
**Selamat Membaca
Jangan lupa Like yaa
Biar Makin cepat Up nya! 😆😀**
***
"Aarrghhh! Sstt....Ka--kamu siapa ?" tanya pria itu heran, berusaha menegakkan badannya. Caca yang melihat itu pun segera membantunya tapi...
"Ck Lepas!" menepis kasar tangan Caca. Heh ini mau dibantu loh om!
"Aduh! sakit woy!" ringis Caca. Tepisannya berhasil membuat bokong Caca bersentuhan ke tanah. Sedangkan pelakunya tidak ada rasa bersalah sama sekali. Nih om raksasa bener bener yaaa!
"Om ini manusia atau bukan sih ?! kasar banget jadi om-om !" omel Caca setelah berhasil bangun yang sama sekali tidak diperdulikan oleh pria tersebut. Sebelah kaki pria itu berhasil keluar dari mobil. Matanya hanya fokus ke bawah menjaga keseimbangannya.
"Aarrgghh..."
"Tuh kan! sok kuat sih!" omelnya kembali saat berhasil menyangga badan om raksasa.
"E-Egh! oo-om be-rat ih!" Dengan kekuatan penuh Caca berhasil membawa om raksasa itu keluar dari mobil.
"Lepas! jangan sentuh saya!" kembali menepis tangan Caca yang masih melilit di perutnya.
"Ck! om ini mau dibantu enggak sih!" marah Caca.
"Apa saya tadi ada minta bantuan ke kamu ?!" tanyanya sinis.
"Meskipun eng--"
"Enggak ada kan! kamu yang tiba-tiba datang dengan soknya untuk menolong saya!" potong pria itu pedas. Pria ini tau tipe-tipe cewek yang pura-pura ingin bantu tapi di ujung ada maunya. Basi!
"Saya bukan sok untuk membantu om! saya hanya bertanggungjawab! karena sudah buat om jadi gini!" pekik Caca kesal.
"Bertanggungjawab kamu bilang ?! apa kamu bisa membayar kerugian ini ?!" tunjuk pria itu ke mobilnya. Terlihat bagian depan mobil yang sudah hancur.
"Oke! memang saya tidak bisa membayar untuk memperbaiki mobil om. Tapi, setidaknya saya bisa membantu om untuk sampai ke rumah. Rumah om di sekitar sini kan ?" sahut Caca sedikit menurunkan suaranya.
"Dengan memeluk saya seperti tadi sepanjang jalan ?!" balasnya kembali sinis.
"Bu-bukan seperti itu ju--"
"Wajah kamu menjawab semuanya!" sinisnya, ia berhasil melihat ekspresi wajah malu-malu gadis di depannya ini. Tadi ia sempat berpikir kalau yang berdiri di depannya ini adalah sosok anak kecil, melihat dari penampilannya dan postur badannya. Tapi setelah adegan yang bisa dikatakan dengan berpelukan itu baru dia menyadari bahwa di depannya ini adalah seorang gadis.
Heh! Maksudnya Apa ? batin Caca.
"Hilangin pikiran om yang 'enggak enggak' tentang saya. Saya asli ingin membantu om bukan untuk cari kesempatan!" pekiknya Kesal. Suudzon mulu nih Orang!
"Lagian saya harus pakai cara apa supaya om enggak berpikiran kalau saya mau cari kesempatan ? atau om mau pakai cara, saya seret-seret om sepanjang jalan ?" Sambungnya skeptis.
"Kamu! Gila!" geram pria itu sambil menunjuk satu jari di depan mata Caca.
"LANGIT!" pekik seseorang yang baru saja keluar dari mobil. Mengalihkan pandangan mereka berdua.
"Astaga! kamu kenapa bisa begini sih ?!" syok orang itu melihat kondisi mobil dan pria itu.
"Aa-aaww sakit, Kak!" ringisnya saat orang itu menyentuh luka di pelipisnya.
"Ya Ampun! Ini harus cepat diobati!" serunya heboh melihat luka berdarah dipelipis adiknya.
"Ck! aku enggak apa-apa kakak jangan lebay!" ujarnya lalu berjalan tertatih-tatih yang ditolong segera oleh supirnya untuk masuk ke dalam mobil orang itu, meninggalkan wanita cantik dan juga tentunya Caca.
