
Berada sendirian di ruang keluarga itu, Ansel masih duduk di sofa saat seorang gadis remaja menubruk tubuhnya. "Om Nino!" serunya.
Anak perempuan itu sontak terkejut saat Ansel menoleh dengan sama terkejutnya. Dia lalu menjauh, melepaskan pelukannya.
"Eh, Maaf. Kirain aku Om Nino." Gadis remaja itu menutup mulutnya.
Ansel mengulas senyum. "Karena pakaian ini?" tanyanya dengan menyentuh kemejanya sendiri.
Gadis itu mengangguk, kemudian tertawa. "Iya, aku pernah liat Om Ni pake baju itu soalnya."
Ansel tidak menanggapi, pria itu memerhatikan gadis di hadapannya yang ia tebak masih berusia sekolah dasar. Mungkinkah dia yang bernama Lasena Maura.
"Yaudah Om, aku main dulu yah."
"Tunggu!" Sebelum anak itu melangkah pergi, Ansel memanggilnya. "Kamu mau ke mana?"
Gadis remaja itu mengerutkan dahi bingung. "Mau ke sebelah. Aku mau main sama Kania," ucapnya.
Ansel tidak bertanya siapa itu Kania. Yang ia tahu, dia harus selalu mengikuti gadis itu. "Mulai sekarang om pengawal kamu," ucapnya dengan mendekat, sedikit membungkuk untuk mensejajari tinggi anak itu.
"Pengawal?"
Melihat gadis di hadapannya yang semakin kebingungan, Ansel menggaruk rambut kepalanya pelan. "Iya, pokoknya om bakal nemenin kemanapun kamu pergi."
"Beneran, Om?" Dengan mata yang berbinar anak itu terlihat senang. "Om disuruh Opapi, yah? Yeee!! Jira sekarang punya pengawal," serunya bahagia. "Om bakal sering ajak Jira jalan-jalan kan?"
"Eh?" Ansel menyadari satu hal, saat gadis itu memanggil Justin dengan panggilan Opa. Lalu nama anak itupun bukan Sena. Dan juga baru sadar, sebelum ini Jira memanggilnya Om Nino karena baju yang dipakainya. Dia bukanlah putri bungsu tuannya.
"Ada apa, Sayang. Keliatannya seneng banget?" Nena yang turun dari tangga tampak tersenyum melihat tingkah cucu pertamanya.
"Omami, sekarang Jira punya pengawal," adunya.
Nena mengerutkan dahi, lalu menoleh pada Ansel yang terlihat merasa bersalah.
"Maaf, Nyonya. Saya pikir ini putri bungsu nyonya," ucap Ansel dengan menunduk.
Nena sedikit tertawa, lalu menyentuh pipinya dengan telapak tangan. "Apa saya terlihat semuda itu," tanyanya bangga.
Ansel tersenyum kecil sebagai tanggapan, dia lalu kembali menunduk agar dimaafkan.
"Sayang, Om Askara bukan pengawal Jira, dia pengawal Ante Sena." Nena yang beralih menatap sang cucu, lalu memberikan penjelasan.
Gadis bernama Jira itu berubah murung. "Iiih kok buat Ante sih. Jira kan juga mau punya pengawal. Biar nggak ada yang nakal sama Jira di sekolah, Omami."
"Jira kan anak baik, nurut sama orangtua. Nggak perlu pengawal."
__ADS_1
"Pokonya Jira mau pengawal kaya Om Aska."
"Kan udah ada Pak Bandi." Nena menyebutkan nama supir gadis itu yang selalu mengantar pulang pergi ke sekolah.
Jira menggeleng. "Pak Bandi nggak keren."
Mendengar alasan cucunya Nena tentu tertawa.
Jira menoleh pada pria yang berdiri di sebelahnya. "Jira mau pengawal kaya Om Aska," ucapnya dengan menarik lengan kemeja yang dipanggilnya Aska. Pria itupun diam saja.
"Ambil!" Seruan dari seorang wanita yang tengah menuruni anak tangga membuat mereka menoleh. Begitpun dengan Ansel.
Kali ini tebakan Ansel tidak mungkin salah, gadis itu adalah Lasena Maura. Ansel memerhatikan perempuan yang masih menuruni anak tangga, kesan pertama yang dapat dia tangkap dari dirinya adalah sexy. Selebihnya yaitu, cantik sekali.
"Sena." Nena menegur sang putri bungsu yang tidak ada sopan-sopannya.
