
Mentari dan suaminya, Revan. Melihat Pak Ben tergopoh dengan seorang lelaki berperawakan tinggi tegap dan tas kerja yang ditentengnya berjalan, membuat pasangan ini yang baru saja keluar dari kamar mereka saling berpandang-pandangan. Orang itu bukan Dokter Lusy.
"Pak Ben, ada apa ?" tanya Mentari menghentikan langkah keduanya. Pak Ben membungkukkan badannya memberi hormat.
"Non, tidak apa-apa ?" tanya Pak Ben khawatir.
"Mentari baik-baik saja, Pak Ben, tadi hanya kram biasa saja." Sahut Revan menjelaskan. Terdengar helahan napas lega dari Pak Ben.
"Di mana Dokter Lusy ?" tanya Mentari penasaran.
"Dokter Lusy sedang dinas di luar kota, Non. Jadi saya memanggil dokter lainnya." jelas Pak Ben gugup. Tahu kalau Mentari akan memprotes cepat-cepat Pak Ben menyambung ucapannya "Tenang saja, Non dia termasuk dokter kepercayaan Dokter Lusy."
Mentari menghela napasnya "Selamat malam, perkenalkan nama saya Hans." Ucap pria di sebelah Pak Ben sambil membungkukkan badannya memperkenalkan diri.
Mentari dan Revan hanya tersenyum untuk menanggapinya. Pak Ben pun menjelaskan bahwa Orion demam tinggi dan mengigau bahkan sampai menangis. Membuat Mentari diserang dengan rasa panik, segera ia pergi ke kamar Orion tanpa menunggu Pak Ben selesai berbicara. Revan yang cemas dengan cara berlari istrinya langsung menyusul Mentari. Istrinya itu tak ingatkah dia membawa beban bukan hanya dirinya sendiri.
"ORION SAYANG MAMA!" larinya seketika berhenti saat mendengar suara tinggi lelaki yang dikenalnya, juga nama itu. Mentari kemudian cepat menyelesaikan langkahnya yang hanya tersisa dua tangga lagi untuk sampai ke lantai atas.
"SAYANG!" pekik Revan khawatir. Napasnya tersengal akibat berlari menyusul istrinya dan juga rasa khawatir yang sangat besar dirasakannya. Mentari yang mendengar teriakan suaminya berhenti dengan napas yang tidak beraturan.
Revan segera memegang kedua bahu Mentari. "Tarik napas secara perlahan sayang," lirih suaminya menginterupsi istrinya. Mentari mengikuti interupsi Revan. Setelah tenang, suaminya memperingatinya dengan nada yang lembut sebisanya.
"Sayang, jangan lari-lari seperti itu. Kalau kamu terluka gimana ? kamu nggak ingat di sini ada siapa ?" ucapnya sambil mengusap perut besar Istrinya dengan lembut. Mentari yang sadar akan itu, langsung merasa bersalah. Akibat rasa khawatir akan kondisi adiknya ia sampai melupakan keselamatan calon anaknya.
"Maaf," cicit Mentari sangat bersalah.
__ADS_1
"Aku tahu kamu khawatir dengan adik kamu, tapi kamu juga ingat bahwa di sini ada nyawa seorang yang akan menjadi pelengkap kita. Anak kita sayang." Ucap Revan dengan lembut sambil menarik pelan tubuh istrinya untuk ia peluk dengan gemas. Mentari yang memasang wajah seperti itu membuat Revan tidak tahan untuk memarahkan istrinya.
Mentari membalas pelukan suaminya dengan erat sambil bergumam 'maaf' yang entah sudah berapa kali disebutnya. "Ya udah, yuk sekarang kita liat kondisi Orion. Oke tapi janji jangan lari-lari seperti tadi lagi." Kata Revan tegas membuat Mentari mengangguk kepalanya lucu. Revan pun tersenyum sambil mengecup kening Mentari kemudian menggenggam tangan Mentari berjalan ke kamar adiknya.
Hal itu tak luput dari pandangan dua orang yang sendari tadi hanya memperhatikan interaksi keduanya. Pak Ben memandang dengan haru dan bahagia dalam hati bersyukur berkali-kali kepada Tuhan. Sedangkan Dokter Hans yang melihatnya hanya tersenyum maklum.
Mentari segera membuka pintu kamar adiknya setelah mereka sampai didepan pintu kamar Orion. Saat pintu terbuka, wajah Mentari seperti baru saja disiram air dingin. Kepanikannya seolah tersedot oleh pemandangan yang paling mustahil terjadi di rumah ini.
Tidak jauh berbeda dengan Mentari. Revan, Pak Ben dan Dokter Hans ikut terpaku ketika memasuki kamar dan melihat lelaki temperamental itu tengah memeluk posesif gadis dihadapannya. Tidak ada yang membuka suara dan tidak ada pergerakan dari empat orang tersebut. Mereka berempat seperti sangat menikmati momen itu, bahkan mungkin merestui apa yang terjadi saat ini.
