
Perjalanan Jakarta-Bandung sedang ditempuh oleh kedua gadis ini ya siapa lagi kalau bukan Caca dan Tata. Setelah melalui perdebatan yang terjadi seharian penuh akhirnya mereka sepakat memilih perjalanan darat dengan menggunakan mobil Tata.
Kalau kalian berfikir Tata yang menawarkan untuk mengunakan mobilnya hohoho kalian salah besar. Untuk apa Tata mengorbankan mobil kesayangannya yang harus menempuh perjalanan jauh dan dirinya harus mengemudi selama berjam-jam, oh tidak. Ini semua adalah idenya Caca.
Tata mengusulkan untuk berangkat menggunakan pesawat saja, agar mereka cepat sampai dan tidak kelelahan nantinya. Tetapi Caca membantah itu semua dengan jurus seribu kata-kata miliknya.
1 hari sebelumnya.
"Tiket pesawat lagi mahal Ta, baiknya tuh duit untuk biaya servis mobil lu aja, lu kan ada mobil yaa digunakanlah jangan untuk dijadiin pajangan aja."
"Ck ngomong emang gampang Ca, lu enggak mikirin gua yang ngemudiinnya gimana ?! lu pikir enggak capek hah ? mau gantian ? dengan siapa ? emang lu bisa ?"
"Hidup itu penuh dengan masalah Ta. Jadi jangan ditambah lagi deh tuh beban hidup. Kalau lu banyak pikiran bisa memperpendek usia loh Da--"
"Eh, eh, permisi tuh mulut lancar banget ngomongnya! lu doain gu--"
"Ck kumat lagi baperannya. Kurang-kurangin deh Ta, suudzonnya. Enggak baik atuh. Penyakit hati itu." Nasehat Caca.
"Astaghfirullah. Kuatkan hati Tata Ya Allah atas segala tingkah absurdnya Caca. Bimbinglah Tata ke jalan yang benar. Aamiin." Doa Tata.
"Lu juga sih buat gua negatif thinking mulu. Kurang-kurangin deh Ca tingkah absurd lu itu. Heran gua dari dulu kagak pernah berubah." Sambungnya.
"Lah bagus dong, kalau gua enggak pernah berubah. Gua yang dulu dan sekarang tetap jadi Cacanya Tata, hahaha... lagian gua nyaman dengan diri gua yang sekarang karena ini adalah jalan kepribadianku." Jawab Caca yang hanya di tatap dengan tatapan heran Tata, nih anak kenapa ?
Krik krik krik
"Ha—Ha—Garing yaa ?" yang masih di tatap dengan wajah datar Tata.
"Ekhem oke gua sambung yang tadi. Sampai mana yaa ? ahh Iya, jadi gini kita gunain mobil lu buat berangkat ke Bandung. Biar lebih hemat. Entar siang gua temanin lu buat servis mobil. Kita pt-pt deh tenang aja. Terus tentang mikirin masalah capeknya, gampang tinggal istirahat aja di jalan entar. Kalau lu mau gantian sama gua. Gua sih kagak masalah. Asal lu izinin aja. Gini-gini gua di kampung sering bawa pick up tau." Jelas Caca panjang lebar.
"Gua. Enggak. Mau.Titik! pakai pesawat aja kenapa sih Ca ribet banget deh." Ketus Tata yang diawali dengan penekanan.
"Oke seterah lu aja." Ucap Caca santai yang langsung menciptakan senyum penuh kemenangan Tata.
"Tapi gua enggak jamin nih jari bakalan diam atau enggak." Ancam Caca sambil memperlihatkan kontak Whatsapp seseorang.
"Eh lu mau ngapain ?" panik Tata.
"Berhubung lu mau kasih suprise untuk si doi atas kedatangan lu di sana ya... gua sebagai saha--"
"Oke fine lu menang, kita berangkat pakai mobil! puas lu!" Kesal Tata yang menerbitkan senyum penuh kemenangan dari Caca, membuat Tata bertambah kesal. Lalu Tata berbalik badan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sial pakai ancam gituan lagi nyesal banget semalam gua ceritain ke dia batin Tata kesal.
"Jangan lupa entar siang Ta. Gua tunggu." Teriak Caca senang.
