
"Lu gak kerja ?" suara Nana berhasil mengagetkan Caca.
"Ih lu mah ngangetin aja." Dumel Caca.
"Ya habisnya lu khusyuk banget hiasin tuh brownisnya berarti saat gua buka kulkas lu enggak sadar keberadaan gua ?" Caca menatap Nana bingung.
"Padahal kuat tadi gua tutupnya," gumam Nana pelan. "Jam berapa lu bangun ?"
"Azan subuh tadi." Jawab Caca masih fokus pada aktifitasnya.
"Lu buat dari subuh jam segini baru jadi tuh kue ?" kejut Nana.
"Ck gua bikinnya jam 6 man gitu, habis sholat subuh gua beres-beres kamar dulu." Nana membulatkan mulutnya sambil mengangguk kecil.
"Mbok Sum sama Mbok Mina mana ?"
"NANA! IH! lu dari tadi makan kejunya mulu entar enggak cukup buat hias brownisnya!" si pelaku hanya Cengir saja. Memang dari tadi tangan Nana enggak berhenti menjemput keju menuju ke mulutnya. Kan kasihan si Caca parutin kejunya. Dasar Nana kucing dapur.
"Emang di kulkas enggak ada lagi ?"
"Gak ada,"
"Oh gampang tinggal beli lagi. Gitu aja kok repot," gumam Nana pelan.
"Gampang banget lu ngomongnya! ya udah lu beliin lagi sana!" seru Caca kesal.
"Ogah, gua belum mandi gini males keluar," Caca melirik tajam.
"Haha santai dong! lagian gua yakin cukup kok ini buat hiasin brownisnya. Semoga aja." Sambung Nana di akhir kata memelankan suaranya. Tapi masih di dengar oleh Caca ia hanya bisa mendesis kesal saja. Sabar Ca tuan rumah mah bebas.
"Buat calon kakak ipar ya ?" goda Nana, melihat Caca yang sedang mengambil sesuatu di lemari bawah kesempatannya untuk menjemput lagi sesuatu menuju ke mulutnya.
"Semba--AAA......! NANA! jorok tau! tadi keju sekarang choco chipnya lu ambil!" pekik Caca. Menangkap basah kucing dapur yang tangannya tidak bisa berhenti.
"Ya Allah Ca satu doang tadi gua ambilnya." Kata Nana berusaha membela dirinya.
"Ya tapi jangan ambil yang di sini dong!" menunjuk choco chip yang udah terletak di atas brownisnya. "Lagian ini kan untuk Kak Mentari, lu ngambilnya pakai tangan lagi."
"Gua ambilnya enggak sampai menyentuh permukaan creamnya Ca, sesteril itu kah ?" herannya tumben aja si Caca bertingkah seperti ini.
"Iyalah, Kak Mentari itu lagi sakit. Gua enggak mau kue yang gua bawa malah nambah sakitnya Kak Mentari." Jelas Caca.
"Spesial banget kayaknya." Cibir Nana
"Ck lu enggak tau aja adiknya gimana." Sahut Caca, sering Caca membawa kue untuk Mentari tapi selalu di interogasi sama om raksasa.
"Kamu buat sendiri atau beli ? ini bersih atau enggak ? bahan-bahannya enggak kadaluarsakan ? enggak kamu campurin obat pencuci perutkan ?" dan masih banyak lagi. Sebegitu bencinya kah Langit ke Caca ? Suami Mentari aja enggak pernah begitu sama Caca. Meskipun selama ini Mentari baik-baik saja setelah memakan kue buatan Caca. Kali ini apa salahnya Caca berjaga-jaga. Caca enggak mau bermasalah sama om raksasa lagi.
"Ok gua tau,"
"Kayak pernah ketemu aja."
"Dari cerita lu selama ini sepertinya gua bisa membayangkan dia seperti apa."
"Baguslah, tuh punya lu ada di meja makan," tunjuk Caca.
"Nah..... Gitu dong, ngapa enggak bilang dari tadi sih?" Nana segera berjalan ke meja makan. "Lah kok punya gua belum lu kasih Topping ?"
"Kasih sendiri kan bisa, nih ambil." Jawab Caca sambil meletakkan sisa choco chip dan keju di meja makan.
"Kasihan amat gua di kasih sisaan." Ucap Nana sedih. Caca mendengarnya terkekeh geli.
"Mbok belum masak ?" ucapnya dengan mulut penuh. Hmmm brownis kukus yang enak. Memang kalau soal kue Caca jagonya.
"Sekarang jam berapa ?" tanya Caca balik.
"Mungkin hampir jam 8."
