Feeling Attack

Feeling Attack
25. Masuk Ke Alam Mimpi


__ADS_3

Dengan telaten, Caca mengelap keringat di kening, pipi dan leher Orion yang saat ini masih terus meracau tidak jelas dalam tidurnya. Saat basah keringat itu hilang dari wajahnya. Air yang mengalir dari matanya yang terpejam semakin jelas terlihat. Caca merasa Iba dengan Orion, kepalanya kemudian menggeleng kuat berusaha mengusir pemikiran itu. Kembali Caca menempelkan punggung tangannya pada kening Orion, mengecek suhunya.


"Aku masih nggak nyangka, ternyata orang aneh seperti om, bisa sakit juga ya," gumam Caca. Kalau lelaki ini dalam keadaan sadar. Dapat dipastikan pertempuran mulut bakalan terjadi.


Kila beranjak dari ranjang dan meraih air yang tidak jauh dari tumpukkan handuk tadi. "Aku akan meminta bayaran saat dia sadar nanti." Racau Caca lagi. Sambil tangan tetap mengambil handuk kecil di dalam wadah air, memerasnya lalu meletakkan di kening Orion.


"Apa sih yang om mimpikan ?" tanya Caca penasaran pada sosok di depannya yang masih bergumam tak jelas, walau tangisannya tak sederas tadi.


"Ma..." tiba-tiba, bibirnya yang mengingau membentuk senyum.


"Om bertemu mama om ?" tanya Caca penasaran. "Pasti menyenangkan, Caca jadi rindu sama ibu Caca juga."


"Ma..." lelaki itu tak hentinya tersenyum. "Orion... ikut ya ?"


Tangan Caca yang hendak membalikkan handuk di kening Orion terhenti. Tangan Caca membeku. "Ikut ? ikut ke mana ?" gumam Caca bingung bercampur panik. Demamnya sudah tidak terlalu tinggi, tapi kenapa igauannya tidak berhenti juga ?


"Orion... mau ikut mama ke surga."


Caca tersentak. "Gila!" ceplos Caca tiba-tiba. Lalu menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. Caca terdiam beberapa saat sampai ide gila mendarat di pikiran Caca.


"Sayang..." Caca ngeri dengan apa yang terlontar dari mulutnya barusan. "Ikhlaskan mama." Caca sebenarnya geli dengan apa yang dia lakukan. Tapi, tetap harus dicobanya.


"Lanjutkan hidupmu..." Caca mengusap rambut hitam sosok dihadapannya, berusaha menempati diri sebagai sosok seorang ibu.


"Berhenti... menjadi orang lain, karena itu tidak baik dan juga menyeramkan."


***

__ADS_1


"Ma..." mata Orion tak berkedip ketika mendapati punggung yang dikenalinya berada di tengah hamparan bunga. jauh di depannya. Orion bergegas berlari mengejar pemilik punggung tersebut, sambil meneriaki mamanya. Punggung itu pun berhenti, perlahan membalikkan tubuhnya dan melemparkan senyum yang belasan tahun ini Orion sangat rindukan.


"Ma!" seru Orion, menerobos ke hamparan bunga yang cantik, semasa bodohlah bila mamanya nanti marah karena ia merusak tanaman bunga kesayangan mamanya.


"Ma, Orion kangen... Orion kangen..." Orion memeluk erat sosok wanita cantik berkulit pucat yang berdiri di hadapannya sekarang. Meski tinggi mamanya telah berhasil dia lewati, kepalanya tenggelam dalam ceruk leher putranya.


Wanita itu melepaskan pelukan mereka. Ia mengusap sayang kepala anaknya, kening lalu berpindah ke pipi, menangkupnya dengan kedua tangan lembutnya.


"Kamu baik-baik saja ?" suara lembut itu berhasil masuk ke dalam gendang telinga Orion.


Orion mengangguk pelan. Ia kembali memeluk mamanya erat. "Ma... Orion ikut, ya ?" perkataan yang selama ini ingin diungkapkan kepada sosok terhebat dalam hidupnya akhirnya sekarang bisa tercapai.


Mamanya melepaskan pelukan anaknya dengan kasar. Menatap Orion tidak suka.


"Orion... mau ikut... ke surga," seru Orion menjelaskan keinginannya pada sang mama yang nampak berpikir dengan terbata. Sebenarnya, dia tak yakin dengan keinginan itu. Tapi, untuk apa sekarang ia hidup jika tidak ada yang mempedulikannya lagi ?


Mendengar jawaban mamanya, membuat wajah Orion menegang. Rahang kokohnya terlihat mengeras sekarang, berusaha menahan emosinya. Mengikhlaskan sesuatu itu bukanlah hal mudah, dia selama belasan tahun ini, berusaha mengikhlaskan sosok terhebat dalam hidupnya. Bukannya ikhlas, dia justru semakin merindukan sosok yang ia coba ikhlaskan ini.


