
Caca memoyongkan bibirnya sambil terus menggerutu sepanjang mobil berjalan meninggalkan area komplek perumahan. Satu jam yang lalu Pak Asep datang untuk menjemputnya, saat semuanya sarapan pagi. Caca sempat menolak, Caca menyuruh Pak Asep untuk menjemputnya nanti malam saja di tempat kerja Caca. Tapi perintah adalah perintah, ini adalah perintah dari Mentari sebagai bawahan ia hanya menjalankan perintah.
Tak berapa lama berdebat Mentari menelpon Caca menanyakan sudah di mana, dan memang terbukti itu adalah perintah Mentari dengan alasan ada hal yang penting. Jangan sampai hal yang penting itu membuat Caca tidak bisa bekerja lagi hari ini.
Akhirnya dengan secepat kilat Caca mengemaskan bajunya yang dibantu oleh Nana. Lima belas menit berkemasnya, setengah jam untuk salam perpisahan dengan Nana dan Kevin. Banyak sekali segala wejangan yang diberikan oleh Nana maupun Kevin.
Meskipun kemarin menurut Caca masih belum puas mengabiskan waktu mereka bersama, tapi setidaknya mereka bisa menciptakan moment yang paling langkah satu harian mengabiskan waktu bersama. Sampai-sampai Nana dan Kevin rela tidak kuliah dan bekerja.
"Non," sapaan sopir membuat Caca berhenti dengan pemikirannya "Saya senang, Non bisa sedikit demi sedikit membuat Tuan Orion seperti dulu lagi."
Heh ? Jangan bilang bukan hanya Kak Mentari yang berpikiran seperti itu tapi Pak Asep juga! Alis Caca mengkerut "Maksudnya apa pak ?"
"Sebelum Nyonya dan Tuan Langit meninggal, Tuan Orion itu orangnya jahil banget, jahilin Non Mentari melulu, Non. Tuan Orion berhenti jahilin kalau Non Menteri udah hampir nangis dan mau ngadu ke Nyonya."
Caca bergeming. Mendengar cerita dari Pak Asep membuat timbul sedikit rasa kasihan dengan Orion. Tapi tunggu jangan sampai- "Jangan bilang kalau saya yang bakalan gantiin Kak Mentari dulu. Jadi korban selanjutnya?!"
Pak Asep terkekeh "Saya sering melihat Tuan Orion dan Non adu mulut, saat itu saya langsung merasa hanya Non yang bisa mengembalikan Tuan Orion seperti dulu."
"Kenapa harus saya sih pak ? saya juga baru kenal dengan keluarga mereka kan belum lama, kok harus saya yang bisa mengubah dia." Protes Caca tidak terima.
"Mungkin ini semua sudah jalan takdirnya Non." Sahut Pak Asep dramatis.
"Takdir dari mana coba," gumam Caca pelan.
"Dulu tuh ya, Non." Lanjut Pak Asep. "Tuan Langit dan Tuan Besar dilayani oleh Pak Ben."
"Pak Ben, kepala pelayan ?" tanya Caca.
__ADS_1
"Iya Non, dulunya dia itu asistennya Tuan Besar." Jawab Pak Asep cepat. Caca hanya mengangguk mengerti. Ia hanya beberapa kali bertemu dengan Pak Ben, mungkin saat mereka makan.
"Karena sifat mereka yang—maaf ya Non—kaku banget. Pak Ben ketularan kaku juga kayak Tuannya." Sambung Pak Asep.
Nah, kan! Sifat kaku itu menular! Gua kagak boleh keseringan dekat-dekat sama Om Orion.
"Trus, Non Mentari sama Nyonya dilayani sama pelayan perempuan yang sama. Berhubungan Nyonya dan Non Dara nggak terlalu kaku dan orangnya juga ramah, si pelayan itu juga jadi betah dan normal-normal saja."
"Hmm..." Caca hanya bergumam malas. Sekarang yang ada dipikirannya adalah apa tujuan sebenarnya si supir ini menceritakan sejarah dari keluarga Hanwha padanya ?
"Pas saat Tuan Orion lahir, saya yang dipercayakan untuk melayani dan bermain sama Tuan Orion. Sampai... Ya itu, Non," ucap Pak Asep menggantung membuat Caca mau tak mau jadi penasaran juga, apalagi tadi Pak Asep menyebut nama Orion di dalamnya.
"Itu apa, Pak ?" tanya Caca mencoba untuk tidak terdengar penasaran.
