
Deringan ponsel Caca membuat Caca yang baru saja merebahkan dirinya di salah satu kamar di rumah megah ini telonjak kaget. Panggilan video call dari Nana dan Tata. Caca tersenyum senang, segera Caca menjawab panggilan mereka.
"CACA...." Pekikkan terdengar di detik pertama Caca mengangkatnya.
"Ya Allah... bukan ucapkan salam ini main teriak aja." omel Caca.
"Assalamu'alaikum ukhti..." kompak Tata dan Nana.
"Wa'alaikumussalam." Balas Caca. "Tumben kalian video call, ada apa ?"
"Eh, maemunah! lu beneran nggak ingat atau pura-pura lupa ?" ucap Tata kesal.
"Pura-pura lupa, kayak lagu aja." Sahut Nana membuat Tata mendelik tajam.
Caca mengernyit apa yang ia lupakan, detik berikutnya Caca teringat bahwa ia yang memang mengirim pesan ke mereka bahwa ia telah bertemu Abian tadi. "Hehe... Kelupaan gua tuh. Sorry." Cengir Caca.
Tata dan Nana sama-sama mendengus. "Jadi, lu ketemu dia di mana ?"
"Di rumahnya Nana." Jawab Caca santai.
"Hah ? kok bisa ?" kompak mereka lagi.
"Ooo... gua ingat, tadi gua tanya Kak Kevin lu ke mana, terus katanya lu pergi sama Abian temannya Kak Kevin. Jadi... Abian itu orang yang selama ini lu cari ?! teman masa kecil lu itu ?!" ujar Nana heboh.
Caca mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Nana.
"Abiannya mas--"
"KYAAA... Kenapa lu nggak bilang sih Ca! kalau gua tau Abian itu Abian temannya Kak Kevin udah gua temuin kalian sendari awal, kan nggak repot-repot juga lu nya, lu nggak pernah liatin fotonya sih!" ujar Nana kesal. Membuat korbannya si Tata menatap tajam Nana. Sedangkan Caca terkekeh dibuatnya.
"Heh! Bambang!" seru Tata. "Lu nih kebiasaan ya! motong pembicaraan orang!" Nana menyengir di sana membuat lambang damai.
"Gua kan cuma ada foto saat dia masih SMP doang." Jawab Caca pelan.
"Nggak apa-apa kasih liat ke gua aja." Balas Nana sewot.
"Heh! sekarang gua tanya, wajah lu waktu jaman SMP dulu, emang sama dengan wajah lu yang sekarang ?" Nana menggeleng polos. "Nah! jadi bisa ambil kesimpulan sendiri kan ?"
"Kesimpulan apa ?" tanya Nana polos. Tak mampu lagi untuk Caca menahan ketawanya, sedangkan Tata hanya bisa beristighfar melihat 'loading lama' seorang Nana. "Lah ? lu ngapa ketawa Ca?"
"Dia ketawain lu tau!" Nana mengernyit. "Gini ya Nana cantik, kalau sih Caca tunjukkin foto Abian yang waktu SMP ke lu percuma, karena sedikit banyaknya wajah Abian berubah."
"Ooo... Bilang dong dari tadi. Ini pakai tanya segala 'udah bisa ambil kesimpulan sendiri kan ?' ya gua kan jadi bingung." Tata menyerah ia hanya bisa menepuk keningnya kesal. Sedangkan Caca tidak berhenti ketawa dari tadi.
"Udah-udah..." lerai Caca. "Nana, sorry ya. Gua nggak bisa pulang malam ini, di suruh nginep sama Kak Mentari nih. Sampaiin ke Kak Kevin ya." Nana hanya mengangguk-angguk.
"Eh, tunggu. Kok lu ada di rumah Kak Mentari ?" tanya Tata merasa janggal.
__ADS_1
"Gua sama Abian singgah ke minimarket tadi saat menuju pulang. Eh nggak sengaja, kita ketemu sama Kak Mentari sama suaminya. Terus....." Mengalirlah cerita apa saja yang terjadi di Minimarket tadi.
"Haha... Kak Mentari lucu juga ya ternyata, kayaknya asik deh orangnya. Jadi pengen ketemu." Seru Tata setelah mendengar Caca bercerita.
"Entar kenalin ke kita Ca." Sahut Nana.
"Iy--"
Ucapan Caca terpotong karena mendengar pintu kamarnya di ketuk dan di susuli oleh suara Mentari yang memanggil namanya.
"Gaess... Udah dulu ya, Kak Mentari manggil gua nih." Nana dan Tata mengangguk. "Entar kita sambung lagi. Oke, Dadah. Assalamu'alaikum." Caca memutuskan panggilannya sebelum mereka berdua membalas salam.
Segera Caca beranjak dari ranjangnya berjalan ke pintu lalu membukanya. Dan muncullah wajah Mentari yang sedang menunggunya.
"Aku kira kamu tidur."
"Hehe... tadi Caca habis telponan sama teman," jawab Caca sambil keluar dari kamarnya.
"Teman kamu yang tadi ?" sahut Mentari sedikit terdengar nada tak suka darinya.
"Bukan kok, tapi Tata sama Nana." Jawab Caca cepat.
Mentari mengangguk. "Kebawah yuk, kamu pasti belum makan kan ?" aku temanin kamu makan."
Caca hanya mengangguk, saking senangnya dia bertemu dengan Abian, Caca terlupa kalau dari tadi siang ia belum ada menyentuh nasi, hanya makanan ringan ia makan tadi.
