.
"Temen aku kan bukan cuma satu, Mi."
"Nggak boleh. Ada Askara bukan berarti kamu bisa bebas keluar rumah ya, Sena. Justru ada dia tuh buat jagain kamu biar nggak kemana-mana."
"Ih, Mami kaya nggak pernah muda aja. Aku bosen, Mi. Dirumah terus nggak ngapa-ngapain."
Mendengar celotehan putrinya Nena melengos. "Dulu mami waktu muda nggak kaya kamu ya. Kerja terus mami, cari duit buat nyekolahin Om Ardi. Kamu mah enak banget hidupnya."
"Booseen." Sena memeluk bantal, merengek pada wanita itu.
"Kalo bosen nggak ada kerjaan, mending bantuin Mbak Lilis nyikatin kamar mandi." Nena memberi saran.
"Mamii!" Sena mengerang kesal, bisa-bisanya wanita itu menyuruhnya menyikat kamar mandi. Karena bahkan mencuci piring saja dia tidak mengerti.
"Udah iya nanti malem kamu boleh pergi." Nena kemudian berkata, setelah mèletakan dua gaun yang ia bawa ke atas kasur putrinya.
"Serius, Mi?" tentu saja Sena tidak percaya.
"Iya, pergi ke pesta sama mami, sama papi juga."
"Iiih nggak seru ah, nggak mau."
"Kamu tau sendiri kan resiko nolak perintah papi?" Nena mengingatkan putrinya, tentang uang bulanan yang terancam jika gadis itu tidak menurut pada mereka.
Merasa benar-benar terpuruk, Sena menggulingkan tubuhnya ke atas kasur dan berpura-pura menangis. Seolah hidupnya lebih tragis dari kisah rapunzel, si rambut emas panjang yang terkurung di dalam menara sepanjang hidupnya.
"Sungguh aku menderita."
"Udah jangan kebanyakan drama. Nanti malem jangan lupa pake baju dari mami. Di sana nanti banyak anak temen papi kamu, udah ganteng, mapan, calon pewaris perusahaan ternama. Kamu yang nggak bisa cuci piring itu harus nyari suami yang kaya mereka."
Sena seketika terduduk. "Kok mami jodoh-jodohin aku si," keluhnya dengan mengamati dua gaun yang diberikan wanita itu.
"Mami cuma mau yang terbaik buat kamu."
Sena melengos. "Ini baju apa si, aku pake baju aku aja lah, bajuku juga banyak."
"Nggak. Kamu harus pake salah satu baju yang mami bawa pokoknya." Nena memaksa. "Baju kamu nggak ada yang sopan, mami nggak suka."
"Ih ini apaan norak banget, ih."
"Itu bagus Sena, mami nggak mau tau ya. Kamu harus pake salah satu baju yang mami bawa." Nena melangkah ke arah pintu setelah mengutarakan kalimat itu. "Jangan kemana-mana," pesannya, sebelum keluar dari kamar putrinya.
"Mamii!"
Sena berdecak sebal saat sang mami tidak mengindahkan rengekannya. Dia lalu menuruni ranjang dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
Gadis itu membuka pintu balkon, keluar dan duduk di bangku yang berada di sana. Lalu memeriksa pesan grup teman-temannya yang belum sempat ia buka.
Pip pip pip pip Calon Mantu
Zifi Hanami
Riki ngadain pesta ulang tahun woy, lo mau pada dateng nggak?
Inggit Tiara
Gue dateng kalo kalian juga dateng. Males gue kalo nggak ada temen.
Zaqia Amel
Anjir, perasaan tiap bulan ada aja yang ulang tahun heran. Gue males beli kadonya, ultah gue aja nggak ada yang ngadoin.
Zifi Hanami
Makanya lo bikin pesta dong biar pada ngado. Dimana-mana modal dulu lah, biar dapet hasil haha.
Inggit Tiara
Nah bener itu. Lo ultahnya kapan Qi biar gue nabung jauh-jauh hari dah. Kali aja kebeli louboutin.