"Bentar lagi Mbok Sum sama Mbok Mina datang, mereka tadi telat datang, makanya kesiangan belanjanya." Jawab Caca sambil mencuci peralatan dapur yang dipakai Caca tadi.
"Lu jadi dijemput ?" 6 Potong brownis ludes di makannya.
"Iya katanya sih gitu."
"Emang dia tau alamat sini ?" tanya Nana heran.
"Enggak tau gua." Jawab Caca. "Dia bilang semalam kalau gua bakalan dijemput sama orang suruhannya. Ya mungkin aja dia tau alamat sini. Orang banyak duit mah dia. Cari beginian gampang." Mengeringkan tangannya.
"Bener juga,"
"Gua siap-siap dulu ya"
"Oke."
***
"CACA....! Jemputan lu udah sampai!" teriak Nana dari lantai bawah.
"Ck Iya-iya gua tau. Enggak usah teriak kali, Na." Ujar Caca turun dari tangga.
"Waahh kok lu hari ini beda banget auranya ?" kagum Nana, ada apa hari ini dengan Caca kenapa penampilannya pagi ini sedikit berbeda. "Lu ke manain celana jeans lu?"
"Oh ini. Gua kepengin aja pakai rok. Roknya Tata ketinggalan di lemari ya gua pakai aja." Jawabnya santai. "Gimana cantik gak ?" memutar badannya memperlihatkan rok panjang itu.
"Lumayan lah. Ck udah sana! kasihan tau orangnya tungguin lu dari tadi." Usir Nana.
"Oke kalau gitu gua berangkat ya. Gua pulang nya malam, soalnya langsung kerja siangnya." Pamit Caca.
"Iya, tiati lu."
"Hmm. Mbok Sum... mbok Mina.... Caca pergi dulu yaaa" teriak Caca sambil mengambil tupperware berisi brownis buatannya.
"Iya, Neng. Hati-hati yoo." Sahut mereka dari dapur.
__ADS_1
"Selamat pagi, Non Caca." Sapaan saat Caca membuka pintu rumah Nana. Rupanya dari tadi Pak Asep menunggu diluar kirain di dalam mobil. Caca membalas senyuman Pak Asep semanis mungkin.
"Mari," ajaknya berjalan dahulu. Membukakan pintu mobilnya. Tapi Caca hanya melewati saja. Membuka pintu depannya lalu masuk ke dalam. Sering ke rumah Mentari, jadi Caca sudah mengenal para pekerja di rumah itu. Bahkan mereka bisa di bilang sudah cukup akrab.
"Caca di depan aja ya, Pak. Temanin bapak ngobrol, cepatan bapak masuk," ujar Caca terkekeh sambil menyadarkan dagunya di kaca mobil yang sudah terturun.
"Tapi, Non--"
"Ekhem!" suara berat tersebut berasal dari belakang Caca.
"Astaghfirullah. Om raksasa ikut ?!" kejut Caca melihat Langit mengenakan baju formalnya duduk dengan santai di kursi penumpang bagian belakang. Tapi tidak dengan tatapan dan raut wajahnya yang jauh dari kata santai, seperti terlihat kesal mungkin.
Tuk
"Pak, kenapa orang ini ikut ?" tunjuk Caca tanpa ada rasa takut-takutnya.
"Hmm begini Non, Tuan..." bingungnya. Gimana cara menjelaskannya.
"Dia pengen ikut ?" tanyanya ke Pak Asep.
"Kalau iya, kenapa ? menjadi masalah untuk kamu ?" sahut Langit sinis. Caca melirik tajam.
"Lagian saya ingin tau kamu tinggal di mana. Dan ternyata benar selama ini kamu itu hanya ingin menipu saya." Sambungnya.
"Maksud om ?" Caca tak mengerti.
"Kamu pindah ke belakang." Suruhnya. Dari pada panjang urusannya lebih baik Caca mengalah saja.
"Nih udah. Puas!" Menatap kesal orang di sebelahnya.
"Jalankan mobilnya," perintah Langit tanpa memperdulikan tatapan Caca.
"Baik Tuan."
"Maksud om tadi apa ? Saya menipu om apa ?" Langit tersenyum sinis.
"Kamu tinggal di rumah sebagus itu, tapi tidak bisa untuk membayar kerusakan pada mobil saya ?" menatap Caca sinis.
"Maaf, tapi itu bukan rumah saya. Saya hanya menumpang. Di rumah. Teman. Saya. Rasanya, saya sudah menjelaskan itu semua ke Kak Mentari." Jelas Caca penuh tekanan.
