
DEG
Caca membeku sesaat mendengar pernyataan Mentari, tangannya tak berhenti mengusap punggung Mentari. Berharap apa yang ia lakukan bisa membuat Mentari sedikit lebih tenang. Caca tidak berbicara, ia tak menanyakan apa penyebab mamanya Mentari meninggal karena ia tahu Mentari belum selesai bercerita.
"Hari itu..." Mentari menarik-hembuskan napasnya, mengatur suaranya agar lebih jelas. "Hari ulang tahun Orion."
Mentari menunjukkan foto, ada seorang anak kecil laki-laki mengenakan pakaian hangat di tengah daratan penuh salju, sepertinya foto itu diambil di luar negeri ketika musim dingin.
Mentari membuka halaman selanjutnya, terdapat foto tiga orang yang wajahnya tak asing bagi Caca. Sosok Gadis di sebelah kiri yang kedua tangannya mencubit pipi anak kecil laki-laki—yang sama seperti sosok anak kecil di foto tadi—itu adalah saat Mentari masih remaja. Di sebelah kanannya, ada seorang laki-laki umurnya kira-kira di atasnya Mentari tengah tersenyum melihat anak kecil yang merengut karena cubitan Mentari.
"Biasanya setiap kami liburan di luar negeri selalu membawa pelayan. Tapi hari itu, kami memenuhi permintaan kakakku untuk berlibur tanpa pelayan ke Villa kami di daerah pegunungan." Mentari tersenyum kecil. Jemari tangannya mengusap foto itu tepatnya menyentuh foto wajah kakaknya.
"Malam sebelum kami berangkat, kakak memberikan wasiatnya secara langsung padaku." Kata Mentari dengan suara memberat.
Mentari memasuki kamar Langit tanpa mengetuk pintu, seperti biasanya. Terlihat di dalam kakaknya itu sedang asik merapikan koleksi ensiklopedianya di rak bukunya.
"Jangan bilang kalau kakak akan membawa buku itu di Villa kita ?" tanya Mentari sambil memandang buku itu ngeri.
Langit terkekeh sebentar "Tidak, aku akan memberikan ini pada adik laki-laki ku."
Langit mendekat ke arah ranjangnya, menutup koper yang masih terbuka. Mentari pun menyusul kakaknya. Mendudukan diri di ranjang kakaknya sambil memperhatikan kegiatan Langit.
"Orion tidak akan menyukai buku-buku itu." cibir Mentari. "Kurasa dia akan mirip denganku." Lanjutnya terkekeh.
"Jangan sok tau kamu, kamu yang nggak tahu kalau hampir setiap hari Orion selalu baca buku-buku itu." Langit tersenyum melihat Mentari cemberut mendengar perkataannya.
"Aku selalu berharap Orion itu perempuan, agar aku selalu menang melawanmu!" jawab Mentari sambil melihat kakaknya menurunkan kopernya dan menarik gagangnya keluar.
"Tapi nyatanya harapan kamu nggak terkabul tuh." Canda Langit yang makin membuat Mentari cemberut. "Seharusnya kamu bersyukur karena Orion itu laki-laki, kamu punya pengawal dua sekaligus tanpa membayarnya."
__ADS_1
Langit duduk di samping adiknya, menatap adiknya dengan pandangan sayang. "Karena aku dan papa, tidak selalu di sampingmu."
"Tapi, aku akan selalu membayangi kalian berdua." Balas Mentari dengan senyum yang manis.
"Mentari," panggil Langit sambil memegangi bahu Mentari dan membuat tubuh adiknya menghadap ke arahnya. "Karena hanya aku, kamu dan papa yang memiliki darah ini, kita harus saling menjaga."
Alis Mentari berkerut "Kakak ngomong apa sih ? ada apa dengan kakak ? kenapa menda--"
"Dengerin kakak, jika sesuatu terjadi padaku atau papa, berjanjilah pada kakak bahwa kamu akan memberikan darahmu pada papa lebih dulu, karena papa bisa menjaga kalian lebih baik daripada aku."
"Langit, aku tak suka arah pembicaraanmu." Sahut Mentari dingin tanpa embel-embel panggilan kakak. "Lagian tidak akan terjadi sesuatu pada kalian."
Dara melepaskan cengkeraman Langit pada bahunya dan beranjak dari duduknya. "Yang lain sudah menunggu di bawah, ayo!" Mentari berjalan dengan cepat kearah pintu sampai ia mendengar Langit kembali bersuara.
"Aku serius." Mentari terhenti. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita kedepannya, itulah sebabnya aku mengatakan hal ini padamu."
Langit bodoh kenapa ia berbicara seperti itu di saat suasana yang berbahagia ini ? pikir Mentari kesal.
