
Orion membuka pintu ruang kerjanya. Matanya kini sedang mencari objek yang ingin dilihatnya pertama kali saat ia tiba di sini. Tapi, sosok gadis mungil yang tadi ditinggalkannya sekitar dua jam yang lalu, tidak terlihat sama sekali.
Penasaran, Orion pun membuka pelan pintu kamar miliknya yang terletak di dalam ruang kerjanya. Terlihat di sana sosok yang dicari-carinya sedang terlelap dengan nyaman. Senyum lega terbit di sudut bibir Orion.
Seakan ada magnet yang menariknya untuk mendekat, Orion pun melangkahkan kakinya menuju ke piringan ranjang. Menatap dalam gadis yang tanpa disadarinya telah berhasil mencuri sesuatu di dalam dirinya, memasuki ruang kosong di hatinya. Gadis mungil yang dengan lancangnya masuk ke kehidupannya.
Tangannya tanpa sadar terulur ke arah wajah Caca. Menyelipkan rambut panjang Caca agar tidak menutup wajah imut yang dimiliki oleh gadis mungil ini. Orion terus menatapnya tanpa henti, ia memperhatikan dengan teliti pemilik wajah ini. Mulai dari mata yang bulat jika di buka, selalu menatapnya dengan kesal. Hidung kecil dan mancungnya. Kedua pipi tumben yang pernah ia buat memerah entah karena malu atau pun kesal.
Terakhir, pandangan Orion turun ke arah bibir mungil Caca, bibir yang selalu merah tanpa pewarna bibir itu pun sering mengeluarkan kata-kata pedas dan sumpah serapah untuknya. Dan jangan lupa bibir itu selalu terlihat lucu saat Caca memasang wajah kesal ke arahnya. Cantik.
Orion meraba dada sebelah kirinya tanpa memutuskan pandangannya dari sosok mungil di hadapannya. Terasa di sana organ penumpang kehidupannya itu, berdetak dari batas normalnya. Orion menarik-menghembuskan napasnya mengatur pernapasannya yang tiba-tiba saja membuatnya tercekat.
Mungkin, Orion nanti harus menanyakan ini pada Dokter Lusy. Ia sudah lama tidak mengkonsulkan dirinya ke sana. Namun, semakin lama Orion menatap wajah alami Caca yang tanpa polesan make up satu pun itu, membuat organ di balik dadanya itu semakin bertambah tempo kerjanya.
Tak tahan, Orion pun memutuskan pandangannya dari gadis mungil ini. Melirik sebentar ke arah selimut yang sudah turun di kaki Caca, Orion terkekeh pelan melihat itu. Ternyata kurcaci ini tidurnya enggak elite banget.
Tangannya pun terulur, menaikan selimut itu sampai batas leher Caca. Orion melakukan itu dengan penuh hati-hati takut membangunkan gadis mungil ini. Tadi ia pun sempat melirik tangan Caca yang di gips. Orion menghela napasnya, tak habis pikir dengan yang di lakukan Caca sampai ia terjatuh dari tangga di tempat kerjanya.
Tak berapa lama, terdengar ketukan pintu dan disertai suara menyebut namanya terus. Takut membuat Caca terganggu, Orion pun segera keluar dari kamarnya. Terlihat di sana, Farhan sedang mengeluarkan segala bentuk makanan dari kantongnya.
"Aku, sudah membelikan semua pesanan yang kamu pinta," ucap Farhan santai. Bukankah Orion yang menyuruhnya untuk tidak berbicara terlalu formal? jadi sekarang Farhan putuskan untuk berinteraksi dengan Orion menggunakan bahasa non formal. "Di mana Caca?"
"Tidur," sahut Orion pendek namun terdengar nada kesal di sana.
Farhan mengernyit bingung, apa mungkin ia melakukan kesalahan? "Kenapa? ada yang salah?"
"Suaramu tadi hampir membuat Caca terbangun." Jawabnya ketus.
Farhan menyengirai lucu, Oh aku paham, satu lagi sifat yang selama ini tidak pernah ditunjukkannya. "Sorry, aku nggak tau kalau dia juga di dalam."
"Hmm," gumam Farhan tak jelas.
"Apa tugasku sudah selesai?" tanya Farhan setelah selesai menyusun rapi makanan tersebut di atas meja.
"Hmm, kamu boleh pergi." Sahut Orion datar. Ia masih terlalu kaku untuk tidak berbicara formal dengan pria di hadapannya ini.
Farhan mengangguk, lalu keluar dari ruangan Orion. Seketika suasana kembali sunyi, Orion berjalan ke meja kerja. Kembali menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas yang belum sempat diperiksanya tadi.
Bunyi pintu terbuka, membuat Orion sontak menolehkan wajahnya ke arah pintu kamar. Terlihat, Caca yang baru saja keluar dari sana sambil mengucek matanya sesekali menguap lebar. Orion menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tiba-tiba, mata Orion membesar saat melihat gaya berjalan Caca yang sempoyongan. Segera ia berdiri lalu berjalan ke arah Caca, Orion berhasil menyangga badan Caca yang hampir saja terjatuh akibat jalannya yang tidak benar itu. Napas Orion memberat ia tidak bisa membayangkan jika tadi ia tidak segera menangkap tubuh Caca. Mungkin tangannya yang di gips itu akan memakan waktu yang lama untuk sembuh.
