
Caca sudah sampai di perusahaannya Mentari yaitu Hanwha group. Menurut Caca sih nama perusahaannya lucu, seperti di Drama-drama Korea yang pernah Caca tonton.
Mobil Farhan sekarang sudah berhenti di depan loby untuk menuju pintu masuk. Segera Caca membuka pintu lalu turun dari mobil, saat kedua kakinya sudah berdiri tegak dengan benar tapi tidak dengan matanya yang sekarang sudah melotot takjub.
Caca mendongakkan kepalanya mencoba menghitung ada berapa lantai di perusahan ini. Entah berapa ketinggian yang dimiliki oleh gedung ini. Andai saja Caca dulu ahli Fisika mungkin ia bisa tahu.
"Mata dan mulut di kondisikan, bisa ?" tegur Farhan yang sekarang sudah di sebelahnya.
Caca nyengir salah tingkah lalu menoleh ke belakang dan mengernyit "Mobil Mas Farhan ke mana ?"
"Udah di tempat parkir," ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam. Segera Caca menyusul langkah kaki Farhan.
Begitu mereka sudah sampai di dalam, Ekspresi Caca sudah benar-benar tidak bisa di kondisikan lagi. Heh ini adalah reflek bukan dibuat-buat. Ia berdecak takjub dengan konsep desain dari ruangan ini. Sedangkan Farhan berusaha untuk berjalan santai sedikit menjauh dari Caca supaya tidak ada gosip-gosip yang membuat dirinya rugi.
"Mohon maaf anda siapa ya dan ada keperluan apa ?" tegur penunggu di meja resepsionis menatap penampilan Caca yang terkesan santai dan membawa bekal makanan.
"Dia ke sini sama saya." Jawab Farhan dingin.
"Oh maaf, Pak." Balas perempuan itu menunduk takut.
"Kalau boleh tau dia siapanya bapak ?" tanya teman cewek tadi.
"Adik dari tunangan saya." Sahutnya santai membuat Caca melotot. Heh ? Adik ?
Kedua perempuan resepsionis pun tersenyum canggung ke arah Caca dan di balas Caca demikian. Farhan melanjutkan langkahnya dan kembali diikuti oleh Caca di belakangnya.
Saat mereka sudah di lift, Caca diam. Jujur Caca paling benci naik lift karena sehabis ia keluar dari sini dipastikan kepalanya pusing. Pintu lift terbuka, baru beberapa langkah kakinya keluar dan benar kepala Caca berkunang-kunang.
Farhan mengernyit menatap Caca yang sedang memijit pelan kepalanya sambil geleng-geleng. "Kenapa ?"
"Tunggu dulu, Caca lagi hilangin efek samping naik lift nih." Ucapnya yang masih fokus pada kegiatannya.
Farhan mendesah malas, naik lift saja bisa pusing. "Saya nggak bisa antarin kamu ke ruangan Langit."
Membuat Caca berhenti dari gerakannya. "Jadi siapa yang antarin Caca, aku nggak tau ruangannya di mana."
"Ruangannya di lantai ini, kamu ke meja resepsionis di sana. Bilang aja kamu kerabat Langit ingin nganterin makanan dari Mentari. Entar dia yang ngantarin kamu ke ruangan Langit." Ujarnya seperti Abang yang tengah memberi arahan pada adiknya.
Caca menangguk-angguk tanda ia mengerti. "Emangnya Mas Farhan mau ke mana ?"
"Saya mau ngantar berkas ini ke klien sekalian mau siapin rapat," Caca membulat kan mulutnya. "Ya udah cepatan sana." Usir Farhan sedikit mendorong bahu Caca.
Caca mendengus sambil berjalan pelan. Ngedumel pelan. "Nggak ada sopan-sopannya sama adik tunangan sendiri—eh—lebih tepatnya sahabat karib tunangannya sendiri. Entar kagak gua kasih restu baru tau rasa dia."
Farhan yang memang belum bergerak dari tempatnya, mendengar omelan kecil dari Caca. Farhan tersenyum kecil melihat tingkah Caca mengingatkan akan adiknya yang sudah tenang di alam sana.
Terlihat Caca sudah mendekati meja resepsionisnya. Farhan pun berbalik arah menuju lift untuk turun.
"Permisi, mbak bisa anterin saya ke ruangan Om Langit." Pinta Caca setelah ia sampai di depan meja resepsionis muncullah perempuan berhijab sedang menatap Caca ramah. Satu kata dari Caca. Cantik. Sepertinya dia sudah berkeluarga.
"Kamu keponakan Pak Langit, ya ?" awalnya Caca mengernyit lalu segera ia mengubah ekspresinya menjadi tersenyum kecil sambil mengangguk.
__ADS_1
"Saya mau nganterin makan siang dari Kak Mentari."
"Mari saya antar ke ruangan Pak Langit." Ajaknya ramah. Ia berjalan terlebih dahulu lalu diikuti Caca di belakangnya.
Setelah sampai di depan pintu ruangan Langit, perempuan itu pun mengetuk pintu sampai terdengar suara kaku nan dingin menyuruhnya untuk masuk.
"Maaf Pak, ada yang ingin bertemu dengan bapak." Ucap perempuan itu. Terlihat di sana Langit sedang berkutat dengan segala berkas-berkasnya.
"Siapa ?" sahutnya tanpa menoleh.
"Katanya keponakan bapak." Langit memberhentikan kegiatannya menatap perempuan itu bingung.
"Kepona--"
"Halo.... Om Langit!" potong Caca segera. Langit membelalakkan matanya terkejut melihat sosok gadis mungil ini. Dasar Kak Mentari umpannya dalam hati.
