Flash Of Love

Flash Of Love
Apa Motif Kebencianmu?


__ADS_3

Hari sudah malam, Jam sudah menunjukkan pukul 22.13. Selepas Tissa bertemu dengan mama Ratna dan bercengkrama ternyata tak disangkanya obrolan itu memakan banyak waktu. Ratna meminta Tissa untuk menginap dirumahnya karena hari sudah larut.


Duduk di balkon kamar tamu yang terletak di lantai dua rumah megah Dafa, Tissa tengah merenung. Apa yang mengusik hatinya pun dia tidak tau. Dia tidak terlalu bahagia dan tidak juga merasa bersedih.


"Huh...apasih yang ganggu pikiranku? Rasanya gak nyaman banget" Ucap tissa berkeluh kesah pada dirinya sendiri.


"Belum tidur?"


Tissa melirik kesampingnya, Menemukan pria tampan memeganga dua cangkir kopi ditangannya. Satu gelas itu diberikan sang pria pada Tissa. Pria tampan tanpa kacamata'nya.


"Makasih kasya" Ucap tissa menebar senyum manisnya pada pria tampan yang hanya memakai kaos coklat lengan pendek.


"Kasya, besok pagi langsung pulang?" Tanya tissa. pandangannya keduanya setia menatap keindahan malam kota dengan lampu lampu rumah dan jalanan menambah kelap kelip malam itu.


"Kayanya sih iya, Pinjam baju Dafa. Berangkat dari lab kesini" Jawab Rasya pandangannya menatap ke arah kelap kelip malam yang juga ditatap Tissa.


"Oo, gitu.." Ucap tissa sambik mengangguk anggukan kepalanya lalu menyeruput kopinya. meninggalkan ampas hitam kopi diatas bibirnya.


"Kamu besok kuliah dari sini jugak?" Tanya Rasya kini menatap gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya. Rasya tersenyum lalu megusap noda hitam yang menghiasi bibir Tissa dengan tangannya.


Tissa menoleh menatap pria tampan yang biasanya memakai kaca mata jeniusnya. Pria itu terlihat lebih muda dengan kaos coklatnya dan rambut yang sedikit berantakan juga celana pendek selutut.


Mata Tissa sedikit melebar setelah mendapat perlakuan manis dari Rasya. Rasya hanya tersenyum manis sambil terkekeh pelan melihat ekspresi Tissa.


"Kayaknya kamu hobi melotot ya?" Tanya Rasya sambik terkekeh pelan.


Pipi Tissa memerah menahan malu nya dan juga detak jantungnya yang berdetak cepat. senyum malu malu gadis itu semakin membuat Rasya terkekeh kembali.


"Lucu.." Batin Rasya. entah apalah tapi selalu saja kata itu yang mengekspresikan Tissa Dimata Rasya.

__ADS_1


"Kamu belum jawab pertanyaan ku, Kamu kuliah besok?" Tanya rasya, dia hanya tersenyum tipis setelah puas terkekeh dengan tingakh malu malu Tissa.


"Oh..aaa ituu Enggk deh kayanya. Tadi kata temanku dosennya gak bisa masuk besok" Jawab Tissa menetralkan detak jantungnya.


Dafa melewati kamar Tissa. Dafa baru saja dari dapur mengambil soda dingin dari kulkas dapur. Dafa berjalan melewati kamar tissa, tapi dia memundurkan langkahnya hingga berhenti di depan pintu kamar Tissa. Rasa penasaran menyelimuti Dafa.


"Dia udah tidur belum gak ya? Akhh bodo..kenapa pintunya dia biarkan terbuka?" Tanya Dafa pada dirinya sendiri. Pintu Tissa memang dibiarkan terbuka.


Dafa berjalan masuk ke dalam kamar, Tidak ada Tissa ditempat tidur. Mata Dafa menjelajahi kamar hingga jahirnya ditemukannya orang yang dia cari.


"Betah aja ya ngobrol malem? Gak kedinginan tuh malem malem ngobrol ditepi Balkon? Larut malam lagi?" Ucap Dafa dengan penuh nada sindiran. Perasaan Dafa berkecamuk melihat dua orang itu berduaan di kamar pada malam larut. Walaupun pintu kamar terbuka tetao saja itu memicu kekesalan Dafa didalam hati.


Dafa berjalan mendekati dua orang itu. Mengambil posisi di sebelah kanan Tissa. Membuat gadis itu terapit dua pria.


