Feeling Attack

Feeling Attack
8. Interogasi


__ADS_3

"Jadi, Caca ini teman kamu ?" tanya Kevin pada adiknya. Saat ini mereka berada di ruang keluarga. Kevin yang duduk di single sofa seperti sedang menghakimi kedua gadis di depannya. Tidak, itu hanya berlaku kepada Caca, buktinya Nana santai-santai saja di sebelah Caca.


Tidak seperti Caca, kedua tangannya menggenggam erat menyembunyikan gemetar pada tangannya beriringan dengan detak jantung yang tengah berdisko di tempatnya, seluruh tubuhnya sudah berkeringat dingin. Apakah gua bakalan di usir ?


"Iya kak, dia temannya Nana."


"Teman kamu yang mana ? bukannya teman kamu pasti tau siapa kakak ?" tanya Kevin dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Kakak tau Tata, kan ?" Kevin mengangguk. "Nah sih Caca ini sahabatnya Tata."


"Terus ?" tanya Kevin kembali.


"Dia jauh-jauh ke sini pengen ketemu sama teman masa kecilnya terus...." mengalirlah cerita Nana tentang awal mula Caca datang ke sini dan sebab ia menetap sementara di sini.


Kevin mengangguk-angguk lalu menghela napas. "Ya udah, kalian lanjutin tidurnya," Suruhnya sambil melihat jam dinding di ruang keluarganya. "Kakak tidur di kamar tamu aja."


"Iya Nana masih ngantuk juga." Ucapnya setengah menguap.


"Dek, tutup mulutnya." Tegur Kevin memperingati. Nana nyengir sambil bergumam maaf ke kakaknya.


"Yuk, Ca tidur lagi." ajak Nana.


"Ngg... Lu duluan aja." Balas Caca sambil menatap Nana 'gua masih ada urusan di sini' Nana mengangguk saja.


"Ya udah Nana duluan ya, good night kakak," ucapnya beranjak tak lupa kecupan selamat tidur untuk kakaknya.


"Night juga Princess." Balas Kevin setelah mengecup kening adiknya.


Setelah Nana menghilang dari ruangan ini, Keduanya secara tak sengaja menghela napas bersamaan. Menyadari itu, Kevin segera membuka suaranya.


"Mau ngomong apa ?" tanyanya pada Caca. Ia tahu bahwa gadis berstatus teman adiknya ini ingin berbicara padanya.


"Ngg... itu... kakak nggak apa-apa, kan ?" cicit Caca memberanikan diri menatap wajah abang temannya ini. Kevin mengernyit "Eh maksudnya gini, kamu kan kakaknya Nana jadi aku harus panggil kamu 'kakak' juga dong. Soalnya aku sama Nana sepantaran." Buru-buru Caca menjelaskan setelah melihat raut wajah Kevin yang bingung.


Gadis di depannya ini suka menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar adanya. Padahal bukan soal panggilan yang membuat Kevin heran, tapi dengan pertanyaan gadis di depannya ini. Tunggu—Aaa Kevin baru teringat bahwa gadis ini memukul badannya dengan sapu lidi dengan sangat brutal.


"Aku minta maaf soal tadi, aku beneran nggak tau kalau kakak itu adalah kakaknya Nana, soalnya aku belum pernah liat kakak sebelumnya dan nggak pernah liat fotonya juga." Ujarnya lagi menyadari Kevin masih berdiam diri.


"Apa foto di ruangan ini kurang besar sehingga selama kamu tinggal di sini tidak pernah melihat foto saya ?" tanyanya dengan pandangan mengarah ke belakang Caca. Caca segera mengikuti arah pandang Kevin dan berhasil membuatnya melongo.

__ADS_1


"Perasaan kemaren-kemaren kagak ada deh." Gumam Caca yang rupanya terdengar oleh Kevin.


"Udah dua tahun foto keluarga itu nggak pernah pindah posisinya." Sahut Kevin mengagetkan Caca.


"Hehe... mungkin aku nggak terlalu memperhatikan." Cengir Caca yang dibalas dengan wajah lelah Kevin.


"Kamu nggak tidur ?" tanya Kevin setelah cukup lama mereka terdiam.


"Sebentar lagi kak, Kakak duluan aja." Kevin mengangguk lalu beranjak dari kursi menuju kamar tamu.


"Kak Kevin" panggil Caca berhasil memberhentikan langkah Kevin.


Kevin menoleh menatap Caca 'ada apa ?'.


"Besok aku bersihin kamar kakak, jadi besok malam kita tukaran kamar. Biar aku yang tidur di kamar tamu, kakak bisa balik ke kamar kakak lagi." Jelas Caca.


"Hmm oke," jawabnya singkat lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Caca seorang diri di ruang tengah ini.


***


Sinar Mentari pagi masuk di cela-cela tirai kamar Kevin yang sedang di tempatkan oleh Caca. Caca mengernyit lalu mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha memulihkan penglihatannya.


"Hoaamm...." Caca menguap sambil mulai meregangkan tangan beserta badannya. Lalu melirik jam weker yang sudah menunjukkan waktu 7 pagi.


