Feeling Attack

Feeling Attack
10. Mulai bercerita


__ADS_3

PRANGGG


Lemparan Langit berhasil mengenai kaca di sampingnya. Mentari menjerit takut dan terkejut melihat adiknya seperti ini.


"Orion," cicit Mentari menatap nanar adiknya.


PRANGG


Kembali terdengar suara pecahan dari benda yang dilempari oleh Langit yang jatuh tepat di samping Mentari.


"Jangan pernah sebut nama itu!" teriak Langit marah.


"Tapi itu nama kamu yang sebenarnya!" jerit Mentari.


"Bukan! itu bukan nama aku! pemilik nama itu udah lama mati!" jeritnya kembali menatap kakaknya nyalang. "Mendingan kakak keluar dari kamar aku! keluar! aku nggak mau nyakitin kakak!" kembali melempari barang-barang yang bisa dicapainya. Jeritan Mentari makin menjadi.


"KELUAR!"


"OM LANGIT!" seru Caca yang terkejut melihat Langit seperti ini. Kamarnya sudah tidak berupa lagi. Benda-benda mahal bergeletak di lantai dengan keadaan yang mengenaskan.


"Om Langit! kenapa sih ?! jangan kasar-kasar sama Kak Mentari dong! kalau Kak Mentari kenapa-kenapa gimana ?! Kak Mentari lagi hamil tau!" kata Caca menatap Langit tajam begitu pun Langit yang menatap Caca lebih dari tajam.


"Kak Mentari nggak apa-apa ? nggak ada yang luka, kan ?" kata Caca panik melihat Mentari yang bergetar di dalam rangkulannya.


"Enggak, kakak nggak apa-apa. Kita keluar aja sekarang." Jawab Mentari pelan.


"Ya udah ayo Caca antarin ke kamar kakak." Caca memapah Mentari keluar dari kamar Langit sebelum itu ia menoleh ke Langit seraya berucap.


"Om seperti bukan diri om yang sebenarnya." Sinis Caca lalu keluar dari kamar Langit. Ucapan Caca dan tatapan Caca tadi berhasil membuat Langit murka kembali ia melemparkan segala benda-benda di kamarnya menyalurkan semua emosinya di sini. Segala makian keluar dari mulutnya.


"KAMU NGGAK TAU APA-APA TENTANG HIDUP SAYA!"


***


Caca menatap sendu Mentari yang sekarang tertidur setelah di suntik obat penenang oleh Dokter Lusy. Setelah keluar dari kamar Langit, Mentari tak henti-hentinya menjerit ketakutan dan Caca kualahan untuk menenangkan Mentari. Akhirnya tak berapa lama Dokter Lusy datang yang rupanya di telpon oleh pelayan rumah ini.


Awalnya Caca sempat protes pada Dokter Lusy yang seenaknya menyuntikkan cairan tersebut. Caca takut itu akan berpengaruh pada bayi yang di kandung oleh Mentari. Tapi Dokter Lusy menjelaskan kepadanya bahwa itu aman untuk Mentari maupun bayinya.

__ADS_1


Banyak pertanyaan di kepala Caca dan berbagai opini yang Caca ciptakan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga ini, seminggu Caca tidak datang ke sini dan banyak perubahan yang membuat Caca merasa aneh dan bingung.


Caca tidak tahu kondisi Langit seperti apa di dalam kamarnya. Sejam yang lalu Dokter Lusy pamit kepada Caca ingin melihat kondisi Langit. Caca sempat menanyakkan pada Dokter Lusy ada apa dengan kondisi keluarga ini tetapi Dokter Lusy hanya tersenyum seraya berucap.


"Suatu saat kamu akan tahu, dan aku tidak ada berhak untuk memberi tahu mu. Karena ini janji ku sebagai seorang Dokter di keluarga ini untuk tidak memberi tahukan kondisi yang sebenarnya. Sabarlah sampai Mentari menceritakan semuanya."


Pintu terbuka secara kasar, Caca langsung menoleh rupanya suami Mentari. Revan. Datang dengan napas memburu menatap sendu istrinya, mencium tangan istrinya dengan sayang lalu mencium kening istrinya lembut. Semua itu tak lepas dari pandangan Caca, Caca bersyukur Mentari mendapatkan suami yang sayang kepadanya.


Lalu pandangan Revan beralih ke Caca terdengar helahan napas dari Revan.


"Kamu udah lama ?" tanya Revan membuat Caca mengernyit merasa ada yang salah dari pertanyaan Revan.


"Kayaknya pertanyaan abang salah deh, seharusnya tuh abang tanyain kenapa Kak Mentari seperti ini." Sungut Caca.


"Saya sudah tau," jawab Revan


"Hah ?" tanya Caca tak mengerti maksudnya apa ? Bang Revan sudah tau penyebab nya ? Kok bisa ?


