Feeling Attack

Feeling Attack
17. Hanwha Group


__ADS_3

"Caca kamu nggak ngerti, maks--"


"Apa kak ? maksud kakak apa ? apa kakak ngomong seperti ini ke Caca untuk mematahkan harapan Caca untuk berbahagia bersama Bian nantinya ? iya ?" seru Caca memanas melupakan bahwa Mentari sekarang sedang hamil besar.


"Enggak! kakak nggak sama sekali berniat seperti itu, hanya saja, kamu yang memiliki perasaan ini sedangkan dia tidak. Kalian berada di dalam cinta sepihak."


"Kakak bukan pakar perasaan orang, kan." Kali ini nada yang di keluarkan sedikit melunak membuat Mentari terdiam. "Jadi jangan menyimpulkan seperti itu, ini hidup aku. Biar kami yang membuktikan dan memutuskan apa yang bakalan terjadi dengan hubungan kita berdua."


Bendungan Air mata Caca pecah, tak mampu menahan lebih lama lagi. Ia terisak lirih, sedikit banyak ucapan Mentari tadi berpengaruh baginya. Mentari terkejut melihat Caca yang tiba-tiba saja terisak segera Mentari memeluk Caca berusaha menenangkan Caca, bukan maksud Mentari membuat Caca menangis.


"Maafin kakak, aku nggak mau kamu terluka nantinya. Kamu udah aku anggap seperti adikku sendiri. Aku sayang sama kamu, Ca." Ucapnya lirih tanpa sadar air matanya juga ikut mendarat di kedua pipinya.


Caca masih terisak, hatinya menghangat mendengar ucapan Mentari tadi. Ia pun merasakan hal sama. Caca menganggap Mentari seperti keluarganya sendiri, kakaknya sendiri. Dan ia sangat menyayangi Mentari.


"Maafin Caca ya, tadi buat kakak kaget, bukan maksud Caca untuk bentakin kakak. Reflek aja tadi." Ucap Caca di sela-sela tangisannya.


Mentari mengerahkan pelukkannya "Ia nggak apa-apa kok, kakak juga paham. Lagian itu juga salah kakak."


"Dedeknya nggak kaget, kan ya ?" ucap Caca sambil mengelus perut Mentari, posisinya masih di dalam pelukan Mentari.


"Enggak kok aunty." Jawab Mentari dengan menirukan suara anak kecil. Sehingga berhasil membuat Caca tertawa.


"Hal yang mau kakak omongin ke Caca, yang tadi ?" tanyanya setelah pelukan mereka terlepas.


"Bukan." Jawab Mentari singkat.


"Terus ?"


"Entar kakak certain, sekarang kamu tenangin diri kamu dulu."


"Nanti ujung-ujungnya kakak lupa ceritain ke Caca." Balas Caca cemberut.


"Enggak, hari ini bakalan kakak ceritain ke kamu." Ucap Mentari gemas melihat ekspresi Caca sehabis menangis. "Kamu kalau habis nangis lucu yaa. Gemes aku liatnya."


"Kakak udah kesekian orang yang bilang Caca gemesin, tapi makasih loh yaa." Candanya. Mentari hanya mengusap gemas kepala Caca.


Bunyi ketukkan pintu berhasil memberhentikan interaksi keduanya. Mentari menyaut panggilan dari pelayan rumah ini, dan tak lama muncul pelayan perempuan bertubuh gemuk dari balik pintu.


"Ada apa ?" tanya Mentari.


"Anu... ini ada telpon dari Tuan Langit." Ucapnya sambil menyerahkan telepon rumah kepada Mentari.


Mentari menerimanya setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan tersebut, lalu ia pun pamit undur diri.


"Halo, ada apa Langit ?"


"Handphone kakak ke mana ?" terdengar nada kesal di sana.


"Handphone kakak di kamar. Ada apa ?"


"Berkas aku ketinggalan, kakak bisa ambilin di kamar aku ? mapnya warna biru di meja kerja aku." Jawab Langit seberang sana.


"Oh bisa, entar kakak ambilin, mau di antar sekarang ?"


"Biar Farhan yang ngambilnya ke sana, kakak nggak usah antarin."

__ADS_1


"Lah ? apa salahnya kakak juga lama nggak main ke sana."


"Kakak nggak sadar, di dalam perut kakak ada siapa ?" ucap sarkasnya.


"Aduh... kamu ini adik yang paling sweet deh, iya deh entar kakak suruh Caca aja yaa yang antarin berkas kamu." Ucap Mentari membuat Caca melotot kaget. Caca menatap Mentari sambil menggerakkan mulutnya tanpa suara "Aku ? kenapa harus aku ?" jarinya menunjuk ke dirinya sendiri.


"Enggak usah, biar Farhan aja yang ngambil nya di sana."


"Enggak bia--" ucapan Mentari berhenti karena panggilan tersebut di putuskan oleh adiknya.


"Ck dasar adik durhaka." Dumel Mentari kesal.


"Kak, kok aku yang ngantarin berkasnya ?" tanya Caca yang tak terima usul Mentari tadi.


"Nggak apa-apa, entar kamu ikut Farhan ke sananya." Jawab Mentari santai.


"Nah, kan ada Mas Farhan yang ambilnya, kenapa Caca harus ikut juga ?" tanya Caca heran.


Mentari mengernyit "Mas Farhan ? kamu kenal dengan Farhan ?"


"Dia itu, tunangannya teman aku kak, si Tata."