Haha untung gua ada kartu As nya batin Caca senang.
***
Musik mengalun di mobil Tata menemani perjalanan malam mereka.
"Lu udah bilang ke tante, kan kalau lu berangkat ke Bandung ?" lirik Tata memulai obrolan mereka.
"Udah kok tadi pagi." Jawab Caca yang sibuk mengetik layar ponselnya. Entah sedang membalas pesan dari siapa.
"Baguslah," fokus Tata ke depan.
"Ck lagu lu buat ngantuk Ta, gua ganti yaa pakai lagu hp gua aja." Izin Caca dibalas anggukkan Tata.
"Nah ini kan enak." Ucapnya setelah menganti dengan lagu favoritnya. Dan mulai bersenandung, sekali-kali di timpali oleh Tata.
"Ta, entar kalau ketemu Hadirmart atau IndoApril singgah ya," pinta Caca tiba-tiba.
"Hah ?" bingung Tata menaikan alisnya.
"Alfamart atau Indomaret kali," sambung Tata setelah berhasil memahami.
"Ih biar beda aja gitu. Biar kagak disangka promosi hahaha..." tawa garingnya.
"Enggak jelas lu," ucap Tata tak habis pikir.
Mobil Tata langsung menepi ke kiri saat melihat ada Indomaret yang buka.
"Lu mau ikut turun atau nitip aja ?" tanya Caca bersiap untuk turun.
"Ikut aja deh." Jawab Tata ikut turun dari mobil dan tak lupa menguncinya setelah Caca keluar dari mobil.
"Lu mau minum yang mana, Ta ?" tanya Caca menawarkan tiga minuman kopi. Ada yang bersegel bendera Italia, Iklan kopi perempuan terbang dengan sayap, dan kopi emas. Saat ini mereka berada di depan lemari pendingin minuman.
"Ini aja," tunjuk Tata bersegel bendera Italia.
"Oke ini sama ini aja deh." Jawab Tata sambil meletakan kembali kopi Emas. Dan meletakkan empat botol kopi bersegel bendera Italia dan empat botol kopi iklan perempuan terbang dengan sayap ke keranjang belanjaan. Dilanjutkan dengan meletakkan empat botol air mineral. Dua susu kotak yang pernah di minum oleh Jungkook BTS. Btw Caca penggemar mereka juga loh. Dan dua susu kotak rasa coklat. Juga tak lupa Caca pun mengambil beberapa roti, permen, snack jagung, keripik kentang, stik pedas, keripik gila. Dan snack-snack lainnya hingga membuat dua keranjang penuh diisi oleh Caca.
"Lu mau piknik ?" Heran Tata.
"Ck ini nih untuk menemani kita dijalan tau, agar rasa lapar dan haus tidak singgah di tubuh kita." Jelas Caca yang saat ini mereka sedang mengantri di kasir.
"Tenang aja, gua yang traktir." Sambungnya melihat wajah suram Tata.
"Tumben, mendadak kaya gara-gara apa ?"
"Hehe... tadi baru di transfer sama Bang Kiki." Jawabnya dengan wajah berseri-seri yang menular ke Tata. Bang Kiki itu abangnya Caca yang kerja di Malaysia.
"Alhamdulillah."
***
"Bensin penuhkan, Ta ?" tanya Caca setelah mereka melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
"Iya, penuh." Tunjuknya.
"Cukup itu ?" tanya Caca lagi sambil meminum kopinya. Biar enggak ngantuk.
"Cukup lah." Jawab Tata melakukan hal yang sama seperti Caca.
"Kalau capek, gantian aja."
"Iya,"
"Kita langsung ke apartemen Mas Farhan ?" Tanya Caca.
"Enggak, besok pagi aja gua ke sana."
"Lah terus ?"
"Kita ke rumah teman gua enggak jauh dari tempat Mas Farhan." Jelasnya.
"Cowok atau cewek ?"
"Ya ceweklah gila lu." Sewot Tata.
"Oh santai aja kali." Dengus Caca.
Setengah perjalanan telah di lalui mereka berdua.