"Tuan Orion mulai aneh saat Tuan Langit dan Nyonya meninggal. Misalnya, jadi sering ke kamar Tuan Langit malam-malam pada semua orang tidur, terus makan-makanan favoritnya Tuan Langit walaupun Tuan Orion nggak suka, baca ensiklopedia koleksinya Tuan Langit. Sampai pada akhirnya, Tuan Trio sendiri yang minta ganti pelayan pribadi, Non."
Caca mengerjap-ngerjap matanya mencoba untuk memahami semua perkataan Pak Asep tadi. Tunggu, kok kayaknya gua tau ke mana arah pembicaraan ini ya ?
"Betul banget, Non." Seru Pak Asep dengan semangat. "Saya langsung turun pangkat, dari pelayan yang gajinya lumayan, jadi supir yang gajinya pas-pasan. Huh... Jadi sedih saya, Non." Curhatnya dengan nada seolah-olah ia sedang menangis.
Ya *Allah. K*ukira, ada info penting apa gitu tentang Om Orion. Eh tunggu, kenapa aku jadi seolah kecanduan gini buat tahu sesuatu tentang Orion ya ? gak bener ini! Caca menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pemikiran bodohnya itu.
"Tapi, Non." Nada suara Pak Asep mendadak jadi serius. "Saya senang, Tuan Orion nggak benar-benar mirip dengan Tuan Langit. Karena setiap Tuan Orion bertingkah seperti Tuan Langit, saya seperti merasa Tuan Langit kembali hadir di rumah itu dengan menyingkirkan sosok Tuan Orion, Non."
DEG! Mendadak hati Caca terasa nyeri mendengar itu.
Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengendalikan rasa sedihnya atau rasa takutnya. Tapi jika Orion sampai memutuskan untuk menciptakan sosok Langit di dalam dirinya. Caca rasa itu, cara yang tidak sehat untuk mengancam hidup Orion sendiri.
__ADS_1
***
Tak berapa lama Caca dengan Pak Asep pun sampai di kediaman Hanwha, di depan rumah sudah ada Kak Mentari, Pak Ben dan Langit ? Apa dia tidak bekerja pikir Caca.
Pintu mobil di bukakan oleh Pak Asep dan disambut dengan ucapan Pak Ben. "Selamat datang di kediaman Hanwha, Nona Caca," sapa pria itu lengkap dengan senyumnya yang terlihat ramah di mata Caca. Di susul dengan barisan pelayan—di depan pintu membentuk sebuah lorong untuk dilewati. Barisan pelayan itu membungkuk hormat pada Caca. Caca menatap heran dengan semua ini.
"Iy-ya terima kasih." Sahut Caca canggung, ini pertama kalinya Caca diperlakukan bagaikan ratu begini. Caca rasanya ingin mencubit lengannya—kalau perlu menampar pipinya—ingin membuktikan bahwa semua ini bukan lah mimpi semata.
"Tidak perlu seperti itu, Pak Ben. Dia bukan princess di rumah ini." Ucap Orion sinis, kalau bukan karena kakaknya yang mengancamnya untuk harus menyambut kedatangan Caca, dia tidak akan mau untuk ikut serta seperti sekarang ini.
"Langit!" tegur Mentari, membuat Orion mendengus malas berbalik lalu berjalan masuk ke rumah, melewati barisan pelayan di kanan dan kiri sebelum akhirnya tubuh Orion yang terbalut kaos biru tua itu menghilang dibalik pintu kokoh berwarna putih.
Mentari hanya bisa mengutuk sifat adiknya, kemudian berjalan menghampiri Caca. "Selamat datang sayang." Sambut Kak Mentari senang sambil memeluk Caca erat.
"Kak, apa ini nggak berlebihan. Kan ini bukan pertama kalinya Caca datang ke sini." Sahut Caca masih merasa canggung.
"Nggak apa-apa dong, ini penyambutan keluarga baru. Kamu sekarang sudah menjadi keluarga di rumah ini." Jelas Mentari lembut.
"Tapi... in-"
"Ssttt... udah sekarang kita masuk ke dalam yuk," ucap Mentari merangkul Caca untuk masuk ke dalam. "Pak Ben tolong bawakan koper Caca ke dalam kamarnya ya."
"Nggak usah kak, biar Caca aja. Kamarnya yang kemarin kan ?" tanya Caca tak nyaman dengan pelayanan ini.
"Memang nya kamu bisa ngangkatin koper sebesar itu dengan tubuh kamu yang segini ?" ucap Mentari spontan membuat Caca seperti habis diguyur air dingin. Oke, bagaimana pun juga Mentari adalah kakaknya Orion, sedikit banyaknya sifat mereka pasti mirip. Ingat Caca jangan sampai lupa.
***
__ADS_1
Jangan lupa like comment and Vote yaa 😀
Terimakasih 🍀