Feeling Attack

Feeling Attack
22. Temu Kangen


__ADS_3

Di sinilah Caca sekarang, di Cafe Pelangi tempat Caca mencari pudi pudi rupiah. Setelah melewati perdebatan dengan Mentari akhirnya Caca berhasil mendapatkan izin untuk pergi bekerja. Izin dua hari saja membuat Caca rindu dengan teman teman kerjanya.


"CACA!" pekik Via dan Vira serempak, saat Caca baru melangkah ke dapur cafe.


"Ya Allah, kita kangen banget sama lu tau!" seru Via sambil memeluk Caca yang diikuti oleh Vira juga.


"Baru dua hari gua izin."


"Dua hari serasa sebulan bagi gua." Jawab Vira.


Caca tersenyum, "Yang lain mana ?" tanya Caca saat pelukkan mereka terlepas.


"Danang sama Jo--"


"Woy Via, lu di mana ?! meja kasir kosong tau! entar di marah bos lu!" teriak Joko saat masuk ke dapur ia tidak menyadari keberadaan Caca di sebelah Via.


"Apaan dah! gua tadi ke toilet, wong gua minta gantiin tiwi sebentar juga!" ngegas Via.


"Tiwi, lagi layani pelanggan." Balas Joko masih belum menyadari keberadaan Caca.


"Udah-udah biar gua aja yang jaga kasir." Lerai Caca membuat pandangan Joko beralih kepadanya, mendadak Joko membelalakkan matanya kaget.


"Ini beneran lu kan Ca?" tanya Joko dengan wajah cengonya. Caca terkekeh sambil mengangguk kecil.


"Wuaahh... Caca A'a Joko kangen banget!" seru Joko bergerak maju bermaksud untuk memeluk Caca namun dihalangi oleh seseorang.


"Eehh... bukan mahram woy! maen nyosor aja lu!" seru Via sambil menarik kaos belakang Joko.


"Yaah elah Vi, gua kangen sama Caca."


"Iya kangen sih kangen, tapi jangan pakai meluk bisa."


"Ya udah deh, gua meluk lu aja ya," goda Joko membuat Via melototkan matanya.


"Kagak ada, Kita belum halal," ujar Via tanpa sadar, membuat Caca dan Vira bersorak menggoda Via, tak kecuali Joko yang makin memasang wajah jenakanya.


"Cieee... Via, kode keras bung!" seru Vira sambil mencolet-colet lengan Via. Entah bagaimana wajah Via sekarang yang pasti sudah memerah karena malu.


"Doain aja guys... semoga gua dan dia berjodoh." Ucap Joko dengan wajah serius membuat sorakan kedua gadis itu semakin besar dan tak lupakan ekspresi Via, dia sampai harus ngumpet dibelakang Caca.


"Haha... udah-udah Via malu nih," goda Caca kembali.


"Ya Allah, pantasan di depan sepi, pada ngumpul disini toh." Ujar Danang melihat teman-temannya pada ngumpul di dapur. Danang belum menyadari keberadaan Caca karena posisi Caca yang tertutup oleh tubuh Joko.


"Telat lu datang nya!" seru Vira. Danang berjalan maju bermaksud ikut nimbrung dengan temannya.


"Lagi baha—Aaaa Caca come back! ini beneran Lu Ca?!" seru Danang heboh. Membuat Joko yang persis di sebelahnya mengusap dada kaget.


"Suara lu ngalahin suara ibu kost tempat gua!" sahut Joko.

__ADS_1


"Ya Allah, apa kabar Ca ?" ujar Danang tak memperdulikan sahutan Joko tadi. Membuat sang empu nama hanya bisa mengumpat dalam hati Untung teman.


"Alhamdulillah baik kok,"


"Gua kangen tau, nggak ada lu sepi jadinya." Ujar Danang. Di sini Danang sedikit kalem dari pada Joko. Digarisbawahi Sedikit.


"Ah masa sih ? jadi tersanjung gua," canda Caca terkekeh.


"Caca aja, izin dua hari ditanyain kabarnya sedangkan gua izin seminggu pas datang cuma langsung di suruh ini itu." Sindir Vira sedikit nyaring membuat Caca mengernyit.


"Lu ada dengar suara nggak, Jok ?" tanya Danang ke Joko seolah-olah tidak mendengarkan dialog Vira.


"Enggak tuh," jawab Joko meladeni.


"Ih... Kalian!" jerit Vira sebal. Hanya sekedar info di sini Danang dan Vira adalah sepasang kekasih jadiannya sih baru seminggu yang lalu.


"Vi, mereka lagi berantem ?" bisik Caca pada Via.


"Biasa lah," balas Via berbisik. Sedangkan Caca hanya mengangguk kecil sambil membulatkan mulutnya padahal dalam hati Ia tidak tahu apa maksud dari Via tadi.