Caca tergopoh-gopoh menuruni tangga menuju ruang makan dan benar yang lainnya sudah berkumpul di sini. Kevin dan Nana sudah duduk manis di kursinya. Lauk-pauk sudah tersaji di meja makan yang telah disiapkan oleh mbok Sum dan mbok Mina.


"Sorry Caca bangun kesiangan." Katanya menunduk.


"Iya, nggak apa apa kok. Tadi gua mau bangunin lu awal tapi pas gua liat lu kelihatan capek banget ya udah gua nggak bangunin," sahut Nana menjelaskan.


Caca langsung cemberut "Ih nggak apa-apa, bangunin aja gua awal. Kan gua bisa juga bantuin Mbok Sum sama Mbok Mina masak." Sungut Caca tak sadar dari tadi di perhatikan oleh Kevin.


"Emang kamu bisa masak ?" Caca menoleh ke sumber suara itu. Kevin menatapnya dengan pandangan yang bisa Caca tangkap seperti meremehkan.


"Eh, jangan salah kak. Caca ini kalau soal masak dia jagonya. Nana aja beberapa kali dibuatin kue sama dia." Jawab Nana membela Caca.


"Benarkah ?" seru Kevin tak percaya.


"Iya, kalau nggak percaya kakak nanti cobain masakan Caca, dijamin ketagihan." Ujar Nana lagi dengan semangat mempromosikan kelebihan Caca dalam memasak.

__ADS_1


"Terus kamu masih betah berdiri di situ ?" tanya Kevin mengernyit.


"Eh iya, lupa pula jadinya, keasikan liatin Nana promosi kelebihan Caca. Ah Nana bisa aja, jadi Malu Caca." Nana terkekeh melihat Caca seperti itu sedangkan Kevin menatap Caca mengernyit heran dengan sikap Caca yang berubah.


Tak ambil pusing ia pun mulai mengambil piringnya. Tetapi ditahan oleh Caca.


"Biar Caca aja, Kak." ujar Caca mengambil piring dan mencedokkan nasi ke piring Kevin.


"Udah cukup, Kak ?" Kevin mengangguk. Nana hanya tersenyum melihat ekspresi wajah kakaknya sekarang.


"Biar saya saja ambil lauknya." Sahutnya.


"Oh Oke." Kila menyerahkan piring tersebut ke Kevin.


"Elu mau di ambilin juga nggak ?" tawarnya ke Nana.


"Enggak deh, gua bisa ambil sendiri. Lu layanin aja abang gua." Godanya ke Caca. Kevin menatap adiknya tak mengerti.


"Gimana kak, dilayanin sama Caca ? berasa kayak suami yang dilayani oleh istri ya haha..." goda Nana pada Kevin. Caca tersenyum ingin menimbrung omongan Nana tapi ia takut akan reaksi Kevin nantinya. Cari aman dulu atau melihat respon Kevinnya dulu seperti apa.


Dan Caca perhatiin Kevin masih dengan muka datar plus kakunya menatap ke adiknya dan menjawab "Nggak biasa aja." Ucapnya datar. Apakah sudah saatnya Caca ikutan nimbrung ?


"Ala... kayak Nana nggak sadar aja wajah Kak Kevin tadi merah." Ledek Nana.


"Me-Merah dari mana ?" ujarnya berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Wahh berarti lu berharap gua jadi kakak ipar lu dong ?" sahut Caca akhirnya. Kedua kakak beradik ini langsung memandang ke arah Caca.


"Boleh, gua juga tau lu orangnya gimana yaa bisa lah buat abang gua bahagia." Ucapnya entah itu serius atau hanya gurauan. Tapi Caca menangkap itu sebagai gurauan semata.


"Gua sih mau-mau aja. Masalahnya Kak Kevin mau apa nggak ?" tanya Caca sambil melirik Kevin entah seperti apa ekspresinya sekarang.


"Maaf, saya sudah punya pacar." Jawab Kevin datar. Mengundang tawa pecah dari Nana maupun Caca. Kevin memandang keduanya mengernyit tak mengerti.


"Ada yang lucu ?"


"Haha... Wajah kakak tadi lucu tau, Hhh andai aja aku rekam tadi." Jawab Nana masih dengan tawanya. "Ya lagian Kakak kaku banget, sih. Kita ini cuma bercanda aja. Niatnya mau buat kakak santai aja sikapnya."


"Kalian..." geram Kevin.

__ADS_1


"Hehe peace kak, bercanda aja kok." ujar Caca berpose imut sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga berbentuk V.


Kevin menghela napasnya. "Kalian habisin makanannya." Perintah Kevin dingin yang langsung di laksanakan keduanya. Sesekali Kevin melihat Nana mengobrol di selingi tertawa bersama Caca. Sudah lama rasanya ia tidak melihat tawa lepas dari adiknya. Lalu pandangannya menuju ke Caca tanpa dia sadar terbit senyuman kecil di bibirnya dan berharap dalam hati, adanya Caca di rumah ini membawa kebahagian bagi penghuni rumah ini.


__ADS_2