"Nih untukmu.." Ucap Dafa mnyodorkan soda lemon pada Tissa. Dafa melihat Tissa dan Rasya memegang cangkir kopi. Dafa tau pasti rasya'lah yang memberikan kopi itu. Dafa tentu tidak mau kalah dan menyodorkan soda sebagai kesatrianya.


"Ha? untuk apa aku minum soda dingi malem malem gini?" Tanya Tissa menatap Dafa aneh.


"Ini malem dingin, ngapain minum yang dingin lagi?" Tanya Tissa jengah. moodnya languang berubah setelah kedatangan Dafa yang dibencinya.


"Kopi jugak gak bagus! jadi gak usah diminum! terlalu banyak kafein" Ucai Dafa lalu menarik cangkir kopi dari tangan Tissa.


"Ih apaan sih! aku haus!" Ucap tissa tangannya mencoba menggapai kopi yang dipegang Dafa dan diangkatnya tinggi hingga Tissa tidak bisa menggapainya.


"Kalo haus nih minum soda ku" Ucapnya enteng lalu menyodorkan soda nya lagi.


"Ini soda lemon bagus, Aku gak sembarangan beli makanan. Jadi ini tetap sehat kalo diminum. nih minum ini aja" Tambah Dafa.


"Ihh ganggu aja si!" Ucap Tissa kesal pada Dafa.

__ADS_1


"Ini minum punyaku aja kalo kamu haus" Ucap Rasya lembut dan memberikan kopinya yang sudah diminum Rasya sedikit.


"Eh..iya emangnya gak papa? kamu gimana?" Tanya Tissa lembut pada Rasya. nada bicaranya berubah jika berbicara dengan orang lain kecuali Dafa.


"Aku ga papa" Ucap Rasya sembari mebabra senyum tipisnya.


Tissa mengambil cangkir kopi milik Rasya lalu menyeruputnya.


Keadaan ini menambah gerah dihati Dafa. Tentu saja pikiran Dafa sudah berkeliaran kemana mana tentang Rasya dan Tissa.


"Cih..sial nih si kaku Rasya..,biasanya aja dingin sama cewek. tapi kok ini bisa semanis ini si!, si Tissa jugak jorok banget jadi cewek! udah tau itu gelasnya bekas bibir cowok pastilah ada cap bibirnya. berati secara tidak langsung mereka ciuman dong? ahh anjimmm nih si Rasya..!"


Batin Dafa.


Tanpa pikir oanjang lagi Dafa menyeruput kopi milik Tissa yng dipegang nya. Kopi itu sudah diminum Tissa setengahnya. Dafa meminum kopi itu dari segala sisi ujung gelas. Niatnya agar dimanapun bekas bibir Tissa bisa tersentuh dengan bibirnya dan dengan tidak langsung dia dan Tissa juga berciuman.


Dafa menghabiskan seluruh kopinya. Ada senyum puas dibibirnya. Dia merasa telah berhasil mengimbangi Rasya yang berciuman dengan Tissa secara tidak langsung. Dan Dafa juga melakukan hal itu walaupun secara tidak langsung.


Rasya melihat tingkah Dafa yabg menyeruput kopi. Easy menghela nafas berat dan menggeleng gelengkan kepalanya. Benar dugaannya bahwa Dafa adalah saingannya untuk bisa bersama Tissa.


"Ihh Lo kenapa si senyam senyum sindiri? kerasukan Lo? Uda la pergi Lo sana. Lebih Baek Lo tidur sana!" Ucap tissa mengusir Dafa. Darahnya mendidih saat berada dekat Dafa apalgi kalau sudah beradu mulut. Tissa tidak tahan didekat Dafa yng dibencinya.


"Lo ngusir gw? kenapa? Lo mau berduaan sama cowok Laen?" Ucap Dafa ketus.


"Gw muak liat Lo!, Uda sana Lo buruan tidur!"


Dafa menghela nafasnya kasar. Dia benar benar sudah tersakiti oleh sikap dan kata kata kasar Tissa.


"Huh..tissa, apa salah gw sama Lo.., apa motif kebencian Lo sama gw.." Batin Dafa.

__ADS_1


Dafa tak enggan pergi dari tempatnya. Matanya menatap tajam Rasya yang asik bercanda gurau dan tak jarang menebar senyumnya yang jarang dia oerlihtkan selama ini.


__ADS_2