
"Kamu udah lama di sini ?" tanya Abian.
"Lumayan, aku gak hitung juga. Mungkin hampir dua bulan." Cengir Caca.
"Dan selama itu kamu tinggal di rumah Kevin ?" Caca mengangguk. "Berdua ?"
"Ya enggak lah, kan ada adiknya juga sih Nana. Nana itu temannya sih Tata ya jadi kami bertemanan deh."
"Oh iya aku lupa kalau Kevin punya adik," cengir Abian. "Sekarang sih Tata ke mana ?"
"Tata di Jakarta kan dia jadi dosen sekarang." Nathan mengangguk-angguk. "Kamu selama di sini baik-baik aja, kan ? om sama tante juga baik, kan ?"
"Alhamdulillah aku sama mama dan papa di sini baik-baik aja kok." Jawab Abian.
"Kamu menetap di sini ?" tanya Caca memastikan.
Abian mengangguk. "Iya, aku harus meneruskan perusahan papa aku. Menjadi anak tunggal mengharuskan aku untuk bisa menjadi seperti papa, memimpin perusahaan."
"Aku masih nggak nyangka akhirnya aku bisa ketemu sama kamu di sini. Kamu pindah saat kita masih kelas sembilan, kan ? berarti sudah delapan tahun yang lalu. Setahun setelah kamu pergi, kamu nggak pernah lagi kabarin aku."
"Maaf saat itu aku kehilangan kontak kamu. Aku saja dapat kabar ayahmu meninggal dari sih Didi." Jelas Abian. Caca hanya mengangguk saja.
Deringan ponsel memecahkan keterdiaman mereka. Suara itu berasal dari handphone Abian. Abian memberi kode untuk tunggu sebentar. Ia pun sedikit berjalan menjauh dari Caca. Caca menatap Abian yang sekarang sedang berbicara dengan seseorang di telpon tersebut. Abian yang dikenalnya dulu dan sekarang sedikit berbeda tapi itu tidak membuat Caca sedih, setidaknya ia tidak melupakan dirinya dan segala kenangan tentang mereka berdua.
Abian telah selesai dengan telponnya. Berjalan menghampiri Caca yang masih menatapnya dengan pandangan yang Bian tidak bisa mengartikannya.
"Sudah malam, cuacanya cukup dingin. Aku antar kamu pulang ya." Ajak Abian lembut. Caca mengangguk.
Mereka pun turun, saat mereka sudah di mobil tidak ada pembicaraan yang menemani perjalanan mereka, seperti interaksi orang yang baru kenal. Tak tahan, akhirnya Caca membuka pembicaraan mereka.
"Tadi yang nelpon siapa ?"
"Orang kantor, ada yang harus aku urus." Jawab Abian.
"Malam-malam gini ?" tanya Caca heran.
"Iya, maaf ya. Hari ini jalan-jalannya cuma sebentar." Ucap Abian tak enak.
Caca tersenyum tipis "Iya nggak apa-apa, nanti bisa singgah sebentar di minimarket dekat situ ? Ada yang mau aku beli." Abian menatap Caca. "Kalau kamu buru-buru, nggak apa-apa, tinggalin aja aku di situ, aku nanti pulangnya sama abang ojol aja."
"Kamu pikir aku sejahat itu ?" Abian menatap Caca tak habis pikir dengan ucapan Caca tadi. "Aku bakalin temanin kamu dan antarin kamu pulang dengan selamat sampai tujuan." Tegasnya.
__ADS_1
Hati Caca menghangat mendengar nada Abian yang tegas seperti itu. Caca tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya.
Mobil Abian pun menepi di minimarket yang di maksud oleh Caca tadi, mereka turun dan masuk ke dalam. Berkeliling mencari barang yang di perlukan oleh Caca, sedangkan Abian dengan setianya mengikuti di belakang Caca dengan membawa belanjaan Caca.
Kalau seperti ini Caca merasa mereka seperti pacaran saja atau mungkin orang-orang berpikiran bahwa kami ini pasangan muda, pipi Caca tiba-tiba saja memerah dan tanpa sadar hampir saja Caca terkekeh membayangkan kalau yang ia pikirkan tadi menjadi kenyataan.
"Caca," panggil seseorang membuat lamunan Caca buyar begitu saja. Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Dan terdapat pasangan suami istri yang sangat Caca kenali.
"Kak Mentari, Bang Revan ?" gumam Caca syok. Celaka! Ia baru teringat akan janjinya hari ini bersama Mentari.
"Kamu kenal mereka ?" tanya Abian.
Caca mengangguk. "Kak Mentari maafin Caca, Caca lupa kabarin Kakak. Kalau hari ini Caca ada urusan." Sahut Caca merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, aku kira kamu kenapa-napa. Soalnya aku telpon handphone kamu nggak aktif. Aku ke tempat kerja kamu katanya kamu udah pulang dari sore tadi."
