
"Dasar pembohong," sahut orang di sebelahnya langsung.
Caca menoleh, Orion menarik piring Caca yang berisi dua centong Nasi Goreng. "Lihat, bawang merahnya masih ada yang belum matang. Bahkan motongnya nggak beraturan, ada yang gede dan ada yang kecil. Belum lagi kecapnya, nggak rata. Ada yang kena kecap dan ada yang nggak. Ini Nasi Goreng atau nasi pelangi ? Kalau cuma keasinan, kami semua makannya Nasi Goreng. Bukan Pancake. Kalau mau bohong itu, dipikir dulu!" kata Orion panjang lebar sambil menunjuk di atas piring Caca.
Caca menghadap ke Orion, mata sebelah kanannya kembali menyipit tajam. "Pernah dengar nggak, kalau kita nggak boleh mencela makanan. Kalau nggak suka, udah diam aja!"
Orion mendengar itu pun tak terima. Tubuh Orion bergeser menjadi menghadap gadis di sebelahnya. Jadi posisi mereka sekarang saling berhadap-hadapan.
"Saya nggak mencela makanan, saya hanya mengkritik. Tolong bedakan itu," jawab Orion tajam. "Apa salahnya saya mengkritik makanan kakak kandung saya sendiri. Dia sudah bersuami dan sebentar lagi bakalan punya anak dan cara masaknya masih sangat menyedihkan."
"Ada cara yang lebih etis untuk menyampaikan kritik, yang lebih sopan dan beradab. Kalau di depan umum begini, itu namanya mempermalukan!" seru Caca berapi-api.
"Depan umum ? ini keluarga kami, selain kamu, kami semua keluarga. Jadi, apa salahnya menyampaikan--"
"CUKUP!" jerit Mentari membuat Caca dan Orion otomatis berhenti berdebat dan kembali pada posisi semula. Caca yang hendak melanjutkan makannya kembali dengan Nasi Goreng lautan garam itu terkesiap ketika piringnya tiba-tiba melayang. Mentari mengangkatnya dan meminta salah satu pelayan untuk membawakan satu wadah berisi Nasi Goreng yang lain.
"Yaahh... padahal kalau di permak sedikit, rasanya bakalan enak kok," ujar Caca sedih setelah melihat kepergian Mentari dari meja makan.
"Kalian lanjutkan aja, aku nyusul Mentari dulu. ya," kata Revan sembari bangun dari duduk dan mengusap bibirnya dengan kain putih kecil.
"Bang Revan," panggil Caca membuat Revan yang sudah akan pergi menghentikan langkahnya. "Tolong yakinkan Kak Mentari ya, untuk jangan berhenti belajar. Walaupun ada bibir yang selalu nyinyir tanpa aturan." Ucap Caca sambil melirik sekilas ke Orion.
Revan tersenyum menahan tawanya. "Oke," ujarnya sambil mengacungkan jempol pada Caca. Setelah Revan pergi, Caca mengambil setangkai roti tawar dan mengolesinya dengan selai coklat. Berusaha untuk menganggap bahwa makhluk di sebelahnya ini tidak ada.
Bahaya kalau sampai perdebatan itu muncul kembali, mungkin Caca tidak akan segan untuk melempari sendok dan piring ke arah lawan debatnya. Setidaknya biarkan Caca mengisi energinya kembali.
"Sebelum kita ke kantor, kita ke rumah sakit untuk periksa tangan kamu itu." Kata Orion datar.
Caca tidak memberi respon sama sekali. "Kamu dengar saya nggak, sih ?" tanyanya lagi saat menyadari bahwa Caca sama sekali tidak meresponnya. Kali ini sambil menoleh ke arah Caca yang tengah menyesap susu putihnya. Tanpa berusaha untuk menjawab pertanyaan Orion, Caca kembali mengambil setangkup roti dan kali ini diolesi dengan selai kacang.
__ADS_1
Energi gua masih belum terkumpul, dan gua harus banyak makan. Supaya siap perang dengan om raksasa kapan saja.
Orion menghela napasnya. "Pasti kamu udah tau, kan ?"
Caca mengernyit. Soal apa ? Caca masih tidak menatap Orion, berusaha untuk tidak perduli. Meskipun dalam hati bertanya-tanya.
"Malam itu, saya nggak sengaja denger Kak Mentari ceritain semuanya ke kamu,"
Malam itu ? Oh! Caca sontak menoleh ke arah Orion dan mendapati Orion sudah bersiap bangun dari duduknya.
"Saya kira kamu bakal mengasihani saya, ternyata nggak. Baguslah."
"Ih... buat apa Caca kasihanin om," gumam Caca pelan yang masih di dengar oleh Orion. Karena Orion belum pergi dari sana.
"Bagus, jadi saya juga tidak takut untuk memulai." Kata Orion berbisik di telinga Caca, berhasil membuat Caca sontak terkejut. Tubuhnya membeku seketika saat merasakan hawa panas di belakang telinganya.
