
Caca membuka pintu kamarnya, mengintip sebentar apakah ada makhluk yang tak ingin dilihatnya. Setelah benar-benar aman, Caca keluar dari kamar lalu menutupnya kembali. Caca bergegas ke ruang makan karena tidak ingin jadi orang terakhir yang datang. Orang numpang harus sadar diri, itulah pedoman Caca.
Sapaan hangat muncul dari bibir Pak Ben, orang pertama yang menyadari keberadaan Caca di sini. Caca pun membalasnya dengan tersenyum sopan. Saat Caca memasuki ruang makan. Harapannya tak sesuai dengan kenyataan.
Caca kira ia akan menjadi orang pertama yang akan tiba di sini. Namun sayangnya, semua sudah berkumpul di sini. Mentari, Revan dan Langit. Entah kenapa Caca jadi lemah untuk berjalan ke sana. Apalagi ia melihat orang yang harus dihindarinya hari ini. Caca menghela napasnya, merasa sia-sia dengan tingkahnya tadi. Apalagi setelah ia teringat pesan Orion semalam membuat langkah kaki Caca kian memberat.
"Caca... ngapain diam di situ, sini!" seru Mentari yang membuat Caca tersadar bahwa semua mata terarah kepadanya. Caca menyengir bodoh lalu berjalan ke arah meja makan. Tatapan mereka bertemu, Orion menatap Caca seperti meneliti penampilan Caca, lalu mengernyit.
Caca menghela napasnya lagi. Pagi ini, sudah berapa kali Caca menghela napasnya. Apakah ia harus duduk di sebelah Orion ? Kenapa letak piringnya harus di situ sih ? Padahal kan masih banyak kursi yang tersisa! gerutu Caca dalam hati.
Dengan sangat berat hati Caca menarik kursi di sebelah Orion dan mendudukinya. Orion yang sedari tadi tidak putus memandang Caca, tersenyum kecil melihat wajah kesal Caca pagi ini.
"Selamat pagi, Caca." Sapa Revan ramah.
"Pagi, Bang." Balas Caca tersenyum.
"Ayo, dimakan Ca," tegur Mentari. Caca mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya ia masih heran dengan makanan yang tersaji di piringnya ini.
Caca merasa ini pancake, tapi kenapa bentuknya tidak bulat seperti pada umumnya. melainkan sudah terpotong kecil-kecil siap dimakan, dengan madu sebagai pelengkapnya.
"Kamu nggak suka pancake, Ca ?" tanya Mentari menyadari bahwa gadis di depannya itu hanya duduk dan memperhatikan sarapannya. "Atau mau roti aja ?"
"Suka kok, tapi... kenapa pancake Caca sudah begini sebelum disentuh ?" tanya Caca heran sambil menunjuk makanannya. "Makanannya udah nggak perawan."
Revan tertawa tertahan, Mentari melotot dan Orion menolehkan kepalanya memandang Caca dengan mata menyipit.
"Kamu harusnya berterimakasih karena nggak perlu repot memotongnya, tanganmu kan sakit." Sahut Orion, membuat Caca menatapnya kesal.
"Tangan kamu sakit, Ca ? kok bisa ?" tanya Mentari panik. "Coba sini liat."
"Eh, nggak kok kak, semalam cuma ngilu sedikit aja akibat kecedot pintu. Sekarang, udah nggak apa-apa kok." Jawab Caca cepat. Dalam hati Caca terus mengumpat pada Orion. Gara-gara Orion ia harus mengungkit kembali peristiwa semalam. Mengharuskan ia mengingat kembali apa-apa saja yang terjadi semalam. Dan itu membuat Caca malu setengah mati.
__ADS_1
"Yakin, nggak apa-apa ? ke rumah sakit aja, ya." Kata Mentari masih dengan raut khawatir.
Caca menggeleng cepat. "Nggak usah kak, aku udah nggak apa-apa kok."
Mentari pun mengangguk saja, meskipun dalam hati masih belum percaya dengan ucapan Caca. Tanpa sadar, Caca mengembuskan napas leganya.
"Jadi, om yang buat pancake Caca begini ?" kata Caca mencoba mengganti topik.
"Kamu nggak bisa bilang terimakasih aja gitu ?" sahut Orion tak terima. Dikasih perhatian enggak mau.
"Kan aku nggak ada nyuruh om buat melakukan ini, jadi Caca nggak perlu berterimakasih dong." Sahut Caca sengit.
"Saya melakukannya sebagai ucapan terimakasih karena kamu telah merawat saya semalam." Kata Orion sedikit tak rela. Diliriknya pada dua makhluk di depannya ini. Benarkan, Mentari sudah memperhatikannya dengan senyum mengejek seperti biasa. Harusnya aku tidak mengatakan itu.
Caca mendengus "Jangan lakukan lagi," kata Caca datar. "Dan jangan dibahas lagi." Mendengar ucapan Orion tadi, seketika adegan pelukan kembali terlintas di pikiran Caca dan dia beristighfar berulang kali dalam hati.