"Kamu menjelaskan itu hanya ke Kak Mentari tidak ke saya." Kata Langit memberi pembelaan pada dirinya meskipun dalam hati timbul rasa bersalah karena menuduh Caca sembarangan. Langit pun mengalihkan pandangannya ke pemandangan di luar mobil.
***
"Om kok ikutan turun ?" ucap Caca heran. Nih orang enggak pergi ke kantor apa ?
"Ini juga rumah saya." Sahutnya. Melangkahkan kakinya dan dibuntuti oleh Caca.
"Iya Caca juga tau itu. Maksudnya om enggak pergi kerja ?" langkah Langit berhenti.
Duk
"Aduh! kalau berhenti bilang-bilang dong!" ringis Caca sambil mengelus keningnya setelah bersentuhan dengan punggung lebar si om raksasa. Nih punggung manusia apa batu ?
"Apa kamu sekretaris saya ?" balasnya tidak memperdulikan ringisan Caca.
"Apa tujuan kamu ke sini untuk menginterogasi saya ?"
"Isshh... Selalu aja jawab pertanyaan dengan pertanyaan." Dumelnya pelan. Caca melangkahkan kakinya meninggalkan om raksasa.
"Kak Mentari ada di kamarnya."
"Iya tau!" pekik Caca. Lah dia enggak liat apa Caca mengarah ke mana.
"Kamu bawa kue ?" tanya Langit. Langkah kaki Caca berhenti di tangga ke lima.
"Iya, kenapa ?"
"Apa--"
"Ini bersih dan steril baik bahan-bahannya maupun tempatnya. Tanpa menggunakan bahan pengawet! puas!" potong Caca cepat. Sudah hafal dia pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Langit.
"Apa sudah jelas om ? kalau begitu saya permisi!" melanjutkan langkahnya tanpa menunggu balasan dari Langit.
Senyum kecil berhasil muncul di wajah Langit, tidak ada yang mengetahui itu. Seakan sadar apa yang dilakukannya di ruang tengah ini, wajahnya kembali datar seperti biasanya. Dan Ikut menaiki tangga menuju ke kamarnya.
***
Clek
"Caca!" Pekik Mentari senang.
"Eh... Jangan turun kak, Biar Caca yang ke sana." Ujarnya melihat Mentari ingin turun dari tempat tidur.
"Kamu ke mana aja sih. Kakak kangen tau!" memeluk Caca Erat.
"Hehe... Caca sibuk kerja kak." Jawab Caca sambil membalas pelukan Mentari.
"Berarti kamu libur dong hari ini ?" tanya Mentari senang setelah melepaskan pelukannya.
"Enggak kak, Caca hari ini masuk kerjanya siang kak. Jam 1 Caca udah di sana." Jelas Caca tak enak. Mentari langsung melihat jam dinding di kamarnya.
"Yaahh... berarti sebentar dong kamu ke sininya." Sahut Mentari sedih.
"Hmm... gini deh Caca janji bakalan main ke sininya lama tapi tunggu Caca libur kerja." Hibur Caca tak tega melihat raut sedihnya Mentari.
"Janji ya ?" mengancungkan jari kelingking yang dibalas oleh Caca.
"Iya Janji." mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Mentari. "Kakak sakit apa ?"
"Hanya pusing doang. Badan lemah aja rasanya. Mungkin bawaan dedek bayi." Ujarnya sambil mengelus perutnya.
"Ya Allah, Kak Hamil ?" pekik Caca senang.
__ADS_1
"Iya, akhirnya selama ini yang kakak nantikan hadir juga." Ucap harunya. Caca pun ikut terharu. Caca tau selama ini Mentari dan Revan, suaminya menantikan seorang anak. Tapi sekarang syukurlah penantian dan usaha mereka selama 3 tahun tidak sia-sia.
"Selamat ya kak, Caca senang dengarnya." Mentari tersenyum senang.
"Caca boleh pegang perut kakak ? Ma-maksudnya Caca mau sapa dedek bayinya." Izin Caca.
"Haha tentu boleh dong. Sini," membimbing tangan Caca ke perutnya.
"Berapa usianya kak ?" mengelus dengan hati-hati.
"Baru empat minggu."
"Hai dedek, kenalin ini aunty Caca. Dedek sehat-sehat terus ya di dalam sana." Jawab Caca terkekeh yang tertular ke Mentari juga.
"Hmm kamu bawa apa ?" tunjuknya ke tupperware yang dibawa Caca tadi.
"Aaa... iya sampai lupa Caca." Mengambil tupperware yang tadi diletakannya di meja samping tempat tidur.
"Caca buatin kakak brownis kukus," membuka tutupnya.
"Hmmmm baunya aja udah enak. Pasti rasanya enak juga nih."