Vira menghentak-hentakkan kakinya keluar dari dapur yang membuat Danang gelagapan.


"Nah loh, gua nggak ikutan ya!" ucap Joko membela diri. Danang mendengus lalu segera mengejar sang kekasih untuk membujuknya.


"Sayang! tunggu, aku cuma bercanda doang," terdengar pekikkan Danang yang tubuhnya sudah tidak berada di dapur.


"Dih, dasar pasangan bucin," cibir Joko masih memandang kepergian temannya. "Kita jangan sampai kayak gitu ya, yank." Sambungnya kali ini ia berbicara sambil menatap Via.


"Wanita dan kegengsiannya." Gumam Joko sambil berjalan keluar dapur menyusul teman-temannya.


***


Menjelang sore hari, suasana di cafe cukup ramai karena ini jam pulang untuk anak sekolahan maupun kuliahan. Di meja kasir terlihat Caca yang sibuk melayani pembayaran pelanggan. Dan teman-teman yang lain juga sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Saat suasana lumayan tenang, Via berjalan tergopoh-gopoh ke arah Caca membuat alis Caca berkerut. "Kenapa, Vi ?"


"Bos Reza, manggil lu ke ruangannya. sekarang!" ucap Via membuat Caca berdebar apa gua bakalan dipecat ?


"Ada apa ya, Vi ?" cicit Caca takut.


"Mana gua tau, lu cepatan aja kesana."


Caca mengangguk "Lu jagain kasir sebentar, ya"


"Siap."


Caca pun segera berlari naik ke lantai atas menuju ruangan bosnya. Sejenak Caca mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat naik tangga tadi. Setelah tenang, ia mengetuk pelan pintu ruangan bosnya sampai terdengar sahutan dari dalam menyuruhnya untuk masuk.


Caca membuka pintu lalu berjalan mendidik ke bawah, masih belum berani menatap wajah bosnya.

__ADS_1


"Kenapa nunduk, gitu ?" tanya Reza membuat Caca langsung mengangkat kepalanya. "Kamu ap--"


"Saya minta maaf bos, saya izin dua hari tanpa mengirim surat hanya lewat chat saja kemarin. Please jangan pecat saya." Potong Caca cepat sambil memejamkan matanya.


Reza mengernyit bingung mendengar ucapan Caca, tak berapa tawa Reza pecah membuat Caca membuka matanya dan menatap bosnya dengan wajah cengonya. Ke sambet kah ?


"Astaga kamu ini bikin saya gemes!" kata Reza berusaha merendahkan tawanya. "Saya tadi hanya ingin menanyakan kabar kamu, bukan mau memecat kamu."


"Heh ?" wajah Caca semakin Cengo.


"Berhenti membuat saya gemes dengan ekspresi kamu," kata Reza lagi kali ini tawanya sudah reda.


Membuat Caca segera merubah ekspresinya. Caca bergidik geli, Apaan itu ?


"Oke, saya mau tanya. Kamu kenal Revan dari mana ?" tanya Reza serius.


"Saya teman Istrinya." Jawab Caca cepat.


Reza mengangguk. "Kamu tinggal di rumah Mentari ?"


Caca menghela napasnya mau tak mau ia pun mengangguk kecil walaupun dalam hati ia menggerutu *b*os kepo pasti sebentar lagi ada pertanyaan lebih lanjut tentang ini.


"Kenapa ?" Nah, kan bener.


"Bos, manggil saya ke sini hanya untuk tanyain soal ini ?" ujar Caca dengan nada malasnya. Keluar sudah sifat juteknya, entah hilang ke mana sikap sopannya tadi.


"Haha... kamu ternyata nggak berubah." Tawa Reza pelan. "Alasan saya manggil kamu, karena saya rindu sama kamu, sudah lama saya tidak melihat wajah kamu."


Caca mengerjap-ngerjap matanya berusaha menghilangkan rasa gelinya akibat ucapan bosnya itu. Kenapa makin ke sini, bosnya makin agresif menunjukkan ketertarikannya ?


"Kamu pulang sama siapa ?"


"Saya pulang sama teman"


"Kalau gitu, pulang kerja saya tunggu diparkiran." Ucap Reza santai.


Lah ?! bos budek ?! suara batin Caca berteriak.


"Saya pulang sama teman bos, lagian saya sama teman-teman yang lain mau pergi makan dulu habis jam kerja."


"Ya udah ka--" ucapan Reza terpotong karena deringan suara handphone nya.


"Halo sayang," jawabnya dan terjadi percakapan antar sepasang kekasih itu. Caca langsung melongos Udah punya tunangan, masih aja cari perhatian sama cewek lain.


Caca yang malas dan bosan menunggu seperti orang bodoh di sini, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari ruangan Reza. Semasa bodohlah ia dibilang tidak sopan atau apa.


***


Jangan lupa like comment dan vote ya 😀

__ADS_1


Terimakasih 🍀


__ADS_2