"Sayang, kenapa diam di situ ?" sapaan mama berhasil menyadarkan mentari segera ia berlari kecil kemudian menubrukan tubuhnya ke pelukan sang Mama. "Ada apa, hm ? kamu bertengkar lagi dengan kakakmu ?"
Mentari menggeleng di dalam rengkuhan mamanya. Tiba-tiba saja, rok dressnya seperti ditarik-tarik. Mentari menunduk dan mendapati Orion menatapnya cemas.
"Aku akan membela Kak Mentari, kalau Kak Langit mengusilimu lagi," kata Orion polos.
"Jadi aku serasa jadi tokoh yang jahat di sini ?" tanya Langit yang mendadak muncul dari belakang. Cowok lima belas tahun itu memakai kemeja biru dongker yang ditambah vest hitam. Lesung pipinya yang tipis itu terlihat sekilas saat setelah mengatakannya. "Baiklah aku akan pergi dan kalian akan sangat merindukan aku nanti." Lanjutnya penuh percaya diri. Kopernya langsung diambil alih oleh Pak Ben dan Langit segera menggendong Orion dengan sayang.
"Kak Langit mau pergi ?" tanya Orion dengan polosnya.
"Kalau kalian memusuhi aku begitu, lebih baik aku pergi saja." Canda Langit dengan cengiran usilnya.
__ADS_1
"Kak Langit ngambek ya ?" Tanya Orion sambil tertawa meledek. "Laki-laki itu jangan mudah ngambek, laki-laki itu--"
"Harus tegas, kuat dan penuh kelembutan pada keluarga." Sahut Langit berbarengan dengan ucapan Orion. "Adikku ini memang pintar, kamu mengingat apa yang aku ajarkan." Tangan kiri Langit mengusap gemas puncak kepala Orion.
"Lihat lah, sebenarnya siapa yang paling jahat di sini ? kalian bertingkah seperti tidak mempunyai saudara perempuan." protes Mentari pura-pura kesal. Membuat Langit dan Orion serempak menjulurkan lidahnya ke arah Mentari. Mama hanya bisa terkekeh melihat perilaku anak-anaknya.
"Mentari," panggil Mamanya membuat Mentari menoleh. "Mama ada dipihakmu dan mama selalu menyayangimu, jadi jangan merasa kalau kamu sendirian di sini hanya karena tidak ada saudara perempuan."
Entah kenapa, tiba-tiba saja dada Mentari terasa sesak dan rasanya sulit bernapas. Kuharap, ini bukan pertanda buruk batin Mentari.
Caca menggenggam erat tangan kanan Mentari ketika air mata ditahan oleh ibu hamil itu akhirnya mengalir keluar dari kelopak matanya. Mentari menceritakan awal mula bencana itu dengan mata menerawang, Caca tahu jiwa Mentari sedang tidak bersamanya saat ini.
"Caca..." Kata Mentari sengau. Matanya pun mulai mirip dengan mata Caca yang bengkak. "Aku kehilangan mama dan Kak Langit. Hari itu benar-benar hari terburuk yang pernah kulalui seumur hidup." Matanya kembali menerawang.
Mentari merasa kepalanya sangat pusing, matanya yang mengabur membuat Mentari memilih untuk memejamkan kembali matanya yang sempat tertutup, persis seperti sesaat tadi. Seketika ada sebuah truk yang tiba-tiba muncul dari arah belakang bus yang berada di arah yang berlawanan.
Truk yang melaju dengan kecepatan tinggi mengarah ke mobil keluarga Mentari dengan suara klason yang memekakan telinga, membuat sang Papa terkejut dan panik lalu membanting stirnya ke kiri, sampai bagian depan mobil menabrak pembatas jalan tol dan terjun bebas ke jurang.
Di tengah jeritan penuh ketakutan, mobil mereka berguling berkali-kali hingga mencapai dasar jurang. Kejadian mengerikan itu terulang kembali di pikiran Mentari sekarang. Apa kita akan mati ? pikir Mentari pasrah, matanya terpejam menahan ngilu di sekujur tubuhnya mulai mengalirkan cairan hangat. Aku lebih baik mati daripada melihat keluargaku mati.
"Kak... Kakak..."
Orion! Orion masih hidup! itu berarti aku juga harus tetap hidup. Mentari langsung membuka kedua matanya dan bersusah payah menoleh ke sebelah kiri. Tangis Mentari semakin pecah ketika mendapati kepala Orion mengalir darah, wajah adiknya menahan kesakitan yang amat sangat.
"Or-Orion..."
"Ka-kak Me-Mentari" Orion menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Apa Ki-ta akan ma--ti ?"
Mentari menggenggam tangan kecil Orion dengan sedikit meremasnya, berharap sisa kekuatan Mentari dapat berpindah ke tubuh mungil Orion saat ini dan agar bocah itu mengerti, bahwa Mentari akan selalu menjaga Orion, seperti Langit menjaga mereka selama ini.
__ADS_1