Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
33


__ADS_3

"Yaudah si. Jadian juga baru sehari, sedih amat roman-romannya." Kairan yang sudah bosan melihat sepupunya bermuram durja, melontarkan kalimat sindiran. "Lagian lo kaya udah pacaran taunan aja, diapa-apain juga belom kan lo," imbuhnya yang mendapat lemparan bantal guling yang dipeluk perempuan itu.


Kairan yang duduk bersila di kursi belajar tidak sempat menghindar, akhirnya membiarkan saja saat benda itu mengenai wajahnya. Dia sibuk memeluk toples yang sudah ia buka bagian tutupnya.


Sena mengusap airmata yang mengalir di pipinya dengan kasar. "Berisik banget lo, pergi sana," usirnya.


"Lah! Kamar gue, Anjir."


Sena melengos, mengambil bantal pemuda itu lagi dan kembali ia dekap di dadanya. Sepanjang siang hingga menjelang malam, dia terus bersedih dan memikirkan hubungan tidak jelasnya dengan pemuda bernama Ansel.


Dia bahkan bingung apa yang membuatnya amat terluka, benar kata Kairan, jadian saja belum lama, mana belom sempet ngapa-ngapain juga. Tapi kenapa jadi sedrama ini perasaannya.


"Lo jadian aja kaya mau-mau kaga-kaga." Kairan kembali mengomel sembari mengunyah keripik kentang yang gadis itu bawa.


"Gue juga bingung." Sena berdehem saat nada suaranya terdengar serak. "Gue nembaknya main-main padahal, tapi sakitnya kenapa seserius ini."


Kairan berdecak sebal. "Lagian ngapain juga lo nembak duluan? Gue biarpun banyak cewek yang nyamperin, urusan nembak menembak gue duluan yang ngomong."


"Masalahnya dia bukan lo!" Sena jadi sewot, bagaimana bisa seorang Ansel disamakan dengan Kairan yang punya banyak cadangan perempuan.


Kairan menghela napas, memindahkan lagi keripik kentang dari dalam toples ke mulutnya. "Ya tehus sekahang lo mau himana?" tanyanya sembari mengunyah.


Sena mengangkat bahu. Kairan memang orang yang paling tahu tentang masalahnya dengan Ansel, karena bahkan teman-temannya saja tidak ada yang tahu sejauh pemuda itu mengetahuinya.


"Lo masih mau bantuin dia nggak? Lo bilang pengen bantuin emaknya."


"Gimana cara gue bantuin mamanya, anaknya aja ngeselin gitu."


"Ya lo jangan mandang anaknya, sekarang fokus tujuan lo aja."


"Gue belom bisa ketemu dia dalam waktu dekat."


Kairan mengangguk. "Dia nggak ngerti emang lo deketin abangnya cuman biar bisa ketemu dia doang?"


Pertanyaa itu membuat Sena menggeleng. Dia kembali teringat saat menawarkan pemuda itu untuk menjadi pacarnya.


Ansel bertanya apakah Sena akan menjauh dari Sandi, lalu dia pun mau saat Sena menyetujui. Yang Sena tangkap dari hal itu, Ansel memacarinya hanya agar dia menjauh dari kakaknya saja.


"Au ah, gue males bahas dia lagi." Sena beranjak turun dari kasur, menyambar toples di pelukan Kairan sebelum melangkah ke luar pintu balkon.


"Dih nggak jelas banget." Kairan jadi sewot, dia lalu menoleh ke arah meja belajar dan melihat hal penting yang gadis itu tinggal. "Tutup toples nyokap lo, Naa. Mau diusir lo!" teriaknya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Sena kembali masuk ke dalam kamar, hanya untuk mengambil tutup toples bapperware sang mami yang tidak sengaja ia tinggalkan.


"Lo tuh kalo naro tutup toples gue jangan jauh-jauh, kalo perlu jangan dibuka." Sena memukul lengan Kairan dengan benda di tangannya.


"Lah, gimana gue makannya." Kairan menggerutu, saat gadis itu kembali berlalu dari kamarnya itu.


***


Di sebuah kamar berbeda yang didominasi warna hitam, Ansel meremat kertas yang ia keluarkan dari amplop setelah ia baca untuk ke dua kalinya.


Meski dia sudah menduga ada yang tidak beres dengan obat sang mama, tetap saja hatinya mencelos saat mendapati kenyataan yang ada. Ternyata obat-obatan itu hanya vitamin biasa yang sama-sekali tidak ada hubungannya dengan penyakit wanita itu. Bagaimana ibunya bisa sembuh.


Ansel merasa dunianya menyempit, rasanya sesak saat dia bahkan hanya mengambil napas untuk mengisi paru-parunya. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi semuanya.


Sena sempat berkata saat siang tadi mereka makan bersama. Àpapun pernyataan isi amplop itu, dia tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusannya.


Mengingat gadis itu membuat Ansel kembali merasa sedih. Sekarang tidak ada lagi yang akan menghiburnya setiap malam. Sena sangat membenci dirinya. Lalu dia harus bagaimana membujuk gadis itu untuk memaafkannya.