Seketika, Caca terlihat tak nyaman dengan pelukan yang ternyata menekan lengan kirinya yang cedera. Tadi ditempat kerja terjadi kecelakaan kecil. Caca terjatuh dari tangga, untungnya kaki dan kepalanya tidak kenapa-kenapa. Tetapi tangan kirinya cedera akibat ia menggunakannya untuk melindungi kepalanya. Entahlah apakah ini karma karena ia menuruni tangga sambil mengumpat kasar pada bosnya atau apa.
"Aw," ringis Caca kesakitan.
Sadar bahwa sosok mamanya tidak akan menolak bahkan meringis kesakitan saat ia peluk. Orion pun melepaskan pelukannya dan terkejut setengah mati. "Ca-Caca ?!"
Mentari, Revan dan Pak Ben sontak menyadari bahwa tontonan tadi tidak akan dinikmati oleh orang luar karena dia tidak tahu bertapa menyebalkan kedua makhluk di atas ranjang itu saat berdebat.
Caca melongo, wajah putihnya terasa panas sekarang yang ia pastikan bahwa kedua pipinya memerah. Gua pelukan sama dia, Ya Allah... ampuni Caca. Tidak sanggup menahan malu, Caca segera bangkit dari ranjang Orion dan berlari secepat kilat. Hingga...
Bugh!
"Argh!..." Caca kembali meringis. Kedua mata Caca bahkan sudah berair, dan jangan lupa ditambah malu yang sangat luar biasa. Ini siapa yang meletakan pintu jati di sini runtuknya dalam hati. Tanpa menoleh, Caca langsung kabur dari ruangan ke kamarnya.
Sepeninggal gadis itu, sang dokter melaksanakan tugasnya. Memeriksa pasien, mendiagnosa dan memberikan obat serta resep yang harus ditebus. Karena dokter itu membawa semua obat yang dibutuhkan. Setelah dirasa cukup, dokter itu mohon pamit dengan ditemani Pak Ben untuk kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja.
__ADS_1
Tinggalah Mentari dan Revan di ruangan Orion yang didominasi warna abu-abu dan hitam. Mentari memandang adiknya dengan lekat dengan senyum penuh arti di bibirnya. Adiknya ini hanya demam biasa, tapi jadi tidak biasa saat Caca yang mengurusnya. Bukti kuat masih tertinggal, ada nampan berisi makan malam, beberapa handuk dan wadah berisi air untuk mengkompresnya.
Revan memberi kode ke Mentari untuk tidak menggoda adiknya. Mengingat bocah berusia dua puluh tujuh tahun itu untuk lekas makan dan minum obat.
"Bagaimana rasanya ?" tanya Mentari dengan senyum jahil saat Nathan mengunyah makan malamnya. Sosis panggang dan daging sapi cincang yang dimasak dengan saus kecap beserta tumisan sayur dan juga salad buah dimakannya seakan tidak pernah makan selama satu bulan.
"Enak," jawab Orion tak acuh.
Mentari memekik tertahan sambil memukul-mukul gemas lengan kanan Revan yang berdiri tepat di sebelahnya yang tengah asik duduk menonton adiknya makan. "Memeluk gadis, enak katanya."
"Uhuk!" Orion mendengar itu tersedak, makanan yang belum lolos dari kerongkongannya hampir saja keluar kembali. Punggung tangan kanan Orion menutup mulutnya. Lalu menatap kakaknya dengan wajah kesalnya. "Yang ku maksud makanannya!"
"Wah, kamu sudah sehat kalau bisa marah-marah gini." Sahut Mentari dengan mata melebar. Jika tidak ada Revan di dekatnya dan tidak mengingat bahwa kakaknya sedang hamil besar mungkin ia akan mencolok hidung kakaknya dengan sumpit yang dipegangnya.
***
"Aduuuhh!..." erang Caca sambil berguling-guling di tengah ranjangnya. Akibat ulahnya menahan rasa nyeri di tangan kirinya ia berhasil menyingkirkan selimut tebal dari ranjang empuknya. "Argh... sakiittt... hiks"
Berguling, tengkurap, bersujud sampai ia mondar-mandir di kamarnya. Nyerinya belum hilang total. Dan sialnya lagi Caca baru menyadari obat pereda nyerinya tertinggal di tempat kerja.
Mata Caca berkilat marah ke arah pintu ketika menyadari ada seseorang yang berani mengetuknya. Kalau yang datang justru membuat sakitnya bertambah, jangan halangin Caca untuk mencakar wajah orang itu.
"Siapa ?" teriaknya dengan suara serak. Dibukanya pintu dan sosok yang paling tidak ingin ditemuinya sekarang tengah berdiri dihadapannya. Apa lagi tujuannya sekarang. "Mau apa ?" seru Caca berusaha terdengar galak walaupun wajahnya tidak menunjukan hal serupa.
Lelaki itu menerobos masuk membuat Caca melebarkan matanya, Caca berjalan mundur sambil melindungi lengan kirinya. Tidak ada lagi adegan terbentur ke pintu lagi. Karena rasanya nyaris membuat Caca gila.
__ADS_1
"Heh! aku nggak ada nyuruh om masuk, ya!" seru Caca kembali. Kali ini galak sungguhan.