"Ta, gantian yuk. Kasihan lu capek kayaknya." Tawar Caca melihat wajah lelah Tata. Melihat Jam sudah pukul 10 malam. Ya mereka mulai start perjalanan dari habis Isya tadi.
"Hmm iya deh. Nih lu ikutin arahan ini aja." Tunjuk Tata ke gps mobilnya. Dan dia pun menepikan mobilnya.
"Ay-ay kapten." Jawab Caca semangat. Mereka pun bertukar tempat duduk.
"Entar bangunin gua kalau kita udah sampai di kotanya yaa. Gua tidur sebentar dulu. Hoaamm..." Nguap Tata menutup matanya. Tidur. Asal kalian tau Tata itu orangnya enggak bisa dijadiin teman begadang. Enggak tahan ngantuk orangnya.
Dan tinggallah Caca sendiri sambil mendengarkan lagu dengan mulut yang tak pernah berhenti mengunyah menemani sepanjang perjalanannya.
***
Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam yang sekarang waktu telah menunjukkan pukul 12 malam mereka sampai di tempat tujuannya yaitu rumah teman Tata, Nana.
"Assalamu'alaikum." Ucap Caca dan Tata mengetuk pintu rumah Nana. Sebelum itu Tata sudah menelpon Nana.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Nana Setelah membuka pintunya.
"TATA!!!" Teriaknya Setelah bola matanya melihat teman semasa putih abu-abu dulu. Memeluk Tata erat saking rindunya. "Gua rindu banget tau!"
"Iya Na, gua juga rindu tau!" balas Tata membalas pelukan Nana tak kalah erat. Caca menatap haru pertemuan mereka.
"Ini Caca ? yang lu bilang kemarin ?" tanyanya penasaran setelah melepaskan pelukan mereka.
"Iya ini Caca, sahabat gua dari orok ini mah." Jawab Tata merangkul bahu Caca.
"Ya Tuhan imutnya! lucu banget sih, kayak boneka!" katanya heboh mencubit kedua pipi Caca yang hanya dibalas cengiran Caca.
"Makasih." Ucap Caca tersenyum. Mereka pun masuk ke dalam rumah mewah ini.
"Lu sendirian aja, Na ? Om sama Tante ke mana ?" Tanya Tata
"Biasa, mama temanin papa ke Singapore urusan kerja." Jawab Nana santai. Sering ditinggalkan sendiri membuatnya terbiasa.
"Bang Kevin ?"
"Dia udah enggak tinggal di sini. Dia tinggal di apartemennya. Sesekali doang nginap di sini." Ujar Nana sambil menaiki tangga. Diikuti oleh mereka berdua.
"Tenang mama papa gua udah tau kok kalau lu bakalan tinggal di sini sementara. Dan mereka fine-fine aja." Sambungnya. Mereka telah sampai di kamar yang telah dipersiapkan oleh Nana.
"Nah ini kamar kalian berdua ? semoga kalian nyaman. Kalau mau di dekor ulang sesuai dengan kemauan kalian silahkan aja. Sorry ya seadanya soalnya gua enggak tau tipe kamar kalian kayak apa." Ujarnya.
Ini seadanya ? Ini si namanya mewah banget! Luas lagi. Ck Ck Ck emang definisi mewah orang berbeda-beda yaaa. Batin Caca.
"Makasih yaa Na, kita udah repotin lu gini, ganggu waktu istirahat lu lagi." Ujar Tata terharu. Memang temannya ini the best banget.
"Iya sama sama."
"Lu tinggal sendiri ma-maksudnya di sini enggak ada ART ?" Caca membuka suaranya.
"Ada, tapi mereka enggak nginap. Mereka datang subuh pulangnya sore." Jelas Nana.
"Oh, kok berani sih ?"
"Dia pemberani, emang kayak lu penakut," sahut Tata cepat, sembari membaringkan dirinya di tempat tidur.
"Dih kayak lu enggak aja. Pipis aja minta ditemanin." Sindir Caca tak kalah pedas.
"Aaww! sakit woy!" Pekik Caca setelah pendaratan bantal tepat sasaran di kepala Caca pelakunya siapa lagi kalau bukan Tata. Dan dilanjutkan dengan perdebatan mereka seakan enggak menyadari kalau pemilik rumah ini masih di sini. Nana hanya tertawa melihat perdebatan mereka.