"Hehe kakak bisa aja. Tunggu yaa Caca ambil piring dan sendoknya dulu." Ujarnya. Kemudian keluar menuju dapur.
"Ngapain kamu ?"
"Perang!" Jawabnya tanpa melihat orang tersebut. Dari suara dan wangi parfumnya Caca sudah bisa menebak bahwa orang itu adalah Langit.
"Saya serius,"
"Ck. Om enggak liat Caca lagi ngapain ?" Memandang Langit kesal.
"Kenapa enggak dari rumah aja kamu motong kue nya ?" tanyanya. Duduk di kursi pantry. Pakaiannya telah di ganti menjadi lebih santai. Sepertinya dia memang tidak ke kantor.
"Lupa, tenang entar Caca cuci kok."
"Kamu buat sebanyak itu ?"
"Om mau ?"
"Apa saya ada bilang mau ?"
"Cih pura-pura enggak mau." Cibir Caca pelan.
"Ini Aaaa," menyodorkan kue di depan mulut Langit. Membuat langit mengernyit heran.
"Ih buka mulutnya. Nih aaa"
"Kamu mau suapin saya ?"
"Iya, mumpung lagi baik. Ck buka mulutnya om." Langit menatapnya penuh keraguan.
"Tenang aja enggak akan buat om sakit perut apalagi mati kok." Mata Langit langsung melotot. Terpaksa Langit pun membuka mulutnya. Caca langsung menyuapi Langit. Eh kenapa Langit mau-maunya disuruh.
"Gimana ? enak kan ?"
"Biasanya aja." Bohongnya.
"Ck gengsi." Cibirnya pelan tapi masih didengar oleh Langit karena posisi mereka yang saling berhadapan.
"Kamu kerja hari ini ?"
"Iyalah, Caca kan rajin. Enggak kayak orang sana hari kerja dijadiin libur." Sindir Caca.
"Kamu menyindir saya ?"
"Apa om merasa tersindir ?" balas Caca mengikuti gaya bicara Langit.
"Ck saya bos, jadi itu terserah saya mau masuk kerja atau enggak."
"Apa seorang bos seperti itu ? bos Caca aja enggak tuh, malahan dia sering bantuin karyawannya."
"Ck dasar polos. Bedain modus dan rajin." Kesalnya. Teringat saat kejadian di restoran kemarin. Gadis ini apakah tidak sadar bahwa bosnya itu mencoba untuk mendekatinya?
"Maksudnya ?"
"Kamu terlalu polos untuk mengerti."
"Ih om gak jelas banget sih."
"Kenapa kamu suka manggil saya om ?"
"Terus om mau dipanggil apa ? Mas Langit gitu ?"
Uhuk uhuk ucapan Caca berhasil membuat Langit tersedak. Alhasil air putih yang di minumnya hampir saja keluar.
"Om gak apa-apa ?" panik Caca melihat batuk Langit yang belum berhenti.
"Nih om minum lagi. Biar reda." Menuntun gelas ke bibir Langit dengan pelan tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Langit. Batuk Langit mulai mereda.
"Udah mendingan ?" Langit menganggukkan kepalanya. Posisi mereka masih sama.
"Om matanya indah." Celetuk Caca tiba-tiba. Mata mereka masih saling bertatap-tatapan, jarak keduanya bisa dibilang cukup dekat. Kekaguman terpancar di mata Caca, selama ini dia selalu melihat Langit berkaca mata. Entah hari ini keberuntungan dari mana Caca bisa melihat langsung mata indah Langit tanpa kacamata.
"Ih... Sakit tau!" ringisnya. Barusan Langit tiba-tiba mendorong kecil tubuhnya akibatnya tangan Caca terhempas ke meja pantry.
"It--tadi terlalu dekat." Gugupnya. Tiba-tiba saja pipi Caca memerah.
"Maaf," cicit Caca.
"Oh iya ini, udah Caca pisahin brownisnya buat Om. Caca masukkin di kulkas yaa." Ujar Caca salah tingkah. Langit masih bergeming di tempat.
"Hmm kalau gitu Caca ke atas dulu, kasihan Kak Mentari tunggu lama." Kata Caca pamit, yang hanya dibalas anggukkan kecil dari Langit. Setelah Caca menghilang dari dapur. Tanpa sadar Langit menghembuskan nafasnya kasar. Apa dari tadi dia menahan nafas ?
__ADS_1
"Ini kenapa ?" tangannya menyentuh dada sebelah kirinya. "Kendalikan dirimu Langit," monolognya pada diri sendiri.
"Ck Gadis itu! Merepotkan." Cibirnya sambil melihat ke arah tangga.