"Lanjutkan hidupmu..." sambung mamanya kembali sambil mengusap lembut rambut putranya. Orion langsung meraih tangan mamanya menggenggamnya dengan erat, seolah tak ingin kehilangannya lagi.


"Berhenti menjadi orang lain, karena itu menyeramkan."


"Ma!" jawab Orion dengan nada meninggi seketika "Aku melakukannya karena papa ingin aku seperti kakak!" sahutnya mengerti apa yang di maksud sang nama, beliau ingin Orion berhenti menjadi seperti Langit. "Papa memberiku nama kakak! apa aku salah ingin berbuat seperti kakak ? jika aku bertingkah seperti dia ?"


Mamanya terdiam, wajahnya mengerut sambil menatap anaknya, membuat Orion tak sabaran.


"Ma, kenapa mama tunggalin aku ?" kembali air matanya terjun dengan bebas di sana tanpa bisa ia kendalikan. Isi hati yang selama ini dipendamnya seorang diri, sekarang berhasil tersampaikan. Orion ditinggalkan oleh mamanya dalam usia yang amat masih belia. Orion kecil merasa hidupnya tak pernah normal. Papa yang jarang hadir memperparah kondisinya.

__ADS_1


"Mama tahu ? aku sendiri, aku sendiri setelah Kak Mentari bertemu orang itu," serunya dengan mata berkilat. Orang itu yang dimaksud Orion adalah Revan, suami kakaknya. Revan adalah pencuri dalam hidupnya. Pencuri yang berhasil merenggut satu-satunya orang terpenting dalam hidupnya. Orion merasa kesepian dan merasa sangat kehilangan setelah kakak perempuannya menikah.


"Kamu nggak sendiri nak, kamu masih punya banyak orang yang menyayangi kamu tapi, kamu tidak menyadarinya." Jawab mamanya lembut, menatap anaknya dengan pandangan selembut yang ia punya. "Mama mohon, berhenti seperti kakakmu. Karena itu, membuat orang takut untuk mendekati kamu. Jadilah dirimu sendiri, dan lihat bertapa banyak orang yang menyayangi kamu, percaya dengan mama Orion."


Alis Orion berkerut, ketika menyadari ada yang salah dengan suara mamanya. Namun, saat tengah asik memikirkan suara yang menurutnya mirip seseorang yang ia kenal. Tiba-tiba sosok mamanya mulai berpendar dan menghilang.


"Ma!" seru Orion panik. "Mama!" Orion memutarkan kepala dan tubuhnya, mencari sosok sang mama yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya.


"Ma!" serunya lagi, sembari berlari semakin ke tengah hamparan bunga yang seakan tidak ada ujungnya. Lelah yang tidak dapat ditahan lagi, akhirnya Orion terdiam lalu jatuh terduduk di hamparan bunga itu sambil terisak.


"ORION SAYANG MAMA!!!"


***


Caca terkejut, segera menutup mulutnya. Tak disangka ia pandai untuk bersandiwara seperti itu, bagaimana mungkin gadis umur dua puluh dua tahun seperti dirinya mencoba menjadi sosok ibu dan masuk ke mimpi orang di hadapan ini ?


Caca merasa ia sangat lancang untuk melakukan seperti tadi. Caca mengetuk kepalanya beserta mulutnya dengan kesal, Mengutuk dirinya sendiri dalam hati tanpa henti. Sampai sebuah teriakan dari Orion membuatnya terlonjak kaget dan tanpa sadar menggoncang tubuh lelaki itu agar segera sadar dari igauannya.


Mata Orion yang terbuka terlihat memerah dan basah. Saat mendapati wajah Caca yang membeku di hadapannya. Orion melihat sekelibat bayangan Mamanya diwajah putih Caca. Sontak, lelaki jangkung itu dan bersuhu tinggi ini bangkit dari tidurnya. Menarik tangan Caca untuk segera masuk kedalam pelukannya. Ia merengkuh Caca dengan sangat erat.


Gerakan Orion yang tiba-tiba itu, membuat tubuh Caca membeku. Terlalu terkejut, membuat Caca tidak sadar bahwa saat teriakan Orion tadi, sudah ada empat orang lainnya di dalam kamar Orion. Dan keempat orang tersebut hanya membatu melihat apa yang terjadi di depan mereka ini. Masing-masing menyaksikannya dengan pandangan berbeda-beda.


***


**Aku cuma mau bilang makasih buat kalian yang udah setia mendukung cerita aku ini.... 😊😭 Maaf kan ya, bila aku suka telat update cerita ini, karena aku juga harus membaginya dengan kehidupanku didunia nyata 😔


Sekali lagi makasih buat kalian yang selalu setia mampir di cerita aku, yang sering vote, yang sering comment makasih banyak banyak 🙏 Maaf kalau aku nggak balas comment nan kalian, hanya aku like saja 🙏 tapi, yakin lah aku selalu baca comment nan kalian kok 😀**

__ADS_1


__ADS_2