Pria yang duduk di tepi ranjang itu kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Meringkuk dengan sepatu yang bahkan masih terpasang di kedua kakinya.


Entah dia harus memulai dari mana, haruskah Ansel menegur sang papa dengan apa yang pria itu lakukan pada ibunya, melaporkan kecurangan ini pada polisi tentu akan serumit yang ia kira.


Kini Ansel merasa hidupnya benar-benar sebatang kara, sang mama bahkan tidak bisa mengenal siapa dirinya. Paman Lim yang sudah ia anggap sebagai saudara ternyata menghianatinya dan sekongkol dengan sang papa.


Dia benar-benar merasa sendiri.


***


Keesokan harinya, Ansel menduduki kursi di sebelah sang mama, setelah mengawasi suster Monik yang mengurus keperluan wanita itu.


Lewat ponsel pintarnya, Ansel mencari-cari lowongan pekerjaan di perusahaan yang mungkin membutuhkan keahliannya.


Hari ini mamanya tidak terlalu rewel, dia bahkan mau disentuh oleh Monik, hingga saat sang suster menyisir rambutnya, dia juga diam saja.


"Saya saja yang menyuapi mama makan, kamu boleh pergi." Ansel menawarkan diri saat Monik membawa nampan berisi makanan, perempuan itu lalu mengangguk. Memang sudah biasa seperti itu, dia pun pamit undur diri.


Ansel tersenyum pada sang mama yang lebih fokus memandangi bunga-bunga di dalam pot yang berjejer, wanita itu terlalu tenang hingga rasanya dia begitu takut kehilangan.


"Mama makan dulu, Yah." Belum sempat Ansel mengambil piring di atas nampan, Paman Lim menghampiri dan bertanya ada apa dia memanggilnya, lewat pesan singkat di wa, Ansel memang menyuruh pria itu untuk menemuinya.


Setelah menatap sang mama dan memintanya untuk menunggu sebentar saja. Ansel beranjak berdiri, melangkah pergi dengan Paman Lim yang mengikuti.

__ADS_1


"Mulai sekarang, Paman tidak perlu mengurus aku lagi." Ansel berucap tanpa menoleh saat pria yang dia ajak berbicara, masih berada di belakang tubuhnya.


"Ke, kenapa, Tuan muda?" Lim melangkah ke hadapan Ansel, bertanya tidak mengerti atas apa yang telah terjadi.


"Tidak apa-apa, Paman. Mungkin memang sudah saatnya aku mandiri."


"Tuan Muda, jika memang saya bersalah, tolong katakan apa kesalahan saya. Biar saya perbaiki." Lim berlutut di hadapan anak majikannya, membuat pemuda itu ikut membungkuk dan menyuruh pria di hadapannya untuk berdiri.


Lim menggeleng. "Katakan, Tuan. Apa salah saya? Jangan buang saya seperti ini."


"Aku tidak membuangmu, Paman. Paman masih bisa bekerja dengan papa." Ansel menjelaskan.


"Saya hanya ingin menjaga Tuan Muda Ansel Bagaskara, seumur hidup saya. Saya tidak menerima pekerjaan apapun selain berada di belakang anda."


Ansel tertegun, sejak ia kecil Paman Lim memang selalu ada untuk dirinya, bahkan tidak dengan papanya sendìri. Aneh rasanya jika pria baruh baya itu berhianat, sedang sejak dulu hanya dia yang selalu ada dan mengusahakan yang terbaik untuk dirinya.


Ansel lalu menceritakan tentang kandungan obat-obatan yang dikonsumsi sang mama. Dari keterkejutan Paman Lim yang begitu kentara, Ansel yakin dia tidak tahu apa-apa. Ansel lalu bertanya di mana dia mendapatkan informasi bahwa obat itu sudah tepat untuk mamanya.


Paman Lim menyebutkan rumah sakit yang Ansel tahu tempat Dokter Nata bekerja di sana, pantas saja jika pria itu mendapat informasi yang salah.


Lim meminta maaf. Dan begitu menyesali kebodohannya. Ansel pun berkata tidak apa-apa, dia justru begitu senang karena masalahnya dengan pria itu hanya kesalahpahaman saja.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan Paman Lim, Ansel kembali menemui ibunya. Langkah kakinya terhenti di ambang pintu, sedikit terkejut saat mendapati seseorang yang tengah menemani wanita itu.


"Sena?"


Gadis cantik yang tengah menyuapi ibunya itu menoleh. Seperti dejavu, Ansel merasa dunianya berputar kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu. Bisakah dia memperbaiki kesalahannya pada gadis itu.


***


Author: maapin ya telat, aku sudah berusaha menuangkan seluruh imajinasiku yang lumayan terganggu ragara minyak di maret-maret turun harga.


Netizen: Elu borong dong thor?


Author: Kaga, ada kang parkirnya males gua.


Netizen: Timbang 2000 doang si.


Author: Bukan masalah duarebu, gue males dipanggil ibu. Mana motor gua ditarik-tarik, padahal kan gua bisa mundur sendiri.


Netizen: 😒😒😒😒

__ADS_1




__ADS_2