__ADS_1
"Ck anak Itu!" decak wanita itu. Lalu pandangannya beralih pada sosok mungil di depannya ini. Caca yang menyadari itu, berusaha membuka suaranya.
"Ekhem! maaf sebelum--"
"Kamu siapa ?" potongnya.
Ck Sial kakak dengan adik sama saja. Kembali batin Caca menggerutu.
"Ee-emm sa-saya Caca, Kak, maaf udah buat adik kakak jadi celaka." Tunduk Caca takut. Wanita itu hanya mengernyit dan memandang Caca datar.
"Kamu ikut saya, kita selesain di rumah saya." Ujarnya seperti perintah. Setelah itu berjalan ke mobilnya yang dikuti oleh Caca dengan beribu pertanyaan di benaknya.
Apa ini akhir dari hidup gua? sedangkan gua belum ketemu dengan dia. Apakah gua akan dimasukkan ke penjara ? atau disuruh bayar kerugiannya ? tapi kan gua enggak punya uang sebanyak itu.Ya Allah Bantuin Caca. Tata, Nana Tolongin gua! Jeritan Batin Caca.
Brak
"Kakak kenapa sih! bawa kurcaci ini!" kesal Langit melihat kakaknya masuk tidak sendiri melainkan bersama gadis kurcaci itu. Caca yang mendengarnya langsung melototkan mata ke Langit. Enak aja tuh mulut!
"Pak tolong urus mobilnya Langit yaa pak. Biar Langit yang bawa mobilnya." Perintah wanita itu yang tidak mengindahkan pertanyaan Langit. Caca yang melihat itu tersenyum senang. Karena kakaknya juga bisa membuat wajah om raksasa kesal.
"Baik Bu," ucap sopir itu. Lalu keluar dari mobil.
"Kak, aku habis kecelakaan loh, masa disuruh bawa mobil!" protes Langit.
"Kamu tadi kan yang bilang enggak apa-apa! Kakak enggak usah Lebay!" Sindirnya.
"Ya... tapi-"
"Luka kamu cuma di pelipis doang! kaki sama tangan kamu baik-baik aja, kan ? lagian sebentar lagi sampai. Jangan jadi manja kamu. Heran kakak tumben kamu manja hari ini." Heran wanita itu seperti bukan diri adiknya. Caca hanya bisa menjadi pendengar dan pengamat saja.
Perkataan kakaknya tadi berhasil membuat Langit terdiam dan merubah ekspresi wajahnya menjadi sangat dingin. Caca yang menyadari itu mengernyit heran.
Cepat sekali dia merubah ekspresinya.
***
"Mereka biarin gua sendirian. Enggak takut kalau gua kabur eh atau gua kabur aja yaa ? mumpung mereka pada di atas semua. Enggak Ca enggak! lu enggak boleh lari dari tanggungjawab. Lu bukan anak kecil lagi. Oke." Iblis dan malaikat dalam pikiran caca berdebat.
"Jadi... nama kamu Caca?" suara wanita itu berhasil menyadarkan Caca dari pikirannya. Pandangannya jatuh ke arah tangga tepat wanita itu melangkah turun dengan anggun. Kali ini dengan dandanan yang lebih santai.
"I-ya kak,"
"Mentari." Jawab ambigunya.
"Hah ?"
"Panggil aku Mentari." Ujarnya senyum mengubah cara bicaranya.
"Iya Kak Mentari,"
"Boleh kamu ceritain kronologis kejadian nya ?" pinta Mentari lembut. Sadar akan ketidaknyamanan Caca disini.
"Aahh iya kak, jadi gini..." mengalirlah cerita sebenarnya terjadi di awal mula ia tidak melihat jalan saat menyebrang, tidak menyadari ada mobil ditikungan tersebut dan sampai kecelakaan itu pun terjadi juga perdebatan-perdebatan yang terjadi di antara Langit dan Caca.
"Hahaha Langit berbicara seperti itu ?" tawa Mentari setelah mendengarkan cerita Caca. Membuat Caca setengah lega dan setengah takut akan reaksi Mentari.
"Iya mohon maaf nih kak, adik kakak itu nyebelin banget jadi om--"
"Kamu manggil adik aku om ?" tanyanya geli. "Hahaha... baru kamu yang memanggil adik aku seperti itu." Tawanya bahkan sampai terbahak-bahak saking lucunya karena ia membayangkan peristiwa tadi.
"Eegh... Kakak enggak masukin Caca ke penjarakan ?" tanya Caca hati hati.
