
Sudah Seminggu lebih Caca bekerja di Cafe Pelangi. Bekerja sebagai kasir. Setelah peristiwa kecelakaan itu, Caca memutuskan untuk bekerja. Ia ingin segera membayar hutangnya pada Langit. Meskipun selama ini, Mentari tidak ada menyinggungnya akan kerusakan mobil itu. Tetapi yang namanya bertanggungjawab harus sampai tuntas. Ia tidak mau lari dari masalah yang ia buat. Apalagi perkataan Langit tempo hari menjadi penguat untuk Caca memilih bekerja. Caca ingin membuktikan pada om raksasa bahwa pemikirannya terhadap Caca tidak benar.
"Apa ini yang disebut sebagai bertanggungjawab ? datang setiap hari dengan alasan untuk merawat saya ? apa dengan kamu dekat sama Kak Mentari kamu juga bisa dekat dengan saya ? saya tau tipe perempuan seperti kamu. Harusnya kamu bertanggungjawab atas kerusakan mobil saya bukan keadaan saya!"
Itu terjadi saat Caca datang ke rumah Mentari mengantarkan puding buatannya. Saat ia akan pulang, Langit menunggunya di halaman depan. Dan kata-kata pedas itu pun meluncur dari mulut Langit, setelah itu pergi tanpa mendengarkan penjelasan Caca. Hari itu menjadi hari terakhir Caca bertemu Mentari maupun Langit. Esoknya Mentari menelponnya untuk datang ke sana. Caca pun beralasan bahwa ia sudah bekerja dan tidak bisa lagi untuk datang ke rumah Mentari sesering seperti biasanya. Akibatnya setiap malam Caca terus mendapatkan telpon dari Mentari.
Tiga hari yang lalu Tata sudah kembali ke Jakarta, diantar oleh kekasihnya, karena pekerjaan Tata tidak bisa ditinggalkan. Tata bekerja sebagai Dosen di salah satu Universitas di Jakarta. Tata mengajak Caca untuk pulang ke Jakarta tetapi Nana melarang Caca untuk kembali, alasannya karena dia kesepian di sini, lagipula Caca juga sudah bekerja dan alasan terkuatnya karena ia belum bertemu dengan sahabat kecilnya. Tata pun berjanji, akan sering ke Bandung jika waktu mengajarnya senggang.
"Woy Caca! bengong aja lu dari tadi! pasti mikirin A'a Joko yaa..." tegur Joko, teman baru Caca ditempatnya bekerja sekarang.
"Arghh... sakit sayang!" ringis Joko tiba-tiba
"Sayang-sayang pala lu! lagian lu bukannya kerja malah godain Caca!" Via pelaku yang memukul Joko dengan sadis.
"Cemburu bilang sayang," goda Joko.
"Ih enggak yaa! yang ada turun hujan meteor kalau gua cemburu sama lu!" kesal Via. Caca hanya bisa terkekeh, sudah biasa ia melihat Interaksi pasangan ini. Mereka enggak pacaran atau mungkin belum. Tapi teman-teman di sini sering menjodohkan Joko dan Via. Perdebatan yang diciptakan oleh mereka menjadi hiburan di sini.
"Awas jatuh cinta!" goda Joko lagi. Jangan heran memang seperti itulah kepribadian Joko. Semua pekerja perempuan di sini sering digodanya dan berakhir dengan perdebatan Via dan Joko.
"Awas! gua mau lewat!" jerit Via.
"Kalian kenapa enggak jadian aja ?" Caca membuka suara. Gemes ia melihat Via.
"Enggak/Boleh." Jawab Via dan Joko serempak.
"Ciee kompak haha..."
"Ih enggak ya Ca! Jangan jodohin gua sama nih playboy cap crocodile ini!" pekik Via tak terima.
"Gua bukannya playboy." Jawab Joko santai.
"Cuma ?" pancing Caca.
"Mencari yang pas di hati aja," ujar Joko terkekeh.
"Haha gaya lu," tawa Caca.
"Via udah pas di hati belum ?" sahut Danang. Rupanya ia juga memperhatikan.
"Hari ini belum, enggak tau besok." Jawab Joko
"Haha curi kutipan Dylan lu," seru Vira dari dapur. Letak dapur yang di belakang tempat kasir memudahkan ia mendengar obrolan teman-temannya.
