Feeling Attack

Feeling Attack
7. Hari Buruk


__ADS_3

Waktu sudah menujukkan pukul 10 malam, jam tutup Cafe Pelangi. Saat ini hanya ada beberapa pengunjung yang masih nongkrong, terpaksa Joko mengusir pengunjung tersebut dengan sopan. Di meja kasir Caca sedang sibuk menghitung pemasukkan hari ini, sedangkan Via dan Joko membersihkan bagian depan, serta di bagian dapur ada beberapa Koki yang sedang berkemas. Vira dan Danang hari ini masuk di shif pagi. Reza ? Entahlah, seharian ini Caca tidak melihat keberadaan bosnya, baguslah setidaknya hari ini Caca tidak susah-susah untuk mencari alasan menolak ajakan Reza.


"Joko.....! itu lantai udah gua pel tau! kenapa lu injak lagi!" teriakkan Via membuat kosentrasi Caca terpecah.


"Heh! salah lu tau! gua belum selesai angkat kursinya lu main pel aja." Balas Joko.


"Lagian lu lama banget, gua mau cepat pulang nih!" sungut Via. Untung saja lantai atas sudah beres.


"Cih, Drakor yaa?" sahut Caca, tugasnya sudah selesai saatnya membantu mereka.


"Yap, seratus untuk Caca." Seru Via "Kasihan oppa-oppa gua udah pada tungguin di rumah." Via ini penggemar drakor, rela bergadang demi menonton drama tersebut.


"Cih apa bagusnya sih! lebih gantengan gua dari pada plastik berjalan itu," ketus Joko. Via langsung mendelik tajam.


"Coba munduran dikit Jo." Pinta Caca.


"Kenapa ? mau bilang gantengnya kelewatan yaa ?" ucap Joko terkekeh seraya mundur satu langkah.


"Dih... bukan kali, tuh kain lapnya jatuh." Jawab Caca santai tanpa menghiraukan wajah melongo Joko.


"Haha..." Via terpingkal, senang banget dia mah.


"Tawa aja terus!" sindir Joko.


"Haha... Lagian lu KePDan banget, muka kayak gitu mana bisa bersaing dengan oppa-oppa. Kalah telak lu mah." Hina Via Masih dengan tawa besarnya. "Dan enggak semua orang korea itu oplas tau!" sambungnya tak terima ucapan Joko tadi.


"Ala--"


"Kalian mau nginep di sini ?" potong Caca. Ini kapan pulangnya kalau mereka ribut terus, yang lainnya sudah pamit pulang hanya tinggal mereka bertiga di sini. Heran, ribut kagak ingat waktu mereka.


"Debatnya disambung nanti aja, ini udah malam banget," reflek Joko dan Via melihat jam dan langsung membalakkan mata. Gila udah hampir jam 11 aja seharusnya mereka sudah menuju pulang.


"KYAAA oppa-oppa guaaa..." pekik Via histeris. "Argghh ini semua gara-gara lu tau!" tunjuknya ke Joko.


"Eh enak aja! ini semua gara-gara lu juga!" balas Joko tak terima.


"Ih pokoknya salah lu!"


"Lu yang salah!"


Lah malah ngedrama mereka.


"Lu ya--"


"Elu bedua gak salah! gua yang salah! dah puas!" jerit Caca. Kesal dia, Huh berkurang sudah waktu tidurnya malam ini. Joko dan Via terdiam, mereka saling pandangan, seakan saling menukar pertanyaan, mungkin. Kemudian pandangan mereka berali ke Caca.


"Lu PMS ?/Lu Nyanyi ?" Ujar Via dan Joko serempak. Semburat merah muncul di pipi Caca. Sialan Via lancar banget tuh mulut ngomongnya.


"ENGGAK." Jawab Caca tak santai.


"Dih ngegas." Jawab Via.


"Ya udah gua pulang duluan aja," rajuk Caca.


"Nana yang jemput ?" tanya Joko, Nana bisa di bilang pelanggan tetap di cafe ini.

__ADS_1


"Enggak, gua nanti pulang sama abang ojol aja."


"Yaahh, pulang sama A'a Joko aja." Tawar Joko tapi sambil melirik Via yang bisa ditebak ada wajah tak suka di sana. Gengsi dipelihara.


"Terus aja terus, jadiin gua sebagai alat tes," sindir Caca. "Gemes sekaligus geli gua liat lu berdua."


"Hah ?" Tanya Via tak mengerti.


"Enggak, lu ajak Via pulang bareng aja. Hari ini dia enggak bawa motor, iya kan Vi ?" Caca mencoba menjadi mak comblang, lalu pandangan Joko berpindah ke Via.


"Mau gak ?" tawar Joko.


