Feeling Attack

Feeling Attack
20. Pindah


__ADS_3

Keesokan harinya, di sinilah mereka sekarang. Di kediaman Nana dan Kevin. Hari ini Caca kembali izin bekerja. Entahlah, Caca pasrah kalau pun nanti ia di pecat.


Nana dan Caca berada di dapur, akibat ajakan oleh Nana dengan alasan bantuin untuk membuatkan minuman. Sedangkan Mentari dan Kevin sedang berbincang-bincang di ruang tamu.


"Itu Kak Mentari yang sering lu bilang ?" seru Nana, Caca mengangguk sekali. "Waahh... benar-banget kata lu, dia cantik banget. Kayak Artis Korea."


"Iya, Kak Mentari memang cantik sebelas duabelas kayak gua, ya kan." Candanya terkekeh sambil mengambil sirup botol di dalam kulkas.


"Ih.. lu mah jauh banget." Cibir Nana.


"Dih iri,"


"Ih... nggak yaa." Sungut Nana. "Semoga aja anaknya nanti mirip sama ibunya."


"Lu belum lihat suaminya." Sahut Caca.


"Suaminya ganteng ?"


"Setiap cowok, kan ganteng." Jawab Caca santai.


"Kampret! maksud gua suaminya gimana ?" umpat Nana kesal.


Caca menyengir sambil memotong kue brownis yang dia ambil di kulkas. "Yaa.. kalau menurut gua ganteng itu relatif, dia cuma berkarisma aja."


Nana membulatkan mulutnya sambil mengangguk-angguk. "Kenapa, lu mau jadi pelakor ?"


"Astaga, ih pikirannya. Amit-amit deh jangan sampai gua seperti itu." Caca terkekeh lucu.


"Jadi, gerangan apa yang menyebabkan dia datang ke sini ?" tanya Nana penasaran.


"Entar lu bakalan tau." Balas Caca sambil mencurahkan air sirup ke dalam gelas.


"Sekarang aja kenapa sih ?" ngotot Nana penasaran.


"Apa bedanya sih sekarang sama nanti ?" sungut Caca. "Ck, ini sih gua yang bikin minumannya bukannya lu."


"Hehe... Nggak apa-apa lah, yang penting kan gua ada nemanin." Cengir Nana membuat Caca memutar bola matanya malas.


"Ya udah yuk ke depan."


***


"Jadi, tujuan saya ke sini adalah ingin meminta izin," ucap Mentari memberikan maksud kedatangannya. Kevin dan Nana saling berpandangan tak mengerti lalu menatap ke Caca yang duduk di sebelah Mentari meminta penjelasan.


Mentari yang menyadari itu kembali meneruskan perkataannya. "Saya mau mengajak Caca untuk tinggal bersama saya."


Dapat Caca liat di sana, tumbuh Nana membeku mungkin ia terkejut dengan kabar yang tiba-tiba ini. Caca pun merasa bersalah sama Nana, tidak ada lagi perbincangan sebelum tidur, tidak ada lagi nonton drakor bareng, memakai masker bareng-bareng dan aktifitas lainnya yang sering dilakukan mereka saat malam hari atau pun saat hari weekend.


Caca tidak bisa menebak apa yang sedang Kevin pikirkan, karena raut wajahnya yang datar itu membuat Caca tidak berani untuk beropini. Selama Caca mengenal Kevin, dia merupakan kakak yang baik, cukup asik dan sangat perhatian walaupun sedikit kaku. Dan satu hal yang tidak bisa dilakukannya lagi nanti yaitu menganggu Kevin. Nana dan Caca punya hobi menganggu kakaknya sampai Kevin merasa kesal.

__ADS_1


Kevin tidak pernah lagi kembali ke apartemen. Syukurlah setidaknya Caca sedikit tenang meninggalkan Nana, karena ada yang menemani dan menjaga Nana di sini. Aaa semakin Caca menatap Nana semakin ia tidak kuat untuk menahan air matanya.


"Kalau boleh tau, apa alasan mbak mengajak Caca untuk tinggal bersama ?" tanya Kevin membuka suara ia harus tau alasan jelas mengapa perempuan ini ingin membawa Caca pergi.


"Karena cuma Caca yang bisa menolong keluarga saya." Jawab Mentari lirih.


"Maksud mba--" ucapan Kevin terpotong karena Nana langsung menggenggam tangan kakaknya memberi kode untuk tidak menanyakan lebih lanjut.


Kevin menghela napasnya "Jawaban saya tergantung dengan adik saya." Ucap Kevin sambil membelai sayang kepala adiknya.


Mentari mengangguk paham, lalu pandangannya beralih pada Nana meminta jawaban. Nana yang menyadari itu menarik napasnya lalu mengangguk pelan. Mentari melihat itu tersenyum senang.


Caca yang sedari tadi hanya menjadi penonton membuka suaranya. "Nana, gua mau ngomong sebentar."


Nana mengangguk lalu duluan beranjak naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Tunggu sebentar ya kak," ucap Caca pamit ke Mentari dan Kevin, kemudian menyusul Nana.