"Kok sepi, Kak ?" tanya Caca saat mereka tiba di meja makan.
Caca mengangguk kecil lalu ia teringat akan seseorang. "Om Langit eh maksudnya Om Orion belum pulang ?" tanya Caca, yang memang dari tadi tidak melihat tanda-tanda keberadaan Orion.
Mentari menggeleng. "Semenjak kemarin ia seperti menghindari aku. Selalu pulang saat aku sudah tidur dan saat aku bangun ia sudah pergi ke kantor." Lirih Mentari sedih.
Caca terdiam bingung untuk merespon seperti apa.
"Kamu di depan dia, jangan sampai teceplos nama Orion yaa. Aku takut ia seperti kemarin." Sambung Mentari lagi.
"Iya kak, tenang aja." Ucap Caca menenangkan.
Saat mereka asik makan tiba-tiba saja terdengar pintu tertutup dan tak berapa lama terdengar langkah kaki membuat mereka berdua mengarah ke sumber suara. Muncul sosok yang tadi di bicarakan oleh mereka.
Orion terus melangkahkan kakinya tanpa menyadari keberadaan orang lain. Sebelum menaiki tangga langkah Orion terhenti karena panggilan dari kakaknya.
"Kamu udah makan ?" tanya Mentari.
Orion menoleh sempat terkejut saat melihat ada Caca di meja makan itu. Kemudian Orion mengangguk. "Aku udah makan, kakak aja yang makan." Jawab Orion.
Karena suasana yang sepi menyebabkan Caca mendengar suara yang berasal dari perut Orion. "Om beneran udah kenyang ?" kembali langkah Orion berhenti lalu menoleh ke Caca. "Caca dengar loh perut Om tadi bunyi."
__ADS_1
Wajah Orion memerah menahan malu, mengumpan dalam hati kenapa perutnya tidak bisa di ajak kompromi di saat seperti ini.
Mentari menahan tawa "Ayo kamu ke sini, kita makan bareng." Orion tidak bergerak sama sekali.
Caca yang gemas melihat Orion yang tidak memberi respon dari tadi membuat Caca beranjak dari duduknya, berjalan ke Orion kemudian menarik tangan Orion membawanya duduk di kursinya. Orion menatap tangannya yang barusan di pegang oleh Caca, tubuhnya seperti tersengat listrik saat tangan mereka bersentuhan. Dan sekarang Orion masih merasakan sensasi lembut dari tangan Caca di tangannya, padahal tautan mereka sudah terlepas.
"Om itu tuh kebanyakan mikir tau! Makan aja pakai mikir." Cibir Caca yang ikut duduk di sebelahnya. Orion menatap Caca dengan pandangan dalam. "Kenapa ? om mau diambilin makanannya ?"
"Ya udah Ca kamu aja yang ambilin dia, tuh liat dia aja masih ngeliatin kamu kayak gitu terus." Sahut Mentari terkekeh melihat ekspresi baru wajah adiknya yang sekarang kelihatan malu. Ternyata memang benar, bahwa hanya Caca saja yang bisa membuat Orion kembali.
"Nasinya cukup ?" Orion mengangguk. "Om mau lauk apa ?"
"Terserah kamu aja" Caca mengangguk, jangan salahkan Caca kalau sampai Orion tidak habis makannya karena ia bilang seperti itu berarti terserah Caca mau lauk yang mana dan porsinya seperti apa.
"Duh... aduh... kalian ini seperti pasangan suami istri saja." Goda Mentari. "Cocok kok."
"NGGAK MAU." Kompak Caca dan Orion.
"Tuh kan, jawabnya aja kompak. Udah kalian pacaran aja gih sana."
"NGGAK" Kompak mereka lagi.
"Duh... Kalian uwu banget tau gak sih." Orion menatap kakaknya mengernyit sejak kapan kakaknya menggunakan bahasa gaul anak-anak zaman milenial.
"Aku nggak bakalan mau punya istri cerewet seperti dia." Tunjuk Orion pada Caca.
"Dih... Om kira aku mau sama om. Ih nggak yaa! gini-gini Caca nggak mau punya suami yang udah berumur kayak om." Cibir Caca.
Orion mendelik tajam. "Apa kamu kira umur saya sudah tua ?!"
"Lah emang iya kan ? pasti umur om udah tiga puluh tahun." ledek Caca.
"Sembarangan, kalau ngomong."
"Emang umur om berapa ?"
"Dua puluh tujuh tahun."
"Nah, bagi Caca itu udah tua."
"Kayak kamu muda aja." Ledek Orion menatap Caca rendah.
"Ih emang masih muda kali. Caca masih dua puluh dua tahun gini." Sewot Caca.
"Heh ? dua puluh dua tahun muda ?" cibirnya meremehkan membuat Caca emosi. Baru saja Caca ingin membalas cibiran Orion tetapi keduluan oleh Mentari.
"Sudah, kalau kalian terus berdebat. Kapan selesai makannya ?" Caca dan Orion diam. "Berdebatnya di sambung di kamar aja."
__ADS_1
"KAKAK!" teriak mereka kompak. Mentari terkekeh senang.
Aahh bertapa senangnya ia, jika Orion dan Caca benar-benar bersatu. Apakah aku harus menjodohkan Orion dengan Caca ? Iya harus, bagaimana pun caranya harus.