Feeling Attack

Feeling Attack
27. Khawatir atau Cemburu ?


__ADS_3

"Saya juga nggak, tadi." Sahut lelaki itu tak acuh, bermaksud menyindir Caca yang masuk ke kamarnya saat dia tertidur. Matanya fokus ke arah selimut yang awut-awutan di lantai. Dia menoleh. "Sakit banget, ya ?"


Entah pendengarannya Caca yang salah atau lelaki itu yang nada suaranya terdengar berbeda karena efek demam ? tapi, pertanyaannya tadi sarat akan kekhawatiran tanpa pamrih dan ejekan seperti biasa.


"Nggak," jawab Caca. "Nggak salah lagi." Sahut Caca geram. "Ini semua karena om yang main tarik tangan Caca terus meluk-meluk orang nggak tau aturan! kalau sakit itu sakit aja, kalau igau itu igau aja. Jangan main peluk orang pas sa--arrgh..." nyeri pada tangan Caca semakin jadi dan itu berhasil memberhentikan omelan Caca.


"Tangan kamu nggak mungkin sampai kesakitan begitu hanya karena kelakuan saya tadi." Sahut Orion membuat Caca memandangnya sambil meringis. "Dan tidak sampai kesakitan seperti itu hanya karena terbentur pintu kamar saya."


"Jang--arghh..."


Orion yang melihatnya cemas dan menghampiri gadis itu. Mata kirinya sampai terpejam menahan sakit. "Kita ke rumah sakit aja sekarang!" titahnya sambil menggamit tangan kanan Caca. Namun, genggamnya langsung terlepas ketika ponsel Caca berdering di atas nakas.


Gadis itu mengambil ponselnya, Caca melebarkan matanya, terkejut dan senang amat sangat senang. Sekian lama dia menunggu, akhirnya Abian menelponnya. Senyum langsung terbit di bibirnya. Orion mengernyit, kenapa sakitnya bisa hilang semudah itu hanya karena sebuah panggilan ?


"Halo, Bi ?" jawab Caca pada orang diseberang telepon membuat Orion mengumpat dalam hati ?


Bi ? pacarannya kah ? lalu panggilan apaan itu, Abi ? atau baby ?


"Halo, Ca. Kamu baik-baik aja kan ? maaf aku baru bisa telpon kamu sekarang." Jawab Abian.


"Aku ? baik. Iya, nggak apa-apa kok."


Baik ? apanya yang baik ?! jelas-jelas dia tadi meringis kesakitan.


"Alhamdulillah, syukur deh. Lega aku dengar nya. Kamu di mana sekarang ?"


"Aku..." Caca sempat melirik ke arah Orion yang sedang mengawasinya dengan tatapan tajam. "Aku di rumah Nana, kapan-kapan kamu ke sini lagi dong,"


*S*iapa itu Nana ? Orion tak habis pikir dengan gadis didepannya ini.


"Iya, kapan-kapan aku main lagi ke sana."


Caca terlihat kembali tersenyum. Membuat gemuruh di dada Orion meletup. Tunggu ? ada apa denganku ?


"Tadi, aku ke tempat kerja kamu. Kata teman kamu, kamu udah pulang. Apa benar tangan kamu cedera ?"


Caca yang mendengarnya langsung terkejut, dari mana Abian tahu tangannya cedera ? Iisshh... pasti sih Via yang bilang. "I-iya, tadi nggak sengaja jatuh dari tangga. Tapi, beneran nggak apa-apa kok. Nggak sakit lagi sekarang.Tadi udah ke klinik juga."


Orion membelalakkan matanya. Jatuh dari tangga ?! *j*adi, itu penyebabnya. Orion merasa sangat panik.

__ADS_1


"Yakin ? aku datang ke sana ya ? sekalian aku mau ketemu sama Kevin juga."


Mendengarnya Caca langsung panik. "Eh... nggak usah," jawab Caca cepat. "Ma-maksud aku gini, ini kan sudah malam. Aku nggak enak sama Nana. Aku beneran nggak apa-apa kok. Jadi, kamu jangan khawatir ya. Dan kayaknya Kak Kevin juga udah tidur."


"Hufftt... baiklah, kamu udah minum obat ?"


Kembali, senyum lebar terbit di bibir Caca. "Aku paling pandai minum obat, jangan kha--"


"Kamu harus tidur sekarang." Kata Orion tegas. Tak tahan ia mendengar nada bicara Caca yang kelewatan lembut dengan seorang ditelpon sana yang pasti Orion tahu bahwa itu adalah seorang pria. "Percuma kamu minum obat satu truk kalau nggak lekas tidur." Lanjutnya.


Bibir Caca langsung terbuka lebar, tak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan lelaki di depannya. Obat satu truk ? Demam itu berhasil membuatnya jadi semakin gila ternyata.


"Siapa, Ca ?"