"Kamu kerja ?" tanya Abian.
"Kamu nggak tahu kalau Caca kerja ?" tanya Mentari skeptis.
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku ? Kamu kerja di mana ?" tanya Abian tanpa memperdulikan Mentari.
Baru saja Caca ingin menjawab. Kembali di potong oleh Mentari. "Dia kerja di Cafe Pelangi."
"Dia siapanya kamu ?" tanya Abian tak suka melihat sikap Mentari kepadanya.
"Kak Mentari itu, udah aku anggap seperti keluarga aku di sini." Jawab Caca menjelaskan.
"Dan kamu teman kecilnya Caca, kan ? kenapa kamu bersikap seolah Caca itu pacar kamu ?" tanya Mentari sinis. Abian berusaha menahan rasa kesalnya.
"Kakak," tegur Caca sambil menggelengkan kepalanya.
"Sayang, nggak boleh gitu," tegur Revan yang sedari tadi hanya melihat perdebatan kecil yang diciptakan oleh istri tercintanya. Mentari mendengus. "Maaf ya, hormon kehamilan suka seperti itu." Sambung Revan meminta maaf ke Abian.
"Sayang!" pekik Mentari tak terima membuat Revan gemas akan tingkah istrinya ini.
Abian menghela napas mencoba menghilangkan rasa kesalnya. "Iya nggak apa-apa, saya maklumin kok."
"Sebaiknya kita lanjutin berbincangnya di luar, kalau di sini kita bakalan menghalangi jalan." Usul Revan yang langsung di setujui oleh mereka.
Mereka sudah di depan minimarket, saat Abian dan Caca ingin pamit pulang tiba-tiba saja Mentari bertingkah kembali.
__ADS_1
"Tunggu, siapa nama kamu tadi ?" tanya Mentari masih dengan nada yang tak bersahabat.
"Abian," jawabnya singkat.
"Kamu pulang aja, biar Caca pulangnya sama saya." Suruhnya.
"Tapi, kak. Bian ma--"
"Kakak mau bicara sama kamu, penting!" Titahnya tanpa dibantah.
Caca menghela napas sabar. "Kamu pulang duluan aja, biar aku sama Kak Mentari." Ucap Caca menghadap Abian menatap pria di depannya ini dengan lembut.
"Yakin ? nggak apa-apa kan ?" tanya Abian memastikan membuat Mentari mencibir tak suka.
Caca mengangguk. "Iya, nggak apa-apa. Makasih yaa buat tadi. Aku senang banget." Ucap Caca senang.
"Hmm iya aku juga senang banget malam ini." ucap Abian sambil mengelus gemas puncak kepala Caca membuat Mentari berdehem keras. "Aku minta nomor kamu, biar nanti aku gampang hubungi kamu." Pintanya kembali tanpa memperdulikan Mentari.
Segera Caca memberi nomor handphonenya kepada Abian. Lalu tak berapa lama terdengar deringan ponsel Caca. "Itu nomor aku, di save ya. Aku pulang dulu."
"Hmm kamu hati-hati, ya." Seru Caca sedikit tak rela karena merasa tak puas akan pertemuan mereka yang bisa di bilang sebentar.
"Iya kamu juga." Abian segera memeluk Caca erat yang dibalas Caca tak kalah erat. Melihat itu membuat Mentari kesal, lalu berdecak dengan sangat kuat, membuat Revan ingin menggigit gemas istrinya ini. "Aku pulang."
Caca menatap Abian sampai ia masuk ke mobilnya. Jendela mobil dibuka oleh Abian melambaikan tangannya yang langsung dibalas oleh Caca. Bahkan sampai mobil Abian sudah keluar dari halaman minimarket Caca masih melambaikan tangannya.
"Ekhem, orangnya udah nggak ada. Nggak pegal apa tuh tangan ?" sahut Mentari membuat Caca menyengir lucu.
"Ya udah yuk pulang." Ajak Revan akhirnya. Mereka pun segera masuk ke mobil dan meninggalkan halaman minimarket.
"Kamu nginap ya hari ini," ujar Mentari.
"Hah ? Tapi besok aku kerja kak."
"Aku tadi udah izinin kamu supaya nggak masuk besok." Jawab Mentari santai.
"Hah ?" seru Caca syok. Hilang sudah gaji satu harinya batin Caca sedih. Apakah hormon kehamilan semengerikan ini ?
"Reza itu temannya Mas Revan. Jadi tenang aja gaji kamu pasti nggak bakalan di kurangi." Caca hanya mengangguk pasrah. Ibu hamil jangan dibantah, Caca.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like dan comment readers ku tercinta 😘💕