Flash Of Love

Flash Of Love
Cari Perhatian


__ADS_3

"Eh..cucu nenek makin ganteng aja..." Ucap nenek Amira dikala cucunya turun dari tangga mendekati meja makan.


Seusai ber'Cepika cepiki dengan cucu semata wayang nya nenek Amira menoleh ke samping Dafa menatap Rasya.


"Rasya..kamu disini juga?" Tanya nenek lembut.


"Iya nek, Aku berangkat kerja dari sini setelah itu baru pulang ke apartemen" Ucap Rasya seraya menyalam tangan nenek Amira.


"Oo yasudah kita makn dulu ya..Cucu mantu nenek sudah masak enak hari ini" Ucap nenek Amira lalu menuntun Dafa duduk disamping Tissa.


Sementara itu Rasya mengambil posisi duduk disebelah kanan Tissa menjadikan di diapit oleh dua pria itu.


Tissa mulai mengambil makanan ke piringnya dan hendak menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Tapi tindakannya terhenti karena nenek amiran.


Rasya dikala itu juga hendak menggapai nasi yang letaknya sulit untuk dicapainya. Tissa menyadari itu membantu Rasya mengambil makanannya lalu menyodorkan nasi itu yang sudah lengkap dengan lauknya.


Mama Ratna tersenyum melihat kepekaan Tissa terhadap Rasya. Dilain sisi nenek Amira dan cucunya, Dafa memanyunkan bibirnya. Dafa iri dengan perlakuan manis Tissa pada Rasya.


"Ekhemmm" Deheman Dafa saat Tissa memakan makanannya tanpa menyiapkan makanan Dafa seperti yang dilakukan Tissa pada Rasya.


Tissa menatap Dafa aneh, dia benar benar merasa tidak tau apa apa kenapa Dafa berdehem padanya dan memanyunkan bibirnya manja.


"Tissa sayang..Rasya kamu ambilin masa Dafa gak kamu ambilin si?" Ucap nenek Amira manja. Nenek Amira melihat gelagat cemburu cucunya.


"Ha? Ucap Tissa menatap nenek Amira dan Dafa bergantian.


Nenek Amira mengangguk saat Tissa menatapnya.


"Oo..iya hehe" Ucap tissa dengan tawa dan senyum paksaan.


Tissa mulai menyiapkan makanan Dafa dan memberikannya pada Dafa. Dafa tersenyum manis sedangkan Tissa hanya tersenyum paksa.


"Kenapa Lo mempersulit jalan gw daf? Apa Lo cinta sama Tissa?" Batin Rasya.


Mereka semua selesai dari sarapannya. Tissa merapikan meja dan menyuci piring kotor. Walau sudah dilarang Tissa tetap saja kekeh untuk menyuci piring.


Tissa masih setia di depan wastafel, Menyuci piring satu persatu. Buih dari sabun cuci piring menyelimuti tangan Tissa. Tissa menyingkap rambutnya yang hampir menutupi mata. Buih sabun pun menempel di wajah Tissa membuat wajah gadis mungil itu kelihatan menggemaskan.


Tissa tidak sadar sedari tadi keempat orang yang sarapan bersama nya tadi tengah memperhatikannya. Saat buih sabun menempel di wajah Tissa Nenek Amira berbisik sesuatu pada Dafa.


"Lihat itu, Wajah calon istrimu, Ada buih diwajahnya. Pergilah kesana...ini kesempatanmu" Ucap nenek Amira seraya menarik turunkan alis matanya.


Dafa mengulum senyum. Segera dia bangkit dari posisinya, menghampiri tissa. Baru saja Dafa akan menyentuh wajah Tissa. Rambut Tissa mulai terjatuh lagi.


"Huh! Ini rambut kenapa sih jatuh jatuh terus!" Ucap tissa seraya membenarkan ikatan rambutnya. Dan dengn itu buih diwajahnya terusap dan menghilang dari tempatnya.

__ADS_1


Dafa membeku, Kesempatannya membelai wajah mulus Tissa hilang dengan cepat. sungguh kebetulan yang sangat tidak bersahabat.


"Lo ngapain disini? Sana ah minggir gw udah selesai" Ucap tissa.


"Ahh ituu gw mau bantuin Lo! Gw liat tadi Lo kesusahan kayanya hehe" Ucap Dafa seraya tertawa gambar.


"Oo kalo gitu nih susunin piringnya ya.." Ucap tissa lembut dan mengibarkan senyum manisnya.


"Akh..nasib gw gini amat sih! Tissa itu gak peka atau sengaja gak peka!" Batin Dafa.


"Yaudah gw tinggal ya Dafa ganteng...makasih Lo mau bantu gw!" Ucap Tissa.


Seulas senyum mengembang di bibir Dafa. Akhirnya setelah sekian lama Dafa bisa mendengar kata kata lembut dari Tissa lagi.


Tissa berlalu meninggalkan Dafa yang tebgah menyusun piring. Tissa membuatkan bekal makanan untuk Rasya mengingat Rasya adalah orang yang sibuk. Tissa ingin meringankan beban Rasya dengan membutakannya bekal.


