
Sekitar habis Isya Caca baru sampai di rumah Mentari. Caca diantar pulang sama abang ojol, ia sengaja tidak minta jemput sama Pak Asep. Saat Caca ingin melangkahkan kakinya masuk ke perkarangan rumah Mentari, tiba-tiba mobil mewah yang belum pernah Caca liat sebelumnya keluar dari halaman rumah Mentari.
"Eh, Neng udah pulang," tegur pak Burhan dari pos satpam.
Caca tersenyum untuk menanggapinya. "Mobil yang barusan keluar, itu siapa ?"
"Oh... itu mobilnya Tuan Besar," jawab Pak Burhan.
"Papanya Kak Mentari ?" tanya Caca memastikan.
"Iya Neng."
Caca pun hanya bergumam lalu mengangguk "Kalau gitu Caca masuk dulu ya Pak."
"Iya Neng, silahkan."
Caca berjalan cepat masuk ke dalam rumah, saat tiba di dalam pemandangan yang pertama kali Caca liat adalah Revan yang sedang memeluk Istrinya, karena posisi Mentari membelakangi Caca. Caca pun tidak tahu Mentari kenapa.
Revan menyadari keberadaan Caca pun langsung mengangkat kepalanya. Caca membuka mulutnya bertanya pada Revan tanpa suara 'Kak Mentari kenapa ?'. Untung saja dapat ditanggap jelas oleh Revan, Revan hanya memberi kode untuk Caca berjalan lebih dekat.
Caca pun berjalan lebih dekat dan terkejut melihat Mentari yang menangis di pelukkan suaminya. Perasaan Caca mulai tidak enak apa sesuatu telah terjadi ?
"Kakak," panggil Caca sambil mengusap bahu Mentari lembut. Ia pun langsung mendongakkan kepalanya dengan wajah yang penuh dengan air mata. Tiba-tiba saja Mentari langsung menerjang Caca sampai Caca hampir kehilangan keseimbangannya. Mentari memeluk Caca erat sambil terisak.
Caca hanya bisa mengusap punggung Mentari sesekali menepuknya dengan lembut sambil mengucapkan kata penenang untuk Mentari. Ia belum mau bertanya 'ada apa ?' dengan Mentari. Itu bisa ditanyakan saat Mentari sudah tenang.
Pandangan Caca mengedar ke lantai atas. Ia tidak melihat keberadaan Langit. Kalau Caca tidak salah, Caca tadi melihat mobil Langit sudah terparkir rapi di bagasi, tandanya dia juga sudah pulang. Tiba-tiba saja Caca gelisah, Apa mungkin Orion sama seperti Kak Mentari sekarang ? apa mungkin keadaannya lebih parah ? Meski pun Caca belum pernah bertemu langsung dengan 'Tuan Besar' tapi menurut dari cerita Mentari, Caca bisa menyimpulkan bagaimana sifatnya papa mereka.
__ADS_1
"Kamu kenapa nggak telpon Pak Asep ? terus tadi kamu pulang sama siapa ? kok lama banget pulang nya ?" tanya Mentari beruntun setelah tangisannya mereda.
"Tanyanya satu-satu sayang." Sahut Revan yang masih dengan posisinya. Mentari cemberut.
"Caca sepulang kerja diajak makan-makan sama teman-teman, makanya pulangnya telat. Terus tadi Caca pulangnya sama abang ojol." Jawab Caca.
"Lain kali pulangnya telpon Pak Asep, jangan sama abang ojol. Bahaya."
"Lah ? bahaya kenapa ? abang ojolnya baik kok, udah jadi langganan Caca selama sebulan ini. Dia sering nongkrong di cafe Caca juga."
"Tuh kan bener, dia mah modus itu. Pasti dia sering nongkrong di cafe tempat kamu kerja, supaya dia sering ketemu sama kamu, terus supaya kamu sering juga pulangnya pakai jasa dia. Nah terbuktikan sekarang kamu jadi langganan dia. Aaah basi itu mah."
Caca langsung cengo mendengar pikiran?pikiran Mentari yang sampai segitunya. Sedangkan Revan jangan ditanya ia hanya bisa tersenyum kecil menahan tawa akibat ulah istrinya. Bisa-bisanya istrinya berpikiran seperti itu.
"Tunggu, kok jadi bahas abang ojol sih ?" sungut Caca bingung.
Jiwa kejombloan Caca meronta-ronta saat melihat adegan keuwuan secara langsung. Kalau melihat adegan keuwuan saat pacaran sih sudah biasa, Caca sudah sering melihatnya di cafe. Lah ini pasangan suami istri sedang menebarkan keuwuannya di depan Caca secara langsung, membuat Caca iri setengah mati.