"Nana, sorry," kata Caca sesampainya mereka di kamar Nana.


Nana mengalihkan pandangannya dari jendela kamarnya. "Hem, nggak apa-apa kok. Gua cuma sedih aja, baru aja dua bulan lu tinggal di sini tapi sekarang lu bakalan pergi."


"Gua masih di kota ini kok. Kan rumah kak Mentari nggak terlalu jauh dari sini juga. Kita kan pasti sering ketemu juga." Ujar Caca ikut duduk di sebelah Nana.


"Ya... Tapi kan beda Ca, kita nggak bisa lagi ngelakuin hal-hal yang menyenangkan."


"Bisa, pasti bisa kok. Asal kita bisa ngatur jadwal kita masing-masing aja. Malam ini gua masih tidur di sini, entar gua bilang sama Kak Mentari kalau gua pindahnya besok."


"Iya, jangan sedih lagi dong." Nana mengangguk kecil.


"Maksud dari perkataan Kak Mentari 'Cuma lu yang bisa tolongin keluarganya dia' apa ?"


"Gua udah janji sama Kak Mentari untuk nggak ceritain masalah ini dengan siapa-siapa." Jawab Caca tak enak.


"Oke gua paham, intinya aja nggak bisa ?"


"Gua juga bingung Na, mau ngambil intinya yang mana. Gua di sini juga bingung, apa gua sanggup bantuin keluarga dia. Sedangkan gua di sini bukan dokter."


"Dokter ? maksud lu keluarga dia sakit ?" Tanya Nana tak paham.


"Gua pernah ceritain soal Langit ke lu kan ?"


"Langit yang lu rusakin mobilnya ?"


"Ih bukan rusakin dengan sengaja, kan itu musibah aja." Sungut Caca tak terima.


"Musibah atau takdir," ledek Nana.


"Ck nggak tau gua." Kesalnya.


"Haha... iya-iya, lanjutin yang tadi."

__ADS_1


"Dia punya suatu trauma akibat kecelakan mobil yang pernah buat mama dan kakaknya meninggal." Nana terkejut. "Dan Kak Mentari percaya, bahwa cuma gua yang bisa ngilangin traumanya itu."


"Kok gitu ?"


Caca mengangkat bahunya tak tahu. "Entahlah, Kak Mentari bilang, semenjak gua sering ke sana. Om Langit suka ngajak gua berdebat gitu. Pokoknya kata Kak Mentari, Om Langit berubah jadi lebih baik saat gua ada di sana."


Nana mengernyit bingung mencoba memahami jabaran cerita dari Caca. Tiba-tiba saja wajahnya yang tadi serius berubah menjadi jenaka. "Ciee... jangan-jangan dia falling in love sama lu."


"Dih ngomong apa sih ?"


"Ya kita liat aja nanti, lu pasti bakalan nyadar kalau dia itu memang sedari awal tertarik sama lu." Caca hanya melongos tak memperdulikan ucapan ngawur Nana tadi.


"Entar malam kita harus telponan dengan Tata." Ujar Caca berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ciee... mengalihkan pembicaraan nih yaa." Ledek Nana kembali. Caca yang sebel melihat Nana yang tidak jelas langsung meninggalkannya menuju ke lantai bawah.


"Heh! jangan marah woy! bercanda aja." Teriak Nana yang mungkin kedengaran sampai lantai bawah.


"Kak," panggil Caca setelah ia sampai di tempat tujuan. Di sebelahnya Nana sedang mengatur napasnya akibat berlari mengejar Caca.


"Aku malam ini tidur di sini dulu ya." Ujar Caca membuat Mentari mengangguk maklum.


"Iya, aku ngerti kok. Besok pagi kamu di jemput sama Pak Asep yaa."


Caca mengangguk senang. "Makasih kak," serunya. "Kita habiskan satu harian ini untuk bersenang-senang." Sambungnya sambil menghadap Nana senang yang dibalas senyuman lebar dari Nana.


"Kakak juga ikut," ucap Caca sambil menunjuk Kevin.


"Saya ?"


"Iya, supaya entar kakak nggak kangen sama Caca." Sahutnya dengan wajah jenakanya.


"Siapa yang bilang saya rindu kamu ?" Jawab Kevin datar.


"Tuh barusan kakak bilang."


"Nggak, selama ini saya biasa-biasa aja saat kamu nggak pulang kemarin." Jawabnya masih dengan wajah datar.


"Terus siapa dong yang miscall Caca sampai belasan kali ?"


"Kepencet,"


"Kepencet sebanyak itu ?"


Kevin yang mulai merasa kalah berdebat hanya bisa menatap Caca tajam dan menghela napas sabar. Ingat harus jaga image.


"Terserah." Ucapnya sambil beranjak pergi ke kamarnya. Tawa Caca dan Nana meledak melihat wajah merah Kevin tadi. Aaa ini yang membuat ia bakalan rindu nanti.


Mentari yang sedari tadi hanya melihat, ikut terkekeh lucu. Ternyata begini kedekatan Caca dengan keluarga ini.

__ADS_1


__ADS_2