__ADS_1
"HAHAHA." Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Caca semakin ngeri saja melihat tawa Mentari seperti itu.
"Haha—Kamu—Astaga lucu banget sih!" gemas Mentari mencubit pipi Caca. Tak tahan ia melihat wajah Caca yang begitu polosnya melontarkan pertanyaan seperti tadi. Aduh bisa melar nih pipi Caca.
"Ekhem! oke! gini ya kecelakaan itu enggak sepenuhnya salah kamu kok. Udah takdirnya itu terjadi. Buktinya dari peristiwa itu aku bisa kenalan sama kamu kan," ujarnya melepaskan tangannya dari pipi Caca.
"Tenang aja aku enggak bakalan masukin kamu ke penjara." Sambungnya.
"Beneran, Kak ? kakak maafin aku kan ?" Tanya Caca girang.
"Aku sih maafin kamu, tapi aku enggak jamin Langit bisa maafin kamu atau enggak." Sahut Mentari. Ahh Caca lupa. Langit! Orang itu pasti enggak mau maafin Caca.
"Iya juga sih," jawab Caca lemah.
"Tenang kakak bantuin kamu buat dapat maaf dari Langit." Tawarnya dengan senang hati.
"Beneran, Kak ?!"
"Iya bener,"
"KYAA!!! makasih Kak Mentari!" pekik Caca memeluk erat Mentari yang dibalas tak kalah erat juga.
"Iya sama-sama," Balasnya senyum.
"SAYANG! AKU PULANG!" teriak seorang pria memasuki rumah. Pandangannya bertemu dengan mata sang istri dan sosok gadis mungil yang masih berada dirangkulan istrinya.
"Mas! kenalin ini Caca—oh iya kamu tinggal di daerah mana ?" perkenalan yang dipotong kembali dengan pertanyaan.
"Caca di sini tinggal di rumah teman, Kak, rumahnya enggak jauh dari sini. Mungkin beda blok. Caca asalnya dari Kalimantan, di sini pengen ketemu temen lama sekalian liburan." Jelas Caca lengkap.
"Oh gitu... oh iya! kenalin Ca, ini Mas Revan, suami aku." Kenalnya. Sambil memeluk perut suaminya. Pasangan Suami Istri yang Harmonis Pikir Caca.
"Hai salam kenal." Sapa Revan ramah. Caca membalasnya tersenyum simpul.
"Langit ada ?" Tanyanya.
"Ada di kamar,"
"Hmm luka Om Langit ? Eghh maksudnya keadaan om Langit enggak kenapa-napa, kan ?" khawatir Caca.
"Luka ? om ?" Tanya Revan tidak mengerti menatap kearah istrinya seakan meminta penjelasan.
"Ssstt nanti aku jelasin ke kamu." Jawab sang istri.
"Aku udah telpon dokter pribadinya mungkin sebentar lagi bakalan sampai." Jelasnya ke Caca.
"Mentari," panggil seseorang berjas putih.
"Nah itu dia!" menyambut kedatangan wanita itu dengan salaman pipi.
"Lusy! Kamu langsung aja ke kamar Langit. Dia udah tau kok." Suruhnya. Wanita itu hanya mengangguk kemudian naik ke atas menuju kamar Langit.
"Tumben mas pulang awal ?" Herannya karena ini masih terlalu siang untuk suaminya pulang.
"Kamu lupa? kan kamu yang nyuruh aku untuk makan siang di rumah." Dengus Revan. Istrinya memang pelupa.
"Astaga! aku lupa, Mas! naaf yaa! tunggu aku siapin dulu sebentar tadi udah aku suruh chef masak sih. Tinggal aku panasin aja. Caca yuk kamu bantuin aku di dapur" Ajaknya.
"Hah? Aku ? enggak apa-apa ?" tanya Caca tak enak.
"Udah enggak apa-apa. Gih bantuin istri saya, enggak usah sungkan gitu." Jawab Revan ramah.
__ADS_1
"Ya udah yuk." Mereka berdua berjalan ke dapur. Meninggalkan Revan sendirian di ruang keluarga. Istrinya kalau udah ketemu teman yang cocok sifatnya sama dia. Suami sendiri bisa-bisa dilupain. Lalu pandangannya beralih ke atas dimana letaknya kamar Langit.
Sebenarnya apa yang terjadi ?