
Caca tidak bekerja, karena hari ini adalah jadwal off-nya, jadi ia punya banyak waktu untuk membersihkan kamar Kevin yang malam ini akan digunakan kembali oleh penghuni aslinya. Kevin sudah berangkat kerja sekitar satu jam yang lalu sedangkan Nana hari ini ada kelas pagi. Tinggallah Caca beserta Mbok Sum dan Mbok Mina.
Caca sedang memindahkan pakaiannya ke dalam keranjang supaya memudahkan Caca membawa pakaiannya ke kamar tamu. Lemari yang di tempatinya itu masih ada beberapa baju Kevin, kata Nana sih baju abangnya lebih banyak di Apartemen.
Sudah dua jam Caca menghabiskan waktunya untuk memindahkan barang-barangnya ke kamar tamu lalu membereskan kamar kedua-duanya. Caca membaringkan diri di tempat tidur kamar tamu yang sekarang menjadi kamarnya. Niatnya untuk mengistirahatkan badan. Baru saja Caca ingin memejamkan matanya tiba-tiba saja handphone Caca berdering. Dilihatnya Panggilan video dari Ibunya.
Kila segera bangkit lalu membenarkan posisi duduknya. Kemudian mengangkat panggilan tersebut. Dan nampaklah sosok wanita berhijab yang masih cantik walaupun usianya tak lagi muda.
"Assalamu'alaikum Ibu." Sapa Caca menatap Ibunya dengan senyuman.
"Wa'alaikumussalam sayang. Gimana kabar adek di sana ? sehat-sehat aja, kan ?" terdengar suara ibu yang tak pernah berubah mengalun lembut di telinga Caca.
"Alhamdulillah Caca baik-baik aja, Bu. Ibu gimana kabarnya ? sehat-sehat teruskan di sana ?" tanya Caca.
"Alhamdulillah dek, kami di sini sehat-sehat semua. Tantemu juga sehat." Jawab ibunya.
"Syukurlah, katanya Bang Kiki kemarin pulang ya ? kok dia nggak ada kabarin Caca, Caca aja dapat tau dari story Instagramnya." Adu Caca sambil cemberut. Mengundang tawa ibunya.
"Iya, abangmu kemarin ada pulang ke sini cuma tiga hari aja, baru saja tadi pagi ibu ngantarin dia ke bandara." Jelas ibunya.
"Tuh kan, bukannya bilang-bilang ke Caca. Setidaknya sebelum berangkat, kan dia bisa telpon Caca dulu." Sungut Caca kembali. "Hufft dasar Bang Kiki."
"Haha... tadi kami telat tau perginya untung aja abangmu nggak ketinggalan pesawat."
"Hufft alasan." Cibir Caca.
"Lah apa bedanya sama kamu, kamu aja jarang kasih kabar ke ibu, Kalau bukan ibu yang nelpon kamu duluan. Masih mendingan abangmu sering kasih kabar dan sempat pulang walaupun sebentar." Omel ibunya.
"Ya... Ta-tapi kan Caca sering chatan sama ibu. Ibu kan tau kalau Caca di sini juga kerja." Belanya.
__ADS_1
"Abangmu juga kerja, tapi dia bisa telpon ibu walaupun sebentar." Balas ibunya membuat Caca menunduk. "Anak ibu hanya dua kamu dan abangmu. Keduanya enggak berada di samping ibu. Yang satu merantau di negeri orang yang satunya lagi merantau di kota orang. Kamu anak perempuan ibu satu-satunya. Enggak ada satu pun orang tua yang nggak khawatir anak gadisnya merantau di luar sana. Ibu hanya ingin kamu sering kasih kabar ke ibu bukan hanya sekadar chat saja."
Caca makin menunduk di sana menyembunyikan tangisannya. "Maaf," cicit Caca. Terdengar helahan napas di seberang sana. Caca mengangkat kepalanya menatap ibunya sedih merasa bersalah kepada perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Maafin Caca hiks Caca banyak salah sama ibu hiks. Caca nggak hiks telpon ibu itu hiks ada alasannya." Menarik napasnya. "Caca takut kalau telpon ibu duluan, Caca takut ibu bakalan suruh Caca pulang." Ucap Caca jujur. Terdengar helahan nafas di seberang sana.