Zaqia Amel
Helleh, paling lu beliin gue sendal tidur karakter
__ADS_1
Inggit Tiara
Eh, anjir lo masih nyimpen kado dari gue. Sumpah terharu gue.
Zaqia Amel
Udah gue injek-injek kado lo
Inggit Tiara
Tega bener lo
Zifi Hanami
Lah dimana-mana sendal mah emang diinjek, bege
Zaqia amel
Hahaha
Inggit Tiara
Lah iya juga
Zaqia Amel
Kita perasaan nggak ada yang ngadain pesta.
Inggit Tiara
Sena aja suruh ngadain pesta. Di rumah dia yang kaya istana negara
Zifi Hanami
Setuju gue
^^^Lasena Maura^^^
^^^Eh ulangtahun gue udah lewat kali^^^
Inggit Tiara
Nggak usah ulang tahun, ulang bulan aja biar cepet.
Zaqia amel
^^^Lasena Maura^^^
^^^Lo pikir dananya pake daon^^^
Zifi Hanami
Sena sadar nggak si, bapaknya dia tuh Justin Adley. Orang terkaya nomor lima di negara kita tercinta
Zaqia Amel
Sena sadar nggak si, emak dia itu Serena Ayu Kinanti. Ibu Negara kaum sosialita
Inggit Tiara
Sena sadar nggak si, abang kembarnya itu masuk jajaran pengusaha muda sukses versi majalah kevo
^^^Lasena Maura^^^
^^^Iya gue baru sadar ternyata selama ini gue salah keluarga.^^^
Zifi Hanami
Haha lo siapa dong, anjir?
Zaqia Amel
Beban keluarga
Inggit Tiara
Satu-satunya bukti kalo lo keluarga mereka ya cuma mirip di muka.
^^^Lasena Maura^^^
^^^Siyalan^^^
Sena berdecak sebal menanggapi teman-teman di grup calon mantu yang tidak mencerminkan idaman para mertua. Tapi jika dipikir-pikir ada benarnya juga omongan mereka, sebagai bagian dari keluarga terpandang yang dikagumi masyarakat setempat. Dia tidak ada sisi positif yang bisa dibanggakan ayah ibunya.
Tapi tidak-apa-apa, masih ada Kairan yang sama tidak berguna seperti dirinya. Setidaknya keberadaan pemuda itu membuatnya yakin, bahwa dia tidak salah keluarga.
__ADS_1
Tapi bagaimana jika ternyata Kairan juga main saham seperti Arka abangnya, terus uang simpanan anak itu tidak muat di buku tabungan.
Tidak mungkin, kisah hidup Kairan tidak mungkin se plot twist itu. Baru kali ini Sena merasa beruntung punya saudara seperti dirinya.
Sena masih memperhatikan ponsel di tangannya, membalas komentar teman-teman yang masih saja mengolok dirinya.
Merasa sesuatu tengah mengamati keberadaannya dia lalu menoleh, mengarahkan pandangannya ke arah cctv yang berhenti bergerak saat dia menatapnya.
Beberapa saat Sena terdiam, mungkin sang papi yang tengah mengotak atik benda itu, iya siapa lagi. Dia lalu kembali pada ponselnya dan mengirimkan balasan untuk teman-temannya.
***
Setelah mengantarkan sang nona kuliah hari ini. Ansel tidak lagi keluar kamar sampai menjelang sore. Pada Paman Handi dia mengaku sedang sakit dan butuh istirahat.
Di kamar berukuran minimalis yang ia tempati, Ansel duduk di lantai, menyalakan laptop di hadapannya dan mulai menuliskan informasi penting apa saja yang ia dapat dari keluarga itu. Dia akan mengirimkan penelitiannya pada sang papa.
Ansel sempat membaca sekilas berkas penting tentang rencana Adley grup untuk mendapatkan proyek besar yang diperebutkan dengan keluarganya. Dan nanti malam, dia akan kembali memastikan apa saja yang belum dirinya cantumkan di sana.