Sedangkan Caca masih terlelap dipelukan Orion, tampaknya ia sangat nyaman berada di sana buktinya wajahnya semakin bergerak masuk kecelah ketiak Orion seperti mencari kehangatan di sana.
"Ck, kamu benar-benar sangat merepotkan," sungut Orion sambil tersenyum tipis. Ternyata Caca berkali-kali lebih cantik saat tertidur, wajah polosnya saat tertidur persis seperti bayi saat tertidur. Imut.
"Bisa-bisanya, kamu tidur sambil berjalan seperti tadi." Kata Orion tak habis pikir. Segera ia menggendong Caca ala bridal style kemudian meletakan Caca dengan sangat hati-hati di sofa panjang di ruangannya.
Orion mengambil laptop beserta berkas-berkasnya ke meja sofa. Ia pun duduk di lantai sambil berjaga-jaga apabila Caca terjatuh. Karena ia tahu, Caca merupakan tipe yang lasak saat tidur.
Sesekali Orion menahan badan Caca agar tidak terjatuh saat dia berpindah-pindah posisi, sambil terus mengecek pekerjaannya. Sekitar setengah jam Orion berkutat dengan kegiatannya, terdengar lenguhan dari Caca yang sudah berubah posisi menjadi duduk.
Caca mengucek-gucek matanya. "Jangan, di kucek kayak gitu, entar sakit matanya." Kata Orion gemas sambil menurunkan tangan kanan Caca.
Caca mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke kornea matanya. Setelah sudah jelas, Caca sedikit terkejut melihat Orion yang duduk di bawahnya.
"Om, ngapain?" tanya Caca heran.
"Duduk," jawabnya pendek masih menggenggam sebelah tangan Caca. Dan Caca belum sadar akan itu.
Caca berdecak malas atas jawaban Orion tadi. Seketika, pandangan Caca langsung tertuju ke meja di depannya. Mata Caca langsung berbinar melihat begitu banyak makanan ringan di depannya. Orion yang dari tadi tidak terlepas pandangannya dari Caca, tersenyum lembut saat melihat wajah berbinar Caca.
"Om, ini semua untuk Caca?" tanya Caca antusias. Bukannya dia kepedean atau apa, hanya saja di sini semua makanan favoritnya. Dan Caca lihat juga tidak ada bungkusan yang terbuka dan masih tertata rapi. Jadi tidak salah dia berpikir itu semua memang disiapkan untuk dirinya.
Orion lagi-lagi mengangguk. "Waahh..." seru Caca senang, ia pun segera mengambil keripik kentang balado. Dalam hati Caca juga sempat heran di mana Orion bisa tahu semua makanan favoritnya.
Orion mengernyit kenapa dirinya merasa kesal saat tautan mereka terlepas. Orion menggelengkan kepalanya segera menghilangkan pemikirannya yang tidak-tidak.
"Om, kenapa geleng-geleng kepala gitu?" tanya Caca. "Om, sakit?"
"Enggak," jawab Orion pendek. "Kenapa?"
"Ck, dasar nggak peka," cibir Caca. "Om, nggak sadar tangan kiri Caca udah kayak tangan mummy gini. Bukannya dibantuin bukain bungkusannya."
Orion terperanjat, ia lupa bahwa tangan kiri Caca masih gips. Sontak ia mengambil bungkusan itu dari tangan Caca lalu membukanya.
"Makasih, Om." Ucap Caca senyum, ia pun lalu memakan dengan lahap keripik kentang itu.
"Pelan-pelan makannya," tegur Orion memperingati.
__ADS_1
"Sering-sering kayak gini ya om, senang Caca kalau di jajanin beginian terus." Kata Caca sambil terkekeh lucu. "Jangan bosan jadi orang baik om."
"Saya selalu baik sama orang, kamu aja yang tidak menyadarinya." Sahut Orion santai. Posisinya masih duduk di karpet dengan sofa yang di duduki Caca. Terasa enggan untuknya berpindah posisi lagi.
"Iya-iya, om selalu baik." Jawab Caca pasrah. Karena mood Caca senang baik hari ini jadi ia tidak mau berdebat dengan Orion.
"Caca tidur berapa lama, Om?"
"Sekitar tiga jam," jawab Orion.
Caca mengangguk-angguk dengan mulut penuhnya. "Jangan di habisin semua, sebentar lagi jam makan siang."
"Om, mau?" Caca mendekatkan satu butir keripik kentang di depan mulut Orion membuat ia terlonjak kaget.
Orion membuka mulutnya, dan Caca pun segera menyuapinya.
"Enak, kan?"
"Pedas," ucap Orion. Segera ia membuka tutup botol, lalu meminum isi di dalamnya.
"Om, nggak tahan pedas?" tanya Caca merasa bersalah.
Orion menggeleng kecil. "Maaf deh,"
"Nggak apa-apa."
"Nih, minum." Kata Caca menyodorkan sebuah susu kontak. "Ini, susu favorit Caca loh, rasa pisangnya enggak bikin enek dan bisa meminimalisir rasa pedas tadi."
Orion menerimanya dan meminumnya. "Makasih," Caca tersenyum membalasnya.
Tok! tok! tok!
"Masuk," jawab Orion.
Dan muncullah wanita berhijab, sekertaris dari Orion. "Permisi, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan bapak,"
"Siapa?"
"Tuan bes--"
__ADS_1
"Apa aku harus seperti ini, untuk menemuimu, son?" potong sosok pria tua yang langsung masuk ke dalam ruangan Orion.
"PAPA!"