Feeling Attack

Feeling Attack
12. Kejadian dimasa lalu II


__ADS_3

"Hidup... Kita... akan hidup." Ucap Mentari berusaha tersenyum menyakinkan adiknya. "Tetaplah kuat Orion... Dan genggam tangan Kak Langit juga."


"Tapi... tangan Kak Langit dingin," jawab Orion di tengah tangisannya. Karena tangan mereka tidak terlepas saat kecelakaan itu terjadi. "Apa... Kak Langit sudah pergi ?"


Nggak Kak Langit pasti masih hidup batin Mentari berteriak dan tak lama kegelapan datang menghampirinya.


***


Setelah percakapan mengeringkannya dengan Orion mengenai keadaan Langit. Mentari tidak berhasil mengingat apapun lagi. Dan sekarang mata Mentari kembali terbuka dengan pemandangan yang sudah berbeda. Tubuhnya yang sempat ngilu karena terhimpit body mobil kini seolah lepas. Mentari merasa ia berada di rumah sakit sekarang.


"AB Negatif! pasien itu memerlukan darah AB Negatif! cepat cari AB Negatif!" sayup-sayup Mentari mendengar suara panik dari luar yang mencari darah langka tersebut, tak berlama lama berhasil membuat Mentari tersadar sepenuhnya.


DEG


AB Negatif


Segera Mentari bangkit tanpa mempedulikan rasa sakit dan perih yang di rasakan oleh tubuhnya akibat luka bekas kecelakaan ini. Yang terpenting ia harus segera melihat kondisi keluarganya selain Orion yang masih hidup.


"Nona Mentari!" pekik suster yang merawatnya terkejut melihat Mentari berdiri dari tidurnya. Suster itu berlari mendekati Mentari. "Nona jangan turun dari ranjang, luka nona bel--"


"Bagaimana kondisi keluargaku ?" tanya Mentari cepat. "Bagaimana kondisi mama, papa, Kak Langit dan Orion ?! bagaimana kondisi mereka ?!"


"Nona tenang dulu, pikirkan kondisi nona saat ini." Sahut suster bersusah menenangkan Mentari.


"Tenang ?!" Mentari tersenyum remeh. "Tenang kau bilang! kau gila! apakah aku harus berbaring dengan santainya di ranjang ini, sedangkan aku tidak tau kondisi keluarga ku bagaimana!"

__ADS_1


"Maaf nona, ta--"


"Kakak..." Suara lirih dari seseorang berhasil mengalihkan mereka berdua, Mentari menoleh dan mendapati adiknya, Orion. Datang dengan menggunakan kursi roda, kondisinya tak jauh berbeda dengan Mentari. Wajah adiknya tidak sepucat saat di mobil tadi. Tak membutuhkan waktu yang lama, Mentari langsung memeluk adiknya.


"Kakak senang, kakak senang Orion selamat. Kakak senang." Lirih Mentari. Air matanya terjun bebas sedari tadi.


"Tapi, mama meninggal kak," jawab Orion tenang. Mentari langsung melepaskan pelukannya menatap adiknya tak percaya. "Suster bilang, jiwa mama sudah di surga, jadi aku tidak boleh sedih, supaya mama di sana juga nggak sedih. Lagipula aku masih punya Kak Mentari. Kata Suster papa dan Kak Langit juga sedang diobati Dokter jadi aku tidak perlu sedih karena kehilangan mama. Karena aku masih punya kalian."


Perkataan polos dari bibir Orion justru, membuat tangis Mentari semakin pecah. Mama. Wanita terhebat di dunia dan wanita yang paling di cintainya itu telah pergi meninggalkannya. Pergi jauh, sangat jauh. Mama pergi ke tempat yang tidak bisa Mentari menemuinya lagi.


Keesokan harinya, sepulang dari pemakaman Mama dan Langit, pengacara keluarganya datang menemui Mentari. Ya, Mentari harus melepaskan dua orang terpenting dalam hidupnya sekaligus. Dan yang paling menyakitkan bagi Mentari semua ini terjadi karena keputusannya sendiri.


Kemarin pihak rumah sakit hanya mendapatkan satu stok darah untuk satu orang saja. Dengan berat hati, Mentari memutuskan untuk memberikan darah tersebut untuk papanya, persis seperti Langit inginkan sebelum kecelakaan ini terjadi.


Mentari lah yang membuat Langit pergi, Mentari lah yang melepaskan kakaknya, Mentari memilih kehilangan Langit daripada papanya. Dan Mentari dengan berat hati harus mengakui ia menyesal telah melakukan itu, setelah melihat kenyataan bahwa papanya tidak hadir untuk mengantarkan mama dan Langit ke peristirahatan terakhir mereka.


"Papamu, ingin berbicara padamu dan Orion." Jawabnya datar.