"HAHAHA"
"Eh, tapi yaa Vi, setau gua buaya itu termasuk hewan setia loh sama pasangannya. Satu aja pasangannya dalam seumur hidup." Ucap Caca setelah berhasil mengatur tawanya.
"Ho'o bener tuh! Coba aja noh liat orang betawi nikahan pasti hantarannya ada roti buaya, katanya melambangkan kesetiaan." Jawab Danang antusias yang disetujui dengan Vira, Caca dan Joko.
"Ih... beda itu buaya air nah ini buaya darat!" jawab Via tak mau kalah sambil menunjuk Joko.
"Sama kali Vi, buaya kan bisa hidup di dua alam." Balas Joko dengan Santai.
"Iya-iya yang dulunya anak Biologi." Ucap Via kesal.
"Sorry gua anak Fisika." Sombongnya.
"Lah ? Bukannya dulu lu anak IPS ?" sahut Danang. Bukan apa Joko dan Danang dulu satu sekolah.
"Kampret!" Maki Joko kesal.
"HAHAHA"
"Kalian kocak abis!" Ngakak Vira, Via dan Caca pun sudah terpingkal pingkal.
"EKHEM!" Deheman itu pun berhasil menghentikan tawa mereka.
"Apa jam istirahat sudah selesai ?" tanyanya.
"Eh Bos!" cengir Joko menggapai tangan Bosnya untuk bersalaman. Diikuti oleh Danang.
"Kalau gitu kami kembali bekerja, Bos, permisi." Ucap Danang lalu beranjak dari sana diikuti yang lainnya kecuali Caca.
"Maafkan kami, Bos." Caca membuka suara.
"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Reza, pemilik Cafe Pelangi.
"Maaf ?"
"Kamu nanti pulang dengan siapa ?" Ulangnya.
"Se-sendiri, Bos." Jawab Caca bingung dengan tingkah aneh bosnya.
"Kamu nanti pulang dengan saya, mau ?" tanya Reza lembut.
"Engg--"
"Oke, saya tunggu di parkiran." Potong Reza kemudian berlalu. Terdengar helahan napas dari Caca. Pasti akan seperti ini.
***
"Mau langsung pulang ?" tanya Reza melirik Caca di sebelahnya.
"Iya bos," jawab Caca.
"Sekarang bukan jam kerja, jadi panggil aku Reza aja." Pintanya lembut.
"Enggak terbiasa." Jawab Caca.
__ADS_1
"Haha... biasain dari sekarang," tawanya entah apa yang lucu.
"Iya."
"Kamu lapar ?" Caca hanya menggeleng saja. Reza yang melihat ketidaknyamanan Caca hanya bisa tersenyum kecil.
"Kok belok?" tanya Caca heran.
"Temanin aku makan, aku lapar," seru Reza sambil tersenyum. "Yuk turun."
Mau tak mau Caca pun turun dari mobil Reza. Mereka masuk ke restoran yang cukup mewah.
***
"Kamu enggak suka makanannya ? mau pesan yang lain ?" tanya Reza melihat makanan Caca yang belum disentuhnya sama sekali.
"Hem, eng-gak ini aku tunggu dingin dulu." Alasan Caca. Udah dibilang gua kenyang juga malah dipaksa ikut makan.
"Habisin yaa," ujar Reza yang tak berhenti tersenyum. "Farhan dan Tata udah lama pacarannya ?" tanya Reza membuka obrolan mereka.
"Kan Mas Farhan temannya kamu, kenapa enggak tanya dia aja ?" baplas Caca. Sudah tidak ada topik pembahasan ya kayak gini nih.
"Haha," tawanya sumbang. Merasa dia salah pilih pertanyaan.
"Ekhem, Farhan pernah cerita ke aku kalau alasan kamu sampai ke sini karena ingin bertemu dengan teman masa kecilmu ? apa itu benar ?" Mengganti topik pembicaraan.
"Iya"
"Mau aku bantu ?" tawarnya.
"Hmm terima kasih tawarannya. Tapi itu tidak perlu, aku yakin suatu saat aku pasti bertemu dengannya." Tolak Caca halus.
"Apa ini targetmu selanjutnya ?!" bukan itu bukan suara Reza melainkan suara Langit. Caca pun langsung menoleh ke kanan. Di sana sudah berdiri Langit dan Farhan ? Farhan pun tak kalah terkejut melihat Caca beserta temannya Reza di sini.
"Hmm setelah lama tidak pernah muncul ternyata kamu mencari target baru," sinis Langit.