"Kamu boleh pergi," usir Langit pada perempuan berhijab tadi. Caca pun segera mengucapkan terimakasih lalu dibalas senyum oleh perempuan itu.
"Ngapain kamu ke sini ?" sambung Langit dingin. Saat pintu ruangannya sudah tertutup.
"Caca bawain makan siang untuk Om Langit, ini Caca sama Kak Mentari loh yang masak." serunya girang sambil berjalan mendekati meja Langit.
"Dengan kamu mengaku menjadi keponakan saya ?" sinisnya.
"Ih... Caca nggak ada ngaku-ngaku loh, mbak nya tadi yang langsung bersugesti kalau Caca keponakan om." Balas Caca cepat.
"Gimana mbak-mbak tadi nggak berpikiran kamu keponakan saya, panggilan kamu ke saya bisa di ubah ?" sahut Langit malas.
"Kamu manggil Farhan, Mas ?" Tanyanya balik.
"Iya, soalnya dia sendiri yang nyuruh Caca manggil dia mas. katanya Caca seperti Almh adiknya." Jawab Caca jujur. "Eh, tapi kalau untuk om, kayaknya nggak cocok deh di panggil mas."
Langit melotot tak terima "Farhan lebih tua dari pada saya, asal kamu tau."
"Iya sih, tapi kalau dari segi fisik masih mudaan Mas Farhan dari pada Om." Ledek Caca sambil terkekeh lucu.
"Kamu!" geram Langit Caca masih dengan kekehannya sambil menatap Langit seakan menantangnya. "Awa- Arrggh..." ringis Langit tiba-tiba sambil memegang perutnya.
Caca seketika panik "Om nggak apa-apa ?" reflek Caca merangkul pundak Langit dan memegang tangan Langit yang sedang memegang perutnya.
"Arrgghh..." Langit hanya bisa meringis.
"Tuh kan, pasti maag om kambuh gara-gara telat makan nih," ucap Caca mendiagnosa karena melihat posisi tangan Langit memegang sekitaran ulu hatinya.
Caca memapah Langit berpindah duduk dari kursi kerjanya ke sofa supaya lebih nyaman untuknya bersandar. Keduanya masih belum menyadari posisi mereka.
Setelah memastikan posisi Langit sudah nyaman. Segera Caca mengambil bekal makanan tadi lalu diletaknya di meja sofa. Langit memperhatikan segala gerak-gerik Caca sambil menahan sakitnya.
"Om Langit minum air hangat dulu, supaya perutnya nggak kejut nanti." Ucap Caca sambil menuntun Langit minum. Untung saja ruangan Langit lengkap. "Nih minum obatnya."
"Dapat di mana ?" tanya Langit heran sambil menerima obat maag tersebut.
__ADS_1
"Caca selalu bawah obat ini ke mana pun dan kapan pun." Cengirnya "Untuk jaga-jaga aja."
Langit mengangguk, lalu mulai mengunyah obat tersebut. "Kamu nggak kerja ?"
"Caca diliburkan sama Kak Mentari." Sahutnya sambil memperhatikan Langit. "Oh iya, sebentar," Caca membuka tasnya mengambil amplop putih lalu menyerahkannya pada Langit.
Langit mengernyit "Ini uang untuk biaya mobil Om kemarin yang rusak gara-gara aku."
"Simpan saja untuk keperluan kamu nantinya." Sahut Langit
"Heh ?"
"Anggap saja, masalah itu udah beres." Jawab Langit tenang.
Caca mengerjap-ngerjap bingung menatap Langit. Mengernyit menatap curiga Langit. Kenapa tiba-tiba baik ?
Tanpa pikir panjang Caca memasukan lagi amplopnya. Biarlah dia sendiri yang tidak mau menerima yang penting Caca sudah menyampaikan niat baiknya. Mungkin uang itu Caca donasikan saja.
"Nggh... perutnya udah nggak perih lagi ?" tanya Caca pelan.
"Udah enggak." Jawab Langit kalem.
"Syukurlah, nanti setelah 30 menit atau lebih om baru boleh makan yaa." Ujar Caca mengingatkan.
"Hem, saya tau," Caca mengangguk "Kamu boleh pulang, biar supir saya yang nganterin kamu pulang."
"Tapi, om belum makan bekalnya."
"Kamu mau menunggu saya." Jawab Langit Ambigu.
"Yaa... kan Kak Mentari kasih amanat ke Caca, supaya pastiin om makan bekal siangnya."
"Saya satu jam lagi ada rapat."
"Tuh kan berarti, om nggak bakalan makan siang lagi dong."
"Nanti saya akan makan."
"Kapan ?"
"Sebelum rapat nanti." Jawab Langit tenang sambil mengetik sesuatu di handphonenya. "Saya sudah hubungi supir saya, kamu tunggu di loby bawah aja."
Caca mengangguk walaupun dalam hatinya sedikit kesal, baru saja ia menikmati nyamannya di ruangan ini eh main diusir aja.
"Tapi om janji yaa makan bekalnya." Ucap Caca sambil mengambil tasnya.
Langit hanya mengangguk "Jangan lupa kotak bekalnya di bawah pulang," seru Caca setelah ia sudah sampai di pintu. "Caca pulang dulu, jangan kangen yaa." Tawa Caca lalu menghilang dari balik pintu itu.
Langit tersenyum tipis melihat sosok gadis mungil tadi yang sudah menghilang dari balik pintu lalu pandangannya ke kotak bekal berwarna biru di depannya. Langit Mengambilnya lalu membukanya alangkah terkejutnya ini adalah makanan kesukaannya.
Langit hanya bersabar dalam hati sambil menghitung menit ke menit.
__ADS_1