Feeling Attack

Feeling Attack
19. Tetaplah dekat dengannya


__ADS_3

Caca mengernyit menatap Mentari berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, wanita tiga puluh tahun ini terlihat cemas dengan kuku ibu jari kanannya yang dia gigiti sejak lima menit yang lalu.


"Kamu malam ini nginap lagi di sini ya ?" Tanya Mentari penuh harap. Pasalnya tadi Mentari memang meminta izin sama Mentari untuk pulang ke rumah Nana karena besok ia masuk kerja.


"Besok Caca kerja masuk pagi kak, bos tadi chat Caca disuruh masuk besok."


"Kamu izin lagi aja." Caca melotot, orang kaya enak banget yaa kalau ngomongnya. Asal main ucap aja kagak mikir akibatnya.


"Kalau Caca izin lagi otomatis gaji Caca dipotong dong." protes Caca.


"Kamu tenang aja, Reza itu kenalannya suami aku, ent--"


"Kak, ini bukan masalah kenalan dekat atau nggaknya. Tapi ini masalah tanggung jawab aku dalam bekerja, apa kata teman kerja aku yang lainnya, kalau aku izin beberapa hari tapi gaji aku tetap full. Itu namanya nggak adil kak." Potong Caca menjelaskan.


Mentari menghela napasnya mengucapkan maaf dengan lirih, kemudian menatap Caca intens seakan menyaratkan ketidakrelaan, ketakutan, kekalutan. Tatapan tersebut membuat Caca menggigil. Ada yang tidak beres dengan keluarga ini.


Mentari kemudian berjalan perlahan mendekati Kila dan mengambil tempat di sebelah Caca, ditatapnya kedua mata hitam Caca lekat-lekat. "Ada satu hal yang harus kamu tau," kata Mentari dengan suara mulai bergetar.


Caca mengangguk. Itu sebabnya dia duduk di kamar Mentari dan Revan sekarang, menunggu apa yang sebenarnya ingin Mentari bicarakan dengan tampang seserius itu.


"Kami sakit."


Tidak ada suara lagi sejak Mentari mengatakan dua kata yang tak pernah Caca bayangkan akan keluar dari sosok Mentari yang selama ini Caca kenal sangat periang, humoris, dan juga jahil. Sakit memiliki banyak arti dan Caca yakin setiap manusia di dunia ini pasti pernah merasakan sakit. Mereka tidak pernah memiliki obat untuk rasa sakit itu untuk waktu yang lama, bahkan mungkin selamanya. Rasa sakit yang tidak pernah sembuh memiliki banyak bentuk bahkan banyak nama.


Mungkin sebagian orang menyebutnya dendam, mungkin sebagian lainnya menyebut trauma, dan mungkin yang lain menyebutnya dengan ketakutan. Setiap manusia sakit, itu yang Caca yakini.


"Maksud Kak Mentari ?" Tanya Caca membuat tangan Mentari terulur, kemudian menggenggam erat kedua jemari tangan Caca yang terpangku di atas pahanya.


"Sejak kecelakaan itu," jeda Mentari karena ia menarik napas panjangnya. "Kami semua sakit." Mata Mentari sudah berkaca-kaca. Sedikit demi sedikit bendungan cairan bening itu pun akan pecah.


Cairan bening melapisi mata kemerahan Mentari seakan menyampaikan pada Caca apa yang dirasakan selama peristiwa kecelakaan itu terjadi.


Mata itu mata yang menyaksikan bagaimana kakak tersayangnya menyerahkan hidupnya pada pilihan Mentari. Mata itu mata yang menyaksikan bagaimana perempuan terhebat di dunia, Mamanya. Kembali kepada sang pencipta tanpa salam perpisahan. Mata itu menyaksikan bagaimana sikap papanya yang berubah drastis dan memilih untuk menenggelamkan diri pada bisnisnya di luar sana, mata yang menyaksikan segala kejadian demi kejadian yang membuat rumah ini harus terpasang CCTV di setiap sisinya.

__ADS_1


"Aku pernah punya bipolar," katanya dengan suara bergetar "Dan aku sembuh, karena Revan selalu ada di sampingku, dan akhirnya aku membaik... tapi, tapi hiks Orion dia justru..."


Tangis Mentari pecah tak sanggup meneruskan kalimatnya. Membuat Caca reflek memeluknya dan mengusap punggung ibu hamil ini dengan lembut, berusaha untuk menenangkannya. Tidak ada orang yang bisa seratus persen sembuh dari kehilangan, karena akan muncul setiap kenangan yang siap mengerus keikhlasan yang telah lama terbentuk dalam menerima takdir kehidupan.


Saat tangisan Mentari terdengar mulai mereda dan desah napasnya kembali teratur. Caca menjauhkan kepalanya dari bahu Mentari dan membantu wanita itu menghapus jejak air matanya yang melunturkan riasan di wajah cantiknya.


Caca memandangi Mentari dengan lirih, dia tidak akan bertanya. Karena setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda untuk bisa mengingat kembali kenangan buruknya dan menceritakan pada orang lain.


"Kami konseling selama lima tahun, Ca. Papa memanggilkan orang untuk datang ke rumah bukan hanya guru, tapi juga psikiater. Awalnya , aku dan Orion mengikuti semua yang papa berikan. Tapi, saat aku masuk bangku kuliah dan mengenal Revan, Orion mulai nggak menurut padaku dan juga papa.


Caca mengangguk sekilas, memberikan kode bahwa ia paham semua yang Mentari jabarkan.