"Eh udah-udah. Kalian baiknya bersih-bersih dulu deh. Gua mau nyiapin makan malam buat kalian. Tun-"
"Ehh enggak usah Na, gua dengan Caca udah kenyang makan banyak di mobil tadi." Potong Tata cepat.
"Iya Na, mendingan lu tidur di sini aja malam ini temanin kita. Lagian tuh kasur cukup kok buat kita bertiga malahan muat 5 orang kayak nya." Ajak Caca yang disepakati oleh Tata.
"Boleh deh," jawabnya senang.
"Oke kalau gitu gua duluan yaa mandi!" pekik Caca berjalan cepat menuju kamar mandi selangkah lagi—sebelum itu Tata segera menarik kerah baju Caca.
"Eh enak aja lu! gua dulu! lu harus ngalah!" kesal Tata.
"Wah Mas Farhan telpon tuh!" pandangannya ke arah ponsel Tata yang bergetar di atas meja rias. Segera Tata ke sana melihat ponselnya. Dan Ternyata....
__ADS_1
"CACAAAAA! IIHHH!" jerit Tata kesal untuk sekian kalinya Caca berhasil menipunya. Sedangkan di dalam kamar mandi jangan ditanya seberapa bahagianya Caca. Nana yang dari tadi memperhatikan mereka berdua sudah tidak bisa menahan ketawanya bahkan ia terpingkal-pingkal melihat si imut Caca yang berhasil menciptakan wajah kesal si muka datar Tata.
Gua enggak sendirian lagi batin Nana senang.
***
Dua gadis ini masih berkutat di dapur. Kali ini bukan Tata dan Caca tapi Nana dan Caca. Lalu si Tata ? Tata sekitar satu jam yang lalu sudah pergi ke apartemen doi. Gagal total suprisenya. Karena Farhan sudah tau duluan. Darimana ? Dari gps mobil Tata otomatis tersambung ke ponselnya. Dan sialnya Tata lupa akan hal itu. Pagi-pagi sekali Farhan menelpon Tata, akibatnya membuat Tata panik.
Farhan marah-marah karena kesal kenapa Tata enggak Izin ke dia kalau mau ke Bandung dan makin membuat Farhan khawatir adalah mereka berangkat saat malam-malam hari. Caca dan Nana yang dari tadi sudah bangun saat deringan ponsel Tata menyaksikan Tata yang menangis sambil meminta maaf menjadi tidak tega apalagi Caca. Dia paling merasa bersalah sekali. Karena ini semua adalah idenya dan paksaan darinya.
Tak tega melihat Tata yang terus-terusan menangis di pelukan Nana. Membuat Caca nekat menelpon Farhan menjelaskan kronologis sebenarnya bahwa ini bukan maunya Tata tapi dia. Akibatnya Caca mendapatkan kultum fajar dari Farhan.
Tata dan Nana melihat wajah malas Caca, terkekeh geli melihat ekspresi Caca yang terkesan lucu. Dan diakhiri dengan perkataan bahwa Farhan setengah jam lagi akan menjemput Tata. Dan itu membuat Tata senang plus kalang kabut. Sekitar jam setengah delapan Farhan berhasil membawa Tata pergi setelah berbasa-basi dengan Caca dan Nana.
"Wuaahh.. kamu jago masak ya," puji Nana melihat Nasi Goreng buatan Caca.
"Haha... enggak juga, kalau cuma buat Nasi Goreng mah semua orang bisa kok." Balas Caca sembari menyajikan Nasi Gorengnya.
"Ih bohong banget! buktinya aja gua. Kemarin coba buat, yang jadi Nasi Goreng belang lautan garam." Sungut Nana sedih.
"Haha... kan, namanya belajar. Gua dulu juga gitu."
"Iyain deh, gua coba yaa." Ucapnya tak sabar melihat Nasi Goreng buatan Caca. Dari penampilannya aja menarik apalagi rasanya.
"Hmmmm enak tau!" serunya heboh.
"Pokoknya lu harus jadi guru chef gua yaa! pokoknya Harus!" Sambungnya Nana. Si Caca hanya bisa mengangguk saja. Toh dia juga senang.