Mentari mengangguk-angguk. "Nggak apa-apa kamu ikut, sekalian kamu antarin makan siang untuk Langit nantinya, dia itu kalau terlalu serius kerja suka lupa makan."


"Lah, kan ada Mas Farhan ? sekalian titipin ke dia aja." Kata Caca masih berusaha protes.


"Farhan itu pasti sibuk juga, Farhan nggak bisa bujukin Langit."


"Mas Farhan aja nggak bisa, apalagi Caca." Dumelnya.


"Ya udah gih, kamu siap-siap bentar lagi Farhan datang."


Caca mengangguk pelan, mau tak mau dia harus menuruti kemauan Mentari. Ingat jangan membantah orang hamil.


***


Di sinilah Caca sekarang satu mobil bersama tunangan sahabatnya. Suasana di sini sangat sepi dan terasa canggung, lebih tepatnya Caca yang merasa canggung. Sebenarnya baru pertama kali untuk Caca satu mobil hanya berdua dengan Farhan biasanya ia sering bertiga dengan Tata dan akibatnya Caca selalu menjadi obat nyamuk di kursi belakang.


"Tata nggak marah, kan yaa ? Caca dudukin tempatnya." Ucap Caca membuka suara sambil duduk tak nyaman di kursi yang sering Tata duduki, yaitu kursi samping pengemudi.


Farhan mengernyit. "Nggak, kamu sahabatnya Tata dari kecilkan ? masa nggak tau sifat Tata gimana." Sarkasnya dengan pandangan fokus ke depan.


Caca mendelik tajam. Nih orang benar-benar ya. Untung tunangan sahabat Caca. "Mas Farhan dekat ya sama Kak Mentari ?" tanya Caca penasaran.


Farhan menoleh sebentar. "Kenapa berpikiran seperti itu ?"


"Soalnya tadi Mas Farhan manggil Kak Mentari hanya pakai namanya saja, enggak panggilan formal."


"Mentari itu teman saya waktu jaman sekolah." Ucap Farhan menjelaskan.


Caca mengangguk-angguk sambil membulatkan mulutnya. Pantasan tadi mereka akrab banget dan ngomongnya santai banget bukan semacam atasan dan bawahan.


"Kamu tau Mentari itu siapa ?" Caca menoleh dan mengernyit. "Dia itu sebenarnya Direktur Utama di Hanwha group."


"Hanwha group ?"

__ADS_1


"Hanwha group adalah dua perusahaan yang menjadi satu. Setelah Mamanya meninggal, perusahaan itu diambil alih oleh Mentari dan diubah nama kepemilikannya. Karena perusahaan itu memang diwariskan untuk Mentari."


"Mas Farhan, tau permasalahan yang terjadi dalam keluarga itu ?" Tanya Caca.


Farhan mengangguk kecil. "Aku yakin, Mentari pasti udah ceritain ke kamu kan." Bukan pertanyaan lebih tepatnya penyataan.


"Belum semuanya sih, kalau soal kecelakaan itu Kak Mentari udah cerita." Jawab Caca menunduk memandang kotak bekal makan siang untuk Langit.


"Tungguin aja, entar kamu bakalan tau semuanya."


"Berarti Mas juga tau dong tentang Om Langit dan Om Orion ?" Farhan sempat terkejut mendengar panggilan Caca tersebut tapi ia segera menganggukkan kepalanya.


"Mas udah pernah ketemu sama Om Langit yang aslinya ?" tanya Caca bernada polos.


"Pernah, ketemu sekali saat ulang tahun Orion." Caca mengangguk. "Kamu jangan pernah sebut nama Orion di depan pemilik namanya."


"Iya, Kak Mentari juga pernah ingatin Caca seperti itu."


"Bagus."


"Mas Farhan, kapan ngehalalin sahabat aku ? nggak baik atuh menunda ibadah." Seru Caca tiba-tiba membuat Farhan menatap Caca aneh.


"Saya masih menunggu sahabat kamu untuk siap." Jawab Farhan pasti.


"Berarti Mas Farhan benaran, kan sama sahabat aku ?"


Farhan mendelik tajam "Kamu pikir umur saya sekarang cocok untuk main-main, apa selama ini kamu nggak liat keseriusan saya pada sahabat kamu ?" ucapnya dingin.


"Ih... baperan banget sih." Farhan menatap tajam. "Eughh... Bukan itu maksud Caca. Caca nggak mau kali--"


"Iya saya mengerti maksud kamu. Makanya nasehatin sahabat kamu supaya cepatan mau."


"Siap, entar Caca kasih wejangan ke Tata." Sahutnya terkekeh.


"Setahu saya, usia Tata lebih tua setahun daripada kamu. Kenapa manggilnya tanpa embel-embelan kakak ?"


"Mas Farhan udah lama, kan dekat sama Tata ? masa nggak tau sifat Tata gimana." Katanya membalikkan ucapan Farhan tadi.


Farhan mendengus kesal dan menarik napas sabar. Untung sahabat tunangannya. Caca melihat ekspresi Farhan hanya bisa tertawa pelan. Kalau terbahak bisa-bisa dia langsung di turunin nanti.


***


Aku.....


Cuma.....


Mau.....


Bilang....


Makasih banget buat kalian yang udah ngedukung cerita aku ini 💕😘


Jangan bosen bosen untuk baca cerita aku ini yaaa


Jangan lupa juga untuk like dan comment cerita aku, cerita ini perlu kritik dan saran dari kalian 😊

__ADS_1


__ADS_2