Orion yang melihat itu langsung saja tersenyum kecil. Kembali menegakkan tubuhnya. "Cepat habiskan makananmu, saya tunggu di mobil." Ucapnya. Setelah itu berlalu pergi meninggalkan Caca yang masih membeku di tempat.
Caca benar-benar sangat bingung, melihat perubahan Orion akhir-akhir ini. Terkadang Caca bingung siapa yang di hadapnya saat berbicara pada Orion.
Caca menghela napasnya, sekarang ia sedang bingung bukan soal Orion saja yang dipikirkannya tapi juga soal Abian. Akhir-akhir ini mereka sudah jarang bertemu dan bertelponan, kecuali semalam.
Caca menggaruk rambutnya yang benar-benar tidak gatal. Orion dan Langit plus Abian sama-sama membingungkan. Caca memutuskan untuk menyelesaikan sarapannya dulu. Kemungkinan perang berikutnya bakalan terjadi di antar mereka.
***
Caca mengetuk jari-jarinya di kaca mobil berusaha menghilangkan bosannya. Duduk di samping lelaki yang membuatnya malu setengah mati semalam, dan tadi pagi berhasil membuatnya kesal setengah mati dan juga berhasil membuatnya spot jantung. Ini bukan harapannya sama sekali.
Masih ada kursi kosong di sebelah supir, namun Orion tidak mendudukinya, dan bahkan tadi melarang untuk Caca mendudukinya di sana.
__ADS_1
Dasar aneh! Kenapa juga gua nggak boleh duduk di depan ? apa faedahnya gua duduk di sebelahnya begini ? gerutu Caca dalam hati.
Suasana mobil yang sunyi tanpa ada suara musik atau pun yang lainnya membuat kadar kebosanan Caca semakin meningkat. Caca melirik makhluk di sebelahnya yang asik dengan i-pad-nya entah apa yang di bacanya, Caca saja pusing melihat grafik-grafik seperti itu.
Pandangan Caca beralih ke luar, ingin membuka jendela mobil takut berakhir adu mulut dengan Orion. Caca belum mau energinya nanti terbuang secara percuma. Caca kembali mengingat perkataan Orion tadi sebelum ia beranjak dari ruang makan.
Tidak takut untuk memulai ? maksudnya apaan coba ? memulai apa ?
"Kita ke rumah sakit, periksa tangan kamu. Takutnya ada retakan akibat benturan kemarin," ucap Orion memecahkan keheningan di dalam mobil. Membuat Caca berhenti dengan pemikirannya. Pak Ujang yang hari ini kebagian mengantar Orion melirik sekilas dari spion tengah. Terkejut, karena untuk pertama kalinya ia mendengar suara Orion yang perhatian tanpa terkesan bossy.
"Kalau om khawatir, tangan aku bakalan kenapa-napa. Kenapa suruh aku ke kantor om segala ? aku juga punya sesuatu yang ingin aku lakukan hari ini," sahut Caca kesal.
"Pergi dengan pria yang menelponmu semalam ?" tanya Orion, terdengar nada tidak suka di sana.
Caca sontak menolehkan kepalanya, Caca hanya bisa mendesis saja karena ada betul nya juga yang dikatakan Orion. "Apa salahnya Caca pergi sama teman Caca sendiri, kok om yang sewot," gumam Caca
"Dengan tangan kamu yang masih cedera ?" tanya Orion, yang tadi mendengarkan gumaman Caca.
"Caca kan udah bilang, tangan Caca nggak kenapa-napa. Situ aja yang lebay," cibir Caca membuat Orion melotot padanya. "Lagian, buat apa Caca ke kantor om segala."
Orion terdiam, sebenarnya alasan ia mengajak Caca untuk ikut ke kantornya. Karena Orion tidak ingin Caca bertemu ataupun jalan bersama teman laki-lakinya itu. Semalam, ada rasa tak suka saat mendengar Caca berbicara lembut dengan pria lain. Walaupun ia tahu, kalau orang itu yang menyebabkan Caca sampai merantau jauh seperti ini.
Dari mana Orion tahu ? tentu saja Orion mencari informasi itu semua dengan sangat mudah, uang yang memudahkan semuanya. Saat itu, ia tidak tahu asal-usul Caca, dan Orion tidak mau sembarangan mengizinkan orang yang tidak jelas asal-usulnya untuk masuk ke kediaman keluarganya.
Dulu, ia menentang kehadiran Caca di keluarganya. Namun, sekarang ia merasa takut kalau Caca akan pergi begitu saja dari sisinya. Entahlah, ia tidak tahu apa yang dirasakannya. Karena hal ini masih tabu untuk ia mengerti. Mungkin, Orion akan kembali berkonsultasi ke Dokter Lusy. Sekarang, ia hanya mencoba mengikuti kata hatinya saja.
***
Jangan lupa like, comment yaa kalau mau di share juga boleh 😁 Vote ? apalagi ini, boleh banget kok 😂
__ADS_1
Terimakasih 🍀