"Di sini dekat minimarket, kan ?" tanya Caca.
"Iya dekat, habis keluar komplek ini belok kanan bujur terus sampai lu ketemu pom bensin nah enggak jauh dari situ ada minimarket." Kata Nana menjelaskan. "Kenapa ?"
"Mau belanja bahan-bahan untuk buat puding. Lagi pengen soalnya." Cengir Caca.
"Huaa enak tuh, mau gua temanin ?" tawar Nana.
"Eehh enggak usah gua bisa sendiri kok, kan dekat. Lagian lu ada urusan, kan ?" tolak Caca.
"Hmm iya sih, tapi beneran enggak apa-apa kalau lu gua tinggal sendiri ?"
"Yaa enggaklah, kan ada Mbok Sum dan Mbok Mina juga." Jawab Caca yang tadi pagi baru berkenalan dengan ART di rumah ini.
"Oke, asal jangan lupa pisahin puding buat gua ya," cengir Nana.
"Sip, beres itu," sahut Caca.
***
Di sinilah Caca berada di sebuah minimarket di sekitar lingkungan komplek Nana. Si Nana sudah pergi setengah jam yang lalu. Setelah Nana pergi, Caca izin ke Mbok Sum dan Mbok Mina agar mereka tidak mencari. Caca berjalan kaki dari rumah Nana ke minimarket ya lumayan juga kalau berjalan kaki hitung-hitung sambil olahraga.
Setelah selesai belanja, Caca pulang dengan kembali berjalan kaki. Suasana jalan yang cukup sepi membuat ia berani jalan ke tengah sambil bersenandung lagu favoritnya.
***
"Halo," suara berat nan serak dari sosok berbadan besar yang sedang berada di mobil mewahnya membela jalanan sepi. Membuat ia dengan enaknya melajukan kecepatan mobilnya.
"...."
"Dijalan"
"...."
"Bentar lagi"
TUT
Mematikan telpon secara sepihak sebelum penelpon di sebrang sana membalas.
"Ck sial." Makinya saat ponselnya jatuh ke bawah. Ia pun berusaha mengambil ponsel tersebut. Pandangannya fokus ke depan sesekali melihat ke bawah untuk menemukan keberadaan ponselnya. Saat pandangannya kembali ke depan. Entah datang dari mana, tiba-tiba saja ada sosok anak kecil menyeberang di persimpangan tigaan.
TIN! TIN! TIN!
CIITTTT!
BRAAAKK!
BGGUUHH!
Segera ia membanting stirnya ke kanan, untuk menghindari anak kecil tadi. tapi ia harus merelakan mobilnya mencium pohon di depannya.
***
TIN! TIN! TIN!
CIITTTT!
BRAAAKK!
BGUUHH!
"Astaghfirullah! apa itu ?" kejut Caca, yang terlalu asik dengan lagunya. Sontak Caca menoleh ke belakang dan bertapa terkejutnya, ia melihat mobil hitam dengan kap mobil yang penyok dan berasap. Segera Caca menghampiri mobil tersebut. Dibukanya pintu mobil langsung Caca memeriksa pengemudi mobil apakah sudah mati atau masih hidup dan syukurlah pria itu hanya pingsan saja.
"Ya Allah, hiks maafkan Caca telah membuat hiks orang celaka hiks," tangisnya. Caca sangat takut dan amat sangat takut.
"Hiks Om! om bangun hiks jangan mati dong! Caca takut masuk neraka karena membunuh orang! Om jangan mati dulu hiks!" jerit Caca sambil menepuk-nepuk pipi pria tersebut. Pelipis pria itu terluka.
"Om hikss bangun!"
"Aarr-ghhh..." ringis pria itu berusaha memulihkan kesadaraannya.
__ADS_1
"Aaa om apa yang sakit, Om ?" kejut bercampur senang yang dirasakannya sekarang. Caca menurunkan tangan pria itu agar berhenti memijit pelipisnya dengan keras. Sehingga Caca yang menggantikan posisi tangan pria itu.
"Aarrghhh! Sstt....Ka-kamu siapa ?" tanya pria itu heran.