"Hm boleh, menghemat biaya juga." Jawabnya masih dengan nada acuh. Padahal Caca yakin tuh jantung udah begendang dari tadi.


Apakah kalian pernah berada diposisi Caca, menjadi wadah curhat dari teman kalian yang sebenarnya suka sama suka tapi saling gengsi satu sama lain ? apa yang kalian rasa ? kalau Caca merasakan jengkel sekaligus kesal. Bukan, bukan Caca enggak suka jadi tempat curhat, cuma kesal aja gitu loh, mereka itu sebenarnya bisa menebak gimana perasaan satu sama lain. ini dibuat ribet segala, saling beri kode-kodean ujung-ujungnya Caca juga yang kena imbasnya.


Sering dijadiin alat uji coba di sini sekaligus menjadi mak comblang keduanya. Caca merasa sedang menghadapi pasangan anak sekolahan yang baru mengenal rasa ketertarikan antar lawan jenis, padahal yang lahir duluan mereka berdua daripada Caca, pengalaman mereka pasti lebih banyak daripada Caca. Lah ini secara tak langsung Caca sudah menjadi guru BK mereka atau mungkin biro jodohnya mereka.


Ahh memikirkan mereka berdua enggak ada habisnya, padahal dari segi tampang keduanya sangat oke kok. Joko, dia termasuk kategori cowok ganteng dan manis, tinggi, hidung mancung, kulit putih dan Via perhatiin wajah Chinesenya lebih menonjol daripada wajah Jawa. Sedangkan Via jangan ditanya lagi, kalau Caca ditakdirkan menjadi cowok mungkin dia bakalan jatuh cinta dengan Via, postur badannya yang sama seperti Caca, size wajah yang serba imut, kulit bersih. menurut Caca seperti boneka berjalan. Huh bukan kah mereka sangat cocok ?


"Lu udah pesan ojol ?" tanya Via. Saat ini mereka sudah di parkiran, di sebelah sana Joko sedang mengunci pintu Cafe.


"Udah, lagi di jalan abangnya. Kalian duluan aja gak apa-apa kok." Jawab Caca senyum.


"Yakin Ca ? gak apa-apa sendirian di sini ?" Kali ini Joko yang bersuara.


"Iya, tenang aja. Jalannya masih ramai juga, gih sana antarin Via, entar enggak bisa nonton drakor dia." Ucap Caca mengusir pasangan ini.


"Ya udah kalau gitu gua dengan Via pulang duluan ya, lu tiati pulangnya." Caca mengangguk, Hmm jadi rindu dengan Bang KiKi. "Woy Via! cepatan naik!" pekik Joko, padahal jarak keduanya dekat.


"Tiati ya, Joko antar Via ke rumahnya jangan bawa ke mana-mana, anak orang masih perawan itu." Goda Caca. Asli wajah mereka sudah sama-sama merah.


"Kampret! lu kira gua cowok apaan." Kesal Joko tak terima.


"Haha... ya kali aja di jalan lu nya khilaf."


"Tenang, gini-gini iman gua masih kuat kok." Caca hanya mencibir saja. "Dah gua pulang dulu. Dadah Caca" Caca membalas lambaian Via sampai keduanya menghilang dari pandangan Caca.


"Dengan Mbak Caca ?" Ojol yang di pesannya tadi sudah sampai.


"Iya bang." Segera Caca naik ke motor abang ojol itu.


***


Di sinilah Caca di tempat penuh dengan makanan ringan. Caca sengaja meminta abang Ojol mengantarnya ke Indomaret, toh enggak terlalu jauh kok berjalan kaki dari sini ke rumah Nana. persedian makanan ringan dia udah habis saatnya mengisi kembali.


Setelah berbelanja, Caca melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki sambil bersenandung, suasana cukup sepi sih memang, tapi lampu jalan yang terang dan beberapa lampu kendaraan yang berlalu lalang setidaknya enggak membuat Caca takut.


"Akhirnya sampai." Ucap Caca syukur. Membuka pintu pagar dengan pelan, Caca enggak mau buat Pak Burhan. Penjaga rumah, terbangun.


"Eh, kok ada mobil baru, mobil siapa ya ? apa jangan-jangan orang tua Nana pulang." Paniknya, wajar dia belum pernah bertemu dengan orang tua Nana, ia anaknya baik dan welcome, tapi belum tentu orang tuanya juga begitu.


"Oke positif thinking Ca." Monolognya, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke rumah.


"Nana udah tidur kali ya," melihat keadaan dapur beserta ruang tengah gelap. Caca naik ke atas menuju kamarnya.