"Hhh... kenapa ? adek nggak mau pulang ?" tanya Ibu Caca.
"Bukan, bukan itu maksud Caca. Caca pasti pulang kok pasti, cuma Caca masih ada urusan yang belum Caca selesain di sini, ibu pasti tau apa alasannya." Kata Caca.
Ibu Caca lagi-lagi menghela napasnya. "Ya udah, adek cepat selesain urusannya. Tapi janji ya adek pulang saat urusan adek itu udah selesai."
"Pasti, Caca akan pulang setelah urusan Caca selesai." Janji Caca.
Ibunya tersenyum. "Ya udah kamu hapus air matanya gih, jelek tau." Ledek ibunya membuat Caca cemberut.
"Ih... ibu." Sungutnya Caca sambil menghapus air matanya.
"Siap, laksanakan!" seru Caca serentak dengan gerakan hormat. "Kirim salam sama Tante Siska ya."
"Iya nanti ibu sampaikan, kamu sehat-sehat ya di sana. Jangan sering begadang terus jangan telat makannya." Pesan ibunya.
"Iya, ibu juga jaga kesehatannya."
"Iya, ya udah ibu tutup dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati ya, Bu. Perginya." Ibunya hanya mengangguk langsung memutuskan sambungannya.
Caca termenung menatap layar ponselnya, apa yang di katakan ibunya memang benar. Selama Caca di sini, ia hanya sering memberi kabar melalui chat tanpa menelpon ibunya duluan.
__ADS_1
"Hufft maafin Caca ibu." Gumam Caca serentak membaringkan dirinya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan yang menerawang.
Ibunya pasti kesepian di sana, kedua anaknya sama-sama pergi merantau. Ayahnya Caca sudah 5 tahun yang lalu meninggal dunia akibat penyakit jantung yang dideritanya. Sekarang ibunya hanya tinggal sendiri di sana, untung saja Tante Siska, adik ibunya. Rumahnya berdekatan sama rumah ibu Caca jadi ia bisa sering-sering menemani ibu.
Bunyi pesan masuk berhasil membuyarkan pikiran Caca, kembali menggapai ponselnya dan membuka pesan tersebut. Dengan seketika pesan itu berhasil mengubah mood Caca.
"KYAAAAA!... yes! yes! yes! akhirnya." Jerit Caca senang seraya melompat-lompat. Tempat tidur yang semula rapi kini berantakan akibat aksinya.
***
"Makasih bang," ucap Caca pada abang ojol sembari memberi upah.
"Makasih juga neng." Ucap abang ojol lalu menjalankan motornya.
Caca menatap bangunan mewah di depannya. Sudah berapa lama ia tidak main ke sini.
"Eh, Neng Caca ya ?" ucap satpam rumah itu. Burhan. "Sebentar."
"Neng ke mana aja, udah lama nggak main-main ke sini." Ujarnya lagi setelah membukakan pintu pagarnya.
"Hehe... biasa lah pak, Caca sibuk kerja." Cengir Caca. "Kak Mentari ada kan di rumah ?"
"Ada di dalam sama Tuan Langit."
"Om Langit ada di rumah ? dia nggak kerja ?" kata Caca heran.
"A-anu... Tuan katanya sakit." Jawab Pak burhan dengan suara yang pelan.
"Oh ternyata bisa sakit juga dia." Gumam Caca pelan. "Kalau gitu Caca, masuk ke dalam ya pak. Oh iya ini untuk bapak, untuk nemanin bapak ngopi." Menyerahkan satu box brownies ke Pak Burhan.
__ADS_1
"Makasih ya, Neng." Teriak Pak Burhan. Caca mengangkat jempolnya dari kejauhan.
Caca menekan bel rumah Mentari, yang tak berapa lama dibukakan oleh pelayan rumah ini. Setelah saling menyapa, Caca menanyakan keberadaan Kak Mentari di mana tapi pelayan tersebut menjawabnya dengan tergagap-gagap membuat Caca mengernyit merasa ada yang aneh. Dan tak berapa lama terdengar suara pecahan diiringi dengan teriakan Mentari. Suara itu dari lantai atas tepatnya di kamar Langit tanpa pikir panjang Caca segera naik ke atas.