Feeling Attack

Feeling Attack
16. Mentari Kepo


__ADS_3

Hai hai Feeling Attack up lagi 😁 maaf aku lama banget up ceritanya karena kesibukan ku di dunia nyata 😂 Btw masih ada yang nungguin cerita ini ?


***


Caca sedang mengamati Kak Mentari yang sedang mengantarkan suaminya pergi berkerja. Bertapa romantisnya interaksi keduanya, Mentari mencium tangan suaminya dan dibalas dengan ciuman kening oleh Revan dan tak lupa kecupan untuk anak mereka yang masih di dalam perut istrinya. Caca tersenyum sendiri mengkhayalkan masa depannya bersama Abian.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri ?" teguran Mentari membuat Caca tersadar, keasikan berkhayal sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa Mentari sedang memperhatikannya sedari tadi.


Caca menyengir salah tingkah "Selamat pagi Kak Mentari."


Mentari mengernyit bingung, bukannya sapaan itu sudah di ucapkannya saat sarapan bareng tadi. "Kamu demam ?" meletakkan punggung tangannya di kening Caca.


"Ha-h ? Engg-gak kok." Gugup Caca sedikit menghindar.


"Kamu pagi ini Aneh." Ucap Mentari sambil menurunkan tangannya.


"Hehe... katanya kakak mau ngomong sesuatu sama Caca." Ucap Caca mengalihkan pembicaraan.


"Kita ceritanya di kamar kamu aja." Ajak Mentari. Caca mengangguk.


"Om Orion udah berangkat ?" Caca memang sehabis sarapan Caca izin ke kamarnya sebentar jadi Caca tidak tau apakah Orion sudah berangkat kerja atau belum.


"Udah, nggak berapa lama kamu naik ke atas dia pamit berangkat ke kantor." Jelas Mentari membuat Caca membulatkan mulutnya sambil mengangguk kecil.


Mereka berjalan ke kamar Caca, untung saja ranjangnya tadi sudah ia rapikan. Sesampainya mereka di kamar, Mentari langsung duduk di ranjang dan menatap Caca dengan pandangan intens.


"Kamu kenalan sama teman cowok kamu itu udah berapa lama ?" Mentari membuka suara setelah semenit yang lalu terdiam.


"Abian ?" tanya Caca memastikan siapa yang di maksud Mentari.


"Iya dia, emangnya siapa lagi teman cowok kamu ?" tanya Mentari tak suka. Membuat Caca mengernyit tak mengerti apa ini yang mau di bahas Kak Mentari ?


"Aku sama Bian udah lama kenalannya, kami berteman saat masih di sekolah dasar." jawab Caca menjelaskan.

__ADS_1


"Terus saat kalian berpisahnya kapan ?" Caca kembali mengernyit kenapa Kak Mentari menjadi Ingin tau sekarang ?


Caca menghela napasnya "Kelas sembilan, saat itu dia harus ikut orang tuanya ke Jakarta."


"Sudah selama itu ?" kejut Mentari. Membuat Caca mengangguk membenarkan. "Dan kamu relain merantau jauh-jauh demi bertemu dengannya ?" lagi-lagi Caca mengangguk.


"Alasannya ?" tanya Mentari lagi.


"Ingin menepati janji kita berdua." Jawab Caca.


"Janji ? janji apa ?" Caca terdiam tak berniat untuk menjawab. "Oke aku nggak berhak untuk tau." Sambungnya setelah mengartikan tatapan Caca tadi.


"Maaf," ucap Caca tak enak.


"Dia cinta pertama kamu ?" pertanyaan Mentari berhasil membuat Caca terkejut.


"Kk-kok kakak bisa tau ?" kejut Caca. Pipinya yang semulanya putih pucat seketika berubah menjadi kemerahan.


Caca mengangkat kepalanya saat menyadari nada tak suka di kalimat terakhir Mentari. Caca mengernyit "Memangnya kenapa, Kak ?"


Mentari menggeleng tak ingin menjawab "Kamu pernah nggak berpikir apa yang dia lakuin selama bertahun-tahun ini ?"


"Melatih dirinya supaya bisa nerusin perusahan ayahnya." Jawab Mentari yakin.


"Hanya itu ?" tanya Mentari memastikan.


Caca mengangguk. "Sebelum dia pergi, dia janji bakalan temuin aku dan menepati janjinya saat kita sama-sama sudah dewasa."