"Ada saatnya kamu tau," Revan menatap istrinya, tangannya tak berhenti mengelus punggung tangan istrinya. "Kamu udah lama ?" ulangnya kembali. Caca hanya mengangguk saja.


"Caca boleh tanyain sesuatu ?" Revan menoleh ke Caca menatap Caca seolah menjawab 'silahkan'.


"Kamu tunggu Mentari sadar ya, dan tunggu dia udah tenang. Saya yakin Mentari akan ceritain semuanya ke kamu dengan sendirinya." Jawab Revan yang makin membuat Caca frustasi kenapa jawaban Dokter Lusy dan Revan sama. Caca menghela napasnya kemudian mengangguk setuju.


Enggak ada cara lain Caca harus menunggu Mentari siuman.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore dan Caca masih menunggu di kamar Mentari, menanti Mentari siuman. Setelah sholat ashar tadi Caca menelpon Nana untuk izin pulang malam agar temannya itu tidak khawatir akan dirinya.


Revan sudah kembali ke kantornya karena ada rapat yang tidak bisa ditunda olehnya. Akibatnya ia meminta Caca untuk menjaga Mentari. Dan sampai sekarang Caca tidak tahu kondisi Langit di dalam kamarnya. Caca hanya berpikir kondisi Langit sama seperti Mentari saat ini atau mungkin lebih parah.


"Nggh..." lenguh Mentari sadar membuat perhatian Caca teralihkan.


"Alhamdulillah... Kak Mentari haus ?" tanya Caca yang hanya dibalas oleh anggukkan Mentari. Caca membantu Mentari mengubah posisinya menjadi bersandar di headbroad kasur.


Caca pun menuangkan air ke dalam gelas yang memang selalu tersedia di atas narkas sebelah tempat tidur.

__ADS_1


"Ini kak, pelan-pelan," tuntun Caca.


"Makasih Caca." Ucap Mentari lemah.


"Enggak ada yang sakit kan ?" Mentari hanya menggeleng tersenyum. Mereka sama-sama terdiam sesaat.


"Kamu pasti masih bingungkan dengan kejadian ini semua ?" Caca yang awalnya menunduk segera menoleh ke Mentari menatapnya terkejut. Tak berapa lama Caca mengangguk kecil.


"Hhh bakalan aku ceritain ke kamu," ujar Mentari pelan.


"Kalau kakak belum siap dan itu menyakitkan untuk kakak nantinya jangan dipaksain cerita."


"Nggak apa-apa, menurut aku, ini waktu yang tepat untuk aku ceritain semuanya ke kamu." Mentari memegang tangan Caca erat "Karena kamu yang bisa tolongin kita."


Caca menatap Mentari tak mengerti "Maksud kakak ?"


Mentari hanya tersenyum "Aku bisa minta tolong ?" Caca mengangguk "Tolong kamu ambilin album foto yang di sana, yang warna hitam." Tunjuk Mentari ke arah rak buku mini di kamarnya.


Caca pun bergerak mengambilnya "Ini kak ?" Mentari mengangguk mengambil buku itu dari tangan Caca.


"Kamu duduk di sebelah aku." Caca kembali menurut. "Ini foto keluarga aku."


Mentari mengusap cover depan album tersebut sudah lama ia tidak menyentuh album ini karena ia takut kenangan buruk masa lalu menghantuinya lagi.


Terlihat di mata Caca, tangan Mentari bergetar membuka album itu, Caca menggenggam tangan Mentari.


"Tangan kakak gemetaran, sebaiknya jangan dibuka kalau kakak nggak sanggup." Mentari menggeleng lalu mengusap cairan bening yang tiba-tiba saja meluncur dari sumbernya.


"Aku nggak apa-apa, cuma kangen aja. Udah lama banget aku nggak buka album ini. Dan aku nggak menyangka kalau hari ini adalah hari di mana aku kembali membuka kenangan ini." Mentari menarik napasnya lagi lalu membuka halaman pertama dari album itu.


"Ini kedua orang tua aku. Ini mama aku cantik ya ?" Caca mengangguk setuju. "Banyak yang bilang aku mirip seperti mama. Mama aku orang Korea asli tapi lama tinggal di Bandung dan menetap di sini saat masih gadis. Dan ini papa, papa orang Inggris bercampur darah Thailand, ia juga pindah dan menetap di kota ini. Mereka kenalan saat masih masa kuliahan dan singkat cerita mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah."


"Terus mereka ke mana ?" tanya Caca penasaran.


"Papa sekarang masih di London dan memutuskan tinggal di sana untuk sementara. Sedangkan Mama..." Mentari terdiam tak lama terdengar isakan kecil dari Mentari yang berhasil membuat Caca panik, perasaan Caca mulai tidak enak segera Caca memeluk Mentari bermaksud untuk menenangkannya.


"Mama hiks mama hiks sudah meninggal."

__ADS_1


DEG


__ADS_2