Apalagi Caca berpegang teguh dengan prinsipnya yaitu anti berpacaran, kalau pun nantinya ia bertemu dengan jodohnya Caca pinginnya ta'aruf dan langsung menikah. Tidak mau tuh untuk berpacaran sebelum Menikah. Caca menyakini bahwa pacaran sesudah menikah itu lebih nikmat dan berkah daripada pacaran sebelum menikah. Caca tidak mau mendapatkan dosa nantinya.
***
Setelah pasangan suami Istri tadi menebarkan keuwuannya di depan Caca, tak berapa lama pelayan dari rumah ini memberitahu bahwa makan malamnya sudah siap. Dan di sinilah mereka sekarang berkumpul di meja makan yang terdiri dari dua belas kursi. Penghuni rumah yang sebenarnya saja tiga orang. Lah sisanya hanya dijadiin pajangan ? atau untuk penghuni rumah yang tak terlihat ?
"Caca, kenapa diam ? makanannya dimakan dong." Ujar Mentari membuyarkan lamunan Caca.
"Eh, iya kak." Jawab Caca mulai menyuapkan makanannya. "Om Orion di--"
__ADS_1
"Kita makan dulu, setelah ini bakalan kakak ceritain apa yang terjadi tadi." Potong Mentari langsung. Caca pun hanya bisa mengangguk saja.
Mereka pun makan dengan hikmat, tidak ada yang berbicara setelahnya. Mendengar langkah kaki ke arah meja makan, Caca mendongakan kepala. Pelayan bertubuh gemuk dengan pelayan berambut kepang dua berjalan cepat ke arah Mentari yang masih menikmati makan malamnya.
"Non Mentari," panggil pelayan bertubuh gemuk yang membuat Mentari menoleh langsung. "Tuan tidak mau membuka pintu kamarnya, Non, kamarnya di kunci Non, kami sudah mengetuk berkali-kali dan memanggil Tuan tapi Tuan tidak meresponnya." Lanjutnya cemas.
"Di mana Pak Ben ?" tanya Mentari mulai panik. Tak berselang lama, Pak Ben muncul dengan wajah tegasnya yang sudah mulai menua. "Hubungi Dokter Lusy, sepertinya ada yang nggak beres dengan Orion," kata Mentari yang langsung dibalas anggukkan oleh Pak Ben. Lelaki itu lalu menghilang di antara pilar ruang makan.
Setelah mengusap bibirnya dengan serbet, Mentari berdiri untuk mengikuti kedua pelayan tadi ke kamar Orion. Namun tiba-tiba, langkahnya berhenti, Mentari meringis sambil memegang perutnya. Revan yang melihat itu segera berdiri lalu memegang kedua bahu istrinya menahan tubuh istrinya supaya tidak terjatuh.
"Kenapa sayang ?" tanya Revan cemas.
"Sakiit... perutku rasanya kram, Mas..." ringis Mentari sambil memegang perutnya, Revan pun melihat itu langsung menggenggam tangan istrinya memberi kode supaya istrinya tidak mencengkeram kuat perutnya.
Caca pun melihat Mentari meringis kesakitan, segera berdiri berjalan mendekati Mentari, tapi Revan memberi kode untuk berhenti. Membuat Caca mengernyit bingung.
"Hubungi Dokter Erna sekarang! suruh dia cepat datang kemari!" serunya pada pelayan bertubuh gemuk, yang segera dilaksanakan oleh pelayan itu. Revan saat ini sangat kalut, ia takut kenapa-kenapa dengan calon anak mereka. Revan pun segera menggendong Mentari ala bridal style. Hingga Revan berhenti menatap Caca intens dan membuat Caca menelan ludah.
"Bisa kamu pergi untuk mengecek keadaan Langit sekarang ? aku harus segera membawa Men-"
Caca mengangguk kepalanya cepat. "Iya, bang!" sahutnya sebelum Revan menyelesaikan ucapannya. Lelaki itu terdiam beberapa saat sebelum Caca melesat keluar dari ruang makan.
Revan menatap punggung Caca yang pergi dengan diikuti pelayan berkepang dua itu. Matanya terbelalak beberapa saat tadi—karena respon Caca yang tak biasa—pun mengerjap. Bibirnya tersenyum kecil, senyuman penuh arti. Sebelum ringisan istrinya membuat Revan tersadar bahwa ia harus segera membawa Istrinya ke kamar.
***
Hai Hai hai. Jangan lupa like dan comment yaa 😊 yang mau vote silahkan juga 😁
__ADS_1
Terimakasih 🍀