Feeling Attack

Feeling Attack
13. Bertemu


__ADS_3

Jam kerja Caca sudah berakhir setengah jam yang lalu. Saat ini Caca menunggu abang ojol untuk mengantarkannya pulang ke rumah Nana. Badannya penuh dengan keringat, jadi ia memutuskan untuk pulang sebentar bermaksud membersihkan dirinya. Tidak mungkin untuk Caca pergi ke rumah Mentari dalam keadaannya seperti ini, masih berpakaian kerja.


Tak berapa lama abang ojol yang di tunggu Caca sampai dihadapannya, tanpa basa-basi lagi Caca segera naik dan langsung menyuruh abang ojol menjalankan motornya.


Saat Caca sampai di rumah Nana, Caca melihat mobil Kevin sudah terparkir di dalam garasi. Dalam hati Caca bertanya-tanya sepertinya ini bukan jam ia pulang kantor. Caca melangkahkan kakinya masuk ke dalam, melewati ruang keluarga untuk naik ke lantai atas. Tetapi langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang sedang duduk membelakanginya menghadap televisi, anehnya Caca tidak melihat orang yang menemani pria itu.


Mungkin itu adalah tamunya Kak Kevin batin Caca berbicara. Caca pun segera naik ke atas bersiap-siap untuk pergi ke rumah Mentari.


Mendengar langkah kaki, pria itu pun langsung menoleh ke arah tangga dan mendapati seorang gadis menaiki tangga. Pria itu merasa tidak asing akan sosok gadis tadi. ia pun langsung mengangkat bahunya acuh aah mungkin adiknya Kevin kata batin pria itu.


***


Caca menutup pintu kamarnya, tadi sehabis ia sholat. Tiba-tiba saja Nana menelponnya untuk menyampaikan pesan ke Kak Kevin bahwa ia pulang malam hari ini. Nana sedari tadi menghubungi Kevin tapi nomor lelaki itu tidak aktif jadi Nana menelpon Caca untung saja Nana belum pergi.


Caca pun menuruni tangga, dan mendapati Kevin sedang bersantai di ruang keluarga. Caca mengedarkan pandangannya tetapi ia tidak mendapati laki-laki tadi yang dilihatnya. Apa mungkin sudah pulang ?


"Kak," panggil Caca setelah sampai di lantai satu. Kevin menoleh ke Caca menatapnya seakan bertanya 'ada apa ?'. "Kakak nggak aktifkan handphone ?"


"Handphone saya baterainya habis tadi, kenapa ?" sahut Kevin.


"Itu, tadi Nana telpon, katanya ia pulang malam hari ini masih ada urusan yang harus ia selesain."


"Urusan apa ?"

__ADS_1


"Caca nggak tau, Nana cuma bilang gitu doang." Kevin hanya mengangguk.


"Terus, kamu mau ke mana ?" tanya Kevin melihat pakaian Caca yang rapi seperti ingin pergi berjalan.


"Oh iya, Caca izin pulang malam juga ya kak. Caca mau ketemu teman udah janji semalam sama dia." Izin Caca.


"Ya udah hati-hati, kamu pakai motor saya aja," tawar Kevin.


"Nggak usah kak, Caca sama abang ojol aja. Lagian dekat kok rumahnya nggak terlalu jauh dari sini." Kevin mengangguk kepalanya lagi. "Ya udah Caca pergi dulu ya Kak, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Caca..." langkah Caca terhenti mendengar panggilan tak asing dari suara yang ia kenal. Bukan, ini bukan suara Kevin tapi suara—Segera Caca menoleh ke belakang, tiba-tiba tubuh Caca membeku, aliran darahnya serasa berjalan semakin cepat memicu organ utama di dalam tubuhnya berdetak sangat kencang.


Mata Caca membesar melihat sosok yang selama ini ia cari, sosok yang selama ini ia rindukan. Alasan dari Caca merantau ke kota ini. Abian. Orang di hadapannya ini adalah Abian, teman kecilnya. Cinta pertamanya.