"Oh... itu sepupunya Nana, dia orang yang suka begitu. Hobinya marah-marah." Jawab Caca cepat. Dalam hati terus bergumam minta maaf. Maafin Caca Ya Allah, karena sudah berbohong.


Mata Orion menyipit tak terima mendengar ucapan Caca tadi. Sepupu siapa tadi ? Nana ? hobi marah-marah ?


Terdengar kekehan dari sana. "Ya udah, kalau gitu. Selamat tidur, ya. Bye!" Belum sempat Caca menjawab, Abian sudah memutuskan sambungannya duluan.


Caca meletakkan ponsel kembali di atas nakas dan mengambil bantal. Kemudian membuatnya meluncur kencang ke wajah lelaki yang berdiri pongah di depannya. "Keluar!"


"Tadi, di tempat kerja!"


"Perlu ke dokter ?"


"Enggak! udah deh, om sekarang keluar!" seru Caca masih kesal.


Sadar bahwa kepalanya makin pusing, Orion mengalah dan membawa bantal Caca keluar dari kamarnya. Membuat gadis itu kembali menjerit karena kehilangan benda penting dalam hidupnya.


"OM! BALIKIN BANTAL CACA!"


Dengan tampang tak berdosa, Orion kembali membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Caca. Caca yang masih duduk di ranjang menatapnya tanpa berkedip dan berwaspada. Bersiaga untuk segala kemungkinan sebuah tindakan pembalasan pria stress di depannya ini.


"Besok kamu bangun pagi, ikut saya ke kantor." Ucapnya santai.


Caca mengernyit menatap Orion tak mengerti. "Om gila ya ? besok Caca kerja." jawab Caca. "Ngapain juga Caca ke kantornya om. Malas banget."


"Kamu izin kerja besok, lengan kiri kamu cedera. Nggak memungkinkan untuk kamu bekerja besok."

__ADS_1


"Enggak, kok sekarang om yang ngatur-ngatur Caca." Seru Caca tak suka.


"Kalau kamu takut, gajimu nanti di potong. Biar saya yang tambahin nanti." Jawab Orion santai.


"Ini buk--"


"Saya sudah suruh Kak Mentari untuk sampaikan ke suaminya supaya ia menelpon bos kamu itu. Biar ia memberikan kamu izin."


"Tunggu... kenapa om bisa tau kalau bos Caca temannya Bang Revan ?" tanya Caca terkejut. "Kak Mentari yang bilang ?"


Orion hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh sambil melangkahkan kakinya keluar kamar Caca.


Sebelum kakinya melangkah keluar, Orion membalikkan badannya ke arah Caca. "Besok bangun jam 5 pagi." Kata Orion lagi. Lalu melemparkan bantal tadi tepat ke wajah Caca.


Membuat Caca tertegun, mungkin kalau di komik-komik ataupun film anime lainnya akan ada keluar asap di hidung dan telinganya.


Orion tersenyum lalu menutup cepat pintu kamar Caca. Dalam hati menghitung setiap langkahnya.


Satu Langkah


Dua Langkah


Tiga Langkah


Dan....


"Om Orion Langit Hanwha!" pekik Caca dari dalam kamarnya membuat Orion tersenyum lebar. Entah kenapa ia tak terkejut dengan panggilan nama itu malahan timbul rasa senang dihatinya. Mungkin membuat Caca kesal dan meneriaki namanya adalah hobi barunya sekarang.


***


Caca menggeliat aneh ketika alaram dari ponselnya menjerit. Dengan mata terpejam, dia meraba-raba ke atas nakas untuk mematikan alaramnya. Kemudian, menarik selimut lagi untuk menutupi wajah dan ingin kembali menjelajah alam mimpinya yang indah bersama sahabatnya Tata. Teringat tentang liburan kuliahnya dulu masuk ke dalam mimpinya semalam. Lagipula ia semalam kedatangan tamu bulanan jadi ia tidak bisa menjalankan sholat subuh.


TOK! TOK! TOK!


Bunyi pintu digedor membuat telinganya panas meski sudah ia tutup menggunakan bantalnya. Caca berdecak kesal tidak salah lagi, satu-satunya makhluk yang memungkinkan untuk bertindak sebrutal itu sepagi ini. Tak lain tak bukan hanya Orion seorang.


Dengan sekuat tenaga, Caca menarik diri dari gravitasi ranjangnya. Caca membangunkan dirinya dan duduk sesaat, masih mengumpulkan nyawanya untuk membuka mata yang terasa lengket.


TOK! TOK! TOK!

__ADS_1


Caca menghela napasnya. "Seharusnya, aku bekam aja orang itu pakai bantal semalam sampai tewas," gumannya geram. Saat gedoran itu tak kunjung berhenti, Caca memutuskan untuk mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi. "Gedor teros... jangan kasih kendor! sampai tangan om patah!" serunya membuat suara gaduh itu berhenti seketika.


__ADS_2