Feeling Attack

Feeling Attack
30. Memulai


__ADS_3

Ini kedua kalinya Caca menginjakkan kakinya kembali di kantor ini, Hanwha Group. Sebelum ke sini, Orion memaksa Caca untuk memeriksa tangannya yang cedera ke dokter kepercayaannya. Dan akhirnya tangan kiri Caca harus menggunakan gips.


Caca sempat menolak untuk di gips tangannya, karena Caca merasa sangat risih untuk memakai itu. Tapi Orion yang memaksanya untuk menggunakan gips dengan alasan demi kesembuhannya. Dokter pun berkata bahwa Caca mengalami patah tulang ringan, di mana patahan hanya tampak berupa garis yang tipis dan tidak disertai dengan pergeseran patahan tulang tersebut.


Penggunaan gips pada lengan Caca berfungsi untuk membantu mengistirahatkan bagian lengannya dan memposisikan bagian lengannya tetap di posisinya dan tidak berubah-ubah. Juga melindungi Caca dari benturan. Selama mengistirahatkan bagian lengan yang patah, kedua sisi tulang yang patah tersebut akan menyatu sehingga patahan tulang akan hilang dengan sendirinya.


Untuk pemulihannya dokter belum dapat memastikan tapi, karena patah tulang yang di alami Caca ini masih tergolong ringan. Kemungkinan memakan waktu beberapa hari atau mungkin seminggu. Dokter pun menyarankan Caca untuk sesering mungkin, kontrol dan evaluasi untuk memastikan kemajuan dan perkembangan kondisinya.


Setelah mereka turun dari mobil, banyak pasang mata yang menatap mereka heran dan bertanya-tanya. Sadar akan pandangan orang, Caca pun memelankan langkah kakinya sambil terus memegang tangan kirinya yang di gips sampai ketertinggalan beberapa langkah dengan orang di depannya.


Orion tidak memperdulikan pandangan karyawan-karyawannya terhadap dirinya. Seketika, Orion merasakan Caca tidak lagi berjalan di sampingnya. Ia pun sontak memberhentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Terlihat di sana Caca berjalan sambil menunduk.


Caca yang terus berjalan menunduk tanpa melihat ke depan, akhirnya ia menabrak sesuatu yang keras tapi nyaman dan hangat. Sontak, Caca pun langsung mendongakan kepalanya saat ia merasa ada tangan yang menahan tubuhnya membantu ia untuk menjaga keseimbangannya.


"Apa kamu mau menambah jumlah gips di tubuhmu ?" tanya Orion dengan suara seraknya yang masih menyangga tubuh Caca. Hal itu disaksikan oleh sebagian karyawannya, karena tempat kejadiannya masih di loby bawah. Farhan yang baru saja keluar dari lift sontak terkejut melihat adegan yang di perankan oleh bosnya dan juga sahabat tunangannya.


Sesaat Caca kembali mengagumi mata indah milik Orion. Iris coklat milik Orion saling bertabrakan dengan iris hitam pekat milik Caca. Segera Caca, melepaskan dirinya dari dekapan Orion.


"Ekhem... Makasih," ucap Caca mengendalikan diri, berusaha menutupi rasa panas di kedua pipinya.


"Apakah saya gaji kalian hanya untuk menonton ?" kata Orion dingin menatap semua karyawannya dengan tatapan tajam. Dan seketika kerumunan itu bubar setelah mendengar nada dingin dari bos mereka.


Orion menghela napasnya kemudian pandangannya berahli kepada sosok gadis mungil di depannya ini. Terlihat, Caca masih bergeming dengan pandangan menatap lantai marmer loby kantor. Entahlah apa yang di pikirannya mungkin sedang mengira-ngira berapa harga lantai marmer ini.

__ADS_1


Sekali lagi, Orion menghela napasnya. Caca yang mendengarkan helahan berat dari Orion semakin menundukkan kepalanya. Tiba-tiba tangan kanan Caca di tarik lembut oleh Orion. Menggenggam tangan Caca untuk mengikutinya naik lift.


Farhan yang masih bergeming di tempat tetapi matanya selalu mengikuti gerak-gerik kedua makhluk tersebut sampai pintu lift menghilangkan mereka dari pandangan Farhan. Seketika, Farhan tersadar tujuan ia turun tadi adalah untuk menyusul bosnya itu di loby sekalian memberitahukan meeting sebentar lagi akan di mulai. Saking syok dan tidak menyangkanya atas adegan tersebut, membuat Farhan benar-benar seperti orang bodoh sekarang. Sadar dari kebodohannya, Farhan pun segera menyusul bosnya.


***


"Kamu, tunggu di sini sebentar. Saya ada rapat penting pagi ini, nggak akan lama." Ucap Orion Kaku. Saat ini mereka sudah berada di ruangan Orion.