"Maaf ? maksud om apa yaa ?!" jawab Caca tak terima.
"Perlu saya jabarkan ?" ucapnya menimbulkan rasa geram di hati Caca. Sabar Caca sabar. Melihat itu, senyum sinis pun muncul di bibir Langit senang telah berhasil membuat Caca kesal.
"Saya rasa kamu tau apa maksud dari perkataan saya tadi," Farhan sangat-sangat bingung ada hubungan apa antara Caca dan bosnya. Dan tidak pernah bosnya bersikap seperti ini.
Kreettt
Bunyi gesekan kursi. Caca berdiri dihadapan Langit. Tinggi Caca yang sangat minim yaitu hanya sedada Langit mengharuskan Caca untuk mendongakan kepalanya. Menatap Langit dengan tajam yang dibalas tak kalah tajam oleh Langit. Senyum sinisnya masih melekat di sana, ia merasa senang telah membangkitkan amarah Caca. Dan ia yakin setelah ini pasti Caca akan--
"Hufftt... Reza makasih atas makanannya, aku pulang dulu!"
--PERGI ? Langit langsung mengernyit tak suka, bukan reaksi seperti ini yang diinginkannya.
"Aku an--"
"Aku bisa sendiri, kamu enggak perlu antarin aku," tatapan Caca masih mengarah ke Langit lalu beralih ke Reza beserta senyum kecilnya. Mengambil tasnya lalu berjalan cepat keluar dari restoran ini.
"Apaan sih, Han ?!" kesalnya menghempas tangan Farhan.
"Biarin Caca tenang dulu," jawab Farhan datar.
"Lu urus aja bos lu itu! aarrghh... dia kacauin semuanya!" ucap Reza marah menunjuk Langit yang masih termenung di sana. Lalu pergi dari hadapan Farhan.
"Kamu mengenalnya ?"
"Ia tema--"
"Caca ?" potongnya cepat
"Kenal pak, dia sahabat kekasih saya," jelas Farhan.
"Ada hubungan ap--"
"Kita pulang." Perintah Langit. Melangkahkan kakinya meninggalkan tempat ini. Ia baru sadar rupanya banyak pasang mata yang menyaksikan kejadian tadi. Namun itu tidak diperdulikannya.
***
"Aarrrgghh! Iihhhh dasar om-om gila!" Jeritnya kesal.
"Apaan sih Ca ? ganggu gua nonton lu mah!" Balas Nana kesal. Ia jadi tidak fokus menonton Drakornya.
"Gua kesal, Na ? Cari target baru ? maksudnya apaan Coba ?! Ya Allah kenapa Engkau mempertemukan Caca dengan orang itu ?!" keluh Caca sambil memeluk guling.
"Lu tuh kenapa sih ? om-om siapa yang lu maksud ? pulang langsung teriak-teriak enggak jelas. Aneh lu!" jawab Nana sambil menjedakan drakornya. Menunggu curhatan dari Caca.
"Gua pernah ceritain tentang gua enggak sengaja buat orang kecelakaan, kan ?" tanya Caca. Nana hanya mengangguk saja.
"Nah tadi gua ketemu lagi sama tuh orang!"
"Iya lah, lu kan masih belum lunasin hutang lu itu. Lu kenapa enggak pakai uang gua dulu sih untuk biaya mobilnya dia." Ujar Nana tak habis pikir. Posisi Nana masih sama dari tadi yaitu tiarap.
"Gua enggak mau bayar hutang gua pakai uang orang lain, kalau gitu sama aja dong ibaratnya gua tutup lobang gali lobang lagi." Nana hanya tersenyum mendengar jawaban Caca, sama persis saat pertama Nana menawarkan bantuannya.
"Yang gua enggak terima kata-kata dia itu seolah-olah gua ini cewek yang enggak bener!" sambungnya berapi-api.
"Elu-"
DREETTT DREETTT DREETTT
"TATAAAA!" panggilan video dari Tata berhasil membuat Caca dan Nana heboh.
"Salam dulu kali!" Tegur Tata.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ukhti," ujar Tata dan Nana serempak.
"Wa'alaikumussalam. Duh kangen banget gua sama kalian!"
"Sok sibuk lu baru ngabarin!" sahut Nana.
"Hehe sorry gaess banyak kerjaan yang harus gua selesain," terlihat di sana Tata sedang berbaring sambil memeluk boneka kesayangannya yang Caca tau itu adalah pemberian dari kekasihnya.
