
Sudah satu Minggu sejak Tissa tidak bertemu lagi dengan Dafa dan mama Ratna. Tissa menepati janjinya dengan terus menyicil hutangnya yang perlahan lahan mulai habis. Tissa melanjutkan kuliahnya jurusan kedokteran karena itu adalah keinginan ayahnya. Tissa juga bekerja paruh waktu di Nasional Lab Indonesia tugasnya membantu segala macam pekerjaan para seniornya.
"Gw rindu mama Ratna...huhuhu..rindunya.., kira kira gimana ya kabarnya. Ah..moga moga aja mama Ratna baik baik aja"
Sejak kepergiannya bermain drama dengan Dafa. Terbesit rasa bersalah dihati Tissa yang terhadap mama Ratna yang sangat baik padanya.
"Tissa..tolong ambilkan saya stetoskop yang ada di gudang...dan tolong dibersihkan ya..hari ini akan ada profesor yang akan bergabung dengan kita di lab ini" Ucap Dion salah satu senior Tissa.
"Ok kak.." Ucap tissa seraya berlalu pergi ke gudang.
Tissa kembali dari gudang membawa stetoskop yang sudah dibersihkannya. Lalu Tissa kembali kemeja sambil mengerjakan riset nya.
"Permisi..."
"Ya..anda siapa ya? ada yang bisa saya bantu?" Ucap Tissa pada orang yang ada dihadapannya.
"Saya Teman Dion, mulai hari ini saya akan bekerja disini" Ucap pria itu sopan.
"Oo jadi anda profesor baru ya? Oke mari saya antar ke kak Dion". Ucap tissa sambil menuntun orang itu ke ruangan Dion.
"Permisi kak...," Ucap tissa pada Dion yang sedang bermain dengan stetoskopnya.
Dion mendongak pada Tissa tapi pandangannya beralih pada orang yang ada dibelakang Tissa.
"Eh..lu dah datang bro..kenapa gak masuk aja..kaya baru pertama kali kesini aja.." Ucap Dion seraya bersalaman dengan sosok baru bagi Tissa.
"Biar sopan aja..harus nanya dulu.." Ucap pria itu seraya tersenyum.
"uw...manisnya..." Batin Tissa.
"Tissa kenalkan ini teman saya namanya Rasya, sebenarnya dia sudah lama berganbung disini tapi akhir akhir ini dia sering bolak balik ke luar negeri jadi dia kerjnaya lewat jalur online..." Ucap Dion pada tissa yang fokus menatap Rasya.
"Ekhem..." Deheman Dion membuyarkan pandangan Tissa.
"Eh...eh..maaf kak.., Kenalkan nama saya Tissa.." Ucap tissa pada Rasya sambil mengulurkan tangannya.
"saya Rasya.. panggil aja kak Rasya.." Ucap Rasya sambim tersenyum tipis.
Tissa yang bertugas membantu para seniornya jadi maikn akrab dengan Rasya..ya..walaupun Tissa mengakui bahwa sosok yang baru dikenalnya itu teramat dingin. Tapi setidaknya dia sudah bisa akrab sebatas pekerjaan.
_____________________
"Ma.., mama makan ya.. aku bawa bubur udang untuk mama.."
"Kamu pergi aja sana kerja..mama bisa makan nanti aja sama Rasya..kamu kan sibuk.." Ucap mama Ratna pada anak semata wayangnya tanpa melihat wajah anaknya itu. Semenjak kepergian Tissa dan pertengkarannya dengan Dafa mama Ratna bersikap dingin pada Dafa.
"Ma..kali ini aku ga sibuk.., Aku bisa nemenin mama disini sampai mama sembuh.."
"Kamu yakin?" Ucap mama Ratna menatap wajah putranya dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Iya.. ma aku akan disin_"
Dret..
Dret..
Dret..
Ponsel Dafa berbunyi Dafa langsung menatap mamanya yang membuang mukanya kearah lain menghindari tatapan putranya. Mama Ratna selalu kecewa dengan kesibukan putra semata wayangnya.
"Maaf ma, aku angkat telpon dulu ya.."
"Ehemmmm" Pertanyaan Dafa hanya dijawab deheman. Dafa tau namanya akan kecewa padanya lagi.
"Ma..maaf kayanya hari ini Aku ga bisa temenin mama..Aku harus segera ke Itali karena ada urusan mendadak. Mama ga apa apa kan aku tinggal?" Ucap Dafa lembut pada mamanya.
"Kamu pergi aja..mama tau kamu selalu sibuk kamu kan selalu begitu.."
