Feeling Attack

Feeling Attack
24. Demam


__ADS_3

Orion mengerjap ketika cahaya menyilaukan itu menusuk kornea matanya. Sinar terasa menyapa kulit wajahnya yang bersih tanpa komedo maupun jerawat ketika cahaya itu mulai berpendar, menampakkan pemandangan hijau nan luas. Pepohonan yang rindang, suara aliran sungai beserta air terjun yang tak jauh dari tempatnya berpijak dan cicit-cicitan suara burung yang saling bersahutan terbang di atas kepala Orion.


Terpana, dia pun melangkah perlahan. Telapak kedua kakinya yang tanpa alas merasakan lembutnya rumput yang diinjaknya. Orion menarik napasnya, menghirup rakus udara di sekitarnya. Sudah lama Orion tidak merasakan setenang ini.


Orion mengedarkan pandangannya ke bunga-bunga yang bermekaran di sekitaran aliran sungai. Angin berhembus dengan lembut membuat rambutnya bergoyang mengikuti gerakan arah angin yang menerpanya. Tanpa sadar, bibir Orion tersenyum merasakan ketenangan di tempat ini. Sangat nyaman, rasanya benar-benar sangat nyaman. Andai saja ada Mama, semua akan terasa lengkap. Orion termenung, pikirannya langsung disambut oleh suara lembut yang memanggil nama kecilnya.


"Rion..."


Tubuh Orion membeku, suara itu suara yang Orion rindukan selama ini. Orion memutar kepalanya mencari sumber suara. Mama! Meyakini bahwa apa yang didengarnya bukanlah halusinasi, Orion berlari sekencang yang dia mampu.


"Mama!" panggilnya sambil berlari. "Ma!" ulangnya ketika tak mendapati sahutan.


Kepalanya berputar menyusuri padang rumput bergelombang yang seakan tak ada ujungnya.


"Mama," serunya lagi, tapi kali ini dengan suara berat dan mata mulai berkaca-kaca. Orion tersentak, apa suara tadi hanya halusinasinya karena terlalu lama menahan rindu ?


***


"Non," tegur pelayan berkepang dua disebelah nya. Mengurungkan niat Caca untuk kembali menggedor pintu kamar Orion. "Kami bisa dipecat kalau Nona melakukan itu lagi," bisiknya.


Sepertinya pelayan ini, trauma akan kejadian kemarin. Saat itu, Caca ingin memanggil Orion untuk turun makan malam. Niat Caca baik untuk memanggilnya, akhirnya Caca menggedor pintu kamar Orion sambil memanggil nama 'Om Langit'. Caca menggedor kamar Orion dengan sangat bar-bar dan memanggil namanya dengan sebuah teriakan. Sangat berbeda jauh dengan cara Menggedor—memanggil pelayan itu.


Akibatnya Orion keluar dengan wajah datarnya, dan tatapan tajam yang menghunus ke Caca. Tapi, yang kena semprot bukannya Caca melainkan pelayan berkepang dua yang memang itu sebenarnya adalah tugasnya. Dan saat itu Caca sangat merasa bersalah dengan pelayan berkepang dua itu.


Caca menghela napas. "Kenapa kalian tidak melihat Cctv yang ada di kamarnya ?"

__ADS_1


"Cctv di kamar ini dan di kamar Tuan Langit, sudah dihancurkan oleh Tuan Orion, Non." jelasnya.


Caca membulatkan mulutnya, dalam hati dia bersorak takjub. Memuji kehebatan Orion yang bisa menghancurkan Cctv di kamarnya. Heh, Caca tahu bahwa, Cctv rumah ini bukan kualitas yang biasa tapi jauh dari kata biasa.


"Nona Mentari selama ini hanya bisa menyadap kamar Tuan Orion untuk mengetahui kondisi Tuan." Sambung pelayan itu. Membuat Caca kembali takjub Keren!


"Kalau gitu, aku butuh kun-- Pak Ben ?" gumam Caca heran ketika mendapati lelaki itu berjalan sendiri. "Dokternya ?"


"Dia sedang tidak bisa datang Nona. Dinas luar kota."


Caca memutar bola matanya malas. "Indonesia punya jutaan dokter, Pak." Jawab Caca gemas.


"Tapi, Tuan tidak mau sembarangan dokter untuk memeriksanya."


Caca Cengo, menepuk keningnya pelan. Sebegitu istimewanya kah ? ini sih ngalahin presiden. "Tolong Pak Ben buka pintunya, aku tadi nyaris menggedornya sampai pintu ini roboh."


"Saklar lampunya, di mana ?" tanya Caca pada pelayan berkepang dua. Pelayan itu pun berjalan ke sisi kiri pintu lalu menghidupkan lampunya.