"Ini beneran kamu, Ca ?" ucap Bian seakan masih tidak percaya. Caca hanya mengangguk kecil, kakinya tidak mampu untuk melangkah, tubuhnya terasa kaku.


Segera Abian memeluk Caca erat yang dibalas dengan tak kalah erat oleh Caca. Tangisan Caca pecah, seperti mimpi rasanya bisa memeluk pria ini. Pelukan mereka semakin erat seperti menunjukkan bertapa rindunya mereka berdua.


***


Di sinilah mereka sekarang, di lantai teratas salah satu gedung tertinggi di kota ini. Bisa di bilang ini sebagai rooftopnya gedung ini. Setelah selesai di interogasi oleh Kevin akhirnya mereka di izinkan untuk pergi berdua.

__ADS_1


Aah Caca harus mencatat hari ini menjadi hari teristimewanya. Tata harus tau soal ini begitu pun dengan Nana Aaa Caca jadi tidak sabar untuk memberitahu mereka berdua.


Dari sini Caca bisa melihat bertapa luasnya dan indahnya saat malam menghampiri kota ini. Lampu-lampu gedung beserta rumah dan jalanan kelihatan dari tempat ini. Senyum ceria tak lepas dari bibir Caca. Hawa sejuk hinggap di tubuhnya.


"Kamu suka ?" tanya Bian yang memang dari tadi tak lepas melihat wajah imut Caca.


Caca menoleh ke samping dan langsung mengangguk antusias menjawab pertanyaan Abian yang mengundang tawa kecil dari pria jangkung ini.


"Di sini pemandangannya bagus dan juga kita bisa liat bintang sepuasnya." Jawab Caca sambil mendongak kan kepalanya melihat penghuni langit malam menunjukkan keindahannya.


"Kamu masih suka dengan kebiasaan itu ?" tanya Abian Membuat Caca menatapnya heran.


"Kamu nggak suka lagi ?"


"Eugh... bukan itu maksudku. Aku kira saat dewasa kebiasaan kamu itu juga hilang."


"Hmm," Caca bergumam kembali pandangannya ke penghuni langit malam. "Aku nggak akan pernah bosan melihat bintang-bintang itu, karena bintang-bintang inilah aku bisa merasa dekat dengan ayah. Ayah yang pertama kali mengenalkan aku akan indahnya bintang." Abian menatap dalam wajah cantik sahabat kecilnya ini.


"Dan bintang-bintang ini juga yang mempertemukan kita berdua dulu. Kamu masih ingatkan peristiwa saat kita pergi berkemah saat masih sekolah dasar dulu." Abian mengangguk. "Dulu saat kita pisah dari rombongan yang mengakibatkan kita berdua tersesat di hutan. Kamu saat itu menangis dan takut tapi aku dengan sok beraninya mencoba menghiburmu padahal aku saat itu juga takut loh." Caca dan Abian terkekeh mengenang cerita mereka dulu.


"Dan kamu menghiburku dengan kata-kata bijakmu seolah-olah kamu itu adalah kakakku." Sahut Abian sambil tertawa geli.


"Ih aku kan saat itu mencontohkan apa yang ayah ajarkan padaku." Cemberut Caca. "Ayahku pernah bilang, jika Caca merasa takut atau pun merasa sedih lihatlah bintang-bintang di langit, lihatlah bertapa indahnya mereka berlomba-lomba memancarkan sinarnya menghiasi langit malam. Bintang-bintang itu akan menghilangkan kesedihan Caca bagaikan magic. Dan memang terbukti setiap kali aku sedih atau merasa kesepian aku liat ke bintang berbicara sepatah atau lebih pada bintang, dalam sekejap kesedihanku menghilang."

__ADS_1


"Iya aku juga merasakannya, saat itu pertemuan pertama kita, waktu itu aku sempat berpikir bahwa kamu itu tidak waras karena berbicara pada bintang, tetapi saat aku mencoba mengikutimu entah kenapa aku pun termakan oleh omonganku sendiri." Akuh Abian.


Caca tersenyum remeh "Makanya, kamu sih nggak percaya sama aku." Abian tersenyum kecil.


__ADS_2