"Saat aku berumur dua puluh tahun dan dekat dengan Revan, Orion mulai nggak mau dipanggil Orion, dia memintaku untuk memanggilnya dengan Langit. Bahkan marah setiap aku memanggilnya dengan nama Orion—nama panggilan mama untuknya dulu. Dan anehnya, setiap papa pulang, papa juga memanggilnya dengan nama Langit. Aku selalu tanya kenapa dia ganti nama panggilan, tapi dia nggak pernah mau jawab.


"Saat aku dekat dengan Revan, usianya tujuh belas tahun, Orion masuk SMA umum dan mulai bertemu banyak teman. Tapi saat aku bertemu teman-temannya, mereka bilang Orion aneh dan suka berubah setiap waktu. Aku rasa, Orion sama sepertiku yang pernah bipolar. Tapi setelah konsultasi dengan psikiater kami, dia memiliki gejala gangguan yang lain. Dia mengidap kepribadian ambang."


"A-apa ?" Potong Caca, sebelum mendapatkan cerita yang lebih panjang lagi. Selain fakta bahwa Mentari pernah mengalami bipolar—dan untungnya telah sembuh—meski pun Caca tidak yakin betul bipolar itu apa. Caca benar-benar tidak tahu dan butuh tahu lebih dulu apa itu kepribadian ambang. Apa itu berbahaya ? Apa itu menular ?


"Orion mengidap gejala gangguan kepribadian ambang. Orang-orang dengan gangguan ini sangat takut ditinggalkan orang yang disayangi. Saat ketakutan itu datang, dia akan marah secara tiba-tiba atau meminta hal-hal yang nggak masuk akal. Bahkan... melakukan percobaan bunuh diri."


Ah, Caca lupa, dia mengalami gangguan kepribadian, dia pasti sering kesulitan mengendalikan diri. Itu sebabnya setiap waktu, lelaki itu selalu berubah, baik itu perilaku maupun emosinya dan dia juga tidak bisa dipahami terkadang. Seperti kejadian tadi siang misalnya.


"Pernah, dia melakukan percobaan bunuh diri empat tahun yang lalu, saat aku bilang aku akan menikah dan tinggal dengan Revan. Itu sebabnya sekarang rumah ini dipasang kamera pengawas," kata Mentari sambil menerawang.


"Kenapa...Nggh jangan marah ya kak, Orion nggak berobat ?" ucap Caca mengganti kata rumah sakit jiwa menjadi berobat. Agar lebih sopan. Lagian dia juga tidak ingin mengakui secara tidak langsung bahwa dirinya sedang terperangkap dengan orang-orang yang bahkan tidak bisa mengendalikan diri mereka sendiri. Orang awam menyebutnya gila.


"Dia nggak mau mendengar siapa pun, Ca." Sahut Mentari dengan lirih "Tapi dia berubah sejak kamu hadir."


"Hah ? Aku ?" Tunjuk Caca ke dirinya sambil menatap Mentari tak mengerti. "Ada apa dengan aku ?"


"Mungkin karena peristiwa kecil yang terjadi di antara kalian, saat tabrakan kecil itu."


"Tunggu, Orion kata kakak trauma akan kecelakaan itu kan ?" Mentari mengangguk "Lalu kenapa dia berani menyetir ?"

__ADS_1


"Saat umurnya sembilan belas tahun papa menyuruh Orion untuk bisa mengendarai mobil, ia pun berusaha belajar untuk menghilangkan trauma kecelakaan itu. Dan sedikit demi sedikit berhasil." Mentari menarik napasnya. "Tapi, semenjak tabrakan kecil kemarin menjadi hari terakhir ia menyetir mobil."


Caca terkejut "Kenapa ?"


"Rasa trauma itu balik lagi, malam setelah kejadian itu. Orion demam tinggi sambil mengigau. Besoknya ia menyuruh lagi Pak Asep untuk menjadi supir pribadinya."


"Maaf kak, Caca ngga--"


"Nggak apa-apa, waktu itu kan kamu belum tau kejadian yang sebenarnya." Ujar Mentari lembut. "Kamu bisa pindah di sini ?"


Caca melotot terkejut. "Maksud kakak ?"


"Kamu tinggal di sini aja mulai sekarang." Seru Mentari.


"Kak, kalau untuk nginap malam ini Caca bisa, tapi kalau untuk tinggal di sini Caca nggak bisa. Caca nggak enak sama teman aku. Nana."


"Kalau masalah itu, biar aku yang urus. Besok kamu temanin aku ngomong sama Nana."


"Kakak." Rengek Caca.


"Caca please," pintanya lirih. "Besok, papa datang dari London. Dan aku nggak tau papa di sini sampai kapan."


Caca mengernyit "Kakak butuh kamu di sini, untuk tenangin Orion."


"Kak, aku manusia biasa. Aku nggak tahu tentang...gangguan..apa tadi ? Ambang ? aku nggak ngerti, aku nggak tau itu apa, aku nggak tau harus apa, ak--"


"Dengar dulu Ca!" sela Mentari dengan nada tinggi membuat Caca mengerjap kaget. "Aku mau minta tolong supaya kamu meyakinkan Orion bahwa apa yang dia lakukan itu nggak benar. Aku mau kamu meyakinkan bahwa dia harus berhenti menjadi orang lain. Kamu nggak perlu maksa dia ke psikiater, kamu nggak perlu memberikan dia terapi, hanya..." Mentari menghela napasnya.


"Just stay close him."


***


»»Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk).

__ADS_1


»»Borderline Personality Disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang adalah gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati serta citra diri yang senantiasa berubah-ubah, dan perilaku yang impulsif.


Jangan lupa Like dan comment guys 😉 Vote juga boleh 😀


__ADS_2