__ADS_1


"Hmm, mungkin itu mobil Nana yang baru, besok pagi aja gua tanyainnya." Ucap Caca. Ia pun meletakan belanjaannya di sofa lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, keadaan kamar yang remang-remang membuat Caca sedikit kesusahan untuk berjalan. Malas dia menghidupkan lampu kamarnya toh nnti matiin lagi. Setelah mandi, Caca berjalan ketempat tidur.


Merebahkan dirinya di sana. Mulai memejamkan mata hingga bunga tidur menjemputnya sebelum suara dengkuran se—tunggu-tunggu dengkuran ? bukan, itu bukan suara dengkuran Caca.


Suara itu berhasil membuat Caca terbangun, reflek Caca melihat di sebelahnya, benar seperti ada seseorang yang membelakanginya. Oke Caca jangan panik.


Segera Caca mengambil handphonenya mengaktifkan senter handphonenya lalu mengarahkan ke orang asing tersebut, tangan kiri Caca sudah ada sapu lidi entah kapan diambilnya. Orang itu membelakanginya sehingga membuat Caca kesusahan melihat wajah orang itu dan kalau melihat dari poster tubuhnya seperti—tunggu orang itu membalikkan badannya.


"KYAAA...!" teriak Caca saat berhasil melihat wajah orang tersebut, alangkah terkejutnya Caca melihat sosok pria asing yang sedang tidur di kamarnya! di tempat tidurnya! seranjang bersamanya! Ya Allah maafkan Caca.


Suara teriakan Caca membuat pria itu terbangun, belum selesai mengumpulkan kesadarannya, badannya langsung diserang dengan pukulan maut seorang Caca.


"Heh stop! aduh!... woy udah! sakit!" ringis pria itu.


"Enggak! ambil ini! kurang ajar! main masuk ke kamar gadis!" seru Caca emosi masih dengan pukulan mautnya. Pria itu segera belari ke arah saklar lampu, seketika kamar Caca menjadi terang. Dan saat itulah mereka bisa melihat dengan jelas.


"Astaghfirullah!.... mata gua ternodai." Pekik Caca sontak Caca menutup kedua matanya, saat sadar bahwa pria itu tidak memakai baju dan memperlihatkan badan berototnya.


"Heh! Kamu siapa sih ?! teriak-teriak gak jelas! ganggu saya tidur tau gak!" berjalan mendekati Caca.


"Stop! jangan mendekat!" langkah pria itu berhenti. "Pakai baju dulu! enggak malu apa kayak gitu di depan cewek!" pekik Caca.


"Ck! iya ini udah!" balas pria itu. Caca mengintip di celah-celah jari tangannya memastikan pria itu berbohong atau tidak.


"Lu yang siapa ?! sembarangan tidur di kamar cewek lagi!" mata Caca sudah terbuka.


"Ini rumah saya! dan ini kamar saya!" jelas orang itu.


"Bohong! lu pasti mau malingkan! dasar maling mesum!"


"Heh sembarangan tuh mulut! udah saya bilang saya pemilik rumah ini!"


"Jangan ngaku-ngaku deh, ini rumahnya Nana!"


"Ck Nana itu Ad--"


Tok


Tok


Tok


"Caca lu udah pulang ?" itu suara Nana, enggak pakai lama lagi Caca langsung berlari ke arah pintu kamar, lalu membukanya.


"NANA! TOLONGIN GUA! ADA MALING MESUM DI KAMAR GUA!" teriaknya di depan wajah Nana. Nana mengernyit dan langsung masuk ke dalam, dan bertapa terkejutnya ia melihat pria yang selama ini dia rindu kan.


"Kak Kevin...!" pekik Nana berlari dan langsung memeluk pria itu. Nana bilang apa ? Kak Kevin ?! senyum sinis muncul di bibir Kevin, tangannya membalas pelukan adik tersayangnya, dan menatap Caca penuh kemenangan.


"Nana kangen!" rengeknya. Sudah dua bulan lebih dia tidak melihat abangnya pulang kerumah ini.


"Kakak juga kangen sama princessnya kakak. Udah jangan nangis ya." Balas Kevin lembut seraya menghapus air mata adiknya. Kalau saja kejadian tadi tidak terjadi, mungkin Caca akan ikut terhanyut dengan nuansa romantis yang diciptakan pasangan kakak adik ini.


"Oh iya! Caca, ini Kak Kevin. Abangnya gua! bukan maling mesum tau!" jelas Nana sambil terkekeh.


"Haha... abang ya." Kata Caca menampilkan tawa paksanya, lalu pandangannya menuju ke arah Kevin yang menatapnya dengan wajah datar namun mematikan untuk Caca. Bisa Caca tebak, di balik tatapan itu menyimpan dendam kesumat pada Caca. Caca yakin itu. Habis riwayat lu kali ini Ca. Ya Allah selamatkanlah Caca.

__ADS_1


__ADS_2