Mentari mendengus tak senang, sedikit memoyongkan bibirnya. Merasa kecewa karena perdebatan mereka tidak diteruskan lagi. Awalnya Mentari tidak suka melihat mereka yang selalu berdebat di setiap saat. Tapi sejak kejadian semalam, saat adiknya memeluk Caca dengan posesif. Timbul rasa suka dalam hatinya, siapa tahu dari mereka yang selalu berdebat kedepannya bisa berjodoh ?
"Apa sih!" Elak Orion menatap kakaknya kesal. Untuk menghilangkan rasa gugupnya ia kembali memakan pancake dengan kasar.
Tanpa mereka sadari, kakak dan kakak iparnya itu tersenyum geli saat mereka melihat ada kemerahan yang muncul pada wajah kedua orang yang duduk bersebelahan di depannya ini.
Sudah berapa lama aku tidak melihat Orion malu-malu seperti ini ? batin Mentari puas melihat perkembangan adiknya setelah Caca tinggal di sini.
Caca yang dari tadi tidak menyentuh pancakenya sama sekali, melirik ke meja makan, apa saja makanan yang tersaji pagi ini. Pandangannya langsung tertuju ke wadah yang berisikan Nasi Goreng yang letaknya paling pojok dekat Mentari. Anehnya, tidak ada satu pun di antara mereka yang memakan Nasi Gorengnya. Apa itu di buat khusus untuk seseorang ?
"Ngg... kak ?" panggil Mentari membuat pandangan mereka bertiga tertuju padanya. Padahal yang dipanggil Mentari tapi, entah kenapa yang lainnya juga ikut menoleh.
"Ada apa sayang ? kamu mau apa ?" tanya Mentari cepat.
"Nasi Gorengnya khusus untuk seseorang, ya ?"
__ADS_1
"Eh, ini ?" sahut Mentari sambil menunjuk Nasi Goreng tepat di sampingnya. Ia pun baru menyadari hal itu. "Enggak kok, kamu mau ?"
Caca mengernyit, terdapat nada antusias di sana. "Boleh ?"
"Boleh dong," jawab Mentari cepat, lalu mencedok Nasi Gorengnya ke piringnya Caca satunya lagi. "Cobain deh."
Entah kenapa, Caca merasa tubuh dua lelaki di dekatnya ini sekarang mendadak jadi tegang. "Hmm... oke, makasih kak."
"Dikit-dikit aja, Ca." Sahut Revan tiba-tiba yang langsung mendapat respon cemberut dari istrinya.
"Aku suka Nasi Goreng kok, Bang. Tenang aja," sahut Caca santai. Terdengar dengusan kasar dari orang di sebelahnya, Caca melirik sekilas ke Orion yang terlihat seperti menahan tawa. Ada apa sih ini ? kok tiba-tiba feeling Caca kagak enak, ya ?
Saat Caca hendak memasukkan sendok berisi Nasi Goreng itu, Mentari menatapnya intens. Begitu juga dengan Revan dan Orion. "Kalian kenapa ?" tanya Caca heran.
"Aahh... nggak kok Ca, nggak apa-apa. Sok atuh di makan!" Sahut Mentari terlihat sangat antusias, meskipun Mentari menutupnya dengan kembali memakan pancake dihadapannya.
Saat sesendok Nasi Goreng berhasil masuk ke dalam mulutnya, Caca mulai mengunyah dan bertemu dengan indra pencicipnya. Tiba-tiba mata Caca langsung menyipit. Nasi Goreng lautan garam ? Caca mendongak dan mendapati Mentari yang masih menatapnya.
"Gimana ? enak ?" tanya Mentari tak sabaran.
"Ini--" Caca menelan Nasi Goreng super asin itu setengah mati. "Ini buatan Kak Mentari, ya ?"
"Eh ?" Mentari segera menoleh ke Orion dan Revan. "Kok kamu bisa tau ?"
"Hehe... nembak aja sih, soalnya ekstrim banget." Kata Caca, ia langsung menunduk dan mengigit bibir bagian dalamnya.
Oke, Caca jelasin di sini. Bagaimana tidak, Caca berpikir bahwa Nasi Goreng ini adalah hasil karyanya Mentari, selama Caca makan di sini makanan yang ada di meja makan ini selalu enak masuk ke mulutnya dan aman terjun bebas ke lambungnya. Karena ada chef khusus yang memasaknya. Jadi yah--Eh tunggu, wajah ceria Mentari yang selalu Caca lihat seperti mendadak entah pergi kemana, dan Caca sangat merasa bersalah sekarang.
"Tapi..." Mentari kembali melihat ke arah Caca, "Nasi Gorengnya cuma keasinan aja sedikit, kalau nggak asin pasti enak kok." Ujar Caca berusaha menghibur.
"Dasar pembohong," sahut orang di sebelahnya langsung.
__ADS_1