"Selama dia pergi, apa teman kamu itu pernah menemui kamu di sana ?"


Caca menggeleng "Aku tau dia pasti sibuk di Jakarta, makanya aku ke si--"


"Caca," ucap Mentari dengan nada serius. Mentari menarik tangan Caca untuk duduk di sebelahnya menuntun Caca untuk berposisi saling menghadap. "Kamu tau, ada banyak alasan mengapa dua manusia di pertemukan kembali. Tapi, sejauh ini yang aku pahami, nggak semua apa yang diinginkan terulang kembali artinya nggak semua kisah masa lalu bisa terulang lagi."

__ADS_1


Caca tertegun, apa benar di hadapannya ini Mentari ? apa benar yang berbicara tadi adalah Mentari ? Caca sangat tidak menyangka Mentari bisa berbicara seperti tadi.


"Aku tau, cuma... aku nggak bisa membuat hatiku nggak berdesir setiap bertemu dia, Kak." Ucap Caca begitu saja, tidak menyadari perubahan ekspresi wajah Mentari sekarang.


"Apa kamu yakin Abian ngerasain hal yang sama ?" tanya Mentari lagi membuat Caca terdiam.


Menyadari pertanyaannya tadi sangat sensitif bagi Caca membuat Mentari segera angkat bicara "Aku minta maaf karena tanyain itu ke kamu. Tapi aku serius Ca, kita nggak tau apa saja yang sudah di lalui Abian selama ini tanpa kamu."


Caca kembali membeku. Ucapan tadi benar-benar menamparnya, Caca lupa sudah berapa tahun Abian menjalani hidup tanpa Caca ? Tanpa mengabari Caca ? Bahkan yang lebih mengerikan mungkin saja selama ini Abian tak pernah berusaha untuk bertemu dengan dirinya ?


Hanya Caca saja, hanya dirinya saja yang selama ini berusaha dan terus berharap untuk bisa bertemu dengan Abian dan merajut semua impian masa kecil mereka kembali. Melihat sikap Abian yang tidak terlalu berlebihan bertemu dengannya kemarin alasannya karena Caca tak lagi berarti bagi Abian.


"Caca," tegur Mentari merasa tak enak saat menyadari tatapan Caca yang kosong saat ini. Mentari menyadari ucapannya tadi mungkin bisa di bilang terlalu kasar, tapi bagaimana pun ia harus menyadarkan Caca. Bukankah lebih baik hidup dalam kenyataan meski terasa berat dan menyakitkan ? daripada hidup dalam angan dan harapan manis yang sebenarnya kosong dan tak nyata.


Mentari tak ingin melihat Caca terluka nantinya atas perasaannya. Caca sudah dianggapnya sebagai bagian dalam keluarganya. Termasuk orang terpenting setelah Mama, kakaknya, adiknya, dan suaminya.


Caca menoleh ke Mentari. "Maaf kalau ini menyakitkan untuk kamu. Aku merasa bahwa selama ini kamu yang selalu berusaha untuk mewujudkan impian kalian sedangkan Abian tidak demikian, aku merasa ia bersikap sewajarnya saja layaknya teman ke kamu tidak lebih seperti apa yang kamu rasain ke dia."


"Kakak jangan mengambil kesimpulan seperti itu, hanya karena baru sekali bertemu dengan Bian." Balasnya dingin.


Mentari sempat terkejut akan nada bicara Caca tadi, tapi ia harus menyadarkan Caca dari angan-angannya yang belum tentu bisa ia capai.


"Oke aku tau, Kita nggak boleh menyimpulkan sifat seseorang hanya dalam sekali pertemuan. Tapi Ca--"


"Kak--"


"Dengerin kakak dulu!" membuat Caca terlonjak kaget. Mentari menggenggam tangan Caca erat "Cinta pertama belum tentu akan menjadi cinta terakhir, Ca. Kebanyakan cinta pertama tidak pernah berhasil untuk cerita hidup ke depannya."


"Bukannya Bang Revan cinta pertama kakak juga ?" tanya Caca balik.


"Iya dia memang cinta pertamaku. Tapi--"


"Kalau begitu Caca akan membuat cinta pertama Caca itu menjadi cinta terakhir Caca nantinya." Balas Caca tegas.

__ADS_1


__ADS_2