"Apa gw buatin untuk Dafa jugak ya?" Ucap tissa.


Tissa Akhirnya membuat satu bekal lagi untuk Dafa. Menyusun porsi yang sama dengan yang dibuatnya untuk Rasya.


Kedua pria itu sudah rapi dengan pakaiannya. Memakai kemeja dua pria itu tengah memasang dasi dilehernya.


Tissa datang mem bawa dua bekal ditangannya. Matanya menangkap dua orang itu kesulitan memakai dasi, Ralat bukan keduanya Tissa hanya tertuju pada Rasya.


Menaruh bekalnya di meja, Tissa berjalan mendekati Rasya yang berada di samping Dafa. Tangannya meraih dasi Rasya dan mulai berjinjit memakaikan dasi di leher pria tinggi itu.


"Makasih" Ucapnya.


"Ekhemm" Ucap Dafa, Tangannya masih sibuk memakai dasi yang dikiranya asal dilehernya. Pemandangan manis itu membuatnya panas.


Tissa dan Rasya bergantian tidak menggubris deheman Dafa. keduanya masih asik mengobrol.


"Kamu gak pergi kerja?" Tanya Rasya.


"Aku berangkatnya nanti, lagian ini kan emang bukan waktuku masuk. Aku masuk nanti siang" Ucapnya lembut.


"Ooh yaudah aku pergi duluan ya..nanti kalo kamu mau pergi telpon aku aja biar aku yang jemput" Ucap Rasya.


Tissa mengangguk "Eh iya tunggu" Tissa berlari kecil menuju meja mengambil satu bekal dan memberikannya pada Rasya.


"Ini bekal untukmu.." Ucap Tissa.


Rasya tersenyum lagi "Makasih ya.." Ucap Dafa lalu mengacak acak rambut Tissa.


Rasya pergi meninggalkan Tissa yang mematung dan Dafa yang sibuk berkutik dengan dasinya.

__ADS_1


"Akhhh" Ucak Dafa saat dasinya berhasil melilit lehernya sendiri.


Tissa tergelak melihat Dafa.


"Terus aja ketawain terus..." Ucap Dafa ketus lalu melangkah hendak keluar rumah.


"Heh tunggu! Gitu aja ngambek!" Ucap tissa menarik tangan Dafa dan memposisiskan Dafa menghadapnya.


Tissa berjinjit dan mulai merapikan dasi Dafa. Tubuh Dafa yang tinggi membuatnya cukuo kesulitan. Itu juga yang dirasakan Tissa saat memakaikan dasi pada Rasya. kedua pria itu benar benar tinggi bahkan tinggi merka sama.


Dafa melihat Tissa kesulitan memakaikan dasinya. Dafa menarik pinggan Tissa mendekat padanya dan mulai sedikit mengangkatnya.


"Heh! Apaan nih! lepasin gw!" Ucap tissa ketus. wajahnya memerah saat wajahnya dan Dafa berada sangat dekat.


"Makanya jangan pendek, Uda cepat pakein baru gw lepasin" Ucap Dafa tersenyum mengejek.


Tissa mulai memakaikan dasi Dafa dengan wajahnya yang memerah. Dafa melihat wajah Tissa memerah hanya tersenyum kecil. Ini adalah satu kebahagiaan baginya dapat melihat si bebek julid merona.


"Uda?" Tanya Dafa saat Tissa sudah melepas tangannya dari dasi Dafa. Tissa hanya mengangguk mendapati pertanyaan dari Dafa.


Dafa menurunkan tubuh Tissa. sesegera itu Tissa menjauhkan sedikit tubuhnya dari Dafa.


"Gw gak pendek! kalian aja yang tinggi!" Ucap tissa ketus saat rona merah mulai hilang dari pipinya.


"Elehhhh alasan" Ucap Dafa mencibir.


"Au ah terserah Lo! Oh iya tunggu Jangan pergi dulu!" Ucao Tissa.


Tissa berlari kecil lalu mengambil bekal di meja dan memberikannya pada Dafa.


"Nih buat Lo! Tadi gw buat untuk kasya, Jadi sekalian gw buatin untuk Lo jugak" Ucap tissa.


Dafa menyerngitkan dahinya dan menghela nafas.


"Yaudah makasih ya..., Ucap Dafa tersenyum lebar.


"Gw pergi dulu.." Ucapnya setelah mendapat anggukan dari Tissa.


Baru saja tiga langkah Dafa berjalan Dafa membalikkan tubuhnya lalu mendekati Tissa.


"Aku pergi dulu...bye.. Assalamualaikumm" Ucap Dafa setelah mengacak acak rambut Tissa seperti yang dilakukan Rasya.


Tissa kembali membeku menatap kepergian pria yang mengacak acak rambutnya untuk kedua kalinya.


Hi...

__ADS_1


Ikuti terus ya ceritanya...jangan lupa tinggalkan jejak..like, vote dan komennya...


__ADS_2