"Ma..nanti aku suruh Rasya kesini nemenin mama ya.."
"Ehmmm" jawab mama Ratna hanya dengan deheman.
"Tolong kamu bilang sama Rasya mama mau makan soto Medan, kamu kan sibuk harus segera kebandaraan mama yakin kamu gak bisa kan ngurusin mama?" Ucap mama Ratna dengan nada yang menyindir.
"Iya ma..maaf ya ma..,Dafa tinggal mama ya.. Assalamualaikumm".
"Waalaikum salam"
Dafa mengambik ponselnya lalu menghubungi Rasya.
"Halo sya..."
"Ehmm apa?"
"Gw mau pergi ke Itali ada urusan mendadak jadi gw harus pergi sekarang"
"Terus ? Lo butuh apa?
"Gini..gw mau Lo nemenin nyokap gw.. Kasian nyokap gw sendiri di rumah sakit.."
"Ehmmm iya nanti gw kesana"
"oh iya nyokap gw nitip soto..Lo toling cariin ya?"
"Yaudah gw usahaain"
"Makasih sya... Assalamualaikumm"
"Waalaikum salam"
__ADS_1
Panggilan antara mereka berakhir, Rasya menghela nafasnya. Selalu saja seperti ini.
"Dion dimana?" Tanya Rasya pada Tissa.
"Eee kak Dion kayanya diruangannya" Jawab Tissa
"Ga ada, tadi aku Uda liat kesana tapi dia ga ada" Ucap Rasya.
"Ehmm tunggu ya kak, coba aku telpon dulu.
"Iya"
Tissa berhaisl menghubungi dion, Ternyata Dion sudah pergi dari tadi karena ada urusan dadakn.
"Emangnya sama kak Dion ada perlu apa kak?" Tanya Tissa.
"Aku mau ijin pergi sekalian minta ditemani cari tempat soto" Ucap Rasya datar.
"OOO kalo soto, ada didepan kak. Tempatnya dekat kok dari sini"
"Kamu bisa temenin aku?" Tanya Rasya datar.
"Ha? oo itu bisa kak hehe" Ucap tissa cengengesan. Entah kenapa dengan Rasya dia sedikit kaku karna sikap Rasya yang dingin.
Tidak butuh waktu lama, Tissa dan Rasya sudah sampai ketemoat Soto itu. Mereka hanya sekedar membeli soto karena Rasya mengatakan pada Tissa kalau dia butuh soto itu cepat dan harus langsung dibawanya ke rumah sakit.
"Maaf kak, emanya tang sakit siapa kak? Tanya Tissa yang penasaran.
"Mamanya temanku" Jawab Rasya seadanya.
"Oo terus kenapa kakak yang beliin bukan teman kakak itu?" tanya Tissa lagi.
"Dia sibuk, ada urusan dadakn keluar negeri. aku juga Uda akrab sama mamanya jadi aku ga keberatan kalo harus ngurusin mamanya"
"Oo, Ehmm kak, boleh gak kali aku ikut?" Tanya tissa.
"Untuk apa?" Tanya Rasya datar.
"Eee gak ada si, aku cuma pengen ikut aja.. sekalian bantu kakak ngurusin mamanya temen kakak. Tapi kalo gak boleh gak apa apa kok" Jawab Tissa, dia agak canggung dengan sikap Rasya yang dingin.
"Yaudah gapapa kalo kamu mau ikut, aku takut nanti kamu bakal kerepotan"
"makasih ya kak, aku gak bakal kerepotan kok."
Akhirnya Tissa dan Rasya pergi kerumah sakit dengan mobil Rasya. Karena jarak rumah sakit lumayan jauh jadilah mereka berbincang tentabg kehidupan pribadi masing masing. Mereka menjadi akrab dengan cepat dan saling mengetahui tentang keluarga masing masing.
"Jadi kakak cuma punya nenek?" Tanya Tissa disela sela percakapan mereka.
"Ya gak gitu jugak, tapi satu satunya keluarga yang paling akrab sama kakak cuma nenek, teman kakak dan mamanya. Mereka cuma tinggal berdua, ayah teman kakak sudah meninggal"
__ADS_1
"Oo kasian ya mamanya, tinggal sendiri dirumah sakit, anaknya sibuk gak ada ynag nemenin" Ucap tissa sambil menunduk dia ikut merasa sedih dengan nasib Rasya dan juga mamanya teman Rasya yang hidup kesepian.
"Iya, makanya kakak sering nemenin dia. Aku Uda anggap dia seperti mamaku sendiri. Dia juga gitu, aku Uda dianggap seperti anak sendiri.