Ketika lampu menyala, Caca mendapati langsung sosok di balik selimut ranjang king size yang berada di ujung sebelah kanan tempatnya berdiri. Di sisi depan ranjangnya terdapat TV berlayar lebar yang tertempel di dinding, entah Caca tidak dapat untuk menebak ukurannya. Posisi ranjang Orion bersebelahan dengan jendela yang Caca rasa itu mengarah ke balkon.


Sementara sisi depannya berdiri saat ini. Berdiri kokoh rak buku berwarna hitam bersandar pada dinding, di sana penuh akan buku. Dan di sebelahnya lagi terdapat sebuah piano ? Om ini bisa main piano ?


"Nona," panggil Pak Ben, berhasil membuyarkan pandangan observasi Caca akan kamar Orion. "Tuan sepertinya tidak sehat." Kata Pak Ben membuat Caca kembali menoleh ke subjek yang masih... Jangan-jangan dia mimpi buruk ? pikir Caca khawatir.


Caca bergegas berjalan ke undakan tempat ranjang Orion dan benar saja, kening lelaki itu terlihat basah akibat keringat dan cairan yang keluar dari kedua matanya.

__ADS_1


"Dia menangis ?" bisik Caca tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aliran sungai kecil mengalir deras dari kedua matanya. Untuk memastikannya Caca mendekatkan wajahnya ke wajah Orion. Benar, om-om ini menangis.


Pelayan berkepang dua tadi terlihat keluar setelah mendapat titah dari Pak Ben untuk mengambil sesuatu. Caca tak terlalu mendengarnya dengan jelas karena tiba-tiba saja, makhluk yang selama ini menaik-turunkan emosinya, sekarang membuat hatinya seakan diremas kuat-kuat.


"Ma..." paraunya dengan mata terpejam.


Dia memimpikan mamanya ? batin Caca sedih. Caca bertumpu dengan kedua lututnya, di samping ranjang yang di tiduri Orion. Dan tanpa sadar, tangan Caca langsung terulur wajah Orion untuk mengelap air mata Orion. Tunggu! panas?! ibu jarinya yang tadi bersentuhan dengan pipi Orion seketika merasakan panas. Meyakini diri, Caca menempelkan punggung tangannya ke kening Orion untuk memastikannya lagi.


"Pak, dia demam." Seru Caca panik tanpa menoleh. Pak Ben bersuara memohon diri untuk mengambil sesuatu.


"Bodoh," gumam Caca sebal. "Om itu bodohnya nggak ketolong, ya ? harusnya kalau sakit tuh ngomong! jangan ngunciin diri seperti ini, buat orang khawatir aja kan!" Caca berdiri sambil marah-marah pada sosok yang berbaring di balik selimut tebalnya yang terpejam sebelum hatinya kembali terpilin.


"Ma!" suara lelaki yang tidur itu terdengar meninggi. "Orion... kangen..." ujarnya semakin memelan. "Orion...Kangen..." kali ini, suaranya nyaris tidak terdengar.


Caca mengigit bibir bagian bawahnya, matanya terasa memanas dan memproduksi kaca bening yang siap pecah menjadi aliran sungai kapan saja.


"Nona!" Caca segera mengusap kasar kedua matanya yang berair dan menoleh kesal. Bisa-bisanya kedua pelayan ini berteriak bersamaan di depan Tuannya yang sedang sakit ?!


"Ini handuk yang diminta Pak Ben," kata pelayan itu sembari meletakkan beberapa handuk di meja kecil yang letaknya persis di bawah undakan.


"Dan ini, air untuk mengompres, Tuan." Susul pelayan bertumbuh gemuk tangannya meletakan sebuah wadah di sebelah tumpukan handuk tadi.


"Makasih," ucap Caca sambil tersenyum tipis. "Di mana Pak Ben ?" tanya Caca, matanya kembali fokus pada Orion yang masih bergumam tanpa suara.


"Kami tidak tau, Non." Setelah menimang beberapa saat. Caca menyuruh kedua pelayan itu untuk keluar dan menutup pintunya, serta menyuruh mereka untuk menutup mulutnya rapat-rapat perihal demamnya Orion saat ini, Caca tidak mau pelayan yang lain tahu bahwa Orion sakit demam sambil mengingau seperti ini. Dan alasan utamanya, Caca tidak mau Orion sampai marah kepadanya, hanya karena semua pelayan ini mengetahui ia sedang demam, bisa-bisa gagal tujuan Caca sampai tinggal di sini.

__ADS_1


Caca mengambil handuk kering di atas meja kecil di bawah undakan ranjang dan mendudukkan dirinya perlahan di tepi ranjang. Bisa-bisanya aku merawat om aneh ini ? gumam Caca dalam hati, berusaha melawan rasa simpatinya pada Orion.


__ADS_2