"Aku dan Orion ?" ulang Mentari lalu menoleh ke adiknya yang selalu ia gandeng.


"Ya. Silahkan." Pengacara itu membiarkan Mentari dan Orion jalan terlebih dahulu. Setelah mereka sampai di ruang kerja papanya. Mentari memberhentikan pengacara tersebut ketika ingin membukakan pintu ruang kerja papanya.


"Tunggu, sebenarnya apa yang akan papa bahas dengan kami ? dan kenapa Orion harus ikut ? dia bahkan baru sepuluh tahun kemarin."


Pengacara itu menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan Mentari. "Saya tahu, tapi ini mengenai keberlangsungan perusahaan kalian."

__ADS_1


Mendengarnya, membuat Mentari tertawa remeh. "Keberlangsungan Perusahaan ? jadi ini yang membuat papa absen untuk datang ke pemakaman mama dan Kak Langit karena membahas ini denganmu ?" tanya Mentari skeptis.


Tanpa menunggu respon dari orang kepercayaan papanya, segera Mentari menarik pelan tangan adiknya untuk masuk ke ruang kerja papanya dan mendapati bahwa apa yang terjadi kedepannya, semua yang terjadi di keluarganya akan berubah. Karena kecelakaan ini, membuat Mentari Bukan hanya kehilangan Mama dan Langit, tapi Orion. Juga papanya.


***


"Selalu ada alasan kenapa sesuatu terjadi." Kata-kata Mentari kemarin malam kembali terngiang di benak Caca, bahkan setelah gadis ini selesai melaksanakan sholat subuhnya. Caca sekarang jadi paham kenapa Langit—eh—Orion maksudnya, Caca mendadak bingung harus memanggil apa Laki-laki dewasa itu. Intinya lelaki itu berubah dan menjadi aneh setelah pemakaman mamanya Kak Mentari dan Kak Langit di berlangsungkan.


Menurut dari cerita Mentari, Orion yang harus menyandang nama Langit perlahan-lahan mulai berubah. Sifat ceria, humoris dan usilnya menyerupai Mentari mulai hilang, tergantikan dengan sifat Langit yang dominan kaku, berbicara to the point dan selera humor yang rendah.


Bukan hanya itu, setelah kecelakaan itu papanya tidak bisa berjalan dan harus duduk di kursi roda. Sementara Mentari dan Orion tidak bisa sekolah umum, melainkan Home Schooling. Semenjak saat itu papa menjadi sangat protektif pada Mentari dan Orion. karena ia tidak ingin kehilangan mereka berdua seperti istri dan anak pertamanya.


Beranjak dewasa, ketika Mentari memasuki usia dua puluh tahun Mentari menjalin hubungan dengan Revan, Orion yang saat itu masih berusia tujuh belas tahun mulai menjadi sarkas, setiap ucapan yang keluar dari mulutnya lebih sering menyinggung Revan. Orion tidak bisa menutupi rasa tidak sukanya pada pacar kakaknya itu.


Bahkan sampai beberapa kali rencana pernikahan Mentari dan Revan batal karena Orion yang tidak setuju, ia tidak mengizinkan Kakaknya untuk menikah dengan Revan. Ia tidak mau kakaknya meninggalkan dirinya. Hingga akhirnya Mentari mengerti bahwa Orion yang sarkas itu adalah dirinya yang sebenarnya. Sedangkan sikap bossy dan kakunya adalah sisi Langit.


Orion kecil telah mengalami kejadian yang tragis, mama dan kakak tercintanya telah pergi meninggalkannya. Ia selama ini hanya bisa bergelantungan dengan Mentari. Dan papanya yang seharusnya sebagai sosok yang harus menguatkan anaknya, malah memaksa Orion untuk menjadi sosok seperti kakaknya. Dewasa, tenang tapi kaku dan terlalu serius.


Caca membaringkan dirinya di ranjang, hari ini ia masuk kerja pukul sembilan pagi masih ada waktu untuknya bersantai sebentar. Caca memandang langit-langit kamarnya kembali. Sebenarnya masih banyak yang ingin Mentari sampaikan ke Caca tapi berhubung tadi malam Caca memutuskan untuk pulang mengingat hari sudah malam dan ia sudah berjanji pulang dengan Nana, jadi pembicaraan mereka menjadi tertunda.


Mentari bilang ia harus datang saat jam kerjanya sudah selesai. Caca menghela napasnya lalu pandangannya beralih ke meja kecil samping ranjangnya menatap sebuah amplop. Tujuan awalnya ia datang ke sana kemarin adalah ingin memberikan uang ini pada Langit eh Orion sebagai ganti rugi mobilnya. Tapi kejadian tak terduga terjadi kemarin.


"Baiklah hari ini aku harus memberikan ini padanya." Gumam Caca.


***

__ADS_1


Jangan lupa Like yaa dan Comment juga 😀


__ADS_2