Gadis bernama Sena itu memerhatikan Ansel dari ujung kaki hingga kepala, lalu melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Eeh, Sena! Kenalan dulu dong sama Askara!" Sang mami berseru, namun gadis itu tetap berlalu menuju dapurnya.
Sepertinya Ansel harus meralat tentang kesan pertama perjumpaannya dengan gadis itu. Dia terus membujuk dirinya sendiri untuk bertahan beberapa hari saja. Dan Ansel yakin akan bisa melaluinya.
"Itu, Sena. Jangan diambil hati, anaknya emang gitu. Tapi baik kok." Nena berusaha menghibur.
"Bohong! Om Aska harus hati-hati sama Ante Sena. Pengawal terahir Ante kemarin sampe kencing di celana."
Ansel mencoba untuk biasa saja, dia lalu mengangguk. "Baik, Nyonya," ucapnya.
.
Saat sampai di dapurnya, Sena membuka kulkas dan mengambil air dingin. Gadis itu berbalik ke arah meja, segelas minuman yang ia kenal dari warnanya itu membuat dia berdecak.
Tertempel kertas memo di badan gelas, Sena lalu membacanya. Jangan minum air es dulu, abisin jamu yang mami bikin. Awas kalo nggak.
Sena kembali berdecak sebal dan membuang kertas itu ke tempat sampah. Kehadiran pria bernama Askara di dapurnya, membuat dia lalu menoleh.
Ansel diam saja, hanya mengangguk kecil sebagai perkenalan diri yang sudah dijelaskan oleh orangtuanya. Gadis itu tentu tahu kenapa dia berada di sana.
Sena menyodorkan segelas minuman yang maminya buat pada pria itu, tetap diam dan tidak berkata apa-apa.
"Ini apa?"
"Jamu buat lo." Sena menjawab dengan mengangkat alisnya. Mendapati pria itu diam saja dia lalu menegurnya. "Ayo ambil, lama banget si."
Ansel menerima gelas itu, lalu mencium aromanya yang membuat ia mengernyit.
__ADS_1
"Minum."
"Apah?" Ansel yang terkejut lalu menatap gadis di hadapannya.
"Ayo minum! Jadi pengawal gue tuh harus kuat, lo harus minum ini!"
Ansel mengerjap tidak nyaman saat Sena berbicara terlalu keras, belum pernah ia mendàpat bentakan seperti itu sebelumnya. Padahal Justin berkata, Ansel tidak boleh terkecoh dengan sikap manisnya. Dia jadi bingung, manis di bagian mananya?
"Ayo!"
Ansel kembali mengernyit saat mencium aroma minuman di gelas itu. "Baunya aneh," keluhnya.
"Namanya juga jamu."
"Jamu?"
"Banyak ngomong ih, ayo cepetan minum."
Dengan ragu Ansel menurut, pria itu menahan napas saat meminum cairan yang gadis itu sebut jamu dan ingin muntah dengan rasanya. Tapi dia menahannya.
"Enak nggak?" Dengan menahan tawa Sena bertanya, bukan sekali dua kali dia menyuruh orang lain untuk menghabiskan minuman yang sama.
Masih mabuk dengan rasa jamu yang dia telan, Ansel belum sempat memberikan jawaban. Dan seseorang yang datang mendekati mereka merebut gelas kosong dari tangannya.
"Ya ampun, Sena. Kamu suruh Aska minum ini?"
Sena tertawa saat sang mami terlihat kaget raut wajahnya. "Dia yang mau, Mi."
"Nggak mungkin." Setelah mengomel pada putrinya, Nena menatap Ansel yang masih menutup bagian mulutnya dengan telapak tangan. "Kamu nggak apa-apa kan, Nak?" tanyanya prihatin.
Ansel menelan ludah, menetralkan rasa aneh di mulutnya. "Itu apa, Nyonya?" dia bertanya.
Dengan menyesal Nena menatap gelas kosong di tangannya, lalu menoleh lagi pada pengawal baru putri bungsunya. "Ini jamu buat Sena yang lagi dateng bulan," sesalnya.
Ansel segera berlari ke arah wastafel, kemudian memuntahkan isi perutnya.
***
Kalo kalian masih punya buat vote, jangan lupa kasih ke cerita ini aja ya.
netizen: kok itu enol thor??
author: Iya itu aku lupa udah buat vote duluan 😂
__ADS_1
yang atas buat kasih poin, yang bawah buat kasih vote. makasiih.