Caca yang masih sangat malu hanya bisa sambil menundukan kepala sambil mengangguk kecil. Entah ke mana hilangnya sifat bar-bar gadis ini dan mulut pedasnya itu. Orion mengernyit tak suka akan reaksi Caca ini.


"Kamu, sakit ?" tanya Orion heran. Caca menggeleng cepat. "Terus, kenapa tiba-tiba berubah jadi bisu ?"


Caca langsung mendongak, matanya sudah melotot ke arah Orion. Astaghfirullah... sabar Caca, sabar, Ngalah dengan yang tua.


Orion senang karena sudah sedikit memancing Caca untuk berdebat dengannya. Dan dapat Orion pastikan sesaat lagi Caca akan membalasnya dengan jeritan kencang dan disertai dengan kata-kata pedasnya. Tapi, dugaan Orion kali ini salah besar. Respon yang di dapat adalah Caca pergi dari hadapannya menuju ke sofa lalu duduk sambil memejamkan matanya di sana.


"Sakit banget, ya ?" tanya Orion khawatir yang sekarang ikut duduk di sebelah Caca sambil memperhatikan wajah Caca dari dekat.


Caca membuka kedua matanya sedikit terkejut karena wajah Orion yang bisa di bilang cukup dekat dengan wajahnya sekarang.


"Enggak, Caca ngantuk aja." Ucap Caca dengan mata sayunya. Ini jujur Caca mengantuk sekali mungkin karena dia kurang tidur semalam. "Udah sana, katanya Om ada rapat."


"Kamar saya ada di pojokan sana." Tunjuk Orion ke pintu yang letaknya di sebelah kanan rak bukunya. "Kamu bisa tidur di sana."

__ADS_1


"Di sini ada kamar ?!" ucap Caca tak percaya.


Orion mengangguk. "Masuk saja, tidak di kunci kok."


Caca langsung berdecak kagum. Ruangan kerja berasa apartemen, seperti ini kali ya. "Hmm... iya nanti Caca ke sana. Makasih."


Orion mengangguk lalu tak berapa lama terdengar bunyi ketuk pintu kemudian di susul sosok Farhan di sana. "Seben--"


"Saya tahu," potongnya lalu berdiri pandangannya pun berahli ke Caca yang kembali memejamkan matanya. "Saya tidak akan lama, saya pergi dulu." Ucapnya kembali sambil mengusap kepala Caca sebentar.


Farhan di sana kembali di buat melongo. Selama ia kerja di sini, belum pernah ia melihat Orion memperlakukan seorang gadis dengan lembut seperti sekarang ini. Bahkan Farhan pun tidak pernah melihat Orion berdekatan dengan seorang gadis. Sifatnya yang dingin dan juga kaku menyebabkan rumor di lingkungan kantornya. Banyak karyawan yang menduga bosnya ini seorang gay karena tidak pernah melihatnya membawa wanita di sini. Namun, sepertinya rumor itu akan terpatahkan sekarang. Adegan tadi pagi mungkin bisa sebagai buktinya.


"Ayo," kata Orion berjalan terlebih dahulu meninggalkan Farhan yang masih bergeming di tempat. Setelah sadar ia pun segera menyusul bosnya yang sudah masuk lift duluan.


"Pesan makanan ringan tapi sehat, dan antarkan ke ruangan saya nanti." Ucap Orion setelah pintu lift tertutup.


Farhan menangguk kecil. "Baik, Pak." Balas Farhan patuh. Meskipun di dalam hati masih bertanya-tanya ada hubungan apa yang terjadi di antara sahabat tunangannya dan juga bosnya ini. Ia memang tahu kedekatan Mentari dan Caca, tapi Orion ? ia masih tidak percaya.


"Jangan memanggil saya bapak, saya merasa benar-benar sudah tua sekarang." Ucapnya kesal. Yang satu manggil om satunya lagi memanggilku bapak. Apa rupaku mirip seperti keduanya.


Farhan terkejut, menurutnya Orion hari ini benar-benar sangat aneh. "Bukannya panggil itu, sudah sering saya gunakan untuk memanggil bapak ?"


"Ck, sekarang ubah panggilan itu, saya tidak suka. Lagian kamu lebih tua daripada saya dan juga kamu temannya Kak Mentari begitu juga kamu sudah dianggap oleh Caca sebagai kakak, jadi panggil saya dengan nama saja."

__ADS_1


Farhan menangguk menurut. "Baik, Langit." Dia masih belum berani untuk memanggil nama aslinya. Orion menganggukkan kepalanya, lalu berjalan duluan keluar dari lift.


Di belakangnya, senyum kecil terbit di sudut bibir Farhan menatap bosnya yang sedang berjalan di depannya. Dugaannya selama ini benar, bahwa bosnya tertarik dengan sahabat tunangannya. Ternyata benar kata Mentari, hanya Caca yang bisa membawa Orion kembali. Ucap batinnya senang.


__ADS_2