Jemari Ansel yang bergerak lincah di atas keyboard seketika berhenti. Dia teringat pada interaksinya dengan para penghuni rumah, selama beberapa hari dia tinggal di sini.
Kamu sudah makan? Menjaga putri saya memang tugas utamamu. Tapi jangan sampai mengabaikan kesehatanmu sendiri.
.
Tidak usah terlalu formal. Anggep aja aku abang kamu.
.
Titip Sena ya, Aska. Mami percaya sama kamu pokoknya.
.
Anggap aja gelang itu tanda pertemanan. Makasih udah bantuin gue.
Ansel menggeleng, sebentar lagi dia akan pergi dari sini. Dan kenangan itu tentu saja tidak berarti, dia hanya perlu menghilang dari mereka dan semuanya akan baik-baik saja.
Sebuah pesan yang masuk di ponselnya membuat Ansel sedikit terkejut.
Bastian
Kau masih hidup?
Ansel berdecak setelah membaca pertanyaan dari sahabatnya. Dia nemang sudah menceritakan untuk menjalankan rencana lanjutan nanti malam.
"Kali ini pasti berhasil, tidak ada orang di rumah. Hanya pekerjanya saja." Ansel berbicara dengan ponsel yang ia tempelkan di telinga, pria itu memang langsung menghubungi sahabatnya. "Iyaa."
Setelah mematikan sambungan telepon dengan Bastian, Ansel membuka cctv rumah itu yang sudah tersambung di laptopnya. Dia memperhatikan pergerakan di dalam rumah, memeriksa ada siapa saja di sana. Dan apakah nanti mereka akan ikut pergi semua.
Ansel beralih pada cctv di balkon kamar Sena, memperhatikan posisi mana saja yang tidak terlalu tertangkap kamera. Dan pria itu sedikit tertegun saat melihat sang nona tengah duduk di bangku yang memang tersedia di sana.
Tanpa sadar pemuda itu mengulas senyum. Di kampus tadi mereka tidak terlalu banyak berinteraksi, karena hari ini keduanya tidak bertemu dengan pemuda bernama Bari. Dia sedikit rindu dengan celotehan gadis itu.
Ansel menggerakan kamera untuk mencari tahu sedang apa gadis itu. Dan saat Sena menoleh, dia merasa tengah tertangkap basah.
Beberapa saat setelahnya Ansel memutuskan untuk mematikan laptop. Hari ini dia sudah cukup banyak mengirimkan laporan untuk sang papa.
Pria itu lalu berbaring di kasur tanpa dipan yang beberapa hari ini menjadi alas tidurnya. Juga di temani kipas angin meja yang selalu menyala tidak jauh dari dirinya.
Entah kenapa ruangan yang luasnya tidak seberapa ini terasa lebih nyaman dari kamarnya di rumah besar sang papa, padahal di sini sebenarnya dia sedang dalam bahaya.
Ansel memejamkan mata, entah berapa lama dia terlelap hingga ketukan pada pintu seketika membuatnya terjaga.
"Buka! Gue mau masuk."
"Sena?" Ansel segera menyembunyikan laptop di bawah bantalnya. Setelah ponsel mahal menimbulkan kehebohan di antara mereka. Tentu saja benda itu pun akan semakin membuat Sena merasa curiga.
"Askara! Lo mati ya?"
***
Netizen: Ya ampun ternyata Sena sebar-bar ini. Mami Nena dulu ngidam apa thor.
Author: Nggak ngerti gue juga.
Netizen: tolong thor ini cerita jangan dipindahin kemana-mana, gue udah jatuh cinta soalnya.
Author: Banyak ya yang komen begini. Pokoknya cerita ini sampe tamat tetep di sini ya, kecuali udah tamat trus aku mau kemanain pokoknya terserah dah, yang penting udah tamat.
Netizen: ini updatenya gabisa dicepetin apa thor?
Author: enggak bisa gess. Emang udah jadwalnya seamburadul ini pokoknya wkwkwk.Yang penting kalean tetep setia ya. Salam haha hihi.
__ADS_1