"Iyain deh, tapi kalau sih doi telpon ada waktunya yaa," sindir Nana.
"Hahaha... jangan cemburu beb." Kata Tata sambil terkikik. "Ca! kenapa suram bener tuh muka. Ada masalah di tempat kerja ?"
"Gua kesel!" jeritnya tiba-tiba.
"Kesel kenapa ? orang itu lagi ?"
"Iya, nih gua mau cerita!"
"Tunggu tunggu." Tata mencari posisi ternyamannya karena ia tau kalau Caca cerita pasti bakalan panjang.
"Udah ?"
"Oke udah, sok atuh cerita."
Mengalir cerita Caca. Ia menceritakan dengan penuh rasa kesal yang berapi-api. Sedangkan Nana hanya sesekali menimbrung omongan dari Caca maupun Tata.
"Jangan bilang orang yang lu panggil om-om itu bosnya Mas Farhan ?" Tanya Tata setelah mendengarkan cerita Caca.
"Iya, kok lu tau ?"
"Demi What ?!" pekik Tata di sana.
"Kenapa sih, Ta?!" kesal Nana. Apakah hanya dia saja yang tidak lebay seperti mereka.
"Kok lu tau ?" tanya Caca heran.
"Soalnya tadi Mas Farhan ada cerita juga, dan ceritanya mirip seperti cerita lu. Tapi dia enggak ada bilang kalau ketemu sama lu." Jelasnya.
"Jadi benar, Mas Farhan sekretarisnya om raksasa ?" Tanya Caca memastikan.
"Iya! ya ampun Ca! ganteng gitu kok di bilang om-om sih! aneh lu!"
"Lu pernah ketemu ?"
"Yaa pernah lah!"
"Inget laki, Ta," tegur Nana santai.
"Haha... Mas Farhan mah pasti selalu di hati."
"Ih susah, Na! susah ngomong sama orang bucin!" cibir Caca.
"Haha... entar juga kalian ngerasainnya," serunya. Caca dan Nana hanya memutar bola mata mereka dengan malas.
"Eh udah dulu gaess laki gua mau telpon, gua tutup yaa! entar kita sambung lagi, jaga kesehatan. Dah love kalian!" Di layar hp Caca menunjukkan Tata yang sedang kiss bye jarak jauh, yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Caca dan Nana.
"Iya! Lu juga, makasih Ta! Cepatin ke sininya," rengek Caca.
"Iya-iya, gua usahain secepatnya ke sana! Oke dah see you gaess!"
"See you!" Ucap Caca dan Nana kompak.
TUT
"Hmmm gua mencium aroma yang kurang sedap dari tadi," endus Nana. "Lu belum mandi ?" setelah sadar bahwa Caca masih berpakaian sehabis pulang kerja.
"Hehe iya"
"Ih mandi Ca!"
"Iya-iya, lebay banget pakai tutup hidung segala. Masih wangi ini!" Ujar Caca kesal. Gini-gini dia enggak bau badan ya. Malahan badannya masih tercium aroma bayi. Ya Caca paling suka pakai parfum aroma bayi.
"Iya-iya tau! tapi jangan sampai enggak mandi dong! penyakit baru tau rasa lu!" si Nana ini selalu mengutamakan kebersihan.
DREETTT DREETTT DREETTT
"Hp lu bunyi lagi Ca,"
"Kak Mentari," gumam Caca setelah melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
"Halo kak," sapa Caca.
"Besok bisa ke sini ?" Heh ini bukan suara Kak Mentari.
"Besok saya suruh orang untuk menjemputmu." Caca masih diam berusaha mengenali suara ini.
"Kak Mentari sakit, dia ingin bertemu dengan kamu," Caca masih dengan diamnya meskipun dia sempat terkejut bahwa Mentari sakit, Nana yang melihat Caca seperti itu pun bertanya siapa tapi tidak digubris dengan Caca.
"Saya tutup."
TUT
"Om Langit ?" gumam Caca.
"Tapi enggak mungkin, itu bukan Om Langit. Nada bicaranya beda seperti biasanya. Ada apa dengan dia ? apa karena Kak Mentari sakit ?" Tanya Caca bingung.
"Lu kenapa komat-kamit dari tadi ?" Heran Nana melihat Caca berbicara sendiri.
"Enggak apa-apa," ujar nya sambil berlalu.
__ADS_1
"Woy Mandi Ca!" Teriak Nana.
"Entar! gua minum dulu!"